Tampilkan postingan dengan label Edisi 15. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edisi 15. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Agustus 2014

KISAH HIKMAH: Sufi yang Terlalu Mempercayai Ucapan Orang Lain

Alkisah, seorang sufi dengan penampilan yang sangat sederhana dan menunggangi seekor keledai berjalan dari satu kota ke kota lain. Malam hari ia singgah di sebuah perkumpulan sufi yang disebut Khanqah untuk beristirahat.

Sufi mengikat tali kekang keledainya di satu sudut dan mengamanatkan kepada penjaga untuk mengawasinya. Ia sendiri bergabung dengan sufi -sufi lainnya. Ketika malam sudah bertambah larut, makan malam ala kadarnya dihidangkan. Si sufi teringat pada keledainya. Ia segera mendatangi penjaga dan menanyakan apakah ia sudah memberikan rumput kepada keledainya? Tak hanya itu, sufi juga bertanya akan kenyamanan tempat keledainya dan pengobatan luka-luka di tubuh keledai tersebut. Penjaga Khanqah menjawab setiap pertanyaan sufi dengan kata ‘Laa haula wa laa quwwata illa billah'. Kata-kata itu seakan mengandung makna ia cukup ahli menjalankan tugasnya untuk menjaga dan merawat keledai dan kuda para pengunjung. Ia juga mengatakan, "Tanpa kau suruh pun aku sudah melaksanakan tugasku dengan baik. Pergilah beristirahat. Keledaimu saat ini sedang beristirahat dan berada di tempat yang nyaman."

Sufi itu kembali bergabung bersama sufi -sufi lainnya. Sepeninggal si Sufi, pelayan kembali sibuk dengan pekerjaannya. Ia tak memikirkan perkataannya kepada si Sufi. Tak ada rumput dan makanan keledai yang ia siapkan. Sementara si Sufi yang keletihan tidur di dalam sana. Dalam tidurnya, ia bermimpi melihat keledainya berteriak-teriak ketakutan dikepung oleh kawanan serigala buas. Keledainya terjebak di dalam sebuah lubang besar yang cukup dalam. Dalam mimpinya ia teringat akan kata-kata pelayan tadi bahwa keledainya sudah diberi makanan enak, dirawat dengan baik dan ditempatkan di tempat yang nyaman. "Tega benar pelayan itu membiarkan keledaiku seperti ini. Mana janjinya untuk merawat keledaiku dengan baik? Bukankah aku cukup ramah berbicara dengannya tadi? Ia sendiri juga makan bersamaku dan bergabung dalam perkumpulan sufi dan itu berarti ia punya hati yang bersih," dengan pikiran-pikiran seperti itu dia melewatkan malam hingga pagi tiba.

Pagi hari, si Sufi sudah bersiap meninggalkan tempat tersebut. Ia pergi ke tempat penitipan keledai di Khanqah. Dilihatnya pelayan telah memasang dan mengikat pelana dan keranjang perbekalan di tubuh keledai. Tanpa bertanya lagi, sufi naik ke atas punggung keledai dan mulai bergerak. Gerakan keledai semakin lamban, tenaganya semakin lemah. Tak heran, sebab sejak semalam ia tak makan dan minum. Tubuhnya yang terluka juga tak dirawat. Sementara ia harus melewatkan malam di tempat yang tidak nyaman, terbuka dan dingin. Beberapa langkah kemudian, keledai itu ambruk tak sadarkan diri. Orang-orang berdatangan membantu, masing-masing bertanya dalam hati tentang apa yang membuat keledai itu pingsan. Mereka memeriksa telinga keledai hingga mulut dan lidahnya, dan ada pula yang melihat matanya dengan seksama. Mereka ingin mengetahui penyebab pingsannya keledai. Salah seorang di antara mereka berkata, "Keledai ini sakit. Tapi bukankah kemarin kau katakan bahwa keledai ini sehat dan kuat?" Sufi menghela nafas panjang. Dia harus mengakui binatang tunggangannya ini memang sakit dan lemah. Setelah diam beberapa saat, sang sufi berkata, "Beginilah jadinya keledai malang yang semalam penuh hanya menyantap zikir ‘laa haula' bukan rumput dan jerami. Tak heran jika ia sekarang jatuh tersungkur dan lemah seperti ini. Pelayan rumah sufi hanya sibuk mengucapkan ‘laa haula' ketika kutanya apakah sudah memberi keledai ini makanan. Sufi melanjutkan kata-katanya. "Hati sebagian orang di Khanqah itu lebih buruk dari setan. Tak ada kasih sayang dan keramahan di dalamnya. Bohong, tipuan dan kerakusan sudah menjadi bagian dari hidup mereka. Orang-orang seperti itu hanya ingin memamerkan diri dalam kemasan zikir dan ibadah yang tak ikhlas.

