Jumat, 29 Agustus 2014

KISAH HIKMAH: Hasil Belas Kasih

Alkisah, seseorang yang saleh memiliki seorang sahabat yang sudah meninggal dunia. Selang beberapa waktu, ia melihatnya dalam mimpi. Ia bertanya kepada temannya itu, “Apa yang dilakukan Tuhan kepadamu?”
Temannya menjawab, “Aku diletakkan di sisi Tuhan dan diberi kabar gembira dengan ampunan. Lalu aku mendengar suara dari Allah: Tahukah engkau mengapa Aku mengampunimu? Aku menjawab, Dikarenakan amal-amal baikku.

Muncul jawaban: Bukan.

Aku menjawab, Dikarenakan keikhlasanku dalam beribadah.
Bukan.

Aku menjawab, Dikarenakan amalan ini dan itu.

Bukan, semua itu bukan perkara yang menyebabkan Aku mengampunimu, tegas suara itu.

Aku bertanya, Lalu apa yang menyebabkan Engkau mengampuniku?

Terdengar jawaban: Apakah engkau masih ingat tatkala engkau tengah berjalan di salah satu lorong kota Baghdad, lalu ada seekor kucing kecil yang tengah kepanasan dan berlindung di bawah dinding, kemudian engkau mengambilnya dan meletakkannya di bawah bajumu dan engkau selamatkan dirinya dari kepanasan?
Aku menjawab, Benar.

Kembali muncul jawaban: Karena engkau mengasihi kucing itu, maka Aku pun mengasihimu.”

REVIEW FILM: The Lady

Sutradara: Luc Besson
Produksi: EuropaCorp
Tahun rilis: 2011
Durasi: 135 menit


Aung San Suu Kyi (Michelle Yeoh) adalah putri pejuang nasional Burma, Jenderal Aung San. Suu Kyi juga seorang akademisi Oxford di Inggris, dan di sanalah ia menikah dengan seorang Tibetologis, Michael Aris (David Thewlis), dan dikaruniai dua orang anak Alexander Aris dan Kim Aris. Gerbang perjuangan dan pengabdian besarnya terhadap Burma berawal pada kesempatannya menjenguk ibunya yang sedang sakit di Burma. Penindasan rezim militer, Jenderal La Junta, selama puluhan tahun sejak ayahnya dieksekusi oleh sekutuyaitu rezim junta militer sendiritersaksikan jelas di mata Suu Kyi. Para demonstran, mahasiswa, biarawan, dan rakyat sipil lainnya dibunuh, ditembak, disiksa, diasingkan, dan mendapatkan kekerasan militer lainnya oleh rezim penguasa.
Datangnya Suu Kyi mendapat dukungan dari rakyat sipil, karena dipandang layak untuk menjadi pemimpin sebagai putri pejuang nasional yang sangat dihormati. Bersama-sama membentuk NLD (National League for Democracy) sebagai partai oposisi untuk memperjuangkan demokrasi dan hak asasi manusia di atas rezim militer La Junta.

Aksi represif dari rezim menguat, ketika rakyat sipil memberikan dukungan penuh pada Suu Kyi untuk menduduki kursi parlemen di Burma. Suu Kyi menjadi tahanan rumah di tanah air sendiri, dukungan cinta dari sang suami, juga anak-anaknya, yang luar biasa tetap menguatkan semangat juangnya. Usaha Aris pada pemberian nobel perdamaian sebagai dukungan cinta pada perjuangan isterinya, dijadikan salah satu ancaman yang kuat bagi rezim militer La Junta. Rezim berupaya memisahkan pasangan ini dengan pembatalkan visa Aris dan anak-anaknya. Kini Suu Kyi dihadapkan pada situasi pengabdian keluarga atau hak asasi manusia di negerinya. Rezim memaksa Suu Kyi kembali ke Inggris untuk mempermudah menutup aksesnya kembali ke Burma agar perjuangan dapat segera dihentikan.

