Tampilkan postingan dengan label Edisi 5. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edisi 5. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Oktober 2012

Tasbih Az-Zahra

Kepada salah seorang sahabatnya Ali Bin Abi Thalib bercerita perihal penderitaan isterinya:
Fatimah isteriku setiap hari mengerjakan pekerjaan rumah. Mulai dari mencuci baju, memandikan anak-anak serta membersihkan ruangan. Setiap hari ia mengangkkat air, sampai-sampai bekas tali kantung air itu terlihat di dadanya. Selain itu, beliau juga menggiling gandum sehingga tangannya kepalan. Setiap hari, ia memasak sampai bajunya kotor dan kusut. Melihat itu aku menjadi iba dan menganjurkan kepadanya agar meminta dari Raul saw seorang pembntu guna meringankan beban pekerjaannya.
Keesokan harinya Fatimah bertamu ke rumah ayahandanya dengan maksud menyampaikan hajatnya itu. Namun setibanya di rumah ayahandanya, terlihat ayahnya sedang hangat bericara dengan beberapa orng tetamunya. Oleh karenanya beliau gagal menyampaikan keperluannya dan langsung pulang ke rumah. Keesokan harinya Rasul dating ke rumah putrinya. Dia duduk di sisi putrinya itu seraya bertanya, “Wahai Fatimah, kemarin engkau datang ke rumahku, mungkin engku perlu sesuatu?” Fatimah malu untuk menyatakan isi hatinya. Namun, segera aku (Ali) berkata, “Wahai Rasul! Putrimu setiap hari bekerja keras, ia membawa air sehingga tali kantung  (qirbah)  membekas di dadanya dan tangannya kepalan lantaran terlalu banyak menggiling. Untuk meringankan bebannya, aku mengusulkan agar meminta seorang pembantu darimu.”
Dalam jawabannya Rasul saw berkata, “Ada sesuatu yang lebih baik dari pembantu. Ketika engkau hendak tidur, katakanlah sebanyak 33 kali subhanallah dan 33 kali al-hamdu lillah dan 34 kali Allahu akbar.”
Jumlah semuanya seratus. Wahai Fatimah! Jika engkau mengamalkan dzikir itu setiap pagi, Allah swt akan memenuhi hajat dunia dan akhiratmu. Fatimah berkata, “Aku rela kepada Tuhan dan Rasul-Nya.”


TOTTO CHAN DAN PERJALANAN KEMANUSIAANNYA UNTUK ANAK-ANAK DUNIA

JUDUL BUKU      :  TOTTO-CHAN’S CHILDREN (A Goodwill Journey to The Children of The World)
PENGARANG     : TETSUKO KUROYANAGI (TOTTO CHAN)
PENERBIT           : PT GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA
TAHUN                            : 2010
TEBAL HLM        : 322 HALAMAN