Nasehatku untuk kalian, jauhi mereka dan jangan pernah tertipu kata-kata mereka. Jangan bersikap seperti aku yang terlalu lugu dan mempercayai bulat-bulat apa yang mereka katakan. Inilah akibatnya karena aku mempercayai omongan manis orang-orang itu."

REVIEW FILM: Menilik Peran Media dalam Film “No One Killed Jessica”

Oleh: Selvy A. Syarif

Judul Film : No One Killed Jessica (A)
Sutradara   : Rajkumar Gupta
Pemain      : Rani Mukherjee, Vidya Balan, Myra, Mohammed Zeeshan Ayyub, dll.
Tahun        : 2011

“No One Killed Jessica ” adalah sebuah film yang menghibur sekaligus 'memukul' dengan keras. Dibuat hanya dengan budget rendah, tetapi dibintangi oleh dua aktris besar Bollywood, Vidya Balan dan Rani Mukherjee, film ini berkisah tentang kasus pembunuhan Jessica Lal yang amat terkenal.

Sutradara Rajkumar Gupta yang yang tenar dengan filmnya, AAMIR, terinspirasi oleh kasus Jessica yang menjadi headline koran nasional India dan mengangkatnya menjadi film. Jessica yang ditembak di sebuah klub malam di kota New Delhi pada tahun 1999. Dia yakin persidangan mengenai kasus itu adalah sebuah kejadian penting untuk India di masa modern ini. Ditambah lagi dengan keteguhan masyarakat yang menginginkan keadilan bagi Jessica yang ditembak mati oleh putra seorang politisi kaya.

Film ini dimulai dengan adegan yang memperlihatkan kota New Delhi dengan segala aktivitas masyarakat yang ada di dalamnya. New Delhi memiliki kehidupan yang hampir sama dengan kota metropolis lainnya, seperti Jakarta. Kota dengan segala keruwetan dan permasalahan sosial lainnya, tapi tetap saja menarik hati banyak orang untuk mencari penghidupan layak di sana. Seorang reporter TV bernama Gaity (Rany Mukherjee) memberikan gambaran tentang masyarakat India yang tengah berfokus menyambut musim panas dengan ditemani pertadingan kriket di TV. Fokusan itu berubah seketika, saat media (televisi, koran, dsb) menyajikan berita tentang perang India dan Pakistan di daerah perbatasan. Berita yang mampu mengarahkan banyak orang untuk berpikir bahwa perang tersebut akan memberikan pengaruh besar terhadap wajah politik di India.

Jessica yang diperankan oleh Myra menjadi inti dari kisah panjang dalam film ini. Jessica pada awalnya bukanlah siapa-siapa. Dia hanya seorang perempuan biasa dengan segala cita-cita khas perempuan modern masa kini. Jessica mati tertembak di tempat kerjanya hanya karena segelas minuman.

Bagi kebanyakan orang, ini hanyalah kisah yang hadir karena konflik antar individu, sehingga media pun tak merasa tertarik untuk meliputnya. Hal inilah yang mungkin menjadi penyebab dari awal hingga pertengahan, film ini terkesan monoton. Tetapi, cerita ini menjadi berbeda dan mulai membuat adrenalin penonton meningkat. Pembunuh Jessica belakangan diketahui adalah anak seorang pejabat. Kasus yang awalnya dianggap oleh kebanyakan orang (termasuk media dominan saat itu) akan berakhir baik- baik saja. Akan tetapi, hal tersebut jauh dari pengharapan.

Kebobrokan hukum ditelanjangi di film ini. Pelaku bebas tanpa hukuman apapun. Dari 300 saksi, hanya segelintir orang yang ingin bersaksi dengan benar di persidangan, lantaran sebelumnya telah disuap bahkan diancam oleh keluarga dan kolega dari pihak pelaku.

Film ini memberikan gambaran, betapa mudahnya harta dan kuasa memutarbalikkan fakta. Betapa mudahnya orang kecil dizalimi oleh mereka yang punya pengaruh besar. Film ini dengan gamblang memberikan kita gambaran tentang besarnya pengaruh media menentukan opini publik terhadap sesuatu (pemberitaan) yang penting bagi kehidupan sosial.

