Tampilkan postingan dengan label Edisi 18. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edisi 18. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Agustus 2014

KISAH HIKMAH: Pertama Tetangga, Kemudian Dirimu

Malam itu, seperti malam-malam lainnya, Hasan dan Husein melihat ibunya dengan penuh kekhusyuan sedang melakukan ibadah. Wajah beliau bercahaya bak bintang di langit. Mereka berdua tahu bahwa dalam kondisi demikian, ibu mereka akan melupakan dunia dan apa yang ada di dalamnya. Satu-satunya yang dipikirkan hanya Allah Swt. Mereka berdua telah terbiasa memandang sang ibu saat melakukan shalat atau sedang bermunajat. Mereka benar-benar menikmati kondisi spiritual ini.

Akhirnya shalat sang ibu selesai. Pada waktu itu mereka mendengar sang ibu berdoa untuk para tetangga. Mereka menanti dan ingin mengetahui setelah tetangga, siapa lagi yang akan didoakan oleh sang ibu. Mereka benar-benar ingin tahu apa yang dimohonkan oleh sang ibu kepada Allah Swt untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya. Tapi ternyata sang ibu tidak meminta sesuatu untuk dirinya dan anak-anaknya. Beliau masih tetap berdoa kepada Alah Swt untuk tetangga dan orang-orang dekatnya.

Sayidah Fathimah az-Zahra kemudian berdiri dari sajadahnya. Hasan dan Husein berkata, "Ibu! Setelah melakukan shalat dan bermunajat, apakah ada yang engkau minta kepada Allah Swt untuk kami?"

Sang ibu menjawab, "Allah Swt senang bila para hambaNya memohon kepadaNya di segala kondisi, khususnya setelah shalat. Karena kondisi itu adalah waktu dikabulkannya doa. Tapi hajatku akan dikabulkan ketika tetangga dan orang-orang terdekat kita dikabulkan hajatnya."



Beliau kemudian berkata, "Saya berdoa untuk orang lain dengan prinsip bahwa diturunkannya kebaikan dan keberkahan kepada tetangga dengan sendirinya saya juga dapat memanfaatkan berkah dan pertolongan Allah."

REVIEW BUKU: Perempuan – Perempuan di Sisi Muhammad Saw (Poligami di Antara Pembebasan, Cinta dan Ketertindasan)

Penulis : Ali Syariati
Penerbit : Rausyanfikr Institute
Tebal : 101 halaman
Tahun Terbit : Juni 2012


Banyak pembicaraan mengenai isu poligami Nabi Muhammad dan masalah perempuan. Poligami seolah menjadi sebuah momok menakutkan bagi kaum perempuan. Beberapa anggapan mengatakan bahwa permasalahan poligami yang terjadi hari ini dikarenakan persoalan sejarah poligami yang dilakukan Nabi Muhammad, meskipun beberapa cerita yang ada sangat jauh dari fakta sejarah yang sesungguhnya.

Buku ini menganggap bahwa permasalahan perempuan dari berbagai sudut yang dapat didiskusikan bergantung variabel zaman dan lingkungan sampai batas tertentu, sehingga kadang-kadang banyak prinsip dan norma yang dianggap sangat manusiawi pada periode tertentu dan dianggap kejahatan anti kemanusiaan di lingkungan dan era lainnya. Permasalahan poligami adalah permasalahan seperti itu. Jelasnya suara hati di zaman kita ini dilukai oleh penghinaan yang mengerikan pada perempuan tersebut karena poligami.

Akan tetapi di zaman dahulu, khususnya di masyarakat primitif, prinsip poligami memungkinkan bagi para janda dan mungkin anak-anak mereka yang yatim akan mendapatkan kehangatan keluarga, keamanan dan kesejahteraan. Sesuatu yang mereka tidak peroleh, jika tidak dipraktikkan. Oleh karena itu, masa depan mereka yang terancam kemiskinan, kesengsaraan dan kebejatan moral akan terantisipasi karena perlindungan seorang laki-laki yang pada zaman tersebut merupakan satu-satunya pelindung perempuan dan anaknya. Lebih jauh lagi, keluarga yang akan tercerai-berai ketika “kematian merah” (kesyahidan) yang sering terjadi pada laki-laki akan mendapatkan pemeliharaan dan bantuan lagi (karena pernikahan poligami). Dan Nabi Muhammad dalam hal ini bukan hanya berusaha secara teoritis, tetapi juga secara praktis. Beliau menganugerahkan perempuan dengan martabat dan hak-hak yang telah Islam tetapkan bagi mereka.