Menangnya Suu Kyi sebanyak 392 suara atas 10 suara La Junta pada pemilu tak membuat kondisi berubah, Suu Kyi dan koleganya masih tetap menjadi tahanan politik rezim. HAM masih belum didapatkan oleh rakyat sipil. Kemelut ini makin memilukan Suu Kyi ketika ia mendapat surat dari suaminya yang sedang menderita kanker. Aris tetap mendukung isterinya, melarangnya pulang ke Inggris, dan melanjutkan apa yang telah mereka perjuangkan dari nol. Akhirnya, Suu Kyi tidak dapat menemui keluarganya, hingga pada saat suaminya berjuang melawan kanker dan akhirnya meninggal.

Suu Kyi dibebaskan pada tahun 2010 (15 tahun masa tahanan rumah) oleh rezim militer. Menurut Amnesty International, Dewan Burma masih memiliki catatan buruk hak asasi manusia. Melakukan tindak kekerasan, termasuk pada anak-anak, pembantaian, penyiksaan, pemerkosaan, dan kerja paksa. Masih ada 2.100 tahanan politik termasuk 17 wartawan TV, yang juga memberikan kontribusinya pada film ini. Please use your liberty to promote ours.” -Aung San Suu Kyi-

TOKOH: Bashaer Othman



Kepemimpinan mengandalkan hadirnya kualitas tertentu yang dapat diindikasikan melalui pikiran dan tindakan, biasanya diletakkan dalam konteks organisasi dan manajemen. Dalam telaah-telaah tentang kepemimpinan, makin kuat kecenderungan untuk lebih menajamkan analisis pada kualitas personal sang pemimpin sebagai person unik, dan tidak lagi pada perbedaan gender.

Kepemimpinan perempuan yang selama ini dipandang sebagai sesuatu yang relatif khas, bukan lagi sesuatu yang istimewa. Para pemimpin perempuan, baik di dunia bisnis maupun politik, akan dipandang tidak berbeda dengan laki-laki.

Namun, ketika perempuan berumur 16 tahun mampu menjabat sebawai walikota merupakan suatu keunikan. Sebut saja Bashaer Othman menjadi satu-satunya wali kota termuda dunia. Di usianya yang masih 16 tahun, pelajar yang masih duduk di kelas I SMA Palestina ini sudah diberi jabatan publik sebagai Wali Kota Allar, Tulkarm, Tepi Barat, Palestina. Berusia remaja tidak menjadikan Bashaer Othman ragu untuk menjadi seorang wali kota. Usianya yang masih terhitung belia, tidak menjadi halangan baginya untuk unjuk kebolehan memimpin di Palestina.

Kisah ini tentunya menjadi cerita yang luar biasa, bagaimana seorang remaja perempuan bisa memimpin sebuah wilayah di negara Palestina, dimana negara-negara di wilayah Timur Tengah pada umumnya masih melihat orang-orang tua sebagai pemimpin utama mereka. Terlebih lagi dengan Othman sebagai seorang perempuan, tentunya makin mempersulit dirinya di dalam lingkungan politik Palestina.

Ketika berbicara bersama dengan wartawan di Jakarta, Rabu (12/9/2012), Bashaer -yang diundang oleh lembaga World Peace Movement- menceritakan kiprahnya sebagai wali kota. Awalnya, Bashaer biasa memimpin organisasi kepemudaan di wilayah Allar tempat dirinya tinggal. Pada dasarnya, sulit bagi pemuda Palestina mendapatkan kepercayaan dari para orang tua di Palestina, agar mereka bisa memimpin dan memberikan perubahan. Dirinya pun memberikan alasan mengapa dirinya memberanikan diri untuk menjadi wali kota.
"Kami menuntut kesempatan untuk memimpin, karena mempraktekkan kepemimpinan adalah hak dari setiap pemuda. Bila hak itu kami minta, belum tentu kesempatan itu diberikan oleh generasi tua. Jadi, yang kami lakukan sebagai komunitas pemuda adalah memecahkan kebuntuan agar para pemuda berani mengambil keberanian untuk meminta kesempatan. Jadi mereka tidak harus menunggu, tetapi mereka harus meminta kesempatan untuk diberikan," ujar Bashaer Othman.

