Kinanthi
awalnya adalah seorang gadis desa biasa yang dilahirkan di sebuah keluarga
kecil cenderung miskin. Karena dihimpit kemiskinan, orang tuanya menyerahkan
Kinanthi pada seorang temannya di kota demi masa depan Kinanthi katanya.
Awalnya hidup Kinan baik-baik saja di Bandung, tempat ia dibawa oleh kawan
Bapaknya itu. Di sana ia berkenalan dengan Euis seorang kawan di sekolahnya
yang bersahaja dan berasal dari keluarga yang tidak begitu mampu. Hidup Kinan
di Bandung mulai berwarna, tidak hanya warna indah bersama Euis, tapi juga
mulai berwarna kelam. Euis sahabat satu-satunya tiba-tiba pergi
meninggalkannya, gadis itu menghadap Tuhan lebih dulu setelah insiden kejam di
angkutan kota. Euis diperkosa lalu dibunuh, warna-warna kelam hidup Kinan di
mulai dari situ. Berikutnya, Kinanthi akhirnya tahu siapa sebenarnya keluarga
yang sudah begitu baik menyekolahkannya. Keluarga itu ternyata adalah penyalur
Tenaga Kerja Wanita (TKW), mereka hanya menunggu sampai Kinan cukup umur untuk
akhirnya dikirim ke Arab untuk menjadi TKW.
Sampailah Kinan di tanah Arab (Riyadh). Hidupnya tidak juga
membaik, malah semakin memburuk. Ia menjadi pembantu rumah tangga di salah satu
keluarga Arab. Ia diperlakukan tidak manusiawi, tidak hanya melayani kebutuhan
rumah tangga, tetapi Kinan juga dipaksa melayani birahi keluarga. Kinanthi
mati-matian melawan, hingga akhirnya ia memutuskan kabur dari rumah yang bagai
neraka tersebut. Ternyata semua belum berakhir. Kinan akhirnya berganti-ganti
majikan, tapi semuanya sama kasarnya, suka main tangan dan meminta macam-macam
pada Kinan.
Sampai pada suatu episode ketika Kinan berangkat ke Amerika menjadi
pembantu juga tentunya. Nasib baik sepertinya belum berpihak pada Kinan,
majikannya di Amerika tidak kalah kejam dengan yang sebelumnya. Parahnya lagi,
majikannya ternyata adalah saudara dari majikan yang dulu berniat membalas
dendam pada Kinan. Kinan kembali mencoba lari dari majikannya. Sejak itulah
semuanya berubah, nasib baik mulai mendekat pada Kinan. Bertemulah ia dengan
seorang perempuan baik hati bernama Azry yang membawanya ke apartemen dan
mengurus segala urusan Kinanthi ke Pengadilan Imigrasi.
Hidup Kinanthi berubah setelah itu. Negara adidaya tersebut telah
memberinya hidup yang lebih baik dibanding negaranya sendiri, Indonesia.
Kinanthi berubah menjadi seorang penulis terkenal di Amerika, hidupnya
benar-benar berbanding terbalik dengan hidupnya 13 tahun lalu. Di samping
mengisahkan sebuah roman Romeo dan Juliet dalam versi berbeda, novel ini juga
mengisahkan seorang perempuan Indonesia yang berusaha membebaskan diri dari
jajahan kejamnya kehidupan, kisah seorang TKW menjalani hidup yang tidak
manusiawi sementara negara sendiri sepertinya tidak punya tangan yang cukup
panjang dan kuat untuk melindunginya. Indonesia jelas belum merdeka, jika kita
ingin melihat sisi ini. Bahkan, kita mungkin bisa mengajukan pertanyaan, “Sudah
merdekakah perempuan-perempuan Indonesia? Atau mereka menikmati
keterjajahannya?“
17
Agustus 2012 lalu, Indonesia telah memasuki usia kemerdekaan yang ke-67 tahun.
Soekarno dan Mohammad Hatta yang dikenal sebagai tokoh proklamator kemerdekaan
Indonesia. Tak banyak yang memperhatikan, selain dua nama tersebut masih ada
nama lain yang turut serta berperan dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Setidaknya ada beberapa nama tokoh perempuan yang turut berperan dalam
proklamasi kemerdekaan Indonesia 67 tahun silam, salah satunya adalah Ibu
Fatmawati.
Fatmawati adalah isteri dari presiden pertama RI, Ir. Soekarno.
Perempuan ini juga dikenal sebagai penjahit bendera Indonesia yang dikibarkan
saat proklamasi dilakukan. Lahir dari orang tua yang berlatar belakang
Muhammadiyah, membentuk karakternya menjadi seorang anak yang tidak sekedar
patuh pada tradisinya, tetapi lebih cenderung untuk menyikapi segala bentuk
potret kehidupan sosio-kulturalnya.