Masa kecil Totto Chan yang digambarkan di buku sebelumnya yang berjudul Totto Chan (Gadis Cilik di Jendela) masih tetap menjadi pengalaman berharga. Totto Chan atau nama lengkapnya Tetsuko Kuroyanagi pun tumbuh dewasa, menjadi seorang perempuan yang berkarir di dunia hiburan. Namun, karirnya yang cemerlang tidak membuatnya lupa akan masa kanak-kanaknya.
Pada tahun 1984, UNICEF mengangkatnya sebagai duta kemanusiaan. Hal ini tidak terlepas dari apa yang beliau tulis di buku sebelumnya. Perjalanan panjangnya selama menjadi duta kemanusiaan UNICEF dibeberapa daerah menjadi bagian utama dari buku “Anak-Anak Totto Chan”. Totto Chan dewasa tidak sekedar mengantarkan bantuan atau melaksanakan acara seremoni bertemu dengan pimpinan tertinggi daerah setempat. Namun, anak-anaklah yang tetap menjadi fokus utama dalam setiap perjalanannya.
Buku ini memulai ceritanya pada tahun 1984. Tetsuko memulai perjalanan kemanusiaannya di negara Tanzania yang terletak di benua Afrika. Sejak tahun 1982, Tanzania mengalami kekeringan parah; hujan yang tidak lagi turun sehingga tak ada lagi gandum yang dapat tumbuh. Hal ini menyebabkan setiap harinya, kira-kira 600 anak balita meninggal akibat kelaparan dan penyakit di daerah tersebut. Air menjadi permasalahan utama di wilayah ini.
Dalam perjalanannya di Tanzania, Tetsuko bertemu seorang anak laki-laki bernama Rogati. Dalam kondisi normal Rogati sudah bersekolah di sekolah dasar, namun pada kenyataannya untuk berdiri dan berbicara begitu sangat sulit baginya. Sang ibu dari anak ini pun kekurangan gizi, sehingga tidak bisa memberikan ASI dan makanan lain bagi Rogati dan saudara-saudaranya yang lain.
Seuntai kata yang dibahasakan oleh kepala suku daerah setempat yang cukup menyayat hati Tetsuko, “Miss Kuroyanagi, saat anda kembali ke Jepang, ada satu hal yang saya ingin anda ingat: orang dewasa meninggal sambil mengerang, mengeluhkan rasa sakit mereka, tapi anak-anak hanya diam. Mereka mati dalam kebisuan, di bawah daun-daun pisang, mempercayai kita, orang-orang dewasa.”
Cerita lain, di Tanzania yang dialami oleh Tetsuko yaitu ketika dia diberikan air untuk mencuci tangannya oleh seorang perempuan. Air yang berlumpur itu rela diberikan oleh perempuan itu untuk Tetsuko agar digunakan mencuci tangannya, padahal ternyata untuk mengambil air itu dibutuhkan usaha untuk menempuh perjalanan sejauh 4,8 km. Tapi ini pun terbilang beruntung, karena kebanyakan orang harus berjalan sejauh 14-16 km untuk mengambil air yang belum tentu bersih.
Cerita haru yang tetap memberikan motivasi hidup sendiri bagi anak-anak korban kekeringan panjang, penyakit mematikan, korban perang. Selalu ada harapan besar dari anak-anak itu yang didapatkan oleh Tetsuko di setiap negara yang dikunjunginya sepanjang tahun 1984-1996. Nigeria (1985), India (1986) Mozambik (1987), Kamboja dan Vietnam (1988), Angola (1989), Bangladesh (1990), Irak (1991), Ethiopia (1992), Sudan (1993), Rwanda (1994), Haiti (1995), dan Boznia-Herzegovina (1996) adalah negara-negara yang telah dikunjungi oleh Tetsuko.
Dalam buku ini, cerita ini tidak selesai begitu saja setelah Tetsuko meninggalkan negara tersebut. Namun, perempuan Jepang ini tetap mengupayakan usaha bantuan tidak dari dirinya saja. Dengan adanya beberapa fota ataupun kutipan video mengenai daerah kunjungannya, Tetsuko gunakan untuk menarik perhatian orang-orang di Jepang untuk memberikan bantuan dana ataupun moril. Walaupun terkesan menjual kesengsaraan orang lain, namun hal ini dia lakukan untuk memberikan kehidupan yang sedikit lebih layak bagi anak-anak yang berada di daerah konflik ataupun daerah kekeringan.
Selamat membaca, semoga nilai kemanusiaan dalam diri tetap ada. Tanpa memandang tempat, waktu dan objek kemanusiaan.

Rachel Corrie

Oleh: Rahmad M. Arsyad (2010)