Tetapi tentunya Bashaer dan organisasi kepemudaan yang ada di Palestina menemukan banyak kesulitan untuk mendobrak sesuatu yang tidak biasa ini, di lingkungan masyarakat Palestina. Sebagai seorang remaja perempuan, dirinya berusaha membuktikan kepada kalangan tua Palestina bahwa mereka dipercaya, maka para pemuda di Palestina bisa melanjutkan kepemimpinan.

"Kalau mereka (pemuda Palestina) dipercaya dan diberikan kesempatan, mereka pasti mampu melakukan. Tetapi generasi muda kami mampu meyakinkan mereka (generasi tua) sejauh diberikan kesempatan," lanjutnya.
Secara perlahan, pemerintah Palestina sendiri saat ini sudah mulai memberikan ruang, memberikan kontribusi positif kepada pemuda. Jumlah pemuda Palestina saat ini berjumlah 60 persen dari jumlah total penduduk Palestina. Jadi, jika mereka tidak diberikan kesempatan, ini menjadi tindakan konyol dan mereka sepertinya tidak memiliki pilihan lain, kecuali memberikan kesempatan itu kepada para pemuda," tutur Bashaer.

"Menjadi walikota memang pekerjaan yang sangat sulit, karena harus mampu memuaskan kedua belah pihak, baik itu pemerintah maupun warga. Saya pun harus menjaga sikap, karena semua orang memperhatikan apa yang saya lakukan,"

"Kesulitan bukan halangan, tetapi program ini tentunya bisa membaktikan kemampuan kepada negara saya," imbuhnya.

Selama hanya dua bulan menjabat sebagai Wali Kota Allar, siswa kelas 1 SMA tersebut memaparkan masalah paling penting dihadapi warga Palestina saat ini. Pengangguran merupakan isu utama selama dirinya menjabat sebagai seorang wali kota.

"Masalah terbesar yang dihadapi, yaitu pengangguran yang makin meningkat. Karena tingkat pendidikan yang dimiliki warga Palestina itu tinggi, tetapi lapangan pekerjaan tidak ada," menurut Bashaer.
Selain itu sarana umum juga menjadi tantangan umum juga menjadi kesulitan bagi dirinya. Namun, dirinya terus berusaha keras untuk mengatasi pengangguran dengan menciptakan lapangan kerja berupa proyek pengadaan bangunan. Sejauh ini proyek tersebut masih terus berjalan. Sementara mengenai pengadaan sarana umum, seperti sekolah, remaja berjilbab ini bekerja sama dengan institusi lain, sejenis investasi. Namun hal ini pun menurutnya masih dalam tahap menunggu.

Ke depannya, sektor swasta juga ingin didorong untuk menerima tenaga kerja warga Palestina yang baru saja lulus sekolah. Dirinya ingin mendobrak tradisi yang ada dengan bekerja sama dengan sektor swasta, agar bisa menerima fresh graduate.

Apa yang dilakukan oleh Bashaer Othman ini tentunya dapat dijadikan inspirasi bagi pemuda lainnya, khususnya di Palestina. Meski hanya dua bulan bertugas sebagai Wali Kota Allar, Bashaer membuktikan dirinya bisa memimpin kota yang berpenduduk kurang lebih 8.000 jiwa tersebut.

OPINI: Perempuan dan Kepemimpinan

Oleh: Selvy A. Syarif


Sebuah komunitas atau pun sekumpulan orang secara alamiah memiliki sosok yang mampu didengar dan bisa menjadi teladan. Singkat katanya, sebuah komunitas atau kelompok membutuhkan seorang pemimpin. Membahas tentang pemimpin tentu tak akan terlepas dengan konsep kepemimpinan. Namun, perlu ditekankan bahwa cukup banyak tokoh atau pun peneliti yang mencoba mendefinisikan kepemimpinan dengan kerangka yang berbeda-beda. Sehingga Gary Yukl dalam buku “Kepemimpinan Dalam Organisasi” mencoba memberikan gambaran bahwa pada umumnya ada tiga pendekatan yang biasa digunakan dalam teori kepemimpinan, yaitu (1) berpusat pada pemimpin atau berpusat pada pengikut; (2) deskriptif (memberi gambaran) atau preskriptif (memberi petunjuk); dan (3) universal atau kontijensi.