Segigih apapun kakak Jessica (Sabrina Lal) yang diperankan oleh Vidya Balan menguak keadilan, jika tidak mendapat dukungan dari media, semuanya akan berakhir sia -sia. Terbukti di film ini, media memegang kuasa dan peranan penting hari ini. Dan kuasa yang sesungguhnya dipegang oleh mereka yang berduit.

TOKOH: Marwa El -Sherbini “Pahlawan Jilbab”

Oleh: Oshin A. Asnur

Marwa El -Sherbini merupakan wanita muslimah kelahiran Mesir pada tahun 1977. Di tahun 2008 ia yang telah memiliki putra bernama Mustafa pindah ke Dresden, Jerman, tempat suaminya Elwi Ali - Okaz yang bekerja sebagai dosen dengan jabatan doktor di Max Planck Institute for Molecular Cell Biology and Genetics. Marwa bekerja di University Hospital Dresden dan di apotek lokal. Bersama dengan beberapa orang lainnya, Marwa mendirikan sebuah asosiasi sukarela dengan tujuan membangun pusat budaya dan pendidikan Islam di Dresden. Marwa El -Sherbini adalah seorang yang ramah. Keramahan tersebut tidak dapat membendung kebencian Alex Wiens seorang pria kewarganegaraan Jerman yang “Anti - Islam”.

Kisah Marwa cukup tragis dan mengharukan. Ia seorang perempuan m uslim yang sedang mengandung anak kedua dengan usia kandungan 3 bulan. Ia kerap diganggu dan dilecehkan oleh pria Jerman. Marwa sering disebut teroris, karena jilbab yang dikenakan . Pertemuan Marwa dengan Alex Wiens terjadi pada 21 Agustus 2008, keduanya sedang berada di sebuah taman bermain. Wiens sedang bersama keponakannya dan Marwa sedang bersama anaknya. Ketika melihat Marwa yang memakai jilbab, Wiens mencaci bahkan menyebut Marwa sebagai teroris. Alex Wiens pernah berusaha menerjang dan membuka jilbab Marwa. Suami Marwa pun tak luput dari gangguan pria tersebut . Gangguan terus - menerus itulah yang menjadi alasan Ma rwa El -Sherbini mengajukan tuntutan untuk memperkarakan Alex Weins berkaitan dengan gangguan keamanan, pelecehan agama, dan tindakan tidak senonoh di depan anak kecil ya ng disidangkan di Dresden, Jerman. Namun, saat persidangan berlangsung, tersangka kemudian menikam Marwa El - Sherbini saat akan keluar ruang sidang. Suaminya yang ingin melindungi Marwa pun mendapat tikaman dari Alex Wiens sebanyak 16 kali di daerah leher, tangan dan sekitar tubuh. Pada saat itu juga Marwa El -Sherbini meninggal di tempat, sementara suaminya sendiri selamat dan dibawa ke Rumah Sakit, walau sempat dalam keadaan kritis. Tidak beberapa lama kemudian Suami Marwa mengajukan sidang tuntutan atas Pembunuhan kepada Alex Wiens. Namun pengacara dan beberapa pembela Alex Wiens mengungkapkan bahwa Alex menderita “schizophrenia”.

Setelah  menelan waktu cukup panjang, akhirnya hakim memutuskan bahwa Alex Wiens bersalah, dan dijatuhi hukuman penjara. Kematian Marwa bertepatan dengan kematian Michael Jackson. Ribuan orang di Mesir mengantar jenazah Marwa El -Sherbini ke tempat peristirahatan terakhir, tentu saja tidak sehebat dan semegah acara kematian Michael Jackson. Marwa hanya seorang ibu dan bukan superstar. Tapi, kepergian Marwa El -Sherbini adalah lambang jihad seorang muslim. Peristiwa ini sepi dari pemberitaan di media massa Jerman dan mungkin dari pemberitaan media massa asing dunia, karena yang menjadi korban adalah seorang muslimah yang dibunuh oleh orang anti - Islam. Situasinya mungkin akan berbeda jika yang menjadi korban adalah orang Barat yang dibunuh oleh seorang ektrimis Islam. Beritanya dipastikan akan gempar dan mendunia.