Seorang gadis berusia enam tahun dengan rambut berkepang dua. Matanya biru. Ia sedang berpidato dihadapan anak-anak lainya. Rachel Corrie begitu namanya. Begini kira-kira pidatonya; “Orang-orang tanpa hak istimewa telah melakukan pembantaian kepada manusia lain di banyak belahan dunia. Untuk itu kita mesti terus bekerja untuk menghalau apa yang dilakukan mereka atas manusia lainnya. Kita tidak bisa meninggalkan mereka untuk melakukan pekerjaan sendiri dan hanya bisa mengutuk, bahwa negara kita tanpa sadar memiliki keterlibatan dalam membunuh mereka. Rakyat Palestina bekerja untuk hidup mereka, kita mesti membantu dengan apa yang kita punya. Karena dengan begitu kita ikut memberikan sumbangsih bagi dunia!”
Dua puluh tahun kemudian Corrie membuktikan ucapanya. Ia menjadi sosok perempuan yang selalu berbicara tentang misi perdamian. Dibesarkan di Olympia, Washington, menghadiri Modal High School dan The Evergreen State College. Ketika kuliah, Corrie Olympia bergabung dengan Gerakan Keadilan dan Perdamaian, dan kemudian International Solidarity Movement, atau ISM.
ISM, yang didirikan pada tahun 2001, bertujuan untuk membantu dengan protes mereka terhadap kekerasan militer Israel di Tepi Barat. Organisasi ini menekan Israel dan Angkatan Pertahanan Israel (IDF) untuk menghentikan pendudukan atas tanah Palestina, dengan menggunakan sejumlah taktik perlawanan tanpa kekerasan.
Corrie bersama kawan-kawanya melanggar jam malam yang diberlakukan Israel di wilayah Palestina. Memindahkan penghalang jalan yang ditempatkan oleh IDF untuk mengisolasi satu desa dari yang lain, dan memblokir kendaraan militer seperti tank dan buldozer adalah cara yang digunakan untuk memprotes pendudukan.
Rachel Corrie pergi ke Rafah di Jalur Gaza pada bulan Januari 2003. Dia merasa ngeri dengan jumlah kerusakan yang dia temukan di sana. Rumah hancur dan orang-orang ditahan dan dibunuh setiap hari. Rachel mencatat apa yang diamati dan dirasakan dalam surat dan email ke rumah keluarganya.
Dalam satu email dia menulis, "Sekarang tentara Israel telah benar-benar menggali jalan ke Gaza, dan kedua dari pos-pos pemeriksaan utama ditutup. Ini berarti bahwa anak-anak Palestina yang ingin masuk dan mendaftar di universitas tidak bisa. Orang tidak bisa mendapatkan pekerjaan mereka dan orang-orang yang terjebak di sisi lain tidak bisa mendapatkan rumah sementara dukungan internasional tak juga kunjung dating.”
Dalam email lainya Corrie menulis; “Banyak kebaikan di sini yang saya dapatkan dari warga Palestina. Di sini mereka menghadapi azab penghancuran yang disengaja oleh orang lain bagi kehidupan mereka. Tapi mereka menghadapinya dengan manis dan mengerjakan berbagai kebaikan dalam kehidupan.”
Itulah Corrie yang akhirnya juga memilih mati muda di arena perjuangan yang diyakininya. Entah Corrie pernah tau tentang jihad atau islam. Corrie berbicara tentang iman semesta yang bernama “kemanusiaan”. Pada tanggal 16 Maret 2003 dia telah menempatkan dirinya antara buldoser Caterpillar dan rumah warga yang menjadi akhir dari hidupnya.
Corrie dan Jihad Kemanusian
Corrie yang bermata biru, dibesarkan di negara Amerika yang menjadi sekutu utama Israel telah menunjukan sebuah misi suci dan jihad yang bermakna Universal. Kemanusian, keadilan dan cinta adalah sebuah iman yang setiap manusia memilikinya. Setiap orang sesungguhnya memiliki keyakinan yang sama atas prinsip dasar tersebut. Nafsu, ambisi, arogansi menjadikan manusia melupakan prinsip suci yang ada dalam diri.
Jihad kemanusian yang dilakukan corrie telah mengajarkan sebuah makna akan pengabdian bagi sesama. Bahwa sesunguhnya setiap orang terlahir untuk “berbagi” tanpa perlu mengenal batasan agama, suku wilayah, atau berbagai ruang simbolistik lainya. Corrie berani mengorbankan dirinya sebagai sebuah simbol akan universalisasi kemanusian.
Sebuah kapal bantuan kemanusian bagi Palestina disematkan atas namanya untuk memperingati hidupnya yang didedikasikan bagi kemanusiaan. Lembaga donor The Rachel Corrie Foundation untuk Perdamaian dan Keadilan juga telah berdiri. Beberapa seniman musik tak ketinggalan memberikan penghormatan kepada Corrie dan mengabadikanya lewat lagu mereka. Aktor Alan Rickman dan penulis Katherine Viner mengumpulkan surat Corrie, jurnal, dan email dan menjadikanya sebuah film berjudul "Nama saya Rachel Corrie".
Transformasi Kemanusian Rachel Corrie
Maraknya ajakan untuk solidaritas terhadap masyarakat Palestina tentu saja bagian dari nilai universalitas kemanusian. Karena fitrahnya itu manusia memiliki sifat dasar kesucian, yang kemudian harus dinyatakan dalam sikap-sikap yang suci dan baik kepada sesamanya. Sifat dasar kesucian itu disebut dalam islam dengan kata hanif. Sebagai makhluk yang hanif itu manusia memiliki dorongan naluri ke arah kebaikan dan kebenaran atau kesucian.
Pada dimensi ini, Rachel Corrie telah membuktikan sifat dasar kemanusiaanya sebagai sosok yang hanif dengan menggunakan nurani sebagai jalanya. Nurani sebagai sesama manusia yang merasa merupakan bagian dari mahluk semesta yang memiliki kepentingan untuk melakukan kebaikan bagi manusia lain. Rachel melakukan transformasi kemanusian dengan menggali pusat dorongan hanifiyah itu terdapat dalam dirinya yang paling mendalam dan paling murni, yang disebut (hati) nurani, artinya "bersifat nur atau cahaya (luminous)". Kesucian manusia dapat ditafsirkan sebagai kelanjutan perjanjian primordial antara manusia dan Tuhan dan Rachel mampu menembus lapisan tersebut dengan menunaikan jihad kemanusiaan.
Kini tujuh tahun sudah peristiwa jihad yang melepas kepergian Rachel Corrie dibawah bulldozer israel. Sifat hanif Rachel diikuti oleh sejumlah aktivis yang tergabung dalam misi kemanusiaan dan awak kapal yang diabadikan atas namanya Rachel Corrie. Tentara israel masih juga belum puas dengan menahan para aktivis tersebut di Bandar Udara Internasional Ashdod, termasuk Mairead Corrigan, peraih Nobel Perdamaian 1976. Transformasi nilai kemanusian Rachel kini terus hidup di benak banyak orang. Namun akankah ada yang kembali berani menunaikan misi suci jihad kemanusian seperti yang ditunjukan Corrie? Kita tunggu saja!

