Selasa, 19 April 2011

Untuk kau yang kelak ada di rahimku

Untuk kau yang kelak ada di rahimku...
Aku ingin bercerita padamu, bolehkah?
Setidaknya agar kau tak menyesal nantinya.
Kurasa kau akan mengkerutkan keningmu saat ini,
atau malah berjanji untuk menendang keras perutku kelak.

Percayalah, bukan karena aku tak menginginkanmu.
Tapi tak ingin kau sering menangis nantinya.

Dunia kini sedang kacau.
Kupikir masanya akan sangat panjang.
Lidah-lidah keserakahan menjalar di mana-mana.
Tangan-tangan penindas mencengkeram seluruh tanah.

Mungkin saat kau datang,
tak ada lagi ruang untukmu bermain.
Kau akan berpikir mengikat gawang bola di udara,
dan setelah itu menangis kecewa karena tersadar,
kau tak punya sayap.

Di sini...
Orang-orang kecil sulit bernapas,
padahal udara tak dijual.
Berhari-hari mereka puasa,
padahal ramadhan telah usai.

Percayalah, bukan karena aku tak menginginkanmu.
Tapi tak ingin kau hanya menambah sesak mereka.

Kecuali jika kau berjanji,
menebus langkah yang termakan zaman karena kelalaianku.
Merelakan tanganmu menjadi kepalan pelindung mereka yang kecil.


29102010. 10:50 Wita

Senin, 18 April 2011

Review Buku "Gadis Pemberontak'

Oleh : Andi Rara  A. Nuralam Amir

Penulis                : Nafisahaji
Penerbit              : Literati-books






Perjuangan seorang gadis muslim Indo-Pakistan melawan takdir di tanah rantau. Dialah Saira Qader putri dari seorang dokter dan ibu rumah tangga yang meninggalkan Pakistan dan merantau di New York ketika ayahnya menikah dengan ibunya. Saira mempunyai kakak perempuan, namanya Ameena. Sangat berbeda dengan kakaknya. Saira yang berperawakan agak liar, dan kakaknya yang kalem. Dari kecil Saira sudah melanggar batasan-batasan tradisi keluarganya, sebaliknya dengan Ameena yang begitu penurut menjalankan tradisi keluarga. Perbedaan ini juga membuat Ameena dianak-emaskan oleh neneknya, dan Saira oleh Kakak neneknya. Karakter-karakter mereka saya rasa mempengaruhi perawakan Ameena dan Saira kemudian. 

Buku ini dipenuhi dengan dinamika-dinamika keluarga Saira, baik dari pihak ibu maupun ayahnya. Di bab-bab awal buku ini menceritakan tentang kehidupan Saira dan keluarga dari pihak ibunya. Ibunya sangat membatasi pergaulan Saira, melarang saira memakai pakaian pendek, mengikuti pementasan drama di sekolah—karena menurut Ibunya, drama di sekolahnya itu merupakan hal yang memalukan bagi keluarganya—kemudian melarang Saira untuk pergi berdansa ketika ada acara pesta dansa di sekolahnya. Ibunya trauma karena ketika Ayahnya—kakek Saira—usahanya melejit di masa Partisi India dan pakistan, dimana budaya-budaya Barat masuk ke Pakistan dan terpengaruh akan hal-hal itu. Pergi dansa di klub-klub malam, memaksa istrinya untuk bergaya ala Eropa, membeli barang-barang ber-merk dan tidak lagi sedermawan dahulu. Tragisnya ia meninggalkan istrinya dan menikah dengan gadis hippie di London ketika menunggu kelahiran cucu pertamanya yang ditemuinya di Speaker’s Corner di Hyde Park yang pada saat itu terjadi aksi bakar-bakar bra oleh para feminis (sesuatu yg berhubungan dengan perbudakan secara patriarkat dan rekannya dalam kejahatan kapitalisme). Keluarga Saira menyalahkan budaya barat akan kejadian ini.

