Hasan putra
Fathimah berkata: “Pada suatu malam Jum’at, aku menyaksikan ibuku Fathimah
tenggelam dalam ibadah hingga pagi. Dia tiada berhenti untuk rukuk dan sujud
serta menyebut satu persatu nama tetangga. Satu persatu tetangga itu didoakan,
namun herannya aku tak mendengar beliau berdoa untuk dirinya sendiri. Dengan
takjub, aku bertanya kepadanya, “Wahai
ibu! Mengapa ibu hanya mendoakan orang lain, dan mengabaikna diri sendiri?”
Ibuku menjawab, “Anakku! Tetangga dahulu,
baru diri kita. Al-jar stumma ad-daar.”.”
Tampilkan postingan dengan label Edisi 16. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edisi 16. Tampilkan semua postingan
Selasa, 19 Agustus 2014
TOKOH: We Tenri Olle, Perempuan Pemimpin Kerajaan Tanete yang Menerjemahkan Epos La Galigo
Sejarah
bugis sejak ratusan tahun silam telah mencatat sejumlah nama perempuan yang
pernah menjadi pemimpin. Salah satunya adalah We Tenri Olle. Nama lengkapnya
adalah Siti Aisyah We Tenri Olle. Ia adalah putri ke-2 dari ayah yang bernama
La Tunampare’ To Apatorang Arung Ujung. Perempuan yang bergelar Sultan ini
memerintah kerajaan Tanete cukup lama, selama 55 tahun dari tahun 1855–1910.
Sebagai penguasa perempuan, We Tenri Olle mampu membawa popularitas Tanete
melesat melintasi samudera dan benua hingga ke Eropa.
Di
zaman ketika ia memimpin kerajaan, We Tenri Olle memiliki ciri khas
kepemimpinan dalam menentang penjajah. Ia dituntut untuk memilih metode
berjuang tanpa kekerasan. Ia menjauhi perang yang berakibat pada penderitaan.
We Tenri Olle lebih memilih koperatif dengan pemerintah kolonial Hindia
Belanda. Sebuah langkah yang lebih menguntungkan, meski banyak yang berpikiran
bahwa tidak frontal dengan Belanda dianggap antek penjajah. Perempuan yang
memimpin kerajaan Tanete ini memilih bersikap terbuka. Terbukti dengan
perjuangan yang kooperatif membuat orang Bugis di pesisir jazirah Sulawesi bisa
menerima masuknya barat yang modern. Sehingga untuk melawan penjajahan kolonial
pun sudah menggunakan cara modern yang juga jauh dari kekerasan.
Kerajaan
Tanete yang dipimpin oleh We Tenri Olle merupakan kerajaan otonom kecil.
Luasnya 61.180 hektar dengan 13.362 jiwa penduduk pada saat itu,. Kerajaan
kecil ini dipersatukan dari empat wilayah: Tanete ri Tennga, Tanete ri Lauq,
Tanete ri Aja, dan Gattarang. Walaupun ia memimpin sebuah kerajaan yang kecil,
tapi pemikirannya jauh melampaui zamannya. Di saat Kartini masih melakukan
surat-menyurat mengenai kepeduliannya pada pendidikan, We Tenri Olle pada waktu
itu telah mendirikan sekolah rakyat atau yang juga dikenal sebagai sekolah desa
(volkschool). Ia jugalah salah seorang perempuan yang pertama kali
membuka sekolah untuk seluruh kalangan tanpa diskriminasi, entah itu kelas
sosial maupun gender. Ia adalah pemimpin kerajaan yang dikenal cerdas,
terpelajar, serta meminati sastra Bugis dan Islam.
Beberapa
literatur sejarah mengungkap tentang kecerdasannya dalam memerintah. Saat ia
naik tahta, keadaan Tanete penuh dengan konflik vertikal antar
penguasa-penguasa lokal di bawah kekuasaannya. Terkadang, pemimpin bawahan (matoa
dan arung) melakukan pembangkangan atas perintah pemimpin atasnya (datu).
Ketika We Tenri Olle menjadi kepala negara, Kerajaan Tanete terdiri dari
tiga belas banua daerah persekutuan hukum (distrik), yang masing-masing
berdiri sendiri di bawah pemerintahan seorang kepala pemerintah, dan beberapa
wilayah (palili) atau daerah vasal. Untuk menjaga kewibawaan dan
efektifitas pemerintahan, We Tenri Olle kemudian melakukan perampingan
pemerintahan dengan menghapus beberapa struktur lokal dan hanya menyisakan
empat palili, yaitu: Tanete ri Tennga, Tanete ri Lauq, Tanete ri Aja,
dan Gattarang. We Tenri Olle memerintah kedatuan Tanete dengan kondisi politik
dan ekonomi yang stabil selama lebih dari separuh abad, 55 tahun. Mungkin,
beliaulah pemimpin kerajaan yang paling lama memerintah di kawasan yang kini
disebut Indonesia. Masa pemerintahannya ini dimanfaatkan dengan baik oleh We
Tenri Olle untuk berkonsentrasi pada dua hal yang sangat menarik minatnya:
pendidikan dan kesusastraan, di saat perlawanan raja-raja Bugis meriuh pada
1905.
