Tuhan
mewahyukan kepada salah seorang Bani Israil bahwa seorang lelaki dari umatnya,
tiga dari soanya akan dikabulkan di sisi-Nya. Nabi itu memberitahukan lelaki
itu. Lelaki iu kemudian memberitahukan kepada istrinya dan menukilkan kejadian
itu kepadanya. Wanita itu bersikeras bahwa salah satu doanya diperuntukkan
untuk hajat istrinya. Lelaki itu menerimanya.
Isterinya
itu minta didoakan agar berubah menjadi wanita tercantik. Lelaki itu berdoa,
kemudian wanita itu berubah menjadi sangat cantik. Tak beberapa lama kemudian,
istrinya itu menjadi bahan perhatiann para raja penyembah hawa nafsu, pemuda
kaya dan hedonis. Istrinya tidak lagi peduli dengan suaminya yang tua dan
miskin, bahkan berperilaku buruk terhadap suaminya.
Suaminya
untuk kesekian waktu masih menunjukkan kompromi dan toleransi, namun ketika
dilihatnya semakin hari perilaku wanita itu semakin buruk dan tak bias ditoleri
lagi, ia berdoa agar istrinya itu dijadikan anjing, dan doanya terkabulkan.
Setelah kejadian itu anak-anakny menangis di depan ayahnya agar memaafkan
kesalahan ibu mereka. Mereka berkata, masyarakat mengolok-olok mereka dengan
berkata bahwa ibu kami telah berubah menjadi anjing.. mereka meminta agar
ibunya dikembalikan seperti semula dan lelaki itu pun kembali berdoa. Wanita
itu kembali menjadi semula. Dengan demikian tiga doa mustajab suaminya itu
menjadi sia-sia.
Cerita
tidak akan pernah habis, jika membahas tentang perempuan dan seluk beluknya.
Buku ini pun hadir untuk turut memperbincangkan perempuan dan segala hal yang
berkaitan dengannya. Buku dengan sampul yang mencolok berwarna merah muda
memberikan penekanan bahwa pembaca akan menyelam cukup jauh untuk mengenal
perempuan.
Kemampuan
penulis (Quraish Shihab) memberikan penjelasan lengkap, tapi tidak membosankan
tentu saja menjadi nilai tambah buku ini. Ditambah lagi dengan beberapa poin
yang berusaha membuka tabir tentang cara Islam memandang perempuan dengan
segala kemampuan dan keterbatasan yang dimilikinya. Buku ini tetap patut
diapresiasi, karena jarang sekali buku agama yang bisa memberikan ayat yang
dijadikan dalil untuk pembenaran dengan penjelasan yang sangat gamblang. Namun,
pembaca harus tetap berhati-hati menafsirkan setiap ayat yang dijadikan dalil
dari setiap pembahasan tersebut.
Dari
segi isi, buku ini menyajikan aneka persoalan seputar perempuan, utamanya
dilihat dari sudut pandang Islam. Di dalam buku ini dibicarakan tentang
perempuan dengan segala sifat, karakter dan kebiasaannya; perempuan dan
kehidupan rumah tangga, dari pernikahan hingga pembentukan keluarga sakinah;
dan pembahasan tentang perempuan dan aktivitasnya di ranah publik. Beberapa
pembahasan dalam buku ini sebenarnya cukup sensitif untuk dibahas. Namun,
sekali lagi buku ini tetap patut diapresiasi dan dijadikan sebagai salah satu
referensi bagi perempuan untuk mengetahui hak dan kewajibannya.
Keberadaan
perempuan di ranah publik dengan segala tingkah lakunya menjadi salah satu poin
penting dalam buku ini. Perempuan dengan gaya hidup terkini tentu saja harus
disesuaikan dengan segala hal yang diajarkan dalam agama Islam. Dan buku ini
bisa menjadi salah satu rujukan.
Buku
ini memang berjudul “Perempuan”, tetapi tidak berarti buku ini hanya pantas
dibaca oleh perempuan. Kaum lelaki tak kalah penting untuk membacanya. Karena
di bagian awal buku , penulis mencoba memberikan gambaran rasional tentang
batasan perbedaan serta bagian kesamaan dari laki-laki dan perempuan. Hingga
cara Islam menyikapi adanya perbedaan dan persamaan tersebut dalam keluarga dan
di ruang sosial.
Sebagai
bahan perbandingan, penulis tidak sekedar mencatut beberapa ayat dari Al Quran
dan menerjemahkan sesuai pemahamannya saja. Namun di setiap pembahasan, penulis
selalu mencoba memberikan gambaran dari sudut pandang berbeda, khususnya dari
beberapa ulama ataupun filsuf, baik untuk mendukung argumentasi yang akan
dipaparkan atau menjadi antitesa dari paparannya. Sehingga dari sudut
pembahasan, buku ini menghadirkan cover both side dari setiap bagiannya.
Selamat menyelami kedirian perempuan lebih dalam.
