Kamis, 21 Juli 2011

Ibu dan Tugas Kerasulan


Oleh: Almin Jawad

Pada tangan yang mengayun ambing buaian itu, ada tangan yang mengguncang dunia”.

Seorang sahabat kebingungan antara mendahulukan ibu atau ayahya dalam berkhidmat. Segera ia mendatangi nabi untuk memperoleh jawaban atas kebingungannya itu. “Ya Rasulullah, siapakah yang harus aku dahulukan diantara kedua orangtuaku?” “Ibumu”, jawab Rasulullah. “Lalu siapa lagi?” “Ibumu”, jawab Rasulullah lagi. “Kemudian siapa lagi?” Rasulullah menjawab, “Ibumu, baru ayahmu”. Rasulullah menyebut ibu sebanyak tiga kali sebelum menyebut ayah sebanyak satu kali. Hadis ini menunjukkan ketinggian derajat ibu sekaligus peran yang amat berat bagi wanita sebagai ibu. Pada pribadi seorang wanita, terdapat banyak tanggung jawab. Saya akan menyebutkan dua diantaranya. Pertama, peran sebagai ibu. Dalam Islam, peran ini merupakan peran yang paling besar dari seluruh peran yang lain. Islam memandang kedudukan ibu lebih utama. Sehingga disebutkan bahwa surga berada di telapak kaki ibu. Hadis Nabi Saw ini memberikan pesan yang mendalam tentang kedudukan ibu. Menurut Nabi, surga di tengah-tengah rumah tangga itu terletak di bawah telapak kaki ibu. Kehadiran wanita sebagai ibu di rumah bisa memberikan surga atau neraka bagi keluarganya, terutama sekali bagi anak-anaknya. Dalam psikologi dikenal istilah maternal deprivation. Jika seorang anak sejak kecil sudah berpisa dengan ibunya, baik secara geografis maupun psikologis, maka kehadiran ibunya di rumah hampir tidak bermakna bagi anak itu. Maternal deprivation yang dialami anak-anak pada usia dini telah menjadikan kediamannya sebagai neraka; ia akan menderita kesepian di tengah-tengah keluarganya. Menurut para psikolog, jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, penyakit ini akan berkembang menjadi penyakit psikomatis; ia akan rentan terhadap berbagai penyakit.

Pernah diadakan percobaan terhadap monyet di Amerika. Beberapa monyet yang baru lahir dibagi dalam tiga kelompok: (1) monyet yang dipisahkan dari ibunya sama sekali; (2) monyet yang dipisahkan dari ibunya tetapi diberi dua macam ibu artificial – ibu buatan: ibu yang satu dibuat dari semacam kawat besi dengan air susu; dan ibu yang lain terbuat dari bulu empuk, kemudian dihangatkan dengan aliran listrik. Monyet itu menyusu pada ibu kawat, tetapi waktunya lebih banyak dia habiskan untuk memeluk ibu yang hangat itu; (3) monyet yang tinggal bersama ibunya.

Beberapa saat kemudian, diketahui terjadi beberapa tingkah laku yang berbeda dari ketiga monyet itu. Monyet pertama banyak mengalami gangguan kejiwaan. Ia takut pada orang-orang asing yang mendekatinya. Ia nervous dan sangat rentan terhadap berbagai penyakit. Gerak tubuhnya sangat terhambat. Monyet yang paling sehat adalah monyet yang ketiga, yang mendapat perhatian cukup dari ibunya. Ia tampak percaya diri, tumbuh lebih sehat, dan memiliki kekebalan terhadap penyakit.

Walaupun penelitian ini dilakukan hanya pada monyet, para saintis menemukan bukti-bukti yang sama pada manusia. Anak manusia yang kurang mendapat perhatian ibu pada tahap perkembangan awal, banyak merusak anak itu secara intelektual, emosional, social bahkan juga fisik. Berbagai penelitian membuktikan bahwa terpisahnya anak dari ibu telah menyebabkan anak mengalami hambatan pertumbuhan intelektualnya, terhambat perkembangan pada hampir seluruh otaknya, rapuh pertahanan mentalnya, juga fisiknya. Karena itu Islam memandang posisi keibuan wanita sebagai posisi paling penting. Kepada rahim kaum wanitalah, Allah menitipkan janin yang lembut dan lemah di saat-saat pengembangannya. Walaupun ayah dan ibu menyubangkan bagian yang sama dalam pembentukan nucleus ovum, namun ibu memberikan semua protoplasma yang mengelilingi nucleus.

Kedua, peran ibu sebagai madrasah ruhaniah. Selain sebagai ibu, peran wanita yang juga amat penting adalah menjadi madrasah ruhaniah bagi anak-anaknya. Di hadapan anak-anaknya, ibu dituntut menjalankan tugas para nabi sebagai uswatun khasanah – suri teladan yang baik. Suatu saat, seorang perempuan datang membawa anak perempuannya menemuai Aisyah. Ia bermaksud meminta makanan. Namun, saat itu Aisyah tidak memiliki apa-apa kecuali dua butir kurma. Aisyah lalu menyerahkan kedua butir kurma yang dimilikinya kepada perempuan itu. Ia lantas memberikannya kepada anaknya masing-msing satu. Ibu itu tidak makan apa-apa. Aisyah terharu menyaksikan peristiwa itu. Ia lalu menceritakannya kepada Nabi Saw. Beliau bersabda, “Barang siapa diuji oleh anak perempuannya, kemudian ia berbuat baik kepada anak perempuan itu, mendidiknya baik-baik, maka anak perempuan itu akan menjadi penghalang dari siksa api neraka”.

