Tampilkan postingan dengan label Edisi 8. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edisi 8. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Oktober 2012

Kisah Hikmah: Hakikat Istighfar

Di hadapan Ali bin Abi Thalib, seseorang mengucapkan, “ Astaghfirullah (saya memohon ampunan kepada Allah).” Kemudian Amirul Mukminin berkata kepadanya, ”Ibu Anda boleh menangisi Anda; Anda tak tahu makna istighfar. Istighfar dimaksudkan bagi orang-orang yang berkedudukan tinggi. Kata itu berdiri di atas enam pilar yang kokoh.
Pilar-pilar tersebut adalah; pertama, bertaubat atas yang lalu; kedua, bertekad sungguh-sungguh untuk tidak kembali kepada perbuatan maksiat; ketiga, memenuhi hak-hak manusia agar Anda menemui Allah dengan jiwa bersih tanpa sesuatu pun yang harus dipertanggungjawabkan; keempat, memenuhi setiap kewajiban yang Anda abaikan di waktu lalu sehingga sekarang Anda boleh berlaku adil atasnya; kelima, berkenaan dengan daging yang tumbuh yang dihasilkan dari pendapatan haram agar Anda meleburkannya dengan kesedihan dan bertaubat sampai kulit menyentuh tulang, dan daging baru tumbuh di antara daging dan tulang tersebut; dan keenam, membuat tubuh merasakan perihnya ketaatan sebagaimana dulunya Anda merasakan manisnya berbuat maksiat. Dalam keadaan semacam itu, Anda boleh mengatakan “Astaghfirulah (saya memohon ampunan kepada Allah).”
Taubat memiliki beberapa tingkatan. Secara syariat, taubat dapat dilakukan hanya dengan mengamalkan empat syarat pertama. Adapun syarat kelima dan keenam merupakan syarat kesempurnaan taubat dan merupakan hakikat taubat tertinggi.

Permata Dalam Lumpur

Oleh: Suryawinarwan
Judul                 : Permata dalam Lumpur
Penulis              : Satria Nova dan Nurhuda
Penerbit            : PT Elex Media Komputindo
Tebal halaman : 211 halaman
Mungkin tidak banyak yang paham jika disebut kata “Jarak” atau ‘Putat Jaya”. Tapi ketika disebut kata Dolly, pasti banyak orang yang langsung bisa menangkap maknanya. Dolly adalah kawasan prostitusi terbesar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara mengalahkan Phat Pong di Bangkok, Thailand dan Geylang di Singapura. Daerah lokalisasi ini sudah lama dan bertahan sampai sekarang.
Di Dolly ini secara administratif terbagi dalam tiga wilayah, yaitu Blok A, B, dan C. Setiap blok mempunyai ciri khas dan keunikan masing-masing. Blok A adalah daerah yang berada di Jalan Jarak. Inilah yang disebut orang sebagai Dolly, sebab lokasinya berada di jalan utama. Di sinilah tempatnya PSK kelas atas. Kalau boleh dibilang, blok A adalah blok eksekutif, blok B bisnis, sementara blok C adalah ekonomi. Ini berdasarkan tarif dan pelayanan yang diberikan. Selain itu di Blok A, semua wisma pasti memiliki makelar yang bertugas mencarikan pelanggan untuk para PSK. Berbeda dengan PSK di Blok C yang harus mencari pelanggannya sendiri. Untuk Blok B, sebagian ada yang menggunakan makelar sebagian lagi tidak. Dari segi pekerjanya juga berbeda. Di blok A, wanita yang bekerja cenderung lebih cantik. Tentu ini sesuai dengan tarif yang ditawarkan.
Dolly memang unik. Setidaknya itu tergambar dari semacam bel yang berbunyi sebanyak empat kali setiap harinya. Bel pertama akan dibunyikan sekitar pukul lima sore, yang bisa didengar oleh semua penduduk yang berada di seantero Dolly. Bel ini bisa diartikan sebagai penanda jam masuk “kantor”. Di saat-saat inilah para PSK akan bergegas menuju kantornya masing-masing. Meski beberapa sudah siap sedia sejak siang harinya. Bel ini juga menandakan bahwa tidak bolehnya ada suara karaoke sebelum bel kedua dibunyikan. Alasannya? Waktunya azan Magrib sudah tiba. Bel kedua akan dibunyikan lagi sekitar pukul tujuh malam, pertanda bahwa suara music dan karaoke boleh dinyalakan kembali. Sesaat setelahnya, setiap wisma seakan berlomba-lomba menarik pelanggannya dengan suara wanita yang bernyanyi di dalam wisma. Wisma harus siap siaga sebab banyak tamu yang berdatangan.
Bel ketiga berbunyi lagi sekitar pukul satu malam. Ini menandakan bahwa tidak boleh ada lagi suara musik dan karaoke yang terdengar. Meski begitu, bukan berarti wisma juga tutup. Aktivitas wisma masih terus berlanjut. Karena hampir semua wisma menawarkan servis 24 jam nonstop. Meski terkadang wisma harus tutup jika para pelanggannya sudah pulang dan tidak ada yang datang lagi. Bel keempat akan berbunyi lagi sekitar pukul sepuluh pagi. Ini menandakan bahwa suara musik dan karaoke boleh terdengar lagi sampai nanti pukul lima sore saat bel akan dibunyikan lagi. Namun dibalik kelamnya Dolly, terdapat secercah harapan. Di dalam Dolly terdapat sebuah taman baca. Tempat ini didirikan oleh Pak Kartono untuk dijadikan tempat rehat bagi anak-anak setempat. Mereka adalah anak-anak setempat yang terancam hancur masa depannya. Pak Kartono adalah mantan mucikari dari Dolly sendiri yang insaf dan memutuskan untuk menebus dosanya dengan cara mendirikan taman baca.
Tindakan Pak Kartono adalah pilihan yang tepat. Anak-anak di Dolly butuh perhatian lebih. Sebab, orangtua mereka sudah tidak bisa diharapkan lagi. Bahkan banyak yang tidak jelas siapa ibu bapaknya. Pak Kartono dengan beberapa orang mahasiswa mengajar. Mereka diajar membaca, belajar sejarah, belajar membaca Al Qur’an, berlatih koreografi, dan masih banyak lagi. Walaupun banyak yang menganggap hal yang dilakukan oleh Pak Kartono dan kawan-kawan itu sia-sia. Tapi mereka tidak patah semangat. Mereka dengan keikhlasan mengorbankan waktu mereka untuk mengajar anak-anak di Dolly. Mereka menganggap, walaupun Dolly itu bagaikan lumpur, pasti terdapat permata di dalamnya. Permata ini adalah anak-anak di Dolly yang masih punya masa depan. Yang tentu saja punya harapan untuk menjadi lebih baik dibanding orang tua mereka.

