Kepada salah seorang sahabatnya Ali
Bin Abi Thalib bercerita perihal penderitaan isterinya:
Fatimah isteriku setiap hari
mengerjakan pekerjaan rumah. Mulai dari mencuci baju, memandikan anak-anak
serta membersihkan ruangan. Setiap hari ia mengangkkat air, sampai-sampai bekas
tali kantung air itu terlihat di dadanya. Selain itu, beliau juga menggiling
gandum sehingga tangannya kepalan. Setiap hari, ia memasak sampai bajunya kotor
dan kusut. Melihat itu aku menjadi iba dan menganjurkan kepadanya agar meminta
dari Raul saw seorang pembntu guna meringankan beban pekerjaannya.
Keesokan harinya Fatimah bertamu ke
rumah ayahandanya dengan maksud menyampaikan hajatnya itu. Namun setibanya di
rumah ayahandanya, terlihat ayahnya sedang hangat bericara dengan beberapa orng
tetamunya. Oleh karenanya beliau gagal menyampaikan keperluannya dan langsung
pulang ke rumah. Keesokan harinya Rasul dating ke rumah putrinya. Dia duduk di sisi
putrinya itu seraya bertanya, “Wahai Fatimah, kemarin engkau datang ke rumahku,
mungkin engku perlu sesuatu?” Fatimah malu untuk menyatakan isi hatinya. Namun,
segera aku (Ali) berkata, “Wahai Rasul! Putrimu setiap hari bekerja keras, ia
membawa air sehingga tali kantung(qirbah)membekas di dadanya dan
tangannya kepalan lantaran terlalu banyak menggiling. Untuk meringankan
bebannya, aku mengusulkan agar meminta seorang pembantu darimu.”
Dalam jawabannya Rasul saw berkata,
“Ada sesuatu yang lebih baik dari pembantu. Ketika engkau hendak tidur,
katakanlah sebanyak 33 kali subhanallah dan 33 kali al-hamdu lillah dan 34 kali
Allahu akbar.”
Jumlah semuanya seratus. Wahai
Fatimah! Jika engkau mengamalkan dzikir itu setiap pagi, Allah swt akan
memenuhi hajat dunia dan akhiratmu. Fatimah berkata, “Aku rela kepada Tuhan dan
Rasul-Nya.”
JUDUL BUKU:TOTTO-CHAN’S CHILDREN (A Goodwill Journey to The Children of The World)
PENGARANG :
TETSUKO KUROYANAGI (TOTTO CHAN)
PENERBIT: PT GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA
TAHUN: 2010
TEBAL HLM: 322 HALAMAN
Masa kecil Totto Chan yang digambarkan di buku sebelumnya yang
berjudul Totto Chan (Gadis Cilik di Jendela) masih tetap menjadi pengalaman
berharga. Totto Chan atau nama lengkapnya Tetsuko Kuroyanagi pun tumbuh dewasa,
menjadi seorang perempuan yang berkarir di dunia hiburan. Namun, karirnya yang
cemerlang tidak membuatnya lupa akan masa kanak-kanaknya.
Pada tahun 1984, UNICEF mengangkatnya sebagai
duta kemanusiaan. Hal ini tidak terlepas dari apa yang beliau tulis di buku
sebelumnya. Perjalanan panjangnya selama menjadi duta kemanusiaan UNICEF
dibeberapa daerah menjadi bagian utama dari buku “Anak-Anak Totto Chan”. Totto
Chan dewasa tidak sekedar mengantarkan bantuan atau melaksanakan acara seremoni
bertemu dengan pimpinan tertinggi daerah setempat. Namun, anak-anaklah yang
tetap menjadi fokus utama dalam setiap perjalanannya.
Buku ini memulai ceritanya pada tahun 1984.
Tetsuko memulai perjalanan kemanusiaannya di negara Tanzania yang terletak di
benua Afrika. Sejak tahun 1982, Tanzania mengalami kekeringan parah; hujan yang
tidak lagi turun sehingga tak ada lagi gandum yang dapat tumbuh. Hal ini
menyebabkan setiap harinya, kira-kira 600 anak balita meninggal akibat
kelaparan dan penyakit di daerah tersebut. Air menjadi permasalahan utama di
wilayah ini.
Dalam perjalanannya di Tanzania, Tetsuko
bertemu seorang anak laki-laki bernama Rogati. Dalam kondisi normal Rogati
sudah bersekolah di sekolah dasar, namun pada kenyataannya untuk berdiri dan
berbicara begitu sangat sulit baginya. Sang ibu dari anak ini pun kekurangan
gizi, sehingga tidak bisa memberikan ASI dan makanan lain bagi Rogati dan saudara-saudaranya
yang lain.