We
Tenri Olle berkontribusi dengan menerjemahkan mahakarya epos La Galigo dari
bahasa Bugis Kuno ke bahasa Bugis umum. Terjemahan ini kemudian dimanfaatkan
oleh seorang peneliti Belanda, BF Matthes untuk diadopsi menjadi tulisan ilmiah
yang akan diceritakan kemudian. Epos I La Galaligo merupakan epos terpanjang di
dunia yang mengalahkah epos agung Mahabharata 150 ribu-200 ribu baris, atau
Iliad dan Odyssey yang hanya terdiri dari 16 ribu baris. La Galigo yang
diperkirakan lahir pada awal abad masehi hingga abad ke-15. Ratu Tanete yang
menerjemahkan karya ini wafat di Pancana tahun 1919 dan dikubur di Pancana,
kecamatan Tanette Rilau tanpa diketahui pasti kapan tahun kelahirannya. Namun,
dari terjemahannya telah mampu membawa kerajaan Tanete dikenal hingga Eropa.
REVIEW BUKU: Perempuan-Perepuan Harem
Penulis :
Fatima Mernissi
Penerbit : Qanita
(Mizan Grup)
Tahun Terbit : 2003; 2009
Halaman : 336
Harem
mungkin adalah sebuah keterkungkungan. Namun di salah satu harem, hidup
beberapa perempuan luar biasa yang sangat agresif terhadap batasan-batasan yang
mempersempit ruang gerak perempuan. Meskipun tetap membatasi ruang gerak
perempuan, harem justru membesarkan Fatima dan mengukir sosoknya sebagai
salah seorang tokoh pembebasan perempuan. Ia memiliki sepupu laki-laki
sekaligus teman sepermainan bernama Shamir. Mereka sama-sama memiliki rasa
ingin tahu yang besar. Mereka hidup di dalam harem Fez, sebuah rumah berisi
keluarga besar Mernissi. Di dalam harem tersebut, Fatima dan Shamir sering
bergabung dengan kumpulan perempuan yang tak lain adalah ibu-ibu,
sepupu-sepupu, dan nenek mereka sendiri. Perempuan-perempuan tersebut terbagi
menjadi dua kelompok besar yakni kelompok tradisionalis konservatif dan
kelompok revolusionis. Kelompok tradisionalis konservatif dijaga ketat oleh
Lalla Mani (nenek Fatima) dan Ibunda Chama. Mereka ingin tetap mempertahankan
tradisi-tradisi Timur Tengah dalam kehidupan sehari-hari. Mereka menolak
mentah-mentah gaya hidup Barat dan pemberontakan terhadap tradisi Arab.
Sebaliknya, kelompok revolusionis memiliki lebih banyak pengikut, di antaranya
bunda Fatima, Chama, dan Bibi Habiba. Perempuan-perempuan dalam kelompok
revolusionis selalu mempunyai impian dan keinginan kuat untuk terbebas dari
tembok harem. Mereka ingin bebas bergerak di luar seperti perempuan-perempuan
Perancis.