Itulah sebabnya, televisi hanya sibuk dengan pemberitaan pemakaman Michael Jackson yang mengharu biru. Tak ada berita pemakaman Syahidah Marwa El -Sherbini yang mendapat sebutan “Pahlawan Jilbab” . Tak ada protes dunia Islam atas kematiannya. Tak ada tangisan kaum muslimin dunia untuknya. Meski pemerintah Jerman berusaha menutup- nutupi kematian Marwa El -Sherbini, cerita tentang Marwa El -Sherbini menyebar dan mengguncang komunitas Muslim di berbagai negara. Untuk mengenang Marwa, diusulkan untuk menggelar Hari Hijab Internasional yang langsung mendapat dukungan dari Muslim di berbagai negara. Usulan itu dilontarkan oleh Ketua Assembly for the Protection of Hijab Abeer Pharaon lewat situs Islamonline. Abeer mengatakan, Marwa El -She rbini adalah seorang martir bagi perjuangan muslimah yang mempertahankan jilbabnya. “Ia menjadi korban Islamofobia, yang masih dialami banyak Muslim di Eropa. Kematian Marwa layak untuk diperingati dan dijadikan sebagai Hari Hijab Sedunia,” kata Abeer. “Dan kini setiap tanggal 1 Juli diperingati sebagai HARI JILBAB INTERNASIONAL Untuk mengenang kepergian beliau.

Rabu, 01 Januari 2014

Opini: Media dan Eksistensi Perempuan


Sumber: Google
Oleh: A. Rara Bidja Gading
 
“Dia itu anak tunggal, cantiiik deh, Kim. Udah cantik banyak duit lagi.”
“Oh, iya, Kim. Itu cewek body-nya langsing, badannya tinggi, rambutnya panjang, di cat merah, tapi nggak merah banget, agak-agak ungu gitulah. Cantiiik deh, Kim.”
“… Kim, tuh cewek kayaknya lulusan luar negeri, deh. Soalnya, gayanya modis banget. Dandanannya kayak orang Korea gitulah. Aduuhh cantik banget.”
“… Ini cewek cakep banget. Matanya pake softlens coklat, alisnya di tato, terus…”