PEREMPUAN “PEWARIS” SANG MAHA PENCIPTA

Oleh: Nuralam

Asma (nama) Allah dan sifat Tuhan merupakan salah satu pembahasan dalam tauhid. Asma dan sifatNya menjadi manifestasi KesempurnaanNya yang merupakan akar gradasi makhuk tercipta. Dari sekian banyak Asma dan sifatNya, para pemikir muslim mengkategorikan dalam dua kategori utama yakni sifat jalaliyah yang mencerminkan sifat-sifat keperkasaan (maskulinitas) dan sifat jamaliyah yang mencerminkan sisi kelembutan (feminitas) Allah.       
Sifat jalaliyah dan jamaliyah tergradasi dalam semesta kosmos dan mengharmonisasikan semesta ciptaanNya dan manusia sebagai makhluk paripurna berpotensi mengaktualkan kedua sifat tersebut, hanya saja kecenderungan laki-laki menyerap sifat jalaliyah lebih banyak sehingga nafkah, perlindungan, dan penjagaan diamanahkan dipundaknya. Sedangkan sifat jamaliyah lebih banyak diserap oleh perempuan sehingga peranan yang berhubungan dengan kasih, sayang, dan pengasuhan dimainkan oleh perempuan.
Sifat jamaliyah Tuhan yang diserap lebih oleh perempuan yang dianugerahi rahim mencerminkan salah satu sifat Tuhan yang agung yakni sifat Maha penciptaNya, sekaligus dengan serangkainan sifat feminitas menjadikan perempuan menempati posisi agung pada ranah metafisis.
Sisi feminitas seorang perempuan tergambar jelas dalam pesan   cucu rasulullah Ali Zainal Abidin Bin Husain, betapa cinta dan kasih tak terkira besarnya senantiasa mengalir dari seorang perempuan yang merupakan manifestasi ultim dari kreasi Tuhan dan  memegang peranan penting dalam keselarasan semesta.
Ibumu telah mengandung, memberikan segalanya kepadamu, mempersiapkan diri untuk berkhidmat kepadamu, memberikan semua yang dia miliki kepadamu dengan senang hati, memikul semua kesedihan atau kepedihannya, diberi kekuatan oleh Allah untuk melahirkanmu, dia rela (senang) kalau kamu kenyang meskipun dia sendiri lapar, dia mempersiapkan untukmu pakaian meskipun dia sendiri tidak berpakaian, dia senang kalau sudah hilang dahagamu meski dia tetap kehausan, dia gembira kalau kamu terhindar dari panas matahari mwski dia sendiri terkena panas matahari, siap menderita tapi kamu memperoleh kenikmatan, siap tak bisa tidur tapi kamu bisa tidur nyenyak. Kalau kamu ingin mensyukuri nikmat yang diberikan ibumu maka selalu ingatlah apa yang dilakukan oleh ibumu, tapi kamu tak akan mampu mensyukuri semuanya”. (Ali Zainal Abidin Bin Husain)
Tujuan mencapai pusat spiritual atau asal kehidupan disimbolkan dengan tawaf,  mengitari ka’bah dari arah kanan ke kiri sebanyak 7 kali. Proses tawaf ini di ibaratkan seperti nutfa yang menuju inti telur. Ka’bah yang dikenal sebagai bait Allah atau rumah Tuhan merupakan lambang bagi rahim kehidupan (Achmad chodjim dalam bukunya mistik dan makrifat sunan kalijaga). perumpamaan rahim dengan bait Allah menyiratkan tentang kemuliaan kedudukan perempuan yang dianugerahkan rahim padanya.
Melalui rahim perempuanlah Tuhan menitipkan sebagian dari keberlangsungan kehidupan yang akan membentuk peradaban, memenuhi tugas-tugas kemanusiaan sebagai khalifatul Ardh dan akan menebarkan aroma yang memiliki keharuman yang melintasi zaman, ruang bahkan waktu.
Mulla shadra berkata dengan firman Tuhan. Setiap kali aku merenungi ayat-ayat berikut:
“dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal dari tanah).
Kemudian kami jadikan saripati itu mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim).
Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah.  Lalu segumpal darah itu,
Kami jadikan segumpal daging. Dan segumpal daging itu kami jadikan tulang-belulang,
Lalu tulang –belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maha suci Allah, pencipta yang paling baik (QS. Al Mu’minun:12-14)