Kepemimpinan mengandalkan hadirnya kualitas tertentu yang dapat diindikasikan melalui pikiran dan tindakan, biasanya diletakkan dalam konteks organisasi dan manajemen. Dalam telaah-telaah tentang kepemimpinan, makin kuat kecenderungan untuk lebih menajamkan analisis pada kualitas personal sang pemimpin sebagai person – unik, dan tidak lagi pada perbedaan gender.
Kepemimpinan perempuan yang selama ini dipandang sebagai sesuatu yang relatif khas, bukan lagi sesuatu yang istimewa. Para pemimpin perempuan, baik di dunia bisnis maupun politik, akan dipandang tidak berbeda dengan laki-laki.
Namun, ketika perempuan berumur 16 tahun mampu menjabat sebawai walikota merupakan suatu keunikan. Sebut saja Bashaer Othman menjadi satu-satunya wali kota termuda dunia. Di usianya yang masih 16 tahun, pelajar yang masih duduk di kelas I SMA Palestina ini sudah diberi jabatan publik sebagai Wali Kota Allar, Tulkarm, Tepi Barat, Palestina. Berusia remaja tidak menjadikan Bashaer Othman ragu untuk menjadi seorang wali kota. Usianya yang masih terhitung belia, tidak menjadi halangan baginya untuk unjuk kebolehan memimpin di Palestina.
Kisah ini tentunya menjadi cerita yang luar biasa, bagaimana seorang remaja perempuan bisa memimpin sebuah wilayah di negara Palestina, dimana negara-negara di wilayah Timur Tengah pada umumnya masih melihat orang-orang tua sebagai pemimpin utama mereka. Terlebih lagi dengan Othman sebagai seorang perempuan, tentunya makin mempersulit dirinya di dalam lingkungan politik Palestina.
Ketika berbicara bersama dengan wartawan di Jakarta, Rabu (12/9/2012), Bashaer -yang diundang oleh lembaga World Peace Movement- menceritakan kiprahnya sebagai wali kota. Awalnya, Bashaer biasa memimpin organisasi kepemudaan di wilayah Allar tempat dirinya tinggal. Pada dasarnya, sulit bagi pemuda Palestina mendapatkan kepercayaan dari para orang tua di Palestina, agar mereka bisa memimpin dan memberikan perubahan. Dirinya pun memberikan alasan mengapa dirinya memberanikan diri untuk menjadi wali kota.
"Kami menuntut kesempatan untuk memimpin, karena mempraktekkan kepemimpinan adalah hak dari setiap pemuda. Bila hak itu kami minta, belum tentu kesempatan itu diberikan oleh generasi tua. Jadi, yang kami lakukan sebagai komunitas pemuda adalah memecahkan kebuntuan agar para pemuda berani mengambil keberanian untuk meminta kesempatan. Jadi mereka tidak harus menunggu, tetapi mereka harus meminta kesempatan untuk diberikan," ujar Bashaer Othman.
Tetapi tentunya Bashaer dan organisasi kepemudaan yang ada di Palestina menemukan banyak kesulitan untuk mendobrak sesuatu yang tidak biasa ini, di lingkungan masyarakat Palestina. Sebagai seorang remaja perempuan, dirinya berusaha membuktikan kepada kalangan tua Palestina bahwa mereka dipercaya, maka para pemuda di Palestina bisa melanjutkan kepemimpinan.
"Kalau mereka (pemuda Palestina) dipercaya dan diberikan kesempatan, mereka pasti mampu melakukan. Tetapi generasi muda kami mampu meyakinkan mereka (generasi tua) sejauh diberikan kesempatan," lanjutnya.
Secara perlahan, pemerintah Palestina sendiri saat ini sudah mulai memberikan ruang, memberikan kontribusi positif kepada pemuda. Jumlah pemuda Palestina saat ini berjumlah 60 persen dari jumlah total penduduk Palestina. Jadi, jika mereka tidak diberikan kesempatan, ini menjadi tindakan konyol dan mereka sepertinya tidak memiliki pilihan lain, kecuali memberikan kesempatan itu kepada para pemuda," tutur Bashaer.
"Menjadi walikota memang pekerjaan yang sangat sulit, karena harus mampu memuaskan kedua belah pihak, baik itu pemerintah maupun warga. Saya pun harus menjaga sikap, karena semua orang memperhatikan apa yang saya lakukan,"
"Kesulitan bukan halangan, tetapi program ini tentunya bisa membaktikan kemampuan kepada negara saya," imbuhnya.
Selama hanya dua bulan menjabat sebagai Wali Kota Allar, siswa kelas 1 SMA tersebut memaparkan masalah paling penting dihadapi warga Palestina saat ini. Pengangguran merupakan isu utama selama dirinya menjabat sebagai seorang wali kota.
"Masalah terbesar yang dihadapi, yaitu pengangguran yang makin meningkat. Karena tingkat pendidikan yang dimiliki warga Palestina itu tinggi, tetapi lapangan pekerjaan tidak ada," menurut Bashaer.
Selain itu sarana umum juga menjadi tantangan umum juga menjadi kesulitan bagi dirinya. Namun, dirinya terus berusaha keras untuk mengatasi pengangguran dengan menciptakan lapangan kerja berupa proyek pengadaan bangunan. Sejauh ini proyek tersebut masih terus berjalan. Sementara mengenai pengadaan sarana umum, seperti sekolah, remaja berjilbab ini bekerja sama dengan institusi lain, sejenis investasi. Namun hal ini pun menurutnya masih dalam tahap menunggu.
Ke depannya, sektor swasta juga ingin didorong untuk menerima tenaga kerja warga Palestina yang baru saja lulus sekolah. Dirinya ingin mendobrak tradisi yang ada dengan bekerja sama dengan sektor swasta, agar bisa menerima fresh graduate.
Apa yang dilakukan oleh Bashaer Othman ini tentunya dapat dijadikan inspirasi bagi pemuda lainnya, khususnya di Palestina. Meski hanya dua bulan bertugas sebagai Wali Kota Allar, Bashaer membuktikan dirinya bisa memimpin kota yang berpenduduk kurang lebih 8.000 jiwa tersebut.