Rasulullah memerintahkan setiap ibu untuk memperhatikan anak perempuannya. Sampai beliau bersabda, “Kalau kamu mengistimewakan akan-anakmu, maka istemewakanlah anak perempuanmu”. Rasulullah, dengan demikian, menjadikan ibu memikul amanah kenabian dan tugas kerasulan. Bukankah Rasulullah datang di saat bangsa Arab dalam keadaan jahiliah: saat dimana praktek mengubur anak perempuan hidup-hidup tanpa alasan sebagai kewajiban? Al-Quran merekam perilaku jahiliah ini dalam peringatan abadi, “apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup itu ditanya; karena dosa apakah dia dibunuh” (QS. 81:8-9). Rasulullah mengakhiri praktek-praktek ini, dan sekaligus melakukan usaha emansipasi yang pertama dalam sejarah. Saya berpendapat, tugas inilah yang wajib dimiliki oleh setiap ibu untuk menciptakan kader ibu yang baik. Namun sebelumnya, seorang ibu mesti meningkatkan pengetahuannya, mendidik diri sebaik-baiknya, mempersiapkan diri untuk menjadi ibu yang di bawah telapak kakinya ada surga. Rasulullah bersabda, “Didiklah anakmu 25 tahun sebelum dia lahir”. Karena itu, pada tahap sebagai seorang anak, yang pertama dilakukan ialah mempersiapkan dan mendidik diri. Inilah salah satu tugas berat kaum ibu di manapun mereka berada.

Sebuah hadis menyatakan, “Setiap anak yang lahir memiliki kepercayaan kepada Tuhan, tapi orang tuanyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani dan Majusi”. Karena itu, ilmu mengurus anak wajib dimiliki oleh setiap wanita. Sigmund Freud pernah berkata, “My mother si my maker” – ibuku adalah pembuat diriku. Bagi Freud, ibu akan menentukan jenis manusia apa yang akan dilahirkan oleh masyarakat di kemudian hari. Seorang penyair Inggris berkata, “Pada tangan yang mengayun ambing buaian itu, ada tangan yang mengguncang dunia”. Dalam berbagai hadis ditekankan bahwa memelihara anak adalah amal saleh yang besar. Itulah sebabnya, walaupun Islam mengizinkan wanita bekerja di masyarakat sesuai dengan keperluannya, namun Islam memandang kehadirannya di rumah adalah yang paling penting dari segalanya. Benar, bahwa sepanjang sejarah kenabian dan kerasulan tidak satu pun perempuan yang menjadi nabi atau rasul. Tetapi harus diingat bahwa para nabi dan rasul merupakan wisudawan yang keluar dari madrasah yang guru dan kepala sekolahnya adalah perempuan. Tanpa perempuan, nabi dan rasul tidak akan pernah tercipta. Karena itu, problem dilematis yang dihadapi perempuan modern terkait dengan fungsinya sebagai ibu yang telah merampas kebebasannya tidak dapat diterima selain memandang rendah fungsi keibuan sebagai alasannya.

Kebebasan yang ingin diraihnya telah melemparkannya ke dalam persaingan hidup yang berat. Bersama-sama pria, mereka berlomba mengejar karir dan kedudukan. Bersamaan dengan itu, masuklah “ideologi” yang memandang rendah apa yang dahulu dilakukan ibu-ibu sebagai amal saleh, apa yang dahulu menimbulkan perasaan harga diri dan kebahagiaan, sekarang dipandang sebagai paham yang kolot dan konserfatif. Mereka telah mencampakkan apa yang menjadi fitrahnya. Maka terjadilah berbagai deprivasi maternal secara sosial. Anak-anak yang berkembang dalam asuhan pembantu, harus belajar tentang dunia dengan caranya sendiri. Wiji Thukul, penyair besar, mengingatkan para ibu yang menyembah modernisme lewat puisinya akan jalan yang ditempuh seorang anak:

Ibu

jika kau menagih baktiku
itu sudah kupersembahkan ibu
waktu hidup tak kubiarkan beku
itulah tanda baktiku kepadamu

gula dan teh memang belum kuberikan
tetapi nilai hidup adakah di dalam nasi semata

apakah anak adalah tabungan
bisa sesuka hati dipecah kapan saja
apakah kelahiran cuma urusan untung dan laba
tumpukan budi yang harus dibayar segera

jalan mana harus ditempuh anak
jika bukan yang biasa dan sudah dipilih
oleh yang berjalan itu sendiri.[]



_______________________

Daftar Bacaan:

Amini, Ibrahim. 2006. Anakmu Amanat-Nya. Jakarta: Al-Huda.
____________. 2006. Agar Tak Salah Mendidik. Jakarta: Al-Huda.
Rakhmat, Jalaluddin. 1998. Catatan Kang Jalal; Visi Media, Politik dan Pendidikan. Bandung: Rosda.
_________________. 1999. Islam Alternatif; Ceramah-Ceramah di Kampus. Bandung: Mizan.
_________________. 2007. SQ For Kids; Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Anak Sejak Dini. Bandung: Mizan.

0 komentar:

Posting Komentar