Di hadapan Ali bin Abi Thalib, seseorang mengucapkan, “
Astaghfirullah (saya memohon ampunan kepada Allah).” Kemudian Amirul Mukminin
berkata kepadanya, ”Ibu Anda boleh menangisi Anda; Anda tak tahu makna
istighfar. Istighfar dimaksudkan bagi orang-orang yang berkedudukan tinggi.
Kata itu berdiri di atas enam pilar yang kokoh.
Pilar-pilar tersebut adalah; pertama, bertaubat atas yang
lalu; kedua, bertekad sungguh-sungguh untuk tidak kembali kepada perbuatan
maksiat; ketiga, memenuhi hak-hak manusia agar Anda menemui Allah dengan jiwa
bersih tanpa sesuatu pun yang harus dipertanggungjawabkan; keempat, memenuhi
setiap kewajiban yang Anda abaikan di waktu lalu sehingga sekarang Anda boleh
berlaku adil atasnya; kelima, berkenaan dengan daging yang tumbuh yang
dihasilkan dari pendapatan haram agar Anda meleburkannya dengan kesedihan dan
bertaubat sampai kulit menyentuh tulang, dan daging baru tumbuh di antara
daging dan tulang tersebut; dan keenam, membuat tubuh merasakan perihnya
ketaatan sebagaimana dulunya Anda merasakan manisnya berbuat maksiat. Dalam
keadaan semacam itu, Anda boleh mengatakan “Astaghfirulah (saya memohon ampunan
kepada Allah).”
Taubat memiliki beberapa tingkatan. Secara syariat, taubat
dapat dilakukan hanya dengan mengamalkan empat syarat pertama. Adapun syarat
kelima dan keenam merupakan syarat kesempurnaan taubat dan merupakan hakikat
taubat tertinggi.
Judul: Permata dalam Lumpur
Penulis: Satria Nova dan Nurhuda
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Tebal halaman: 211 halaman
Mungkin
tidak banyak yang paham jika disebut kata “Jarak” atau ‘Putat Jaya”. Tapi
ketika disebut kata Dolly, pasti banyak orang yang langsung bisa menangkap
maknanya. Dolly adalah kawasan prostitusi terbesar di Indonesia, bahkan di Asia
Tenggara mengalahkan Phat Pong di Bangkok, Thailand dan Geylang di Singapura.
Daerah lokalisasi ini sudah lama dan bertahan sampai sekarang.
Di Dolly ini secara administratif terbagi dalam tiga wilayah, yaitu Blok A, B, dan
C. Setiap blok mempunyai ciri khas dan keunikan masing-masing. Blok A adalah
daerah yang berada di Jalan Jarak. Inilah yang disebut orang sebagai Dolly,
sebab lokasinya berada di jalan utama. Di sinilah tempatnya PSK kelas atas.
Kalau boleh dibilang, blok A adalah blok eksekutif, blok B bisnis, sementara
blok C adalah ekonomi. Ini berdasarkan tarif dan pelayanan yang diberikan.
Selain itu di Blok A, semua wisma pasti memiliki makelar yang bertugas
mencarikan pelanggan untuk para PSK. Berbeda dengan PSK di Blok C yang harus
mencari pelanggannya sendiri. Untuk Blok B, sebagian ada yang menggunakan
makelar sebagian lagi tidak. Dari segi pekerjanya juga berbeda. Di blok A,
wanita yang bekerja cenderung lebih cantik. Tentu ini sesuai dengan tarif yang
ditawarkan.
Dolly
memang unik. Setidaknya itu tergambar dari semacam bel yang berbunyi sebanyak
empat kali setiap harinya. Bel pertama akan dibunyikan sekitar pukul lima sore,
yang bisa didengar oleh semua penduduk yang berada di seantero Dolly. Bel ini
bisa diartikan sebagai penanda jam masuk “kantor”. Di saat-saat inilah para PSK
akan bergegas menuju kantornya masing-masing. Meski beberapa sudah siap sedia
sejak siang harinya. Bel ini juga menandakan bahwa tidak bolehnya ada suara
karaoke sebelum bel kedua dibunyikan. Alasannya? Waktunya azan Magrib sudah
tiba. Bel kedua akan dibunyikan lagi sekitar pukul tujuh malam, pertanda bahwa
suara music dan karaoke boleh dinyalakan kembali. Sesaat setelahnya, setiap
wisma seakan berlomba-lomba menarik pelanggannya dengan suara wanita yang
bernyanyi di dalam wisma. Wisma harus siap siaga sebab banyak tamu yang
berdatangan.