Seuntai kata yang dibahasakan oleh kepala
suku daerah setempat yang cukup menyayat hati Tetsuko, “Miss Kuroyanagi, saat
anda kembali ke Jepang, ada satu hal yang saya ingin anda ingat: orang dewasa
meninggal sambil mengerang, mengeluhkan rasa sakit mereka, tapi anak-anak hanya
diam. Mereka mati dalam kebisuan, di bawah daun-daun pisang, mempercayai kita,
orang-orang dewasa.”
Cerita lain, di Tanzania yang dialami oleh
Tetsuko yaitu ketika dia diberikan air untuk mencuci tangannya oleh seorang
perempuan. Air yang berlumpur itu rela diberikan oleh perempuan itu untuk
Tetsuko agar digunakan mencuci tangannya, padahal ternyata untuk mengambil air
itu dibutuhkan usaha untuk menempuh perjalanan sejauh 4,8 km. Tapi ini pun
terbilang beruntung, karena kebanyakan orang harus berjalan sejauh 14-16 km
untuk mengambil air yang belum tentu bersih.
Cerita haru yang tetap memberikan motivasi
hidup sendiri bagi anak-anak korban kekeringan panjang, penyakit mematikan,
korban perang. Selalu ada harapan besar dari anak-anak itu yang didapatkan oleh
Tetsuko di setiap negara yang dikunjunginya sepanjang tahun 1984-1996. Nigeria
(1985), India (1986) Mozambik (1987), Kamboja dan Vietnam (1988), Angola
(1989), Bangladesh (1990), Irak (1991), Ethiopia (1992), Sudan (1993), Rwanda
(1994), Haiti (1995), dan Boznia-Herzegovina (1996) adalah negara-negara yang
telah dikunjungi oleh Tetsuko.
Dalam buku ini, cerita ini tidak selesai
begitu saja setelah Tetsuko meninggalkan negara tersebut. Namun, perempuan Jepang
ini tetap mengupayakan usaha bantuan tidak dari dirinya saja. Dengan adanya
beberapa fota ataupun kutipan video mengenai daerah kunjungannya, Tetsuko
gunakan untuk menarik perhatian orang-orang di Jepang untuk memberikan bantuan
dana ataupun moril. Walaupun terkesan menjual kesengsaraan orang lain, namun
hal ini dia lakukan untuk memberikan kehidupan yang sedikit lebih layak bagi
anak-anak yang berada di daerah konflik ataupun daerah kekeringan.
Selamat membaca, semoga nilai kemanusiaan
dalam diri tetap ada. Tanpa memandang tempat, waktu dan objek kemanusiaan.
Seorang gadis berusia
enam tahun dengan rambut berkepang dua. Matanya biru. Ia sedang berpidato
dihadapan anak-anak lainya. Rachel Corrie begitu namanya. Begini kira-kira
pidatonya; “Orang-orang tanpa hak istimewa telah melakukan pembantaian kepada
manusia lain di banyak belahan dunia. Untuk itu kita mesti terus bekerja untuk
menghalau apa yang dilakukan mereka atas manusia lainnya. Kita tidak bisa
meninggalkan mereka untuk melakukan pekerjaan sendiri dan hanya bisa mengutuk,
bahwa negara kita tanpa sadar memiliki keterlibatan dalam membunuh mereka.
Rakyat Palestina bekerja untuk hidup mereka, kita mesti membantu dengan apa
yang kita punya. Karena dengan begitu kita ikut memberikan sumbangsih bagi
dunia!”
Dua puluh tahun kemudian Corrie
membuktikan ucapanya. Ia menjadi sosok perempuan yang selalu berbicara tentang
misi perdamian. Dibesarkan di Olympia, Washington, menghadiri Modal High School
dan The Evergreen State College. Ketika kuliah, Corrie Olympia bergabung dengan
Gerakan Keadilan dan Perdamaian, dan kemudian International Solidarity
Movement, atau ISM.
ISM, yang didirikan pada tahun 2001,
bertujuan untuk membantu dengan protes mereka terhadap kekerasan militer Israel
di Tepi Barat. Organisasi ini menekan Israel dan Angkatan Pertahanan Israel
(IDF) untuk menghentikan pendudukan atas tanah Palestina, dengan menggunakan
sejumlah taktik perlawanan tanpa kekerasan.
Corrie bersama kawan-kawanya
melanggar jam malam yang diberlakukan Israel di wilayah Palestina. Memindahkan
penghalang jalan yang ditempatkan oleh IDF untuk mengisolasi satu desa dari
yang lain, dan memblokir kendaraan militer seperti tank dan buldozer adalah
cara yang digunakan untuk memprotes pendudukan.
Rachel Corrie pergi ke Rafah di Jalur
Gaza pada bulan Januari 2003. Dia merasa ngeri dengan jumlah kerusakan yang dia
temukan di sana. Rumah hancur dan orang-orang ditahan dan dibunuh setiap hari.