Dari 3 pendekatan di atas, bisa kita temukan bahwa titik tekan teori kepemimpinan bukan saja pada pembahasan tentang karakteristik atau pola perilaku pemimpin, yang berkaitan dengan ciri seorang pemimpin, keyakinan, keterampilan dan keahlian, integritas dan etika, dan taktik mempengaruhi. Melainkan juga berkaitan dengan karakteristik pengikutnya, yang terbentuk dari ciri atau konsep pribadi pengikut, keyakinan, sifat dari pemimpinnya, kepercayaan terhadap pemimpinnya, komitmen dan kepuasan terhadap pemimpin dan tugasnya.
Teori kepemimpinan juga perlu memberikan perhatian pada variabel yang berkaitan dengan karakteristik situasi. Variabel ini membahas tentang jenis dan besarnya unit dari sebuah kelompok (organisasi), pembagian posisi kekuasaan dan wewenang, struktur dan kerumitan tugas, kesalingtergantungan tugas, keadaan lingkungan yang bisa berubah-ubah dan adanya ketergantungan eksternal.

Berbicara tentang teori kepemimpinan dan banyaknya studi yang membahas tentang pengaruh jenis kelamin terhadap efektivitas kepemimpinan dalam sebuah kelompok adalah sesuatu yang masih sering dilakukan. Beberapa peneliti menyimpulkan bahwa tidak ada bukti tentang perbedaan dalam perilaku atau keterampilan yang dimiliki oleh pemimpin laki-laki atau perempuan. Peneliti yang lain malah menemukan perbedaan yang berhubungan dengan jenis kelamin bagi beberapa keterampilan atau perilaku kedua jenis kelamin ini dalam beberapa situasi. Misalnya, Eagly dan Johnson (1990) yang melakukan penelitian berkaitan kasus di atas menemukan bahwa kepemimpinan partisipatif lebih banyak digunakan oleh perempuan dibandingkan laki-laki.
Jika ada perbedaan antara perilaku kepemimpinan atau efektivitas antara laki-laki dan perempuan, maka sangat perlu ditemukan alasannya. Gary Yukl memberikan dua kemungkinan yang bisa menjadi alasan. Pertama, perbedaan secara biologis diperkuat oleh perlakuan berbeda selama masa kanak-kanak menyebabkan laki-laki dan perempuan memiliki nilai, ciri dan keterampilan berbeda dalam menghadapi berbagai macam situasi. Dan kedua, perbedaan stereotipe mengakibatkan harapan peran yang berbeda, dan bisa mempengaruhi perilaku kepemimpinan, serta persepsi dan evaluasi dari perilaku itu oleh orang lain. Namun, saat ini orang akan lebih menghubungkan perbedaan bentuk kepemimpinan karena faktor biologis bahkan psikologis, dibanding stereotipe dan bias yang bisa diubah.

Perbedaan biologis yang punya pengaruh besar terhadap kondisi psikologis seseorang mengarahkan kita pada satu pandangan yang sama. Perempuan dengan segala aktivitas alamiahnya (aktivitas biologis, seperti menstruasi, mengandung, dan melahirkan) akan memberikan efek besar terhadap efektivitas kepempimpinan. Pendapat seperti itu tentu saja masih sangat sering didengar. Aktivitas biologis perempuan sering dijadikan alasan untuk tidak memberikan perempuan posisi yang strategis, karena aktivitas tersebut akan menghambat kinerja bahkan kondisi tersebut sering digambarkan sebagai penghalang sebuah organisasi untuk mengambil langkah taktis. Tak dipungkiri bahwa ada hal-hal biologis yang memberikan perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Hal biologis itu pun cukup banyak mempengaruhi perkembangan psikologis setiap orang (baik laki-laki dan perempuan).