FATHIMAH AL-FIHRI; PENDIRI UNIVERSITAS TERTUA DI DUNIA

Oleh: Syifa Al Qalb
          
Fathimah Al-Fihri lahir di Tunisia 800-880 M dalam sebuah keluarga yang sangat kaya dan bangsawan sosial. Ayahnya bernama Muhammad Al-Fihri, seorang pengusaha sukses di kota Tunisia yang kemudian bermigrasi ke Fes, Maroko pada masa pemerintahan Raja Idriss II. Fathimah Al-Fihri mempunyai saudara perempuan yang bernama Maryam, mereka adalah anak-anak yang shaleha dan berpendidikan serta sangat mencintai ilmu agama Islam dan arsitektur.
Setelah melakukan perjalanan dengan ayahnya dan menetap di distrik barat kota Fes Maroko, Fathimah dan Maryam mempunyai visi dan misi untuk kemajuan masyarakat di kota tersebut. Mereka bergaul dengan masyarakat tanpa memandang kelas sosial. Fathimah Al-Fihri bersama kakaknya membentuk komunitas pengajian. Fathimah menyadari pentingnya memiliki pusat-pusat keagamaan untuk menjaga pengetahuan islam dan mengembangkan masyarakat lokal intelektual. Untuk mencapai hal tersebut, ia rela menyumbangkan kekayaan warisannya.
Fathimah Al-Fihri dan kakaknya Maryam yang berpendidikan dan dibesarkan dengan ketaatan beragama mewarisi sejumlah besar kekayaan dari ayahnya yang seorang pengusaha sukses. Fathimah berniat menghabiskan seluruh warisan itu untuk membangun sebuah masjid.
Pada tahun 859 M Fathimah membangun masjid yang di beri nama Al-Qarawiyyin, yang kemudian pada abad 12 berkembang menjadi sebuah universitas yang menjadi pusat penting pendidikan dan merupakan universitas  Islam dan paling bergengsi pertama di dunia. Sedangkan Maryam, memutuskan untuk memberikan sebagian warisannya untuk membangun masjid Agung Al-Andalous. Adapun Masjid Al-Qarawiyyin yang sekaligus menjadi madrasah tersebut memainkan peran utama dalam menyebarkan cahaya pengetahuan dan tonggak untuk pertukaran budaya antara peradaban Islam dan Eropa.
Fathimah Al-Fihri tidak hanya menghabiskan seluruh warisannya untuk membangun masjid, tetapi ia juga mengabdikan dirinya untuk mengembangkan kajian-kajian pengetahuan di masjid tersebut sehingga ahirnya Fathimah memutuskan untuk menjadikan masjid Al-Qarawiyyin sebagai pusat pendidikan yang kemudian  menjadi sebuah universitas.
Universitas Al-Qarawiyyin sangat dihormati saat itu sebagai salah satu pusat spiritual dan pendidikan terkemuka dunia Muslim. Saat ini, Guinness Book of World Records  telah mengakui dan mencatat universitas Al-Qarawiyyin sebagai universitas tertua di dunia.
Universitas Al-Qarawiyyin menghasilkan pemikir besar seperti Abu Al-Abbas Al-Zwawi, Abu Madhab Al-Fasi, Maliki seorang teoritikus terkemuka dari sekolah hukum Islam, dan Leo Africanus seorang penulis. Selain itu, Ibnu Al-Arabi, Ibnu Khaldun, dan Al-Bitruji juga menjadi siswa di Universitas Al-Qarawiyyin.
Al-Qarawiyyin adalah contoh sempurna tentang bagaimana Islam menggabungkan spiritual dengan pendidikan dan bahwa Islam tidak terpisah dari urusan kehidupan. Ini bukan hanya sebuah contoh bagaimana pendidikan dan agama bergabung disudut kecil dunia, tetapi menyoroti peran terhormat perempuan dalam masyarakat Islam yang merupakan aspek Islam yang sering disalah pahami. Selain itu, selama abad pertengahan, Universitas Al-Qarawiyyin di anggap sebagai pusat intelektual utama di Mediterania. Reputasi yang sangat baik bahkan menyebabkan Gerber dari Auvergne belajar di Masjid. Gerber kemudian menjadi Paus Silvester II dan telah memperkenalkan angka Arab dan nol ke seluruh Eropa.