Penggalan percakapan di atas adalah kutipan dari novel yang berjudul Love in Sunkist. Penggambaran perempuan cantik yang umumnya dipahami oleh banyak orang. Hampir semua media massa mendefinisikan perempuan cantik dengan konsep serupa. Definisi yang diterima orang secara sukarela dan mengabaikan variabel-variabel lain.
Media massa kini memiliki kontrol yang kuat atas tindakan manusia. Inilah yang disebut oleh Althusser sebagai apparatus ideologis, selain pendidikan, rumah, organisasi perdagangan, partai politik, olahraga, dan seterusnya. Melalui media massa inilah ideologi yang abstrak berusaha untuk dimaterialkan.
Naluri manusia yang tidak ingin kejelekan (hal-hal di luar keindahan menurut media massa) pun kemudian digunakan untuk mempertahankan ideologi, mempercepat akumulasi modal yang kita sebut kapitalis. Tidak hanya perempuan, laki-laki juga menjadi target aktor-aktor percepatan akumulasi modal ini. Namun objek yang paling strategis untuk dimainkan di mata kapitalis adalah perempuan. Melihat kembali pada kutipan penggalan percakapan dalam sebuah novel di atas, jelas menunjukkan bahwa media massa merepresentasikan perempuan cantik dari segi fisik. Fisik yang selalu jadi santapan mata para laki-laki.
                Mengurai analisis media terhadap citra perempuan sejatinya—menurut pengamatan penulis—bersumber dari perempuan-perempuan dari Barat. Entah sejak kapan perempuan ideal secara fisik dan gaya hidup bercermin pada perempuan Barat. Pertama, mata belo dan warna-warni, tubuh yang ramping, rambut panjang dan berwarna, seksi, dada yang besar, awet muda, dan seterusnya. Kedua, gaya hidup, yaitu wanita karier atau kerja kantoran, wirausaha muda, model, aktris, memanjakan diri di salon, berbelanja di pusat perbelanjaan modern, dan westernis. Bahkan dalam gaya hidup, seks ideal diatur oleh media. Citra-citra semacam ini dibuat sebagai peluang kapitalis menciptakan produk yang mengantar hamba-hamba media pada citra ideal perempuan. Muncullah penyakit Anorecia Nervosa, penyakit takut gemuk yang banyak diderita oleh perempuan-perempuan modern. Pewadahan operasi plastik, program diet ketat, pemutih—tanpa peduli tingginya biaya, softlens, dan sebagainya.
                Menurut Idy Subandi Ibrahim dalam buku “Menggeledah Hasrat: Sebuah Pendekatan Multi Perspektif”, media adalah tempat yang paling sering ditemukan kekerasan simbolik di ruang publik, tanpa mengabaikan bahwa tak dinafikannya kekerasan fisik dan psikologis yang masih berlangsung hingga kini. Media memungkinkan terjadinya berbagai pola kekerasan tak tampak, tapi terasa. Media membentuk citra perempuan dari segi tatapan lelaki. Misalnya, kasus pemerkosaan terhadap perempuan, bahasa yang diberitakan oleh media adalah “menggagahi”. Pemerkosaaan adalah bentuk kegagahan dan kesuperioran seorang pria menurut (distrorsi) bahasa oleh media. Banyak pula film yang memosisikan perempuan sebagai mahkluk kedua (kata ayah saya), atau adegan bias gender yang menjadikan rumah sebagai tempat yang sangat tepat untuk perempuan dan tidak cocok untuk berbuat di ruang publik, misalnya dalam film “The Woman Knight of Mirror Lake”, ada percakapan yang mengatakan bahwa seorang wanita tak berpendidikan itu berbudi, juga pada adegan adu fisik antara tokoh utama perempuan dan seorang laki-laki, lawannya mengatakan “Kamu jalang bodoh, bukannya tinggal di rumah mengurus keluarga”. Selain itu, kekerasan simbolik lainnya dibentuk dengan memajang tubuh perempuan sebagai objek tontonan untuk memenuhi hasrat laki-laki. Hal serupa dipaparkan dalam buku “Membongkar Kuasa Media” oleh Ziauddin Sardar, perempuan dalam media selalu digambarkan sebagai objek tatapan pria. Model-model setengah telanjang pada sampul majalah pria adalah hal yang biasa. Presenter program televisi popular dipilih berdasarkan wajah bukan bakat yang lebih substansial. Salah satu citra perempuan yang paling umum adalah “bimbo”, yaitu rambut pirang, tata rias yang tebal, dada besar, rok mini, sepatu hak tinggi, dan dia pasti gampangan, bodoh, tidak berpendidikan, dan tidak berdaya.
                Belum lagi, fashion sebagai komunikasi. Pakaian akan menunjukkan identitas diri kita, siapa diri kita. Cara berpakaian yang berubah-ubah sesuai dengan pekembangan zaman adalah gambaran perempuan modern yang gaul dan tentunya tidak ketinggalan zaman. Ketinggalan zaman artinya tak menjadi siapa-siapa di dunia ini.
                Gambaran-gambaran perempuan ideal yang secara berulang-ulang dan terus-menerus ditampilkan media, perlahan-lahan menjadi standar yang dianut oleh para perempuan masa kini. Alih-alih mengikuti trend dan mencapai eksistensi di masa modern, justru semakin mengalienasi dirinya sendiri. Merubah mata, hidung, warna kulit, mengubah cara berpakaian sesuai perkembangan zaman. Justru menghilangkan identitas sejati diri perempuan. Semisal pakaian yang mengomunikasikan ideologi pun tak lagi bermakna dan hanya jadi komoditi. Stereotipe “bimbo” juga mengalami distorsi pemaknaan. Ketika pada masanya dorongan-dorongan hasrat ‘ideal’ yang secara terus-menerus ingin dipenuhi ini tidak berhasil, maka perempuan akan mengalami ‘gangguan’ jiwa. Gangguan jiwa inipun diobati oleh kapitalis dalam bentuk komoditi pula.
                Sekelompok orang menawarkan agama sebagai solusi identitas hakiki perempuan. Namun ketidakhati-hatian sebagian orang menafsirkan dengan cara yang berbeda. Mungkin saja penyampaian yang bersifat doktrinal, tidak filosofis sehingga framing tidak kuat. Parahnya, agama pun jadi legitimasi pengiklanan produk hijab. Dengan menyebutkan salah satu ayat Al-Qur’an, dan serta-merta mengajak perempuan untuk membeli produk hijab. Hijab yang harusnya menjadi pengontrol hasrat pun kehilangan makna, justru menumbuhkan hasrat.
                Di dunia modern belum ada yang luput dari komoditi. Hal-hal kontradiksi yang berada dalam tubuh pun bukan hal yang aneh. Kealiman dan kebodohan dalam satu tubuh, materialisme dan spiritualisme berada dalam satu tubuh, juga terkenal dan terasing. Inikah yang disebut manusia di titik peradaban tertinggi?
                Perempuan perlu belajar untuk menerima ukuran tubuh mereka yang normal untuk melawan citra ideal perempuan langsing yang dipromosikan oleh media dan kebudayaan kita”. –Karen Johnson dan Tom Ferguson, 1990.
                Beauty is nothing without brain”.—Kutipan.