Buku ini juga menjelaskan tentang kisah kehidupan Nabi Muhammad bersama para istri-istrinya. Bagaimana kehidupan mereka yang penuh dengan kesederhanaan, serta cara Nabi memperlakukan para istrinya dengan memuliakannya dan tidak diskriminatif. Sangat jauh dari kisah yang mungkin sering kita dengar saat ini tentang cerita perselingkuhan Zainab, istri Zaid (anak angkat Nabi) yang tidak bukan adalah cerita yang penuh dengan unsur rekayasa. Atau cerita tentang Nabi yang menikahi perempuan di bawah umur (Aisyah) atau cerita-cerita lainnya. Sedangkan di sisi lain, fakta bahwa tatkala Nabi berusia dua puluh lima tahun, beliau menikahi perempuan berusia lima belas tahun lebih tua darinya yaitu Khadijah (istri pertama beliau). Atau fakta bahwa Nabi menikahi janda yang berusia lima puluh tahun dan hidup selama tiga puluh tahun bersamanya, dan masih banyak lagi fakta-fakta lainnya yang justru diabaikan.

TOKOH: Sosok Ibu Hasri Ainun Habibie

Oleh: Selvy A. Syarif


“Saya melihat beliau seorang istri dan ibu yang mendedikasikan hidupnya
untuk kepentingan suami dan anak-anak.(J. Ahmad Watik Pratiknya)


Seorang perempuan lahir di dunia tidaklah menjadi sekedar pelengkap lelaki semata. Perempuan pun memiliki tugas dan perannya tersendiri untuk membangun masyarakat ke arah yang lebih baik, entah itu sebagai seorang ibu ataupun sebagai istri. Tugas dan peran tersebut bisa kita lihat pada pengabdian seorang perempuan bernama Hasri Ainun Besari atau yang lebih dikenal dengan ibu Ainun Habibie.

Lahir dan besar di keluarga yang memiliki perhatian lebih terhadap pendidikan, mengantakan beliau memperoleh gelar dokter di Universitas Indonesia. Hal ini tentu saja membuat beliau menjadi seorang ibu yang memiliki perhatian lebih pada pendidikan kedua putranya (Ilham Habibie dan Thareq Kemal).

Ibu Ainun pernah bekerja sebagai dokter di RSCM Jakarta selama satu tahun. Tepat pada tahun1962, setelah menikah dengan bapak B.J. Habibie, beliau memilih untuk meninggalkan pekerjaannya dan mengikuti suaminya ke Jerman untuk melanjutkan studinya. Pilihan tersebut tentulah dianggap oleh beberapa kalangan sebagai pilihan bodoh dan irrasional. Bahkan mungkin ada yang beranggapan bahwa itu adalah bentuk pengekangan bagi seorang perempuan. Tapi, bagi ibu Ainun, pilhan ini tidaklah menjadi masalah, karena ini menjadi bentuk tanggung jawabnya sebagai seorang istri.

Perempuan cerdas tentu akan melahirkan anak-anak yang cerdas pula. Sebagai seorang ibu,yang bertanggung jawab, beliau membesarkan anak-anaknya dengan penuh perhatian. Beliau selalu memberikan ruang kepada anaknya untuk mengembangkan kepribadian mereka sejak kecil. Beliau juga mengajarkan anak-anaknya untuk bertanya tentang berbagai hal yang tidak mereka ketahui, karena beliau sadar pentingnya membangun keingintahuan dan kreatifitas anak sejak dini. Hidup sederhana menjadi salah satu titik tekan pendidikan ala ibu Ainun. Beliau mendidik anak-anaknya untuk berani mengemukakan pendapat lewat diskusi di rumah. Baginya, cara tersebut adalah proses belajar yang harus dilalui oleh anak, dan menjadi waktu bagi orang tua melaksanakan kewajibannya memberikan bekal hidup bagi anaknya. Dan dari tangan seorang ibu Ainun, 2 anaknya sukses dalam pendidikannya.

Dalam sebuah pidatonya, bapak Habibie pernah menyampaikan bahwa di balik seorang tokoh, selalu tersembunyi peran 2 perempuan, yaitu ibu dan istri. Kutipan tersebut bisa dijadikan peganan bahwa perempuan yang memilih untuk berada di ranah domestik masih memiliki andil besar dalam sebuah perubahan tatanan masyarakat, melalui didikannya kepada anak atau melalui keikhlasannya menjadi teman bagi suami. Ibu Ainun melakukan hal tersebut dengan mendidik anak-anaknya dan menjadi teman dan motivator terbaik bagi suaminya. Beliau selalu memiliki cara untuk menyelesaikan permasalahan ekonomi keluarga, bahkan selalu memberikan masukan positif saat bapak Habibie menjabat sebagai presiden RI.

Selama menjadi ibu negara, beliau tak pernah letih menunjukkan dedikasi dan pengabdiannya pada suami dan negara secara bersamaan. Saat Indonesia masih berada di titik nadir pasca krisis 1998, beliau selalu bisa menempatkan dirinya sebagai ibu negara yang melayani rakyat dan memberi dukungan kepada suaminya sekaligus.