Bel ketiga berbunyi lagi sekitar pukul satu malam. Ini menandakan bahwa tidak
boleh ada lagi suara musik dan karaoke yang terdengar. Meski begitu, bukan
berarti wisma juga tutup. Aktivitas wisma masih terus berlanjut. Karena hampir
semua wisma menawarkan servis 24 jam nonstop. Meski terkadang wisma harus tutup
jika para pelanggannya sudah pulang dan tidak ada yang datang lagi. Bel keempat
akan berbunyi lagi sekitar pukul sepuluh pagi. Ini menandakan bahwa suara musik
dan karaoke boleh terdengar lagi sampai nanti pukul lima sore saat bel akan
dibunyikan lagi. Namun dibalik kelamnya Dolly, terdapat secercah harapan. Di
dalam Dolly terdapat sebuah taman baca. Tempat ini didirikan oleh Pak Kartono
untuk dijadikan tempat rehat bagi anak-anak setempat. Mereka adalah anak-anak
setempat yang terancam hancur masa depannya. Pak Kartono adalah mantan mucikari
dari Dolly sendiri yang insaf dan memutuskan untuk menebus dosanya dengan cara
mendirikan taman baca.
Tindakan
Pak Kartono adalah pilihan yang tepat. Anak-anak di Dolly butuh perhatian
lebih. Sebab, orangtua mereka sudah tidak bisa diharapkan lagi. Bahkan banyak
yang tidak jelas siapa ibu bapaknya. Pak Kartono dengan beberapa orang
mahasiswa mengajar. Mereka diajar membaca, belajar sejarah, belajar membaca Al
Qur’an, berlatih koreografi, dan masih banyak lagi. Walaupun banyak yang
menganggap hal yang dilakukan oleh Pak Kartono dan kawan-kawan itu sia-sia.
Tapi mereka tidak patah semangat. Mereka dengan keikhlasan mengorbankan waktu
mereka untuk mengajar anak-anak di Dolly. Mereka menganggap, walaupun Dolly itu
bagaikan lumpur, pasti terdapat permata di dalamnya. Permata ini adalah
anak-anak di Dolly yang masih punya masa depan. Yang tentu saja punya harapan
untuk menjadi lebih baik dibanding orang tua mereka.
Fathimah Al-Fihri lahir di Tunisia 800-880 M
dalam sebuah keluarga yang sangat kaya dan bangsawan sosial. Ayahnya bernama
Muhammad Al-Fihri, seorang pengusaha sukses di kota Tunisia yang kemudian
bermigrasi ke Fes, Maroko pada masa pemerintahan Raja Idriss II. Fathimah
Al-Fihri mempunyai saudara perempuan yang bernama Maryam, mereka adalah
anak-anak yang shaleha dan berpendidikan serta sangat mencintai ilmu agama
Islam dan arsitektur.
Setelah melakukan perjalanan dengan ayahnya dan menetap di distrik
barat kota Fes Maroko, Fathimah dan Maryam mempunyai visi dan misi untuk
kemajuan masyarakat di kota tersebut. Mereka bergaul dengan masyarakat tanpa
memandang kelas sosial. Fathimah Al-Fihri bersama kakaknya membentuk komunitas
pengajian. Fathimah menyadari pentingnya memiliki pusat-pusat keagamaan untuk
menjaga pengetahuan islam dan mengembangkan masyarakat lokal intelektual. Untuk
mencapai hal tersebut, ia rela menyumbangkan kekayaan warisannya.
Fathimah Al-Fihri dan kakaknya Maryam yang berpendidikan dan
dibesarkan dengan ketaatan beragama mewarisi sejumlah besar kekayaan dari
ayahnya yang seorang pengusaha sukses. Fathimah berniat menghabiskan seluruh
warisan itu untuk membangun sebuah masjid.
Pada tahun 859 M Fathimah membangun masjid yang di beri nama
Al-Qarawiyyin, yang kemudian pada abad 12 berkembang menjadi sebuah universitas
yang menjadi pusat penting pendidikan dan merupakan universitas Islam dan
paling bergengsi pertama di dunia. Sedangkan Maryam, memutuskan untuk
memberikan sebagian warisannya untuk membangun masjid Agung Al-Andalous. Adapun
Masjid Al-Qarawiyyin yang sekaligus menjadi madrasah tersebut memainkan peran
utama dalam menyebarkan cahaya pengetahuan dan tonggak untuk pertukaran budaya
antara peradaban Islam dan Eropa.