Perempuan
hari ini cenderung sibuk mempercantik penampilan fisiknya saja, mengelilingi
pusat perbelanjaan, berkumpul dan bergosip bersama dengan ibu-ibu yang lain,
tanpa pernah memikirkan hal-hal yang sifatnya sosial. Berbeda dengan seorang
perempuan yang satu ini. Tawakkul Karman seorang peraih nobel perdamaian dari
Yaman yang malah sibuk menjadi seorang aktivis HAM.
Tahun 2011, beliau
menjadi pemimpin Revolusi Melati untuk menumbangkan rezim Yaman yang korup.
Suatu pagi, ratusan orang yang membebat kepala dan lengan dengan pita bewarna
pink berkumpul di depan gerbang Universitas Sana’a. Seorang perempuan berjilbab
dengan busana bermotif bunga menaiki mimbar. “Kita akan terus berjuang menggerakkan
Revolusi Melati ini, sampai sistem korup yang merampok kemakmuran rakyat Yaman
tumbang!” teriak perempuan bernama lengkap Tawakkul Abdus Salam Karman itu.
Massa pun bertepuk gemuruh.
Bagi
Tawakkul, rezim Saleh tidak hanya merampok masa depan kaum muda Yaman, tapi
juga merampas kehormatan mereka. Meski sebagian rakyat Yaman terinspirasi
perlawanan kekerasan model Al-Qaeda, namun ia tetap memilih perjuangan dengan
jalan damai. Lebih-lebih, Tawakkul lahir di daerah Mekhlaf, Provinsi Ta’izz,
yang oleh banyak kalangan dianggap sebagai kampungnya Islam garis keras.
Pada
awal Januari 2011, ia ditangkap aparat pemerintah dan diseret dari dalam
mobilnya. Sejak peristiwa itu, Yaman menyedot perhatian dunia, dan penangkapan
itu menjadi pemicu ribuan demonstran turun ke jalan-jalan kota menyerukan
Revolusi Melati. Puncaknya, pada 18 Maret 2011, ribuan warga shalat Jumat
memadati Dairy Street, di Sahah Taghyir untuk menyampaikan tuntutannya
tiba-tiba diberondong tembakan dari atas gedung.
Sebagaimana
kebiasaan sejak eskalasi protes makin meningkat di Yaman, hari Jumat bukanlah
waktunya perempuan turun ke jalan. Karena, biasanya perempuan berdemonstrasi
pada hari Kamis. Tak lama setelah insiden penembakan itu Tawakkul tampak
setengah berlari ke arah kemurunan massa yang panik. Sontak, momen itu
diabadikan para pewarta, baik domestik maupun mancanegara.
Tawakkul
menyatakan siap mati, dan ia yakin rakyat semakin sadar betapa kejamnya
Presiden Saleh yang telah membunuh seorang perempuan yang kerap menyerukan
perjuangan damai. Setelah kejadian yang merenggut nyawa 70-an orang itu Yaman
tak pernah sepi dari demonstrasi. Salah satu spanduk yang terentang selama aksi
melawan rezim Saleh tertulis: Kami telah mencium bau melati.
Tawakkul
mengangkat derajat perempuan di Yaman yang masih diperintah secara kesukuan dan
patriarkis. Sementara itu, buta huruf di kalangan perempuan Yaman juga masih
menjadi masalah yang merisaukan. Tambahan, kaum hawa banyak yang menderita gizi
buruk karena keluarganya cenderung mengistimewakan anak lelaki. Tawakkul
menyadari bahwa usahanya itu mendapatkan banyak hambatan dari orang-orang yang
ia sebut sebagai kaum ekstremis. Mereka membicarakannya di masjid-masjid dan
mengeluarkan selebaran yang mengutuknya tidak Islami. Mungkin karena pernyataan-pernyataan
pedasnya itulah ia juga dijuluki “Wanita Besi”.
Pada
10 Desember 2011, dalam sebuah upacara bergengsi di Oslo, Norwegia, Tawakkul
Karman bersama dua perempuan lainnya, yakni Presiden Liberia Ellen Johnson dan
Leymah Gbowee, meraih penghargaan Nobel perdamaian. Sebelumnya, Tawakkul masih
berada di tenda perlawanan para demonstran ketika ia menerima kabar dinobatkan
sebagai perempuan Arab pertama dan sekaligus termuda yang menerima hadiah Nobel
pada usia 32 tahun.
Kehormatan itu
dipersembahkannya untuk setiap perempuan yang kehilangan anak, suami atau
saudara pada musim semi (Arab Spring) Revolusi Arab selama ini.“Manakala perempuan
diperlakukan tidak adil dan tersingkir dari hak alaminya dalam proses
bernegara, maka segala kekurangan sosial dan penyakit budaya akan terhampar.
Pada ujungnya seluruh anggota komunitas, baik lelaki maupun perempuan, akan
sama-sama menderita,” papar Tawakkul dalam pidato penerimaan Nobelnya.
Bagi
Tawakkul, ada empat tahapan dalam Revolusi Melati, yaitu: menumbangkan sang
diktator dan keluarganya; menumbangkan aparat keamanan dan militer serta
jaringan nepotismenya; mendirikan kelembagaan tradisional; dan mendirikan
negara demokratis dan sipil modern.