Pilihannya untuk fokus di keluarga, tak mengurangi kepeduliannya pada kegiatan sosial, seperti mendirikan Yayasan Bank Mata, Yayasan Beasiswa ORBIT dan Yayasan SDM Iptek untuk memperkenalkan dan meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi pada masyarakat Indonesia.
Sosok seperti ibu Ainun harusnya membuka pemikiran para perempuan. Peran sebagai ibu rumah tangga bukanlah penghalang untuk berkegiatan di ranah publik. Kedua-duanya bisa menjadi satu paket, jika perempuan-perempuan bisa belajar dan mencerdaskan dirinya sendiri.

OPINI: Perempuan dan Tugas Mulianya Dalam Rumah Tangga

Oleh: Faradillah Hamzah


“Barangsiapa dianugerahi Allah dengan perempuan shalih, berarti ia telah menolong separuh agamanya. Oleh karena itu, hendaklah ia bertakwa kepada Allah dengan separuhnya yang lain.” Rasulullah saw.


Perkataan Rasulullah saw di atas menegaskan tentang pentingnya peran perempuan. Islam memandang perempuan saleh sebagai landasan masyarakat madani sekaligus faktor yang berperan penting dalam perbaikan kondisi masyarakat. Semua itu dimaksudkan agar sebuah masyarakat dihuni para individu yang cenderung pada kebajikan dan bersedia memikul tanggung jawab untuk membangun masa depan kemanusiaan yang gilang-gemilang.

Sebagai pemimpin dalam rumahnya, perempuan bertanggung jawab dalam mengatur rumah dan pendidikan anak. Sebuah tugas mulia yang tidak mudah. Perempuan adalah muara kasih sayang bagi keluarganya. Sejatinya, kenyamanan dan ketenangan rumah bergantung pada perempuan. Potensi dari kemuliaan perempuan inilah yang tidak seharusnya dirampas oleh kantor-kantor atau tempat perniagaan. Pengetahuan dan tenaga perempuan tidak seharusnya dikerahkan untuk kepuasan materi kantor-kantor maupun perusahaan perniagaan. Hingga akhirnya lelah merampas sifat alamiah perempuan yang senantiasa menebarkan cinta damai bagi anak-anak dan suaminya di rumah.

Meskipun aksi gerakan kesetaraan gender perlahan meredup, tetapi semangat ini masih mengakar kuat di dalam diri sebagian besar perempuan-perempuan modern. Hal ini tampak dengan banyaknya perempuan yang lebih memilih aktivitas berkarir di luar rumah. Tentu saja hal ini tidak menjadi masalah selama perempuan tidak meninggalkan sifat kodratinya. Namun, dalam kenyataannya, begitu banyak perempuan yang lebih memilih memikul tanggung jawab yang seharusnya dipikul kaum lelaki dengan dalih kesetaraan gender dengan menyampingkan sifat alamiahnya sebagai ibu dan istri. Bahkan, sejumlah perempuan menginginkan dirinya menyandang sifat-sifat yang dimiliki kaum lelaki.

Menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah profesi dengan imbalan sebuah kemuliaan. Namun, acapkali perempuan merasa minder dengan profesi ini, karena anggapan sebagian orang yang mengatakan bahwa profesi ini hanya bergelut di “dapur”, “sumur”, dan “kasur”. Jelas, anggapan ini keliru. Menjadi ibu rumah tangga bukanlah pekerjaan remeh. Sebagai pemimpin dalam rumahnya, seorang perempuan yang bijak dituntut kecermatan dan ketelatenan. Sifat kasihnya adalah senjata dalam membentuk karakter manusia-manusia terdidik yang berakhlak. Sebagai seorang ibu, ia adalah cerminan akhlak masyarakat. Sebagai seorang istri, perempuan adalah samudera ketenangan bagi suaminya.

Rasulullah saw bersabda, “Didiklah anakmu 25 tahun sebelum dia lahir”. Hal ini menekankan bahwa sebelum mendidik anak, seorang perempuan dituntut untuk mendidik dirinya terlebih dahulu. Pendidikan yang dimaksud tentulah tidak sesempit pendidikan yang diperoleh di bangku sekolah, tapi yang terpenting adalah pendidikan agama. Karena sifat kasih sayang yang dimiliki perempuan haruslah disandingkan dengan otak yang cerdas, agar tidak salah dalam mendidik. Ibu yang bodoh mustahil melahirkan anak yang cerdas.

Faktor lain mengapa perempuan merasa minder serta tidak menggemari profesi ini adalah konstruksi budaya yang menganggap bahwa segenap pekerjaan rumah tangga adalah
kewajiban perempuan. Sehingga perempuan menganggap hal ini sebagai beban yang tidak adil bagi mereka. Padahal tidak ada kemuliaan yang lebih tinggi bagi seorang perempuan selain kemuliaan yang diberikan Islam. Dan hal ini bermuara pada tugas fitrawi perempuan sebagai seorang ibu dan isteri.





Pekerjaan sebagai ibu rumah tangga tidaklah terbatas oleh hitungan jam kerja dalam sehari. Sebagaimana kemuliaannya yang tidak dapat diukur dengan hal yang materil. Pekerjaan ibu rumah tangga adalah perpaduan cinta, seni keterampilan, serta kecerdasan.