Sebelum memasuki usia sekolah, Fatmawati kecil telah menempa diri
dengan mengaji dan belajar agama (membaca dan menulis Al Qur’an) pada datuknya
(kakek), maupun kepada seorang guru agama. Semangat untuk belajar agama secara
ekstra terutama di Sekolah Standar Muhammadiyah masih terus dilakukan, meskipun
beliau sudah mulai memasuki sekolah di HIS (Hollandsch Inlandsch School) pada
tahun 1930 (Fatmawati, 1978:20-21).
Masa
sekolah dan masa perjuangan seringkali begitu akrab bergumul dalam entitas
waktu. Hal ini tidaklah menyurutkan semangat bagi seorang Fatmawati ketika
harus berpindah-pindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain mengikuti
gerak langkah perjuangan ayahnya selaku pucuk pimpinan perserikatan
Muhammadiyah di Bengkulu. Sebaliknya, pengalaman-pengalaman tersebut justru
semakin menempa mentalitas perjuangannya. Terlebih setelah mengenal Bung Karno
sebagai gurunya (yang kemudian menjadi suaminya). Fatmawati yang baru menginjak
usia 15 tahun telah mampu diajak dalam perbincangan dan diskusi mengenai
filsafat Islam, hukum-hukum Islam, termasuk masalah gender dalam pandangan
hukum Islam. Bahkan Bung Karno sendiri sebagai gurunya telah mengakui kecerdasan
Fatmawati (Cindy Adams, 1966: 185-198). Dengan jiwa, semangat, dan ketajaman
berpikir terhadap ajaran agama Islam, beliau mampu mengoperasionalisasikan
fungsi rasionalitasnya sebagai pengendali dari unsur-unsur emosi yang selalu
merangsang dalam setiap detik kehidupan manusia.
Setelah menikah pada bulan Juni 1943 dengan Bung Karno, Ibu
Fatmawati segera berangkat ke Jakarta. Tidak sekedar untuk memenuhi
kewajibannya sebagai seorang istri pemimpin pejuang rakyat Indonesia, tetapi
juga ikut berperan aktif dan bergabung bersama para tokoh pejuang nasional
lainnya untuk membela nusa dan bangsa. Bahkan, Bung Karno selaku pemimpin
pejuang tidak ragu-ragu untuk sering meminta pendapat, maupun pertimbangan
mengenai langkah-langkah perjuangannya.
Perjuangan bangsa Indonesia pada akhirnya telah mencapai titik
kulminasi, yaitu dengan diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17
Agustus 1945 di Pegangsaan Timur, 56 Jakarta. Dan selama ini belum pernah ada
klaim dari salah seorang pejuang yang mengaku telah mempersiapkan sebuah
bendera untuk kemerdekaan Indonesia, kecuali Ibu Fatmawati. Berikut petikan
dari karya tulisan beliau yang berjudul: Catatan Kecil Bersama Bung Karno
(Fatmawati, 1978: 86), “Ketika akan melangkahkan kakiku keluar dari pintu terdengarlah
teriakan bahwa bendera belum ada, kemudian aku berbalik mengambil bendera yang
aku buat tatkala Guntur masih dalam kandungan, satu setengah tahun yang lalu.
Bendera itu aku berikan pada salah seorang yang hadir di tempat di depan kamar
tidurku.”
Atas
dasar petikan di atas, jelaslah bahwa buah refleksi pemikiran perjuangan Ibu
Fatmawati ternyata telah mampu melampaui batas-batas pemikiran para pejuang
bangsa pada umumnya. Karena Ibu Fatmawati telah menyiapkan bendera merah putih
selama satu setengah tahun yang lalu. Ibu Fatmawati tidak sekedar berperan
sebagai penjahit sebuah bendera pusaka, sebagaimana yang hanya dipahami oleh
para generasi masa sekarang. Akan tetapi jiwa dan semangat juang yang telah
diperankan beliau terasa sangat jauh dan sangat mendalam. Maka sungguhlah amat
sulit untuk mengukur secara konkrit betapa besarnya jiwa kepahlawanan yang
telah beliau sumbangkan kepada nusa dan bangsa Indonesia.
Selama berpuluh tahun bangsa Indonesia mengenyam kemerdekaan.
Esensi dari kata merdeka itu tidak sekedar terlepas dari belenggu penjajah.
Merdeka tentu memiliki arti yang spesifik dengan implementasi yang sangat
berkaitan dengan hak-hak hidup dan bersuara bagi setiap anak manusia di bumi
mana pun. Khususnya bagi perempuan Indonesia dalam menjejakkan hak dan
keinginannya untuk menentukan hidup sebagai manusia merdeka tanpa bayangan
belenggu adat, keterbatasan gender, serta hal-hal lain yang selalu dikaitkan
dengan yang lemah.