Bagi
anak-anak, batas Harem hanyalah di antara ruang tengah, depan, belakang, dan
pagar yang mengelilingi mereka. Jadi, sangat mudah bagi mereka untuk mengetahui
batas tempat bermain mereka. Namun bagi orang dewasa, harem bukanlah sebuah
pagar atau batasan antar ruangan. Tetapi, harem lebih dari itu. Kata Ayah
Fatima bahwa ketika Allah menciptakan bumi, Dia memisahkan kaum laki-laki dari
kaum perempuan, dan meletakan lautan di antara kaum muslimin dan kaum Kristen,
karena satu alasan, kedamaian hanya akan terwujud bila setiap pihak
menghargai batas-batas pihak lain. Melampaui batas-batas hanya akan membawa
penyesalan dan kepedihan. Namun, bagi perempuan melampaui batas-batas suci
(hudud) adalah mimpi mereka, dan dunia di luar sana menjadi obsesi untuk menembus
dinding-dinding tersebut. Gerbang harem adalah sebuah pembatas dan jika ingin
keluar harus minta izin kepada penjaga gerbang dan sudah tentu dengan alasan
yang tepat. Namun, untuk mencapai misinya perempuan selalu menggunakan
kelebihannya dengan “mempengaruhi” penjaga pintu gerbang dengan kata-kata yang
meyakinkan. Dan dengan kata-kata pula seorang perempuan pengarang kisah
seribu satu malam “mempengaruhi” raja dengan kata-kata, Fatima pun ingin sekali
mengetahui bagaimana Syahrazad melakukannya. Hingga suatu senja, ibunda
Fatima meluangkan waktu untuk menerangkan kepada Fatima kenapa cerita itu
dinamakan seribu satu malam. Ketika ibu Fatima merampungkan kisah
Syahrazad, Fatima penasaran “bagaimana seseorang bisa mereka-reka cerita yang
menyenangkan sang Raja?” Ibunda Fatima berkata, itu adalah pekerjaan seorang
perempuan. Dan cerita-cerita itulah yang membuat Fatima ingin segera dewasa dan
menjadi pencerita handal. Fatima ingin belajar, bagaimana bercerita di malam
hari.
Ibunda
Fatima dan perempuan-perempuan istimewa di harem keluarga Fatima yang
membesarkan dan menginspirasi Fatima. Alih-alih diam membisu dan menyerah pada
tembok tradisi. Mereka berusaha tetap menghayati kebersamaan yang ada dengan
saling berbagi mimpi-mimpi menembus dinding harem . Dan cobalah anda turut
menghirup “kebebasan’ perempuan-perempuan yang terkungkung itu. Merasakan
keceriaan mereka, menghikmahti kearifan mereka, kemudian meyakini, tak juga
tembok sekuat apa pun dapat mengekang pikiran yang ingin terbang merdeka.
Singkat
kata dari novel ini, definisi strereotipe yang diajukan Barat terhadap harem,
perempuan, dan tradisi Timur Tengah perlu dibongkar lagi. Fatima Mernissi,
lewat novelnya telah melakukan usaha penjernihan ulang gambaran harem yang
selama ini telah keliru dan disebarluaskan oleh para orientalis Barat. Ia juga
melakukan kritik dengan gaya ironi terhadap pandangan Barat mengenai
perempuan-perempuan Timur Tengah. Sebuah novel penting yang tidak hanya membawa
semangat kebebasan perempuan, tetapi juga semangat membongkar orientalisme, dan
layak dibaca baik oleh Timur maupun oleh Barat, laki-laki maupun perempuan.
OPINI: Perempuan dalam Mitos Kecantikan: Penjajahan vs Pencarian Kesadaran
Oleh: Andi Tenripada
“Perempuan menonton diri
mereka yang dipandangi laki-laki, mereka bereaksi pada sesuatu yang ‘ideal’.
Apapun bentuknya pada waktu tertentu, seolah –olah dia adalah perintah yang tak
dapat dinegosiasikan.”
Pembuka tulisan di atas
terinspirasi dari sebuah tayangan tengah malam di TV swasta nasional. Kala itu
seperti biasa di layar kaca disuguhkan seorang host wanita yang begitu
menggoda. Menggoda dalam arti fisik (bibir merah merekah, postur tubuh tinggi
yang dibalut gaun belahan rendah, dan sepasang kaki yang jenjang). Normal lho
ya’, saya perempuan malah tergiring melototi bagian per bagian tubuhnya
meski substansi tema yang dibicarakan sebenarnya tidak terlalu baru.
Ah, perempuan sementara
berkisah. Itu pula yang menginspirasi saya menerima tawaran untuk menulis di
buletin ini, setelah lama tak bertegur sapa dalam tulisan-tulisan. Ketika
bertanya tentang tema, perempuan dan budaya masih menjadi wacana yang tidak
habis untuk dikelola, dikemas, dikuliti, agar tampak menarik dan seksi
sepertinya. Saya tidak meragukan pengetahuan dan pengalaman kaumku hari ini,
mata dan kakinya pun hatinya telah menjelajahi dunia-dunia yang tempo dulu
tidak punya kuasa untuk dijamah. Peran media dari mulai TV yang merambah hingga
kamar-kamar, majalah/bacaan-bacaan atau pun alat propaganda lain perlahan tapi
pasti menyuguhkan “kelebihan-kelebihan” yang memberi imajinasi tentang kumpulan
wanita-wanita sempurna dalam kebudayaan massa. Ada yang terasa mengundang tanya
ketika dua realitas yang saya temui hari ini seolah menampilkan
stereotipe-stereotipe bahwa feminitas perempuan berarti kecantikan yang tanpa
intelejensi atau intelejensi tanpa kecantikan. Mengapa demikian? Karena secara
massa ditemukannya perempuan-perempuan yang dibiarkan memiliki pikiran atau
memiliki tubuh tetapi tidak keduanya.