Rachel mencatat apa yang diamati dan dirasakan dalam surat dan email ke rumah
keluarganya.
Dalam satu email dia menulis,
"Sekarang tentara Israel telah benar-benar menggali jalan ke Gaza, dan
kedua dari pos-pos pemeriksaan utama ditutup. Ini berarti bahwa anak-anak
Palestina yang ingin masuk dan mendaftar di universitas tidak bisa. Orang tidak
bisa mendapatkan pekerjaan mereka dan orang-orang yang terjebak di sisi lain
tidak bisa mendapatkan rumah sementara dukungan internasional tak juga kunjung
dating.”
Dalam email lainya Corrie menulis;
“Banyak kebaikan di sini yang saya dapatkan dari warga Palestina. Di sini
mereka menghadapi azab penghancuran yang disengaja oleh orang lain bagi
kehidupan mereka. Tapi mereka menghadapinya dengan manis dan mengerjakan berbagai
kebaikan dalam kehidupan.”
Itulah Corrie yang akhirnya juga
memilih mati muda di arena perjuangan yang diyakininya. Entah Corrie pernah tau
tentang jihad atau islam. Corrie berbicara tentang iman semesta yang bernama “kemanusiaan”.
Pada tanggal 16 Maret 2003 dia telah menempatkan dirinya antara buldoser
Caterpillar dan rumah warga yang menjadi akhir dari hidupnya.
Corrie dan Jihad Kemanusian
Corrie yang bermata biru, dibesarkan
di negara Amerika yang menjadi sekutu utama Israel telah menunjukan sebuah misi
suci dan jihad yang bermakna Universal. Kemanusian, keadilan dan cinta adalah
sebuah iman yang setiap manusia memilikinya. Setiap orang sesungguhnya memiliki
keyakinan yang sama atas prinsip dasar tersebut. Nafsu, ambisi, arogansi
menjadikan manusia melupakan prinsip suci yang ada dalam diri.
Jihad kemanusian yang dilakukan
corrie telah mengajarkan sebuah makna akan pengabdian bagi sesama. Bahwa
sesunguhnya setiap orang terlahir untuk “berbagi” tanpa perlu mengenal batasan
agama, suku wilayah, atau berbagai ruang simbolistik lainya. Corrie berani
mengorbankan dirinya sebagai sebuah simbol akan universalisasi kemanusian.
Sebuah kapal bantuan kemanusian bagi
Palestina disematkan atas namanya untuk memperingati hidupnya yang
didedikasikan bagi kemanusiaan. Lembaga donor The Rachel Corrie Foundation
untuk Perdamaian dan Keadilan juga telah berdiri. Beberapa seniman musik tak
ketinggalan memberikan penghormatan kepada Corrie dan mengabadikanya lewat lagu
mereka. Aktor Alan Rickman dan penulis Katherine Viner mengumpulkan surat
Corrie, jurnal, dan email dan menjadikanya sebuah film berjudul "Nama saya
Rachel Corrie".
Transformasi Kemanusian Rachel Corrie
Maraknya ajakan untuk solidaritas
terhadap masyarakat Palestina tentu saja bagian dari nilai universalitas
kemanusian. Karena fitrahnya itu manusia memiliki sifat dasar kesucian, yang
kemudian harus dinyatakan dalam sikap-sikap yang suci dan baik kepada
sesamanya. Sifat dasar kesucian itu disebut dalam islam dengan kata hanif.
Sebagai makhluk yang hanif itu manusia memiliki dorongan naluri ke arah kebaikan
dan kebenaran atau kesucian.
Pada dimensi ini, Rachel Corrie telah
membuktikan sifat dasar kemanusiaanya sebagai sosok yang hanif dengan
menggunakan nurani sebagai jalanya. Nurani sebagai sesama manusia yang merasa
merupakan bagian dari mahluk semesta yang memiliki kepentingan untuk melakukan
kebaikan bagi manusia lain. Rachel melakukan transformasi kemanusian dengan
menggali pusat dorongan hanifiyah itu terdapat dalam dirinya yang paling
mendalam dan paling murni, yang disebut (hati) nurani, artinya "bersifat
nur atau cahaya (luminous)". Kesucian manusia dapat ditafsirkan sebagai
kelanjutan perjanjian primordial antara manusia dan Tuhan dan Rachel mampu
menembus lapisan tersebut dengan menunaikan jihad kemanusiaan.
Kini tujuh tahun sudah peristiwa jihad
yang melepas kepergian Rachel Corrie dibawah bulldozer israel. Sifat hanif
Rachel diikuti oleh sejumlah aktivis yang tergabung dalam misi kemanusiaan dan
awak kapal yang diabadikan atas namanya Rachel Corrie. Tentara israel masih
juga belum puas dengan menahan para aktivis tersebut di Bandar Udara
Internasional Ashdod, termasuk Mairead Corrigan, peraih Nobel Perdamaian 1976.
