Kamis, 21 Juli 2011

Kaki Itu

Kaki itu melangkah dengan angkuhnya
Berlenggak–lenggok ke sana ke mari masih dengan angkuhnya
Mengantarkan dia mengarungi dunianya yang gemerlap
Segemerlap lampu malam yang membiaskan indahnya cahaya bulan

Kaki itu melangkah dengan angkuhnya
Masih setia mengantarkan dia dari ruangan satu ke ruangan lainnya
Mengecap apa yang tidak dia dapatkan di ruangan yang satu dan lainnya
Tanpa tahu sudah berapa banyak makhluk lawan jenisnya yang ingin menyentuhnya

Kaki itu melangkah dengan angkuhnya
Hanya berhiaskan alas kaki yang berhak 7cm
Yang lalu membuat kaki itu terlihat semakin indah
Kemudian mata kawannya terlihat melirik dengan irinya

Tapi kaki itu masih melangkah dengan angkuhnya
Menjauhkan perempuan itu dari rumah Tuhannya
Membuatnya masih dengan bahagianya mengecap dunia tanpa Tuhannya
Dan yah kaki itu masih dengan setia menemaninya tanpa mengeluh sedikit pun

REVIEW BUKU TUHAN, IZINKAN AKU MENJADI PELACUR; memoar luka seorang muslimah.


Oleh: Henny Nur Pratiwi

Judul : Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur - Memoar Luka Seorang Muslimah
Pengarang : Muhidin M. Dahlan
Penerbit : ScriPta Manent
Tebal : 261 

Nidah Kirani. Salah satu mahasiswi di Kampus Matahari Terbit Yogyakarta adalah seorang muslimah yang taat. Tak pernah lalai dalam mengerjakan perintah Allah SWT. Hampir semua waktunya ia habiskan untuk  beribadah kepada-Nya, seperti sholat, membaca Al-quran dan berzikir. Ibadahnya semakin kuat, ketika Rahmi, sosok yang ia jadikan contoh teladan dalam merengkuh hangat Cinta Tuhan harus meninggalkannya di Pondok Ki Ageng sendiri. Sepeninggal Rahmi, ia banyak menghabiskan waktu di kamar untuk beribadah, yang tak pelak menimbulkan banyak cerita miring dari teman pondoknya akan sikapnya itu. Kiran hanya ingin betul–betul menghambakan dirinya kepada Sang Khalik. Awalnya Ia tidak begitu ambil pusing, namun lama–kelamaan ia juga merasa gerah dengan keadaan tersebut, bahkan tubuh yang ia hijabi dengan jilbab dan jubahnya yang besar dianggap sebagai “tekstil berjalan“ oleh teman–teman pondoknya.

Sebenarnya keinginan Kiran Cuma satu yakni menegakkan Daulah Islamiyah di bumi Indonesia, dan itu harus ia mulai dari dirinya sendiri. Keinginan Kiran hampir terwujud ketika bertemu dengan Dahiri, teman sekelasnya dan salah satu anggota teraktif dalam kelompok diskusi yang ia buat. Dahiri memperkenalkan Kiran pada sebuah organisasi yang mempunyai tujuan yang sama dengan Kiran, yakni mendirikan Daulah Islamiyah di Indonesia. Kiran sangat senang karena ternyata ada banyak saudaranya yang menginginkan hal tersebut dan bisa mengantarkannya berislam secara kaffah. Namun, setelah sebulan menjadi anggota baru organisasi itu, ia mulai menemukan keganjalan-keganjalan yang merusak nalar kritis dan imannya. Organisasi yang mengatasnamakan Islam, ternyata tak se”ISLAM” yang ia kira. Soal ritual keagamaan, Kiran jauh lebih taat daripada mereka yang ada di organisasi. Mereka terlalu sibuk mengadakan dakwah atau dalam artian menggaet anggota baru. Setiap anggota diharuskan menyumbang minimal 500 ribu yang katanya untuk kas perjuangan. Mereka memperbolehkan berbohong, menipu, mencuri maupun melacur sepanjang itu berkaitan dengan kepentingan organisasi. Namun, hal itu tentu saja mencederai akal sehat seorang Nidah Kirani. Semua tanya yang ia lontarkan hanya mengambang dan menguap ke udara, lalu lenyap. Ibadahnya tak lagi setaat yang dulu. Bahkan Ia mulai marah kepada Tuhan karena merasa ditelantarkan dan tak mendengar semua keluh kesahnya. Tuhan harus bertanggung jawab atas apa yang menimpanya.