Perempuan: Pendidikan Sebagai Panggilan Ontologis

Setiap agama, pergerakan, atau pun revolusi terdiri atas unsur kearifan dan cinta. Kearifan berarti gerakan dan cinta berarti cahaya. Cahaya memberi akal sehat dan pengertian serta kearifan memberikan kekuatan, antusiasme, dan gerakan itu sendiri. Gerakan menjadi metode dalam mewujudkan suatu tatanan yang diharapkan dan akal sehat serta pengertian merumuskan tujuan yang ingin dicapai. Akal sehat yang dimaksud bukanlah sebagaimana asumsi umum bahwa kualitas akal pria lebih tinggi dari akal perempuan. Sebuah asumsi yang harus kita koreksi agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam statement yang memiliki rujukan multitafsir. Sebagaimana arahan konsep pendidikan pada dewasa ini yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 namun seakan menghamba untuk kepentingan tertentu. Konsep pendidikan haruslah memiliki kedua unsur ini, unsur kearifan dan cinta. Unsur yang tidak memiliki keterpisahan walaupun penyebutannya secara terpisah. Pendidikan bukanlah semata jenjang-jenjang sekolah formal seperti yang diwajibkan oleh negara.
Pendidikan bukan hanya menjadi tanggungjawab kaum pria, tetapi juga tanggungjawab perempuan. Pendidikan tidak lagi seperti pandangan masa lalu dalam sejarah pergerakan perempuan di mana kaum perempuan memiliki hak minoritas untuk mendapatkan pendidikan. Pendidikan tidak diperuntukkan bagi pria saja atau perempuan saja. Tapi pendidikan adalah hak setiap manusia yang sebenarnya memiliki substansi yang sama, tidak mendasarkan pada perbedaan secara fisik, melainkan pada ruh-nya. Senada dengan pandangan sufisme yang mengutamakan dunia spiritual ketimbang dunia material. Yang secara ontologis dunia spiritual lebih hakikih dan riil dibanding dunia material.
Ketika dewasa ini yang masyarakat dihegemoni tentang pendidikan yang berkualitas haruslah menempuh jenjang pendidikan setinggi mungkin, menyekolahkan anak-anak pada sekolah berlabel unggulan dengan biaya selangit, mengikutsertakan pada program kursus ini dan itu, sarana penunjang pendidikan pun harus mengacu pada teknologi mutakhir yang dirilis paling akhir, serta masih banyak lagi kualifikasi yang disyaratka. Dan disaat yang bersamaan ketika sekelompok masyarakat kelas atas memenuhi keinginan alat penunjang pendidikan yang menurut mereka mampu memenuhi kebutuhan, ada masyarakat kelas bawah yang pontang-panting mengejar ketertinggalan. Entah mereka mampu mengejar atau tidak, entah mereka akan jalan di tempat, atau bahkan mereka akan tersingkir dari kompetisi memenuhi keinginan materil demi sebuah label yang disebut ‘pendidikan’.
Lantas, apa yang menjadi peran kaum perempuan sebagai ibu bagi kehidupan?
Ketika individu berpegang pada pandangan material dan menyandarkan segala tujuan hanya untuk memenuhi keinginan akan benda-benda, keinginan akan kekuasaan, keinginan akan pengakuan, serta segala macam label, maka kita akan terjebak untuk terus memenuhi keinginan-keinginan tersebut. Terpenjaralah individu pada tujuan pendidikan yang semata untuk meraih gelar yang tak hanya satu, mencari pekerjaan, menginginkan jabatan yang hanya untuk kesenangan pribadi dan kelompoknya.