Beberapa bab berikutnya mengenai keluarga dari ayah Saira. Struktur keluarganya rumit. Kakeknya, Roshan Qader, memiliki 3 istri, seorang aktivis yang melawan penindasan di masa penjajahan Inggris pada saat itu di India. Dia rela meninggalkan istri-istri dan anak kesayangannya karena dia menganggap gerakan ini adalah sebuah keharusan baginya. Perbuatan baik ini kemudian turun pada salah satu sepupu kembar Saira, Mohzin. Mohzin memutuskan untuk meneruskan perjuangan kakeknya setelah membaca buku harian serta surat-surat dari kakeknya yang seharusnya diwariskan untuk kedua anaknya yang masih hidup, yakni ayah Saira dan ayah Mohzin, tetapi mereka memutuskan untuk mencari ilmu dan melanjutkan hidup di London dan New York. Mereka juga menganggap perjuangan kakeknya itu bukan hal yang berarti. Mereka juga telah terkontaminasi oleh budaya-budaya Barat dimana mereka menetap. Mohzin ternyata gay, :D
Beranjak kuliah, Saira memulai pemberontakan besarnya. Dia melanggar segala larangan ibunya. Dia mulai menyentuh minuman keras, ganja, dan freesex. Dia juga tak ingin menikah, memberontak atas pernyataan ibunya yang seolah-olah menganggap bahwa pernikahan itu adalah sumber kebahagiaan suatu keluarga. Kakak neneknya--yang notabenenya memang ia jadikan sebagai gurunya--yang perawan tua membuatnya semakin tak berpikir untuk menikah.

Selesai kuliah, setelah sekian lama meninggalkan kelurganya, Saira bersama Mohzin ‘menjadi saksi’ atas apa yang terjadi. Saira menjadi seorang jurnalis, dan Mohzin sebagai fotografer handal yg menemaninya dalam meliput segala bentuk penindasan di mana saja. Sudah banyak karya-karya yang mereka terbitkan. Sebelum itu ia menjalin hubungan singkat dengan murid kakak neneknya yang juga seorang jurnalis dan membuahkan seorang anak yang ingin dia aborsi namun atas paksaan Ameena, akhirnya ia mau melahirkan anaknya dan kemudian diadopsi oleh Ameena yang bertahun-tahun pernikahannya belum mempunyai anak.
Sepeninggal Saira sebagai jurnalis, keadaan keluarganya jadi semakin rumit. Ibunya kemudian sakit-sakitan dan meninggal, Ameena menyusul ibunya, ditembak karena mengenakan jilbab ketika teroris Islam menyerang WTC (World Trade Centre) di New York. Ayahnya menikah lagi dengan seorang dokter di India, kakak neneknya kemudian menyusul ibunya dan Ameena. Semenjak kematian Ameena, keluarga-keluarganya kemudian menyarankan Saira menjadi pengganti Ameena sebagai Ibu bagi anaknya sendiri. Sakina, anak kakaknya yang masih berumur 6 tahun butuh seorang figur ibu. Saira merasa terluka atas sikap Sakina yang tampaknya menolak kehadirannya, menambah rasa bersalahnya atas segala kerumitan keluarganya yang ia anggap dirinya sebagai biang kerok dari pembangkangannya selama ini. Saira galau, masih tertanam duka dihari-harinya. Namun kemudian Sakina membuka diri padanya, saat itu Saira berjanji dia takkan lagi melepaskan Sakina.

Pandangan Al-Qur'an tentang Kejadian Perempuan


Oleh : Ulhu Fiahun
 
Salah satu Ayat  Al-Quran  yang   populer    menjadi rujukan   dalam pembicaraan  tentang  asal  kejadian perempuan adalah firman Allah dalam surat An-Nisa, ayat 1:

"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan  kamu  dari  nafs  yang satu (sama), dan darinya Allah  menciptakan  pasangannya,  dan  dari  keduanya  Allah memperkembang-biakkan lelaki dan perempuan yang banyak."

