http://faradillahnotes.blogspot.com/2010/07/dia-perempuan-adalah-apa-yang-dikatakan.html
Tubuh langsing, rambut lurus dan panjang, kulit putih bersinar, serta bola mata indah dengan lensa kontak warna menjadi citra perempuan cantik dewasa ini. Pada abad pertengahan di Eropa, kecantikan perempuan berkaitan erat dengan kemampuan reproduksinya. Pada abad ke-15 sampai ke-17, perempuan cantik dan seksi adalah mereka yang punya perut dan panggul yang besar serta dada yang montok ( bagian tubuh yang berkait dengan fungsi reproduksi). Kemudian pada awal abad ke-19 kecantikan didefinisikan dengan wajah dan bahu yang bundar serta tubuh montok. Sementara itu, memasuki abad ke-20 kecantikan identik dengan perempuan dengan bokong dan paha besar. Di Afrika dan India, umumnya perempuan dianggap cantik jika ia bertubuh montok, terutama ketika ia telah menikah, sebab kemontokannya menjadi lambang kemakmuran hidupnya. Pada tahun 1965 model Inggris, Twiggy, yang kurus kerempeng menghentak dunia dengan tubuhnya yang tipis dan ringkih. Ia lalu digandrungi hampir seluruh perempuan seantero jagat dan menjadi ikon bagi representasi perempuan modern saat itu.
Menurut feminis Naomi Wolf, apa yang dilakukan dunia mode lewat Twiggy saat itu merupakan dekonstruksi citra montok dan sintal sebelumnya. Twiggy yang kerempeng adalah representasi gerakan pembebasan perempuan dari mitos kecantikan yang sebelumnya dikaitkan dengan fungsi reproduktif.
Tidak dapat dipungkiri, defenisi perempuan cantik mengalami perubahan dari masa ke masa,dan yang memiliki peran besar dalam mengonstruksi defenisi perempuan cantik masa kini adalah pasar. Pasar menjadikan iklan sebagai medianya dalam menawarkan produk, sedang iklan menyajikan pencitraan perempuan cantik masa kini. Akibatnya, pendefenisian perempuan cantik selalu membutuhkan “the other”.
Perempuan dan iklan adalah pasangan yang sulit untuk dipisahkan, apalagi untuk jenis produk kecantikan dan perawatan tubuh. Pada produk khusus untuk laki-laki pun, perempuan kerap menjadi bumbu, seakan-akan iklan akan hambar tanpa kehadiran perempuan. Terkesan sangat diada-adakan dan dihubung-hubungkan. Menurut Tamrin A. Tomagola (1996), ada lima citra perempuan dalam iklan. Ia menyebutnya dengan citra pigura, pilar, peraduan, pinggan, dan pergaulan. Dalam citra pigura, perempuan digambarkan sebagai makhluk yang harus memikat. Untuk itu, ia harus menonjolkan ciri-ciri biologis. Citra pilar, perempuan digambarkan sebagai pengurus utama keluarga. Pengertian budaya yang dikandungnya adalah lelaki dan perempuan itu sederajat, tetapi kodratnya berbeda. Citra peraduan, menganggap perempuan adalah obyek pemuasan laki-laki. Citra pinggan, digambarkan bahwa setinggi apa pun pendidikan perempuan dan sebesar apa pun penghasilannya, kewajibannya adalah di dapur. Citra pergaulan, perempuan digambarkan sebagai makhluk yang dipenuhi kekhawatiran tidak memikat atau tidak tampil menawan, tidak presentable atau acceptable. Untuk dapat diterima, wanita perlu physically presentable.