Di buku “Hak-hak Wanita dalam Islam”, Murttadha Muthahhari
menuliskan beberapa analisa yang berkaitan tentang perempuan dan kemerdekaan
dalam wilayah sosial. Beliau memetakan beberapa contoh isu atau kasus tentang
perempuan. Banyak sekali rekayasa sosial yang menjadikan perempuan tidak
memiliki kemerdekaan sosial. Hal ini bisa terjadi karena pengaruh masa jahiliah
sebelum masuknya Islam. Yang paling riskan misalnya, mengawinkan wanita sebelum
dilahirkan, dan pertukaran anak perempuan. Masalah kebudayaan menikahkan anak
perempuan sangatlah memengaruhi pemikiran mayoritas masyarakat kita, sehingga
hal itu dijadikan kebudayaan yang tidak mendasar. Pola pikir seperti inilah
yang sangat mengerdilkan kemerdekaan sosial bagi perempuan. Sehingga dibutuhkan
suatu dasar pemikiran atau ideologi untuk melakukan pelurusan kembali terhadap
kebudayaan yang mengesampingkan hak dan kebebasan perempuan.
Kebebasan
dan persamaan hak dalam menentukan masa depan perempuan itu sendiri sangatlah
penting. Karena perempuan juga merupakan manusia yang memiliki derajat yang
sama dengan laki-laki. Apabila kepemimpinan rumah tangga atau suatu hak
perwalian nikah jatuh pada laki-laki, bukan berarti menjadikan perempuan lebih
rendah. Pada saat nabi Muhammad SAW masih hidup, beliau sudah menegaskan
beberapa hal tentang kebebasan perempuan dan dimuat dalam hadis-hadis shahih.
Nabi pun memberikan kebebasan terhadap putrinya Fatimah Az-Zahra terkait
memilih suami dan ini patut dijadikan sandaran terhadap pola pikir siapa yang
sebenarnya lebih berhak mengambil keputusan untuk urusan menikah.
Analisis
isu dan kasus memang penting, tapi kita juga membutuhkan sebuah gerakan yang
bisa membantu masyarakat meluruskan sebuah kebenaran. Misalkan gerakan
perempuan Islam. Selama ini pemikiran orang Timur banyak sekali dipengaruhi
oleh teori-teori Barat. Hal ini pun mempengaruhi teori gerakan perempuan.
Ideologi feminis yang muncul karena tuntutan persamaan upah buruh perempuan
saat revolusi industri pada abad ke-19 yang masih berpengaruh sampai sekarang.
Fakta sejarah Inggris itu pun membawa pengaruh sampai ke belahan bumi Timur.
Bahkan, munculnya gerakan perempuan di Indonesia pun berasal dari pengaruh
ideologi feminis Barat. Kongres perempuan Indonesia pada tahun 1928 dan
berbagai gerakan perempuan lainnya ikut menarik isu kampanye seperti anti
poligami, pernikahan dini dan politik perempuan.
Tentu hal
di atas sudah diatur dalam Al Qur’an. Adanya isu tersebut karena reaksi alam
dari berbagai fenomena yang terjadi. Contohnya anti poligami, hal itu
dikampanyekan karena melihat presiden Soekarno melalukan poligami. Ketentuan
poligami dan pernikahan sudah tercantum dalam Al Qur’an. Jika kita memerlukan
sebuah gerakan perempuan, gerakan perempuan yang bagaimanakah yang mampu
menyatukan perempuan di belahan bumi mana pun? Bagaimana hakikat sebuah
pergerakan perempuan yang mampu mendorong kesadaran perempuan agar tidak
menyalahi kodrat atau fitrahnya?
Gerakan perempuan yang berlandaskan pemikiran Islam yang utuh
sangat dibutuhkan. Bukan gerakan perempuan yang selalu berlandaskan pada
teori-teori Barat. Karena Islam mempunyai acuan Al Qur’an dan hadis yang sudah
sangat detail membahas tentang hak dan kewajiban untuk laki-laki dan perempuan,
baik peran sebagai suami-istri atau orang tua. Saatnya gerakan perempuan
melihat kembali ideologi yang mereka gunakan, apakah sesuai dengan konteks
sosial dan keyakinan keagamaan? Lalu seperti apakah ideologi gerakan perempuan
Islam yang tepat untuk semua masyarakat?
Karena merdeka tak sekedar mengibarkan bendera dan merayakan momen
bersejarah itu dengan penuh suka cita di setiap tanggal 17 Agustus. Lebih
penting dari semua itu, bagi perempuan Indonesia momen kemerdekaan ini adalah
peringatan bagi kita untuk semakin berani menyuarakan hak-hak sebagai manusia,
tanpa sedikit pun menyampingkan kewajiban sebagai pendamping hidup laki-laki,
ibu dari anak-anak kita, serta kodrat sebagai anak yang selalu patuh pada
nasihat orang tua. Karena suara perlu didengar, karena hak perlu diperjuangkan.
Untuk semua perempuan Indonesia di mana pun berada, mari rayakan
kemerdekaan bangsa Indonesia ini dengan saling bahu-membahu untuk lebih berani
menyuarakan hak–hak kita sebagai perempuan dan manusia seutuhnya.MERDEKA !!!