Fashion
sangat melekat dalam diri seorang perempuan yang kini kian meramaikan jagat
kebutuhan wanita, khususnya wanita muslimah. Emansispasi menjadi salah satu
alasan berkembang pesatnya lifestyle perempuan berhijab. Mencoba
menerobos kungkungan atas kreatifitas setiap manusia. Ya, setiap manusia berhak
memperoleh dan mengaplikasikan pengetahuan sebagai fitrahnya serta menciptakan
hal baru sebagai wujud inovatif dalam peradaban. Dan kaum hawa juga mulai
memperoleh haknya. Namun, apakah kita bebas untuk mengekspresikannya atau ada
hal yang mengatur di belakangnya?
Fenomena
“hijabers” yang kian digandrungi oleh muslimah, akhirnya menjadi sebuah gaya
hidup yang menjamur di seluruh Indonesia. Pro dan kontra pun kerap kali muncul
dalam diskusi-diskusi kecil para komunitas perempuan, bahkan kaum Adam pun
sering membincangkannya. Sontak gaya hidup ini menjadi spirit bagi
perempuan-perempuan untuk ingin berusaha menyempurnakan dirinya dengan
berjilbab, bahkan beberapa aktris pun melakukannya. Namun, yang disayangkan
adalah paradigma perempuan muslimah yang “hanya” mempercantik gaya atau model
pakaian serta jilbabnya. Terbukti dengan semakin banyaknya tutorial-tutorial
menggunakan jilbab, agar nampak rapi dan trendi. Selayaknya banyak kemuliaan
dan keindahan perempuan yang dapat digali, mulai dari kecerdasan intelektualnya
sampai spiritnya berjuang dengan kasih dan cintanya kepada Sang Pemilik Cinta,
seperti yang dilakukan oleh perempuan teladan dan mulia sepanjang masa, yaitu
Fatimah Az Zahra. Beliau dengan kezuhudannya mengatakan kepada Rasulullah SAW: “Wahai
Rasulullah, Salman heran melihat pakaianku. Demi yang mengutusmu dengan
kebenaran, aku dan Ali sejak lima tahun tidak memiliki sesuatu pun kecuali
kulit domba yang pakai untuk memberikan makan onta kami pada siang hari dan
menjadikannya tikar pada malam hari, dan bantal kami terbuat dari kulit yang
berisi sabut.” Dapat dilihat bahwa lifestyle yang diciptakan oleh
Fatimah Az Zahra berkaitan dengan sebuah susbstansi nilai, yaitu perjuangan
akan kebenaran dan keadilan. Terlebih lagi dengan sebuah keikhlasan dan
kezuhudan yang dimiliki menjadikannya manusia suci yang sangat dicintai baginda
Rasulullah SAW.
Sejatinya
setiap manusia termasuk perempuan memiliki dua tanggung jawab, yaitu tanggung
jawab sebagai individu yang berkaitan dengan personal dan hubungan vertikalnya
dengan Tuhan, seperti salat, puasa, doa, dan lainnya. Dan yang kedua adalah
tanggung jawab sosial sebagai makhluk sosial perlu meletakkan keberpihakannya
pada perjuanagn kemanusiaan, baik dalam keluarga, masyarakat, bangsa, dan
lainnya. Hal ini meniscayakan bahwa perempuan pun penting untuk membuat tatanan
sosial masyarakat yang pro keadilan dan kebenaran baik yang dimulai dengan
mendidik calon generasi masa depan sampai menjadikannya pemimpin masa depan.
Tentunya persoalan mendidik bukanlah hal yang enteng, butuh pengetahuan yang
luas untuk memaksimalkannya. Supaya tak ada lagi koruptor masa depan, kapitalis
masa depan, dan lainnya. Oleh karena itu, lifestyle masa kini seyogyanya
memberi perhatian pada ranah intelektual, emosional, dan spiritual seorang
perempuan. Misalnya, gaya hidup perempuan gemar membaca, berlembaga, diskusi, menulis,
dan dekat dengan kaum mustadhafin. Ketika pola hidup tersebut yang menjadi
tren, impian tentang revolusi dunia mungkin akan segera tampak. Karena baik
laki-laki maupun perempuan akan saling melengkapi perjuangannya di jalan Tuhan.
Perjalanan menuju substansi cinta.
Karena
sang Penguasa langit dan bumi memberikan kesempatan kita untuk mencicipi dunia,
maka tugas setiap manusia adalah menjadi pasukan Tuhan di muka bumi. Atau
istilah lainnya adalah khalifah di muka bumi. Dalam bahasa sederhananya kita
sebut dengan berjuang. Berjuang tak lagi atas namaa ego diri, keluarga,
kelompok, atau suku. Namun, lebih mulia daripada itu adalah atas nama semesta
dan nilai. Sehingga, dalam hal lifestyle untuk perempuan pun sejatinya
berlandaskan nilai dan bertujuan menjadi insan kamil.
Wahai
perempuan, keindahanmu tampak dari rona kebijaksanaanmu
Kemuliaanmu
ada pada hasrat intelektualmu yang tak berujung
Dan
keagunganmu tampak dari spirit perjuanganmu menghempas kezaliman.