Oleh: Henny Nur Pratiwi
Judul : Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur - Memoar Luka Seorang Muslimah
Pengarang : Muhidin M. Dahlan
Penerbit : ScriPta Manent
Tebal : 261
Pengarang : Muhidin M. Dahlan
Penerbit : ScriPta Manent
Tebal : 261
Nidah Kirani. Salah satu mahasiswi di Kampus Matahari Terbit Yogyakarta adalah seorang muslimah yang taat. Tak pernah lalai dalam mengerjakan perintah Allah SWT. Hampir semua waktunya ia habiskan untuk beribadah kepada-Nya, seperti sholat, membaca Al-quran dan berzikir. Ibadahnya semakin kuat, ketika Rahmi, sosok yang ia jadikan contoh teladan dalam merengkuh hangat Cinta Tuhan harus meninggalkannya di Pondok Ki Ageng sendiri. Sepeninggal Rahmi, ia banyak menghabiskan waktu di kamar untuk beribadah, yang tak pelak menimbulkan banyak cerita miring dari teman pondoknya akan sikapnya itu. Kiran hanya ingin betul–betul menghambakan dirinya kepada Sang Khalik. Awalnya Ia tidak begitu ambil pusing, namun lama–kelamaan ia juga merasa gerah dengan keadaan tersebut, bahkan tubuh yang ia hijabi dengan jilbab dan jubahnya yang besar dianggap sebagai “tekstil berjalan“ oleh teman–teman pondoknya.
Sebenarnya keinginan Kiran Cuma satu yakni menegakkan Daulah Islamiyah di bumi Indonesia, dan itu harus ia mulai dari dirinya sendiri. Keinginan Kiran hampir terwujud ketika bertemu dengan Dahiri, teman sekelasnya dan salah satu anggota teraktif dalam kelompok diskusi yang ia buat. Dahiri memperkenalkan Kiran pada sebuah organisasi yang mempunyai tujuan yang sama dengan Kiran, yakni mendirikan Daulah Islamiyah di Indonesia. Kiran sangat senang karena ternyata ada banyak saudaranya yang menginginkan hal tersebut dan bisa mengantarkannya berislam secara kaffah. Namun, setelah sebulan menjadi anggota baru organisasi itu, ia mulai menemukan keganjalan-keganjalan yang merusak nalar kritis dan imannya. Organisasi yang mengatasnamakan Islam, ternyata tak se”ISLAM” yang ia kira. Soal ritual keagamaan, Kiran jauh lebih taat daripada mereka yang ada di organisasi. Mereka terlalu sibuk mengadakan dakwah atau dalam artian menggaet anggota baru. Setiap anggota diharuskan menyumbang minimal 500 ribu yang katanya untuk kas perjuangan. Mereka memperbolehkan berbohong, menipu, mencuri maupun melacur sepanjang itu berkaitan dengan kepentingan organisasi. Namun, hal itu tentu saja mencederai akal sehat seorang Nidah Kirani. Semua tanya yang ia lontarkan hanya mengambang dan menguap ke udara, lalu lenyap. Ibadahnya tak lagi setaat yang dulu. Bahkan Ia mulai marah kepada Tuhan karena merasa ditelantarkan dan tak mendengar semua keluh kesahnya. Tuhan harus bertanggung jawab atas apa yang menimpanya.
Ditengah kegalauan dan kekosongan yang Kiran hadapi, ia mulai terjerumus ke dunia hitam, ia tak punya pegangan. Free sex, obat–obatan terlarang, nikotin, menjadi temannya kali ini. Pemandangan yang sangat amat jauh berbeda dari seorang Nidah Kirani terdahulu. Kiran ingin Tuhan melihat dirinya, melihat pemberontakan yang ia lakukan melalui sosok bernama laki–laki. Daarul, dialah yang pertama kali menjadi objek pemberontakannya, seorang Ketua Forum Studi Mahasiswa Kiri untuk Demokrasi. Namun, Daarul meninggalkannya tanpa alasan yang jelas ketika ia sudah mulai menikmati permainannya dan merasakan candu dari pacaran. Tentu saja Kiran merasa tersakiti, sangat sakit. Ia semakin absurd tentang Tuhan, tentang agama, tentang cinta dan tentang laki–laki. Tapi itu tak menghentikan langkahnya untuk balas dendam terhadap Tuhan atas keacuhannya pada dirinya. Petualangannya pun berlanjut pada laki–laki lain, Fuad, Midas, Awaluddin, Wandi, yang rata–rata adalah para aktivis kampus, baik sayap kiri maupun sayap kanan yang selalu menegakkan tegaknya moralitas dan idealisme. Bahkan, seorang dosen kampus Matahari Terbit Yogyakarta bersedia menjadi germonya dalam dunia pelacuran, yang ternyata adalah anggota DPRD dari fraksi yang selama ini gigih memperjuangkan tegaknya syariat Islam di Indonesia. Astagfirullah.
Hingga akhir cerita, Kiran semakin menjauh dan membenci TUHAN. Menyalahkan-Nya terus menerus atas apa yang terjadi padanya. Mengapa ENGKAU tak menegurku, mengapa ENGKAU tak melindungiku, kurang meng”hamba” apa lagi aku kepada-Mu. Kiran pasrah. Kiran, sang nabi kejahatan, sang putri api yang membongkar topeng–topeng kemunafikan.
Salah satu buku yang inspiratif, penuh intrik namun tetap sarat akan makna yang dalam tentang TUHAN dan ciptaannya. Namun, bisa meruntuhkan Iman, bagi siapa saja yang membacanya jika tak ditanggapi dengan bijaksana. Ya, seperti Nidah Kirani.
ya itulah dia nidah
BalasHapus