Fathimah Al-Fihri tidak hanya menghabiskan seluruh warisannya
untuk membangun masjid, tetapi ia juga mengabdikan dirinya untuk mengembangkan
kajian-kajian pengetahuan di masjid tersebut sehingga ahirnya Fathimah
memutuskan untuk menjadikan masjid Al-Qarawiyyin sebagai pusat pendidikan yang
kemudian menjadi sebuah universitas.
Universitas Al-Qarawiyyin sangat dihormati saat itu sebagai salah
satu pusat spiritual dan pendidikan terkemuka dunia Muslim. Saat ini, Guinness
Book of World Records telah mengakui dan mencatat universitas
Al-Qarawiyyin sebagai universitas tertua di dunia.
Universitas Al-Qarawiyyin menghasilkan pemikir besar seperti Abu
Al-Abbas Al-Zwawi, Abu Madhab Al-Fasi, Maliki seorang teoritikus terkemuka dari
sekolah hukum Islam, dan Leo Africanus seorang penulis. Selain itu, Ibnu
Al-Arabi, Ibnu Khaldun, dan Al-Bitruji juga menjadi siswa di Universitas
Al-Qarawiyyin.
Al-Qarawiyyin adalah contoh sempurna tentang bagaimana Islam menggabungkan
spiritual dengan pendidikan dan bahwa Islam tidak terpisah dari urusan
kehidupan. Ini bukan hanya sebuah contoh bagaimana pendidikan dan agama
bergabung disudut kecil dunia, tetapi menyoroti peran terhormat perempuan dalam
masyarakat Islam yang merupakan aspek Islam yang sering disalah pahami. Selain
itu, selama abad pertengahan, Universitas Al-Qarawiyyin di anggap sebagai pusat
intelektual utama di Mediterania. Reputasi yang sangat baik bahkan menyebabkan
Gerber dari Auvergne belajar di Masjid. Gerber kemudian menjadi Paus Silvester
II dan telah memperkenalkan angka Arab dan nol ke seluruh Eropa.
Setiap agama, pergerakan, atau pun
revolusi terdiri atas unsur kearifan dan cinta. Kearifan berarti gerakan dan
cinta berarti cahaya. Cahaya memberi akal sehat dan pengertian serta kearifan
memberikan kekuatan, antusiasme, dan gerakan itu sendiri. Gerakan menjadi
metode dalam mewujudkan suatu tatanan yang diharapkan dan akal sehat serta
pengertian merumuskan tujuan yang ingin dicapai. Akal sehat yang dimaksud
bukanlah sebagaimana asumsi umum bahwa kualitas akal pria lebih tinggi dari
akal perempuan. Sebuah asumsi yang harus kita koreksi agar masyarakat tidak
mudah terjebak dalam statement yang memiliki rujukan multitafsir. Sebagaimana
arahan konsep pendidikan pada dewasa ini yang bertujuan untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa sesuai dengan pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 namun seakan
menghamba untuk kepentingan tertentu. Konsep pendidikan haruslah memiliki kedua
unsur ini, unsur kearifan dan cinta. Unsur yang tidak memiliki keterpisahan
walaupun penyebutannya secara terpisah. Pendidikan bukanlah semata
jenjang-jenjang sekolah formal seperti yang diwajibkan oleh negara.
Pendidikan bukan hanya menjadi
tanggungjawab kaum pria, tetapi juga tanggungjawab perempuan. Pendidikan tidak
lagi seperti pandangan masa lalu dalam sejarah pergerakan perempuan di mana
kaum perempuan memiliki hak minoritas untuk mendapatkan pendidikan. Pendidikan
tidak diperuntukkan bagi pria saja atau perempuan saja. Tapi pendidikan adalah
hak setiap manusia yang sebenarnya memiliki substansi yang sama, tidak
mendasarkan pada perbedaan secara fisik, melainkan pada ruh-nya. Senada dengan
pandangan sufisme yang mengutamakan dunia spiritual ketimbang dunia material.
Yang secara ontologis dunia spiritual lebih hakikih dan riil dibanding dunia
material.
Ketika dewasa ini yang masyarakat dihegemoni tentang pendidikan
yang berkualitas haruslah menempuh jenjang pendidikan setinggi mungkin,
menyekolahkan anak-anak pada sekolah berlabel unggulan dengan biaya selangit,
mengikutsertakan pada program kursus ini dan itu, sarana penunjang pendidikan
pun harus mengacu pada teknologi mutakhir yang dirilis paling akhir, serta
masih banyak lagi kualifikasi yang disyaratka. Dan disaat yang bersamaan ketika
sekelompok masyarakat kelas atas memenuhi keinginan alat penunjang pendidikan
yang menurut mereka mampu memenuhi kebutuhan, ada masyarakat kelas bawah yang
pontang-panting mengejar ketertinggalan. Entah mereka mampu mengejar atau
tidak, entah mereka akan jalan di tempat, atau bahkan mereka akan tersingkir
dari kompetisi memenuhi keinginan materil demi sebuah label yang disebut
‘pendidikan’.