Banyak  sekali  pakar  tafsir yang memahami kata nafs dengan Adam, seperti misalnya Jalaluddin As-Suyuthi,  Ibnu  Katsir, Al-Qurthubi,  Al-Biqa'i, Abu As-Su'ud, dan lain-lain. Bahkan At-Tabarsi, salah  seorang  ulama  tafsir  bermazhab  Syi'ah (abad  ke-6  H)  mengemukakan  dalam tafsirnya bahwa seluruh ulama tafsir sepakat mengartikan kata tersebut dengan Adam.

Dari pandangan yang  berpendapat  bahwa  nafs  adalah  Adam, dipahami  pula  bahwa  kata  zaujaha,  yang  arti harfiahnya adalah "pasangannya," mengacu kepada istri Adam, yaitu Hawa. Agaknya  karena  ayat  diatas  menerangkan  bahwa   pasangan tersebut  diciptakan  dari  nafs  yang  berarti  Adam,  para penafsir terdahulu memahami  bahwa  istri  Adam  (perempuan) diciptakan   dari  Adam  sendiri.  Pandangan  ini,  kemudian melahirkan  pandangan  negatif  terhadap  perempuan,  dengan menyatakan  bahwa perempuan adalah bagian dari lelaki. Tanpa lelaki, perempuan tidak  akan  ada.  Al-Qurthubi,  misalnya, menekankan bahwa istri Adam itu diciptakan dari tulang rusuk Adam sebelah kiri  yang  bengkok,  dan  karena  itu  "wanita bersifat 'auja' (bengkok atau tidak lurus)."

Ath-Thabathaba'i dalam tafsirnya menulis, bahwa ayat  diatas menegaskan  bahwa  "perempuan  (istri  Adam) diciptakan dari jenis yang sama dengan Adam, dan ayat tersebut  sedikit  pun tidak  mendukung  paham  sementara  mufasir yang beranggapan bahwa perempuan diciptakan  dari  tulung  rusuk  Adam.  Kita dapat berkata, bahwa tidak ada satu petunjuk yang pasti dari ayat Al-Quran yang dapat mengantarkan kita untuk  menyatakan bahwa  perempuan  diciptakan  dari  tulang rusuk, atau bahwa unsur penciptaannya berbeda dengan lelaki. Ide ini,  seperti ditulis  Rasyid  Ridha dalam Tafsir Al-Manar-nya, timbul dan ide yang  termaktub  dalam  Perjanjian  Lama  (Kejadian  II: 21-22)  yang  menyatakan bahwa ketika Adam tidur lelap, maka diambil   oleh   Allah   sebilah   tulang   rusuknya,   lalu ditutupkannya  pula  tempat  itu  dengan  daging.  Maka dari tulang yang telah dikeluarkan dan  Adam  itu,  dibuat  Tuhan seorang perempuan.

Bahkan kita dapat berkata bahwa sekian banyak teks keagamaan mendukung pendapat yang menekankan persamaan unsur  kejadian Adam dan Hawa, dan persamaan kedudukannya, antara lain surat Al-Isra' ayat 70,

"Sesungguhnya Kami telah  memuliakan  anak-anak  Adam,  Kami angkut  mereka  di  daratan  dan di lautan (untuk memudahkan mereka mencari kehidupan).  Kami  beri  mereka  rezeki  yang baik-baik,  dan  Kami  lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempuma atas kebanyakan makhluk-makhluk yang Kami ciptakan."

Tentu, kalimat anak-anak Adam mencakup lelaki dan perempuan, Demikian  pula penghorrnatan  Tuhan  yang diberikan-Nya itu mencakup anak-anak Adam seluruhnya,  baik  perempuan  maupun lelaki.  Pemahaman  ini dipertegas oleh surat Ali-Imran ayat 195 yang menyatakan, "Sebagian kamu adalah bagian dari sebagian yang lain ..."