Beberapa hasil penelitian misalnya, otak perempuan ternyata jauh lebih kompleks dibandingkan dengan otak laki-laki. Laki-laki memiliki banyak sinapsis di daerah lobus frontalis, sedangkan perempuan mempunyai lebih banyak selubung mielin. Implikasinya adalah jumlah sinapsis yang banyak membuat kecepatan tinggi dalam mentransfer data bilostrik antar sel saraf di daerah frontalis seorang laki-laki. Sebaliknya, pada perempuan, distribusi data lebih merata dan proses pencegahan distribusi distorsi lebih sempurna. Hal ini menyebabkan perempuan membutuhkan durasi lama saat memutuskan sesuatu, karena variabel yang diolah otaknya sangat banyak. Ini tidak terjadi pada otak laki-laki. Bagi perempuan, detail dan sistematika runut menjadi kecenderungan otaknya.

Dari sedikit penjelasan di atas, bisa ditarik kesimpulan (sementara) bahwa pemimpin perempuan punya banyak pertimbangan dan membutuhkan waktu yang cukup lama dalam mengambil keputusan. Dari sisi efesiensi, pemimpin perempuan lamban dalam mengambil keputusan, khususnya untuk keputusan yang sifatnya taktis. Namun pada kondisi lain, aspek analitis yang dimiliki perempuan tentu tidak bisa dinafikan begitu saja, karena untuk membuat keputusan yang begitu penting pastilah membutuhkan analisa tajam dan mendalam.
Dari sini, perempuan harusnya memotivasi dirinya untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas diri. Sehingga perempuan yang menjadi pemimpin bisa memiliki dua senjata sekaligus, yaitu perasaan halus yang dapat menyentuh perasaan, dan argumentasi yang kuat yang bisa menyentuh nalar. Aspek analitis akan bekerja dalam waktu bersamaan dengn sisi kelembutan, cinta, dan kepedulian dalam diri seorang perempuan pemimpin.
Pada intinya, untuk menjadi seorang pemimpin yang baik tidak ditentukan oleh jenis kelamin. Adapun pembeda yang hadir atas perbedaan yang ada seharusnya menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kapasitas dan pengetahuan diri. Seperti yang dikutip Yukl dalam bukunya, bahwa hanya sedikit alasan untuk meyakini baik laki-laki ataupun perempuan akan menjadi superior dibanding yang lain. Malah dalam kondisi tertentu, salah satunya bahkan bisa memberikan performa yang tidak bagus dibanding yang lain.

Bagi Powell (1990), organisasi harus menggunakan semua bakat yang dimiliki (baik perempuan atau laki-laki) untuk mencapai titik keberhasilan. Untuk melakukan hal ini, mereka harus melakukan identifikasi, pengembangan, memberikan dorongan dan mempromosikan siapapun yang menjadi manajer (pimpinan atau pemimpin) yang paling efektif, apapun jenis kelaminnya. *)


*) Referensi:
1. Yukl,Gary. Kepemimpinan Dalam Organisasi (2009).
2. Shihab, M. Quraish. Perempuan (2005).




3. GK. Tasaro. Kinanthi Terlahir Kembali (2012)

KISAH HIKMAH: Pertama Tetangga, Kemudian Dirimu

Malam itu, seperti malam-malam lainnya, Hasan dan Husein melihat ibunya dengan penuh kekhusyuan sedang melakukan ibadah. Wajah beliau bercahaya bak bintang di langit. Mereka berdua tahu bahwa dalam kondisi demikian, ibu mereka akan melupakan dunia dan apa yang ada di dalamnya. Satu-satunya yang dipikirkan hanya Allah Swt. Mereka berdua telah terbiasa memandang sang ibu saat melakukan shalat atau sedang bermunajat. Mereka benar-benar menikmati kondisi spiritual ini.

Akhirnya shalat sang ibu selesai. Pada waktu itu mereka mendengar sang ibu berdoa untuk para tetangga. Mereka menanti dan ingin mengetahui setelah tetangga, siapa lagi yang akan didoakan oleh sang ibu. Mereka benar-benar ingin tahu apa yang dimohonkan oleh sang ibu kepada Allah Swt untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya. Tapi ternyata sang ibu tidak meminta sesuatu untuk dirinya dan anak-anaknya. Beliau masih tetap berdoa kepada Alah Swt untuk tetangga dan orang-orang dekatnya.

Sayidah Fathimah az-Zahra kemudian berdiri dari sajadahnya. Hasan dan Husein berkata, "Ibu! Setelah melakukan shalat dan bermunajat, apakah ada yang engkau minta kepada Allah Swt untuk kami?"