Dalam perspektif studi perempuan, perempuan sebagai ibu kehidupan memiliki peran yang signifikan dan tanggung jawab terkait kondisi yang terjadi dalam lingkup suatu bangsa. Diriwayatkan dalam sebuah hadis bahwa “Akal perempuan terletak pada kecantikannya dan ketampanan pria terletak pada akal-nya.”, maka hakikat keindahan mereka terletak pada akalnya yang dapat membuat mereka menghamba pada Sang Pencipta. Akal yang dimaksud adalah sekumpulan pengetahuan dan perwujudannya dalam bentuk amal perbuatan. Sebuah penjelasan akan akal teoritis. Akal menjadi sebuah sarana dalam mengetahui, memahami kebenaran, dan mengamalkannya. Karena akal perempuan terletak pada kecantikannya, kecantikan yang dimaksud pun bukanlah kecantikan yang hanya dilekatkan pada fisik semata, tetapi kecantikan akhlaki yang secara bersamaan akan menciptakan kecantikan fisik tersebut, maka segala kecantikan itu akan terwujud dalam pergerakan yang harus dilakukannya. Ketika ia telah selesai pada tahapan mengetahui, memahami kebenaran, maka ilmu menjadi sarana untuk mengantarkan kita untuk berbuat amal. Oleh sebab itu pendidikan seharusnya mengarahkan kita untuk tidak menghamba pada hal-hal yang sifatnya materil.
Dalam membangun peradaban suatu bangsa, perempuan memiliki peran yang cukup besar. Mereka adalah pemimpin yang melahirkan pemimpin yang akan hadir sebagai penentu kebijakan. Dari rahim seorang perempuan, lahirlah para nabi yang konon di beberapa literatur bahkan Nabi Adam as pun dilahirkan. Perempuan yang dilimpahi sifat kelemah lembutan, kasih sayang, haruslah mempersiapkan rahimnya. Perempuan bukanlah pewaris pasif dari pertumbuhan dan pembangunan sosial. Sebagaimana pria, perempuan juga membutuhkan pengajaran, pendidikan, dan bimbingan serta kesucian. Kebutuhan akan pengajaran, pendidikan bahkan bimbingan sebenarnya tidak untuk memenuhi kebutuhan fisik dari manusia, tetapi untuk memenuhi kebutuhan jiwa. Maka, untuk melahirkan manusia berkualitas dari Rahim seorang perempuan, dibutuhkan kesempurnaan pengetahuan akan kualitas tersebut. Ketika mereka tak memiliki pengetahuan, arah tumbuh kembang generasi suatu bangsa yakinlah akan jatuh pada lembah terjauh dari Pencipta-Nya. Jika ibu mengetahui bahwa pikirannya akan dapat berpengaruh pada anaknya, maka ia haruslah memperbaiki dirinya sendiri dan anaknya. Sebagaimana yang ditegaskan secara khusus dalam Surah Al-Ahqaf ayat 15 tentang tugas pendidikan yang menjadi tanggung jawab ibu dan yang tidak dapat dilakukan oleh bapak.
Meminjam istilah Paulo Freire menurut Agus Nuryatno dalam buku Mazhab Pendidikan Kritis menyebut “panggilan ontologis”, maka peran perempuan merupakan sebuah panggilan akan sebuah eksistensi. Perempuan sebagai pendidik dan pencipta iklim pendidikan di madrasah pertama bagi anaknya haruslah atas dasar ketakwaannya memenuhi tanggung jawab sosialnya dan sebagai tanggung jawab spiritualnya.