Tampilnya perempuan dalam iklan tidak terlepas dari budaya patriarki yang telah berakar kuat dalam masyarakat. Menurut Sylvia Walbi, patriarki adalah sistem dari struktur dan praktik- praktik sosial dimana kaum laki-laki menguasai, menindas dan menghisap kaum perempuan, sedangkan menurut Max Weber, patriarki adalah suatu organisasi kekeluargaan yang unik dimana ayah mendominasi anggota keluarga lainnya sekaligus mengontrol produksi ekonomi yang ada di keluarga tersebut. Dari kedua defenisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa patriarki menjelaskan adanya hubungan yang bersifat hirearki antara laki-laki dan perempuan. Pencitraan perempuan dalam iklan sebenarnya menggambarkan posisi perempuan sebagai objek, dan laki-laki sebagai subjek yang mendefenisikan cantiknya perempuan secara universal melalui media.
Disini kita bisa melihat persekongkolan antara budaya patriarki dan kapitalisme pasar yang menggunakan gender (bahasa kerennya saat ini; emansipasi wanita) sebagai topengnya. Budaya patriarki yang menjadikan perempuan sebagai “second human” setelah laki-laki, yang konon katanya perempuan bertempat di wilayah domestik, yang kerjanya hanyalah mengurus rumah tangga, memasak, yang intinya berkarir sebagai ibu rumah tangga agar tidak melawan kodratnya sebagai perempuan. Kemudian, kapitalisme pasar hadir memperkenalkan bahwa perempuan juga mampu berekspresi dan melakukan hal-hal seperti yang dilakukan laki-laki di luar rumah, dengan menawarkan perempuan menjadi ikon dalam mempromosikan produk. Dan jadilah perempuan-perempuan dengan perjuangan emansipasinya yang secara tidak sadar dijadikan produk kapitalisme. Perempuan-perempuan yang identitasnya dibentuk oleh sesuatu yang lain dari dirinya, sehingga dia (perempuan) adalah apa yang dikatakan laki-laki dan iklan.
Hal lainnya yang tidak disadari kebanyakan perempuan adalah bahwa iklan seringkali melecehkan perempuan dalam hal fisik serta menyinggung ras. Sebagaimana yang kita ketahui, tidak semua perempuan putih, tinggi, langsing, berambut lurus, dan cantik. Perempuan hitam dipaksa menjadi putih, rambut keriting dipaksa lurus, bahkan perempuan yang jelek (kurang cantik) dipaksa cantik untuk memuaskan tuntutan pasar dan menjadi seperti apa yang laki-laki inginkan. Menurut Janice Winship dalam bukunya Sexuality for sale (1980), “perempuan tidak hanya melihat diri mereka sebagaimana pria melihat mereka, tetapi didorong untuk menikmati seksualitas mereka melalui mata pria. Seolah-olah wanita tidak pernah untuk menentukan identitas siapa diri mereka dan bagaimana mereka semestinya. Bentuk tubuh, rambut, pakaian, kosmetik yang dipilih, jarang digunakan untuk diri mereka sendiri, pasti selalu “dipersembahkan untuk“. Baik itu terhadap pandangan pria ataupun tuntutan budaya dimana mereka tinggal”.
Dan lagi-lagi, pendefenisian perempuan cantik membutuhkan “the other”
Tidak dapat dipungkiri, defenisi perempuan cantik mengalami perubahan dari masa ke masa,dan yang memiliki peran besar dalam mengonstruksi defenisi perempuan cantik masa kini adalah pasar. Pasar menjadikan iklan sebagai medianya dalam menawarkan produk, sedang iklan menyajikan pencitraan perempuan cantik masa kini. Akibatnya, pendefenisian perempuan cantik selalu membutuhkan “the other”.
Perempuan dan iklan adalah pasangan yang sulit untuk dipisahkan, apalagi untuk jenis produk kecantikan dan perawatan tubuh. Pada produk khusus untuk laki-laki pun, perempuan kerap menjadi bumbu, seakan-akan iklan akan hambar tanpa kehadiran perempuan. Terkesan sangat diada-adakan dan dihubung-hubungkan. Menurut Tamrin A. Tomagola (1996), ada lima citra perempuan dalam iklan. Ia menyebutnya dengan citra pigura, pilar, peraduan, pinggan, dan pergaulan. Dalam citra pigura, perempuan digambarkan sebagai makhluk yang harus memikat. Untuk itu, ia harus menonjolkan ciri-ciri biologis. Citra pilar, perempuan digambarkan sebagai pengurus utama keluarga. Pengertian budaya yang dikandungnya adalah lelaki dan perempuan itu sederajat, tetapi kodratnya berbeda. Citra peraduan, menganggap perempuan adalah obyek pemuasan laki-laki. Citra pinggan, digambarkan bahwa setinggi apa pun pendidikan perempuan dan sebesar apa pun penghasilannya, kewajibannya adalah di dapur. Citra pergaulan, perempuan digambarkan sebagai makhluk yang dipenuhi kekhawatiran tidak memikat atau tidak tampil menawan, tidak presentable atau acceptable. Untuk dapat diterima, wanita perlu physically presentable.