Transformasi nilai kemanusian Rachel kini terus hidup di benak banyak orang.
Namun akankah ada yang kembali berani menunaikan misi suci jihad kemanusian
seperti yang ditunjukan Corrie? Kita tunggu saja!
Asma (nama) Allah dan
sifat Tuhan merupakan salah satu pembahasan dalam tauhid. Asma dan sifatNya
menjadi manifestasi KesempurnaanNya yang merupakan akar gradasi makhuk tercipta.
Dari sekian banyak Asma dan sifatNya, para pemikir muslim mengkategorikan dalam
dua kategori utama yakni sifat jalaliyah yang mencerminkan sifat-sifat
keperkasaan (maskulinitas) dan sifat jamaliyah yang mencerminkan sisi
kelembutan (feminitas) Allah.
Sifat jalaliyah dan jamaliyah
tergradasi dalam semesta kosmos dan mengharmonisasikan semesta ciptaanNya dan
manusia sebagai makhluk paripurna berpotensi mengaktualkan kedua sifat
tersebut, hanya saja kecenderungan laki-laki menyerap sifat jalaliyah lebih
banyak sehingga nafkah, perlindungan, dan penjagaan diamanahkan dipundaknya.
Sedangkan sifat jamaliyah lebih banyak diserap oleh perempuan sehingga peranan
yang berhubungan dengan kasih, sayang, dan pengasuhan dimainkan oleh perempuan.
Sifat jamaliyah Tuhan yang diserap
lebih oleh perempuan yang dianugerahi rahim mencerminkan salah satu sifat Tuhan
yang agung yakni sifat Maha penciptaNya, sekaligus dengan serangkainan sifat
feminitas menjadikan perempuan menempati posisi agung pada ranah metafisis.
Sisi feminitas seorang perempuan
tergambar jelas dalam pesan cucu rasulullah Ali Zainal Abidin Bin
Husain, betapa cinta dan kasih tak terkira besarnya senantiasa mengalir dari
seorang perempuan yang merupakan manifestasi ultim dari kreasi Tuhan dan
memegang peranan penting dalam keselarasan semesta.
Ibumu telah mengandung, memberikan
segalanya kepadamu, mempersiapkan diri untuk berkhidmat kepadamu, memberikan
semua yang dia miliki kepadamu dengan senang hati, memikul semua kesedihan atau
kepedihannya, diberi kekuatan oleh Allah untuk melahirkanmu, dia rela (senang)
kalau kamu kenyang meskipun dia sendiri lapar, dia mempersiapkan untukmu
pakaian meskipun dia sendiri tidak berpakaian, dia senang kalau sudah hilang
dahagamu meski dia tetap kehausan, dia gembira kalau kamu terhindar dari panas
matahari mwski dia sendiri terkena panas matahari, siap menderita tapi kamu
memperoleh kenikmatan, siap tak bisa tidur tapi kamu bisa tidur nyenyak. Kalau
kamu ingin mensyukuri nikmat yang diberikan ibumu maka selalu ingatlah apa yang
dilakukan oleh ibumu, tapi kamu tak akan mampu mensyukuri semuanya”. (Ali Zainal Abidin Bin Husain)
Tujuan mencapai pusat spiritual atau
asal kehidupan disimbolkan dengan tawaf, mengitari ka’bah dari arah kanan
ke kiri sebanyak 7 kali. Proses tawaf ini di ibaratkan seperti nutfa yang
menuju inti telur. Ka’bah yang dikenal sebagai bait Allah atau rumah Tuhan
merupakan lambang bagi rahim kehidupan (Achmad chodjim dalam bukunya mistik dan
makrifat sunan kalijaga). perumpamaan rahim dengan bait Allah menyiratkan
tentang kemuliaan kedudukan perempuan yang dianugerahkan rahim padanya.
Melalui rahim perempuanlah Tuhan
menitipkan sebagian dari keberlangsungan kehidupan yang akan membentuk
peradaban, memenuhi tugas-tugas kemanusiaan sebagai khalifatul Ardh dan akan
menebarkan aroma yang memiliki keharuman yang melintasi zaman, ruang bahkan
waktu.
Mulla shadra berkata dengan firman
Tuhan. Setiap kali aku merenungi ayat-ayat berikut:
“dan sesungguhnya
kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal dari tanah).
Kemudian kami jadikan
saripati itu mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim).
Kemudian air mani itu
kami jadikan segumpal darah.Lalu
segumpal darah itu,
Kami jadikan segumpal
daging.Dan segumpal daging itu kami
jadikan tulang-belulang,
Lalu tulang –belulang
itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang
(berbentuk) lain.Maha suci Allah, pencipta yang paling baik (QS. Al Mu’minun:12-14)