Sang ibu menjawab, "Allah Swt senang bila para hambaNya memohon kepadaNya di segala kondisi, khususnya setelah shalat. Karena kondisi itu adalah waktu dikabulkannya doa. Tapi hajatku akan dikabulkan ketika tetangga dan orang-orang terdekat kita dikabulkan hajatnya."



Beliau kemudian berkata, "Saya berdoa untuk orang lain dengan prinsip bahwa diturunkannya kebaikan dan keberkahan kepada tetangga dengan sendirinya saya juga dapat memanfaatkan berkah dan pertolongan Allah."

REVIEW BUKU: Perempuan – Perempuan di Sisi Muhammad Saw (Poligami di Antara Pembebasan, Cinta dan Ketertindasan)

Penulis : Ali Syariati
Penerbit : Rausyanfikr Institute
Tebal : 101 halaman
Tahun Terbit : Juni 2012


Banyak pembicaraan mengenai isu poligami Nabi Muhammad dan masalah perempuan. Poligami seolah menjadi sebuah momok menakutkan bagi kaum perempuan. Beberapa anggapan mengatakan bahwa permasalahan poligami yang terjadi hari ini dikarenakan persoalan sejarah poligami yang dilakukan Nabi Muhammad, meskipun beberapa cerita yang ada sangat jauh dari fakta sejarah yang sesungguhnya.

Buku ini menganggap bahwa permasalahan perempuan dari berbagai sudut yang dapat didiskusikan bergantung variabel zaman dan lingkungan sampai batas tertentu, sehingga kadang-kadang banyak prinsip dan norma yang dianggap sangat manusiawi pada periode tertentu dan dianggap kejahatan anti kemanusiaan di lingkungan dan era lainnya. Permasalahan poligami adalah permasalahan seperti itu. Jelasnya suara hati di zaman kita ini dilukai oleh penghinaan yang mengerikan pada perempuan tersebut karena poligami.

Akan tetapi di zaman dahulu, khususnya di masyarakat primitif, prinsip poligami memungkinkan bagi para janda dan mungkin anak-anak mereka yang yatim akan mendapatkan kehangatan keluarga, keamanan dan kesejahteraan. Sesuatu yang mereka tidak peroleh, jika tidak dipraktikkan. Oleh karena itu, masa depan mereka yang terancam kemiskinan, kesengsaraan dan kebejatan moral akan terantisipasi karena perlindungan seorang laki-laki yang pada zaman tersebut merupakan satu-satunya pelindung perempuan dan anaknya. Lebih jauh lagi, keluarga yang akan tercerai-berai ketika “kematian merah” (kesyahidan) yang sering terjadi pada laki-laki akan mendapatkan pemeliharaan dan bantuan lagi (karena pernikahan poligami). Dan Nabi Muhammad dalam hal ini bukan hanya berusaha secara teoritis, tetapi juga secara praktis. Beliau menganugerahkan perempuan dengan martabat dan hak-hak yang telah Islam tetapkan bagi mereka.

Buku ini juga menjelaskan tentang kisah kehidupan Nabi Muhammad bersama para istri-istrinya. Bagaimana kehidupan mereka yang penuh dengan kesederhanaan, serta cara Nabi memperlakukan para istrinya dengan memuliakannya dan tidak diskriminatif. Sangat jauh dari kisah yang mungkin sering kita dengar saat ini tentang cerita perselingkuhan Zainab, istri Zaid (anak angkat Nabi) yang tidak bukan adalah cerita yang penuh dengan unsur rekayasa. Atau cerita tentang Nabi yang menikahi perempuan di bawah umur (Aisyah) atau cerita-cerita lainnya. Sedangkan di sisi lain, fakta bahwa tatkala Nabi berusia dua puluh lima tahun, beliau menikahi perempuan berusia lima belas tahun lebih tua darinya yaitu Khadijah (istri pertama beliau). Atau fakta bahwa Nabi menikahi janda yang berusia lima puluh tahun dan hidup selama tiga puluh tahun bersamanya, dan masih banyak lagi fakta-fakta lainnya yang justru diabaikan.