Ditengah kegalauan dan kekosongan yang Kiran hadapi, ia mulai terjerumus ke dunia hitam, ia tak punya pegangan. Free sex, obat–obatan terlarang, nikotin, menjadi temannya kali ini. Pemandangan yang sangat amat jauh berbeda dari seorang Nidah Kirani terdahulu. Kiran ingin Tuhan melihat dirinya, melihat pemberontakan yang ia lakukan melalui sosok bernama laki–laki. Daarul, dialah yang pertama kali menjadi objek pemberontakannya, seorang Ketua Forum Studi Mahasiswa Kiri untuk Demokrasi. Namun, Daarul meninggalkannya tanpa alasan yang jelas ketika ia sudah mulai menikmati permainannya dan merasakan candu dari pacaran. Tentu saja Kiran merasa tersakiti, sangat sakit. Ia semakin absurd tentang Tuhan, tentang agama, tentang cinta dan tentang laki–laki. Tapi itu tak menghentikan langkahnya untuk balas dendam terhadap Tuhan atas keacuhannya pada dirinya. Petualangannya pun berlanjut pada laki–laki lain, Fuad, Midas, Awaluddin, Wandi, yang rata–rata adalah para aktivis kampus, baik sayap kiri maupun sayap kanan yang selalu menegakkan tegaknya moralitas dan idealisme. Bahkan, seorang dosen kampus Matahari Terbit Yogyakarta bersedia menjadi germonya dalam dunia pelacuran, yang ternyata adalah anggota DPRD dari fraksi yang selama ini gigih memperjuangkan tegaknya syariat Islam di Indonesia. Astagfirullah.

Hingga akhir cerita, Kiran semakin menjauh dan membenci TUHAN. Menyalahkan-Nya terus menerus atas apa yang terjadi padanya. Mengapa ENGKAU tak  menegurku, mengapa ENGKAU tak melindungiku, kurang meng”hamba” apa lagi aku kepada-Mu. Kiran pasrah. Kiran, sang nabi kejahatan, sang putri api yang membongkar topeng–topeng kemunafikan. 

Salah satu buku yang inspiratif, penuh intrik namun tetap sarat akan makna yang dalam tentang TUHAN dan ciptaannya. Namun, bisa meruntuhkan Iman, bagi siapa saja yang membacanya jika tak ditanggapi dengan bijaksana. Ya, seperti Nidah Kirani.

Asiyah, Perempuan Surga


Oleh: Asiah Farannisa’

Allah berfirman, Allah membuat istri Fir'aun sebagai contoh bagi orang-orang yang beriman ketika ia berkata, " Tuhan, buatkan aku satu rumah di sisi-Mu dalam Firdaus. Selamatkan aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkan aku dari kaum yang zalim" (Al-Tahrim (66):11).

Tak banyak yang mengenal sosok Asiyah lebih rinci. Selain karena tidak banyak keterangan tentang sejarah hidupnya, masanya juga telah lama berlalu hingga para ahli sejarah banyak yang berbeda pendapat. Meski pun demikian, banyak ahli riwayat tempo dulu yang sama sekali tidak mengetahui sejarah Mesir Kono berkata bahwa wanita yang dimaksud adalah Asiyah bint Muzahim. Mereka berpegang pada sebuah hadis dan mengaitkan dengan seseorang dari kalangan mereka sendiri, yaitu Muzahim ibn Ubaid ibn Arroyan ibn al-Walid (Fathi Fawzi, Perempuan-Perempuan surga).

Asiyah, perempuan yang Allah angkat menjadi salah satu pemimpin perempuan di surga. Beliau adalah istri kedua Fir'aun Ramses, pemimpin zalim, bengis, dan sombong yang mengangkat dirinya sendiri sebagai Tuhan. Satu dari sedikit manusia yang namanya diukir indah dalam Al-Qur'an. Allah memberikan penghormatan padanya karena ketakwaan dan keshalehannya. Contoh bagi kaum perempuan yang tegak dalam keimanannya ditengah lingkungan yang dipenuhi dengan kemusyirikan. Teladan sebagai istri penyabar yang menjaga kehormatan keluarganya dan tidak mudah mengeluh. Meskipun hidup di istana dan berlimpah harta, Asiyah tidak takluk pada kemewahan duniawi yang dengan mudah dapat diperolehnya.