Tampilnya perempuan dalam iklan tidak terlepas dari budaya patriarki yang telah berakar kuat dalam masyarakat. Menurut Sylvia Walbi, patriarki adalah sistem dari struktur dan praktik- praktik sosial dimana kaum laki-laki menguasai, menindas dan menghisap kaum perempuan, sedangkan menurut Max Weber, patriarki adalah suatu organisasi kekeluargaan yang unik dimana ayah mendominasi anggota keluarga lainnya sekaligus mengontrol produksi ekonomi yang ada di keluarga tersebut. Dari kedua defenisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa patriarki menjelaskan adanya hubungan yang bersifat hirearki antara laki-laki dan perempuan. Pencitraan perempuan dalam iklan sebenarnya menggambarkan posisi perempuan sebagai objek, dan laki-laki sebagai subjek yang mendefenisikan cantiknya perempuan secara universal melalui media.
Disini kita bisa melihat persekongkolan antara budaya patriarki dan kapitalisme pasar yang menggunakan gender (bahasa kerennya saat ini; emansipasi wanita) sebagai topengnya. Budaya patriarki yang menjadikan perempuan sebagai “second human” setelah laki-laki, yang konon katanya perempuan bertempat di wilayah domestik, yang kerjanya hanyalah mengurus rumah tangga, memasak, yang intinya berkarir sebagai ibu rumah tangga agar tidak melawan kodratnya sebagai perempuan. Kemudian, kapitalisme pasar hadir memperkenalkan bahwa perempuan juga mampu berekspresi dan melakukan hal-hal seperti yang dilakukan laki-laki di luar rumah, dengan menawarkan perempuan menjadi ikon dalam mempromosikan produk. Dan jadilah perempuan-perempuan dengan perjuangan emansipasinya yang secara tidak sadar dijadikan produk kapitalisme. Perempuan-perempuan yang identitasnya dibentuk oleh sesuatu yang lain dari dirinya, sehingga dia (perempuan) adalah apa yang dikatakan laki-laki dan iklan.
Hal lainnya yang tidak disadari kebanyakan perempuan adalah bahwa iklan seringkali melecehkan perempuan dalam hal fisik serta menyinggung ras. Sebagaimana yang kita ketahui, tidak semua perempuan putih, tinggi, langsing, berambut lurus, dan cantik. Perempuan hitam dipaksa menjadi putih, rambut keriting dipaksa lurus, bahkan perempuan yang jelek (kurang cantik) dipaksa cantik untuk memuaskan tuntutan pasar dan menjadi seperti apa yang laki-laki inginkan. Menurut Janice Winship dalam bukunya Sexuality for sale (1980), “perempuan tidak hanya melihat diri mereka sebagaimana pria melihat mereka, tetapi didorong untuk menikmati seksualitas mereka melalui mata pria. Seolah-olah wanita tidak pernah untuk menentukan identitas siapa diri mereka dan bagaimana mereka semestinya. Bentuk tubuh, rambut, pakaian, kosmetik yang dipilih, jarang digunakan untuk diri mereka sendiri, pasti selalu “dipersembahkan untuk“. Baik itu terhadap pandangan pria ataupun tuntutan budaya dimana mereka tinggal”.
Dan lagi-lagi, pendefenisian perempuan cantik membutuhkan “the other”
0 komentar:
Posting Komentar