Lantas, apa yang menjadi peran kaum perempuan
sebagai ibu bagi kehidupan?
Ketika individu berpegang pada
pandangan material dan menyandarkan segala tujuan hanya untuk memenuhi
keinginan akan benda-benda, keinginan akan kekuasaan, keinginan akan pengakuan,
serta segala macam label, maka kita akan terjebak untuk terus memenuhi
keinginan-keinginan tersebut. Terpenjaralah individu pada tujuan pendidikan
yang semata untuk meraih gelar yang tak hanya satu, mencari pekerjaan,
menginginkan jabatan yang hanya untuk kesenangan pribadi dan kelompoknya.
Dalam perspektif studi perempuan,
perempuan sebagai ibu kehidupan memiliki peran yang signifikan dan tanggung
jawab terkait kondisi yang terjadi dalam lingkup suatu bangsa. Diriwayatkan
dalam sebuah hadis bahwa “Akal perempuan terletak pada kecantikannya dan
ketampanan pria terletak pada akal-nya.”, maka hakikat keindahan mereka
terletak pada akalnya yang dapat membuat mereka menghamba pada Sang Pencipta.
Akal yang dimaksud adalah sekumpulan pengetahuan dan perwujudannya dalam bentuk
amal perbuatan. Sebuah penjelasan akan akal teoritis. Akal menjadi sebuah
sarana dalam mengetahui, memahami kebenaran, dan mengamalkannya. Karena akal
perempuan terletak pada kecantikannya, kecantikan yang dimaksud pun bukanlah
kecantikan yang hanya dilekatkan pada fisik semata, tetapi kecantikan akhlaki
yang secara bersamaan akan menciptakan kecantikan fisik tersebut, maka segala
kecantikan itu akan terwujud dalam pergerakan yang harus dilakukannya. Ketika
ia telah selesai pada tahapan mengetahui, memahami kebenaran, maka ilmu menjadi
sarana untuk mengantarkan kita untuk berbuat amal. Oleh sebab itu pendidikan
seharusnya mengarahkan kita untuk tidak menghamba pada hal-hal yang sifatnya
materil.
Dalam membangun peradaban suatu
bangsa, perempuan memiliki peran yang cukup besar. Mereka adalah pemimpin yang
melahirkan pemimpin yang akan hadir sebagai penentu kebijakan. Dari rahim seorang
perempuan, lahirlah para nabi yang konon di beberapa literatur bahkan Nabi Adam
as pun dilahirkan. Perempuan yang dilimpahi sifat kelemah lembutan, kasih
sayang, haruslah mempersiapkan rahimnya. Perempuan bukanlah pewaris pasif dari
pertumbuhan dan pembangunan sosial. Sebagaimana pria, perempuan juga
membutuhkan pengajaran, pendidikan, dan bimbingan serta kesucian. Kebutuhan
akan pengajaran, pendidikan bahkan bimbingan sebenarnya tidak untuk memenuhi
kebutuhan fisik dari manusia, tetapi untuk memenuhi kebutuhan jiwa. Maka, untuk
melahirkan manusia berkualitas dari Rahim seorang perempuan, dibutuhkan
kesempurnaan pengetahuan akan kualitas tersebut. Ketika mereka tak memiliki
pengetahuan, arah tumbuh kembang generasi suatu bangsa yakinlah akan jatuh pada
lembah terjauh dari Pencipta-Nya. Jika ibu mengetahui bahwa pikirannya akan
dapat berpengaruh pada anaknya, maka ia haruslah memperbaiki dirinya sendiri
dan anaknya. Sebagaimana yang ditegaskan secara khusus dalam Surah Al-Ahqaf
ayat 15 tentang tugas pendidikan yang menjadi tanggung jawab ibu dan yang tidak
dapat dilakukan oleh bapak.
Meminjam istilah Paulo Freire menurut
Agus Nuryatno dalam buku Mazhab Pendidikan Kritis menyebut “panggilan
ontologis”, maka peran perempuan merupakan sebuah panggilan akan sebuah
eksistensi. Perempuan sebagai pendidik dan pencipta iklim pendidikan di
madrasah pertama bagi anaknya haruslah atas dasar ketakwaannya memenuhi
tanggung jawab sosialnya dan sebagai tanggung jawab spiritualnya.