Asiyah adalah perempuan yang lemah lembut dan penuh dengan kasih sayang. Ia dicintai oleh rakyatnya. Hal ini juga ia tunjukkan dengan berusaha memberi perlindungan kepada Musa dari suaminya Fir'aun yang selalu mencari kesempatan untuk menyingkirkan Musa. Dia mengangkat Musa sebagai anak dan ikut berperan dalam pertumbuhan Musa di tengah situasi dimana setiap anak laki-laki yang dilahirkan di masa itu dibunuh dan tidak diberi kesempatan hidup sejak ibunya melahirkannya. Hal ini berawal dari seorang peramal yang menemui Fir'aun dan mengatakan bahwa kelak dia dan kerajaannya akan dihancurkan oleh seorang anak laki-laki dari Bani israel. Menurut sang peramal, anak laki-laki tersebut masih bayi. Mendengar hal itu, Fir'aun memerintahkan bala tentaranya untuk mengawasi setiap bayi yang akan dilahirkan, jika ia laki-laki maka harus segera dibunuh. Namun Allah memiliki rencana lain, Ia telah menyusun skenario dengan menyelamatkan salah satu anak laki-laki dari bangsa ibrani, dialah Musa. Seorang bayi mungil yang ditemukan di dalam sebuah peti yang hanyut  di dekat pepohonan di pinggir sungai.

Kasih sayang Asiyah terhadap Musa sangatlah besar. Ia rela diperlakukan kejam oleh Fir'aun demi membela Musa. Bahkan setelah Fir'aun suaminya meninggal hingga pada saat Fir'aun Sette (cucu Fir'aun Ramses dan Asiyah) berkuasa mengetahui keimanan Asiyah, Asiyah rela menanggung semua penderitaannya dengan kesabaran dan keteguhan imannya terhadap Allah, Tuhan Ibrahim dan Yusuf.

Hingga akhir hayatnya, Asiyah meninggal dengan cara yang kejam. Fir'aun Sette membujuknya untuk kembali mengimani ketuhannanya, tapi Asiyah malah bergeming seraya berdoa, "Wahai Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam Firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya. Selamatkanlah aku dari kaum yang zalim (Al-Tahrim (66):11). Sedang Fir'aun dengan bengisnya menyiksa Asiyah hingga akhirnya wafat.

Ibu dan Tugas Kerasulan


Oleh: Almin Jawad

Pada tangan yang mengayun ambing buaian itu, ada tangan yang mengguncang dunia”.

Seorang sahabat kebingungan antara mendahulukan ibu atau ayahya dalam berkhidmat. Segera ia mendatangi nabi untuk memperoleh jawaban atas kebingungannya itu. “Ya Rasulullah, siapakah yang harus aku dahulukan diantara kedua orangtuaku?” “Ibumu”, jawab Rasulullah. “Lalu siapa lagi?” “Ibumu”, jawab Rasulullah lagi. “Kemudian siapa lagi?” Rasulullah menjawab, “Ibumu, baru ayahmu”. Rasulullah menyebut ibu sebanyak tiga kali sebelum menyebut ayah sebanyak satu kali. Hadis ini menunjukkan ketinggian derajat ibu sekaligus peran yang amat berat bagi wanita sebagai ibu. Pada pribadi seorang wanita, terdapat banyak tanggung jawab. Saya akan menyebutkan dua diantaranya. Pertama, peran sebagai ibu. Dalam Islam, peran ini merupakan peran yang paling besar dari seluruh peran yang lain. Islam memandang kedudukan ibu lebih utama. Sehingga disebutkan bahwa surga berada di telapak kaki ibu. Hadis Nabi Saw ini memberikan pesan yang mendalam tentang kedudukan ibu. Menurut Nabi, surga di tengah-tengah rumah tangga itu terletak di bawah telapak kaki ibu. Kehadiran wanita sebagai ibu di rumah bisa memberikan surga atau neraka bagi keluarganya, terutama sekali bagi anak-anaknya. Dalam psikologi dikenal istilah maternal deprivation. Jika seorang anak sejak kecil sudah berpisa dengan ibunya, baik secara geografis maupun psikologis, maka kehadiran ibunya di rumah hampir tidak bermakna bagi anak itu. Maternal deprivation yang dialami anak-anak pada usia dini telah menjadikan kediamannya sebagai neraka; ia akan menderita kesepian di tengah-tengah keluarganya. Menurut para psikolog, jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, penyakit ini akan berkembang menjadi penyakit psikomatis; ia akan rentan terhadap berbagai penyakit.

