Alkisah, seorang sufi dengan penampilan yang sangat sederhana dan menunggangi seekor keledai berjalan dari satu kota ke kota lain. Malam hari ia singgah di sebuah perkumpulan sufi yang disebut Khanqah untuk beristirahat.
Sufi mengikat tali kekang keledainya di satu sudut dan mengamanatkan kepada penjaga untuk mengawasinya. Ia sendiri bergabung dengan sufi -sufi lainnya. Ketika malam sudah bertambah larut, makan malam ala kadarnya dihidangkan. Si sufi teringat pada keledainya. Ia segera mendatangi penjaga dan menanyakan apakah ia sudah memberikan rumput kepada keledainya? Tak hanya itu, sufi juga bertanya akan kenyamanan tempat keledainya dan pengobatan luka-luka di tubuh keledai tersebut. Penjaga Khanqah menjawab setiap pertanyaan sufi dengan kata ‘Laa haula wa laa quwwata illa billah'. Kata-kata itu seakan mengandung makna ia cukup ahli menjalankan tugasnya untuk menjaga dan merawat keledai dan kuda para pengunjung. Ia juga mengatakan, "Tanpa kau suruh pun aku sudah melaksanakan tugasku dengan baik. Pergilah beristirahat. Keledaimu saat ini sedang beristirahat dan berada di tempat yang nyaman."
Sufi itu kembali bergabung bersama sufi -sufi lainnya. Sepeninggal si Sufi, pelayan kembali sibuk dengan pekerjaannya. Ia tak memikirkan perkataannya kepada si Sufi. Tak ada rumput dan makanan keledai yang ia siapkan. Sementara si Sufi yang keletihan tidur di dalam sana. Dalam tidurnya, ia bermimpi melihat keledainya berteriak-teriak ketakutan dikepung oleh kawanan serigala buas. Keledainya terjebak di dalam sebuah lubang besar yang cukup dalam. Dalam mimpinya ia teringat akan kata-kata pelayan tadi bahwa keledainya sudah diberi makanan enak, dirawat dengan baik dan ditempatkan di tempat yang nyaman. "Tega benar pelayan itu membiarkan keledaiku seperti ini. Mana janjinya untuk merawat keledaiku dengan baik? Bukankah aku cukup ramah berbicara dengannya tadi? Ia sendiri juga makan bersamaku dan bergabung dalam perkumpulan sufi dan itu berarti ia punya hati yang bersih," dengan pikiran-pikiran seperti itu dia melewatkan malam hingga pagi tiba.
Pagi hari, si Sufi sudah bersiap meninggalkan tempat tersebut. Ia pergi ke tempat penitipan keledai di Khanqah. Dilihatnya pelayan telah memasang dan mengikat pelana dan keranjang perbekalan di tubuh keledai. Tanpa bertanya lagi, sufi naik ke atas punggung keledai dan mulai bergerak. Gerakan keledai semakin lamban, tenaganya semakin lemah. Tak heran, sebab sejak semalam ia tak makan dan minum. Tubuhnya yang terluka juga tak dirawat. Sementara ia harus melewatkan malam di tempat yang tidak nyaman, terbuka dan dingin. Beberapa langkah kemudian, keledai itu ambruk tak sadarkan diri. Orang-orang berdatangan membantu, masing-masing bertanya dalam hati tentang apa yang membuat keledai itu pingsan. Mereka memeriksa telinga keledai hingga mulut dan lidahnya, dan ada pula yang melihat matanya dengan seksama. Mereka ingin mengetahui penyebab pingsannya keledai. Salah seorang di antara mereka berkata, "Keledai ini sakit. Tapi bukankah kemarin kau katakan bahwa keledai ini sehat dan kuat?" Sufi menghela nafas panjang. Dia harus mengakui binatang tunggangannya ini memang sakit dan lemah. Setelah diam beberapa saat, sang sufi berkata, "Beginilah jadinya keledai malang yang semalam penuh hanya menyantap zikir ‘laa haula' bukan rumput dan jerami. Tak heran jika ia sekarang jatuh tersungkur dan lemah seperti ini. Pelayan rumah sufi hanya sibuk mengucapkan ‘laa haula' ketika kutanya apakah sudah memberi keledai ini makanan. Sufi melanjutkan kata-katanya. "Hati sebagian orang di Khanqah itu lebih buruk dari setan. Tak ada kasih sayang dan keramahan di dalamnya. Bohong, tipuan dan kerakusan sudah menjadi bagian dari hidup mereka. Orang-orang seperti itu hanya ingin memamerkan diri dalam kemasan zikir dan ibadah yang tak ikhlas.
Nasehatku untuk kalian, jauhi mereka dan jangan pernah tertipu kata-kata mereka. Jangan bersikap seperti aku yang terlalu lugu dan mempercayai bulat-bulat apa yang mereka katakan. Inilah akibatnya karena aku mempercayai omongan manis orang-orang itu."
0 komentar:
Posting Komentar