Ini dalam arti bahwa sebagian kamu (hai  umat  manusia  yang berjenis  lelaki)  berasal dari pertemuan ovum perempuan dan sperma lelaki dan sebagian yang lain (hai umat manusia  yang berjenis   perempuan) demikian  juga  halnya. Kedua  jenis kelamin ini  sama-sama  manusia,  dan  tidak  ada  perbedaan diantara mereka    dari segi asal kejadian serta kemanusiaannya.

Dengan konsiderans ini, Tuhan menegaskan bahwa:

“Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang  yang beramal,  baik  lelaki  maupun
 perempuan”. (QS Ali 'Imran [3]: 195)

Ayat ini dan semacamnya adalah usaha Al-Quran untuk mengikis habis   segala   pandangan  yang  membedakan lelaki  dengan perempuan, khususnya dalam bidang kemanusiaan.

Dalam  konteks  pembicaraan  tentang  asal   kejadian   ini, sementara  ulama  menyinggung  bahwa seandainya bukan karena Hawa, niscaya kita tetap akan berada di surga. Disini sekali lagi ditemukan semacam upaya mempersalahkan perempuan. Pandangan semacam itu jelas sekali keliru, bukan saja karena sejak semula  Allah  telah  menyampaikan  rencana-Nya untuk menugaskan  manusia  sebagai  khalifah  di  bumi (QS 2: 30), tetapi juga karena dari ayat-ayat Al-Quran ditemukan  bahwa godaan  dan  rayuan  Iblis  itu  tidak  hanya tertuju kepada perempuan (Hawa) tetapi juga kepada lelaki. 

Ayat-ayat  yang membicarakan  godaan,  rayuan  setan,  serta ketergelinciran Adam dan Hawa diungkapkan dalam bentuk kata yang menunjukkan kesamaan keduanya tanpa perbedaan, seperti,

Maka  setan  membisikkan pikiran jahat kepada keduanya... (QS, Al-A'raf [7]: 20).

Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dan  surga  itu,  dan keduanya  dikeluarkan  dari  keadaan yang  mereka (nikmati) sebelumnya... (QS Al-Baqarah [2]: 36).

Kalaupun ada ayat yang membicarakan godaan atau rayuan setan berbentuk tunggal, maka ayat itu justru menunjuk kepada kaum lelaki (Adam),  yang  bertindak  sebagai  pemimpin  terhadap istrinya, seperti dalam firman Allah, Kemudian  setan membisikkan pikiran jahat kepadanya (Adam), dan berkata,  

"Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepadamu pohon khuldi  dan kerajaan yang tidak akan punah?" (QS Thaha [20]: 120).

Demikian terlihat Al-Quran mendudukkan perempuan pada tempat yang sewajarnya, serta meluruskan segala pandangan salah dan keliru yang berkaitan dengan  kedudukan  dan  asal  kejadian kaum perempuan.
Rujukan dari Dr. M. Quraish Shihab (Membumikan Al-Qur’an)

MEMBUMIKAN AL-QURAN
Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat
Dr. M. Quraish Shihab
Penerbit Mizan, Cetakan 13, Rajab 1417/November 1996
Jln. Yodkali 16, Bandung 40124
Telp. (022) 700931 - Fax. (022) 707038
mailto:mizan@ibm.net

Identitas Tak Berkartu


Oleh : Atiqah Alqalb

Apa yang terlintas di kepala anda ketika di tanya mengenai identitas? Apakah itu sejenis kartu yang memuat beberapa informasi pribadi yang sifatnya biasa? Ataukah dia berupa poin-poin yang menjadi ciri khas yang anda peroleh dari orang-orang terdekat anda? Atau malah sesuatu yang  tidak dapat anda ungkapkan? Makin membingungkan pastinya ketika dia tak bisa diungkapkan. Tetapi intinya, identitas bagi kebanyakan orang adalah selembar kartu nama yang mengukuhkan keberadaan mereka dengan sebuah nama, profesi, dan kedudukan. Identitas adalah sebuah kata yang sangat sering kita dengar, sehingga tidak asing lagi ketika ini menjadi pembahasan. Tetapi apa iya, pemahaman kita mengenai identitas itu sudah tepat?

