Selasa, 19 Agustus 2014

REVIEW FILM: Menilik Peran Media dalam Film “No One Killed Jessica”

Oleh: Selvy A. Syarif

Judul Film : No One Killed Jessica (A)
Sutradara   : Rajkumar Gupta
Pemain      : Rani Mukherjee, Vidya Balan, Myra, Mohammed Zeeshan Ayyub, dll.
Tahun        : 2011

“No One Killed Jessica ” adalah sebuah film yang menghibur sekaligus 'memukul' dengan keras. Dibuat hanya dengan budget rendah, tetapi dibintangi oleh dua aktris besar Bollywood, Vidya Balan dan Rani Mukherjee, film ini berkisah tentang kasus pembunuhan Jessica Lal yang amat terkenal.

Sutradara Rajkumar Gupta yang yang tenar dengan filmnya, AAMIR, terinspirasi oleh kasus Jessica yang menjadi headline koran nasional India dan mengangkatnya menjadi film. Jessica yang ditembak di sebuah klub malam di kota New Delhi pada tahun 1999. Dia yakin persidangan mengenai kasus itu adalah sebuah kejadian penting untuk India di masa modern ini. Ditambah lagi dengan keteguhan masyarakat yang menginginkan keadilan bagi Jessica yang ditembak mati oleh putra seorang politisi kaya.

Film ini dimulai dengan adegan yang memperlihatkan kota New Delhi dengan segala aktivitas masyarakat yang ada di dalamnya. New Delhi memiliki kehidupan yang hampir sama dengan kota metropolis lainnya, seperti Jakarta. Kota dengan segala keruwetan dan permasalahan sosial lainnya, tapi tetap saja menarik hati banyak orang untuk mencari penghidupan layak di sana. Seorang reporter TV bernama Gaity (Rany Mukherjee) memberikan gambaran tentang masyarakat India yang tengah berfokus menyambut musim panas dengan ditemani pertadingan kriket di TV. Fokusan itu berubah seketika, saat media (televisi, koran, dsb) menyajikan berita tentang perang India dan Pakistan di daerah perbatasan. Berita yang mampu mengarahkan banyak orang untuk berpikir bahwa perang tersebut akan memberikan pengaruh besar terhadap wajah politik di India.

Jessica yang diperankan oleh Myra menjadi inti dari kisah panjang dalam film ini. Jessica pada awalnya bukanlah siapa-siapa. Dia hanya seorang perempuan biasa dengan segala cita-cita khas perempuan modern masa kini. Jessica mati tertembak di tempat kerjanya hanya karena segelas minuman.

Bagi kebanyakan orang, ini hanyalah kisah yang hadir karena konflik antar individu, sehingga media pun tak merasa tertarik untuk meliputnya. Hal inilah yang mungkin menjadi penyebab dari awal hingga pertengahan, film ini terkesan monoton. Tetapi, cerita ini menjadi berbeda dan mulai membuat adrenalin penonton meningkat. Pembunuh Jessica belakangan diketahui adalah anak seorang pejabat. Kasus yang awalnya dianggap oleh kebanyakan orang (termasuk media dominan saat itu) akan berakhir baik- baik saja. Akan tetapi, hal tersebut jauh dari pengharapan.

Kebobrokan hukum ditelanjangi di film ini. Pelaku bebas tanpa hukuman apapun. Dari 300 saksi, hanya segelintir orang yang ingin bersaksi dengan benar di persidangan, lantaran sebelumnya telah disuap bahkan diancam oleh keluarga dan kolega dari pihak pelaku.

Film ini memberikan gambaran, betapa mudahnya harta dan kuasa memutarbalikkan fakta. Betapa mudahnya orang kecil dizalimi oleh mereka yang punya pengaruh besar. Film ini dengan gamblang memberikan kita gambaran tentang besarnya pengaruh media menentukan opini publik terhadap sesuatu (pemberitaan) yang penting bagi kehidupan sosial.

Segigih apapun kakak Jessica (Sabrina Lal) yang diperankan oleh Vidya Balan menguak keadilan, jika tidak mendapat dukungan dari media, semuanya akan berakhir sia -sia. Terbukti di film ini, media memegang kuasa dan peranan penting hari ini. Dan kuasa yang sesungguhnya dipegang oleh mereka yang berduit.

0 komentar:

Posting Komentar