Pernah diadakan percobaan terhadap monyet di Amerika. Beberapa monyet yang baru lahir dibagi dalam tiga kelompok: (1) monyet yang dipisahkan dari ibunya sama sekali; (2) monyet yang dipisahkan dari ibunya tetapi diberi dua macam ibu artificial – ibu buatan: ibu yang satu dibuat dari semacam kawat besi dengan air susu; dan ibu yang lain terbuat dari bulu empuk, kemudian dihangatkan dengan aliran listrik. Monyet itu menyusu pada ibu kawat, tetapi waktunya lebih banyak dia habiskan untuk memeluk ibu yang hangat itu; (3) monyet yang tinggal bersama ibunya.

Beberapa saat kemudian, diketahui terjadi beberapa tingkah laku yang berbeda dari ketiga monyet itu. Monyet pertama banyak mengalami gangguan kejiwaan. Ia takut pada orang-orang asing yang mendekatinya. Ia nervous dan sangat rentan terhadap berbagai penyakit. Gerak tubuhnya sangat terhambat. Monyet yang paling sehat adalah monyet yang ketiga, yang mendapat perhatian cukup dari ibunya. Ia tampak percaya diri, tumbuh lebih sehat, dan memiliki kekebalan terhadap penyakit.

Walaupun penelitian ini dilakukan hanya pada monyet, para saintis menemukan bukti-bukti yang sama pada manusia. Anak manusia yang kurang mendapat perhatian ibu pada tahap perkembangan awal, banyak merusak anak itu secara intelektual, emosional, social bahkan juga fisik. Berbagai penelitian membuktikan bahwa terpisahnya anak dari ibu telah menyebabkan anak mengalami hambatan pertumbuhan intelektualnya, terhambat perkembangan pada hampir seluruh otaknya, rapuh pertahanan mentalnya, juga fisiknya. Karena itu Islam memandang posisi keibuan wanita sebagai posisi paling penting. Kepada rahim kaum wanitalah, Allah menitipkan janin yang lembut dan lemah di saat-saat pengembangannya. Walaupun ayah dan ibu menyubangkan bagian yang sama dalam pembentukan nucleus ovum, namun ibu memberikan semua protoplasma yang mengelilingi nucleus.

Kedua, peran ibu sebagai madrasah ruhaniah. Selain sebagai ibu, peran wanita yang juga amat penting adalah menjadi madrasah ruhaniah bagi anak-anaknya. Di hadapan anak-anaknya, ibu dituntut menjalankan tugas para nabi sebagai uswatun khasanah – suri teladan yang baik. Suatu saat, seorang perempuan datang membawa anak perempuannya menemuai Aisyah. Ia bermaksud meminta makanan. Namun, saat itu Aisyah tidak memiliki apa-apa kecuali dua butir kurma. Aisyah lalu menyerahkan kedua butir kurma yang dimilikinya kepada perempuan itu. Ia lantas memberikannya kepada anaknya masing-msing satu. Ibu itu tidak makan apa-apa. Aisyah terharu menyaksikan peristiwa itu. Ia lalu menceritakannya kepada Nabi Saw. Beliau bersabda, “Barang siapa diuji oleh anak perempuannya, kemudian ia berbuat baik kepada anak perempuan itu, mendidiknya baik-baik, maka anak perempuan itu akan menjadi penghalang dari siksa api neraka”.