Betapa kuasanya
perhatian terhadap citra tubuh dan wajah, perempuan digiring jauh dari
perjalanan intelektual yang positif dan mendekatkan pada rute kecanduannya
terhadap kecantikan fisik (material). Kita pantas gelisah pada
serangan-serangan ini. Serangan yang jelas datang dari musuh yang tidak
terlihat, karena iklan-iklan. Katakanlah begitu membaca kebutuhan perempuan
dalam level yang sangat personal dengan baik. Mitos kecantikan ingin mendorong
perempuan untuk melihat dirinya sendiri sebagai sesuatu yang jelas-jelas cantik
secara seksual. Coba lihat konsep “lemak”, dulu adalah hal yang sifatnya
seksual dalam sesosok tubuh perempuan di masa Victorian dan disebut sebagai silken
layer/lembaran sutera dikonstruk oleh citra kurus dari Iron Maiden yang
membuat seperlima dari perempuan melakukan olahraga dan membentuk tubuh mereka
mengalami ketidakteraturan menstruasi dan gangguan kesuburan. Tubuh para model
(ingat baik-baik!) 22%-23% lebih kurus dibandingkan tubuh rata-rata perempuan.
Itulah satu dari bentuk penolakan diri dari para perempuan yang secara perlahan
mengkonsepsi pikiran menuju kebencian diri. “Kecantikan” bukanlah sekedar hal
visual. Kecantikan adalah sesuatu yang lebih nyata dari film atau dalam
kehidupan tiga dimensi. Hal visual yang dimaksud adalah pengertian yang
dimonopoli oleh para pengiklan, yang dapat memanipulasinya dengan lebih baik.
Kita mengklaim bahwa kita memiliki kebebasan, kita mulai memakai pakaian yang
terasa nyaman, tetapi ketidaknyamanan justru masuk ke dalam tubuh kita.
Konsep kecantikan alami
yang berkembang di masa 1970-an menjadi ikon mitos kecantikan itu sendiri.
Kecantikan yang menonjolkan “kesehatan” yang berkembang pada 1980-an membawa
epidemik penyakit baru. Sedangkan, kecantikan yang menonjolkan kekuatan
mengurung perempuan dalam otot-ototnya. Dan proses ini terus berlanjut. Situasi
pasar tidaklah terbuka bagi munculnya kesadaran.
Sementara itu, kita
“perempuan” tidak bisa secara langsung memengaruhi citra-citra itu, tetapi kita
tetap bisa “memanfaatkannya” dan akhirnya menemukan citra “kecantikan
alternatif” dalam subkultur perempuan. Kita bisa menemukan biografi perempuan,
sejarah perempuan, kisah para pahlawan perempuan dalam setiap generasinya yang
diam-diam ditenggelamkan dari pandangan umum. Bekal pengetahuan yang dimiliki,
ideologi gerakan dan falsafah hiduplah yang menuntun kita terus mencari tahu,
memberi dukungan dan sungguh-sungguh mempertimbangkan alternatif-alternatif
yang ada tadi.
Sebenarnya pemujaan
terhadap kecantikan membuktikan adanya dahaga spiritual dan tidak terisinya
ruang kosong di jiwa kita. Di sisi kesadaran lain, seperti apa epistemologi
yang dimiliki akan menjadi bekal membaca dunia. Pun bagi sebagian perempuan
lain, mereka berjuang menegaskan bahwa kecantikan bersanding dengan
intelegensi, bersanding dengan visi perjuangan, bersanding dengan nilai
kesemestaan. Militansi terbaca melalui citra kasih sayangnya yang menjadi
fitrah. Pencariannya atas hakikat turun pula pada tafsir tentang fiqih dan
syariat. Kesadaran penuh bahwa kesempurnaan itu didapat melalui pencarian
mereka untuk memahami bahwa ini adalah perjalanan kualitas jiwa (kualitas roh).
Roh yang berusaha mendekat pada kesempurnaan. Jalan panjang kerinduan menuju
Tuhan. Ketika di luar menggembor-gemborkan tentang perang pemikiran, lalu di mana
kita akan mengambil sikap? Jauh melampaui itu, semoga tidak sekedar mencari
alternatif.
*)Referensi: Buku “Mitos Kecantikan:
Kala Kecantikan Menindas Perempuan” (Naomi Wolf)