Rasulullah memerintahkan setiap ibu untuk memperhatikan anak perempuannya. Sampai beliau bersabda, “Kalau kamu mengistimewakan akan-anakmu, maka istemewakanlah anak perempuanmu”. Rasulullah, dengan demikian, menjadikan ibu memikul amanah kenabian dan tugas kerasulan. Bukankah Rasulullah datang di saat bangsa Arab dalam keadaan jahiliah: saat dimana praktek mengubur anak perempuan hidup-hidup tanpa alasan sebagai kewajiban? Al-Quran merekam perilaku jahiliah ini dalam peringatan abadi, “apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup itu ditanya; karena dosa apakah dia dibunuh” (QS. 81:8-9). Rasulullah mengakhiri praktek-praktek ini, dan sekaligus melakukan usaha emansipasi yang pertama dalam sejarah. Saya berpendapat, tugas inilah yang wajib dimiliki oleh setiap ibu untuk menciptakan kader ibu yang baik. Namun sebelumnya, seorang ibu mesti meningkatkan pengetahuannya, mendidik diri sebaik-baiknya, mempersiapkan diri untuk menjadi ibu yang di bawah telapak kakinya ada surga. Rasulullah bersabda, “Didiklah anakmu 25 tahun sebelum dia lahir”. Karena itu, pada tahap sebagai seorang anak, yang pertama dilakukan ialah mempersiapkan dan mendidik diri. Inilah salah satu tugas berat kaum ibu di manapun mereka berada.

Sebuah hadis menyatakan, “Setiap anak yang lahir memiliki kepercayaan kepada Tuhan, tapi orang tuanyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani dan Majusi”. Karena itu, ilmu mengurus anak wajib dimiliki oleh setiap wanita. Sigmund Freud pernah berkata, “My mother si my maker” – ibuku adalah pembuat diriku. Bagi Freud, ibu akan menentukan jenis manusia apa yang akan dilahirkan oleh masyarakat di kemudian hari. Seorang penyair Inggris berkata, “Pada tangan yang mengayun ambing buaian itu, ada tangan yang mengguncang dunia”. Dalam berbagai hadis ditekankan bahwa memelihara anak adalah amal saleh yang besar. Itulah sebabnya, walaupun Islam mengizinkan wanita bekerja di masyarakat sesuai dengan keperluannya, namun Islam memandang kehadirannya di rumah adalah yang paling penting dari segalanya. Benar, bahwa sepanjang sejarah kenabian dan kerasulan tidak satu pun perempuan yang menjadi nabi atau rasul. Tetapi harus diingat bahwa para nabi dan rasul merupakan wisudawan yang keluar dari madrasah yang guru dan kepala sekolahnya adalah perempuan. Tanpa perempuan, nabi dan rasul tidak akan pernah tercipta. Karena itu, problem dilematis yang dihadapi perempuan modern terkait dengan fungsinya sebagai ibu yang telah merampas kebebasannya tidak dapat diterima selain memandang rendah fungsi keibuan sebagai alasannya.

Kebebasan yang ingin diraihnya telah melemparkannya ke dalam persaingan hidup yang berat. Bersama-sama pria, mereka berlomba mengejar karir dan kedudukan. Bersamaan dengan itu, masuklah “ideologi” yang memandang rendah apa yang dahulu dilakukan ibu-ibu sebagai amal saleh, apa yang dahulu menimbulkan perasaan harga diri dan kebahagiaan, sekarang dipandang sebagai paham yang kolot dan konserfatif. Mereka telah mencampakkan apa yang menjadi fitrahnya. Maka terjadilah berbagai deprivasi maternal secara sosial. Anak-anak yang berkembang dalam asuhan pembantu, harus belajar tentang dunia dengan caranya sendiri. Wiji Thukul, penyair besar, mengingatkan para ibu yang menyembah modernisme lewat puisinya akan jalan yang ditempuh seorang anak:

Ibu

jika kau menagih baktiku
itu sudah kupersembahkan ibu
waktu hidup tak kubiarkan beku
itulah tanda baktiku kepadamu

gula dan teh memang belum kuberikan
tetapi nilai hidup adakah di dalam nasi semata

apakah anak adalah tabungan
bisa sesuka hati dipecah kapan saja
apakah kelahiran cuma urusan untung dan laba
tumpukan budi yang harus dibayar segera

jalan mana harus ditempuh anak
jika bukan yang biasa dan sudah dipilih
oleh yang berjalan itu sendiri.[]



_______________________

Daftar Bacaan:

Amini, Ibrahim. 2006. Anakmu Amanat-Nya. Jakarta: Al-Huda.
____________. 2006. Agar Tak Salah Mendidik. Jakarta: Al-Huda.
Rakhmat, Jalaluddin. 1998. Catatan Kang Jalal; Visi Media, Politik dan Pendidikan. Bandung: Rosda.
_________________. 1999. Islam Alternatif; Ceramah-Ceramah di Kampus. Bandung: Mizan.
_________________. 2007. SQ For Kids; Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Anak Sejak Dini. Bandung: Mizan.