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, disebutkan secara spesifik bahwa identitas adalah ciri khusus. Hal ini menunjukkan bahwa apapun yang menjadi pembeda antara sesuatu dengan yang selainnya dapat dikatakan identitas. Entah itu manusia, budaya, daerah, kelompok, dan sebagainya. 

Nah bagaimana jika kata identitas ini disandingkan dengan kata muslim atau muslimah? Tentunya akan menimbulkan beberapa pertanyaan. Yang pertama adalah apa itu identitas muslim/muslimah? Kedua, seberapa penting identitas muslim/muslimah bagi seseorang? Ketiga, identitas muslim/muslimah itu termasuk apa saja? Keempat, bagaimana membentuk karakter diri sebagai muslim/muslimah?


Identitas Muslim/Muslimah
Ketika kata identitas disandingkan dengan kata muslim/muslimah, berarti kita sedikit menyentuh ruang agama dalam membicarakannya. Sebagaimana kita semua tahu bahwa muslim adalah sebutan bagi seorang laki-laki yang beragama Islam sedangkan muslimah adalah sebutan bagi seorang wanita yang beragama Islam. Jadi ketika kedua kata itu disandingkan maka maknanya akan lebih jelas bahwa identitas muslim/muslimah adalah ciri khusus dari seorang laki-laki ataupun seorang perempuan yang beragama Islam. Tapi dalam tulisan ini kita bahas secara keseluruhan saja yakni muslim, karena dalam tingkatan amal shaleh tidak ada perbedaan diantara keduanya.

Dan tentunya identitas muslim adalah sesuatu yang sangat penting karena merupakan citraan dan cerminan sebuah ajaran suci. Identitas muslim itu tidak lain dan tiada bukan adalah akhlak dan karakter kita yang merupakan wujud dari pengamalan kitab suci sebagai seseorang yang beragama. Nah pertanyaannya sekarang adalah sejauh mana diri kita ini telah menghias tampilan nyata kita sehingga identitas kemusliman terbaca dari diri kita. Sebagaimana Rasulullah dimana kesempurnaan akhlaknya ditunjukkan melalui ayat-ayat yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Kitab suci umat Islam ini merupakan gambaran dari akhlaknya Nabi Muhammad SAW. Ketika Siti Aisyah ditanya oleh para sahabat tentang akhlak Rasulullah SAW., ia menjawab dengan singkat: “Akhlak Rasulullah saw adalah Al-Qur’an. Oleh karena itu disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Q.S. Al-Ahzab (33): 21)


Akhlak dan karakter adalah identitas muslim
Pertanyaannya kemudian setelah kita mengetahui bahwa Rasulullah Saw sebagai suri tauladan kita adalah, apa yang perlu dan mesti kita lakukan dalam meneladani beliau? Maka jawabannya adalah mendidik akhlak dan karakter kita masing-masing. Pendidikan akhlak atau karakter merupakan upaya ke arah terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong secara spontan lahirnya perbuatan-perbuatan yang bernilai baik. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan puncak pendidikan akhlak adalah menjernihkan akal dan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) untuk meraih shibgah Allah (Q.S Al- Baqarah ; 138).

Menurut Al-Ghazali, karakter adalah atribut dari rasulullah saw dan merupakan buah dari disiplin diri dan ibadah yang konstan. Sehingga dengan sendirinya akan terbentuk karakter positif dalam perilaku sehari-hari dan karakter positif ini tiada lain adalah penjelmaan sifat-sifat mulia Tuhan dalam kehidupan manusia. Yang harus kita lakukan dalam memulai pendidikan karakter kita yang saya kutip dari salah seorang pemikir Persia yaitu pertama, penjernihan akal, kedua, penyucian jiwa, ketiga, perbaikan perilaku, dan yang keempat adalah pemurnian amal dan keempat poin ini harus dilakukan secara simultan.

1.      Penjernihan akal (tanqihul aql) berarti mengolah pemikiran secara kritis dan logis. Akal adalah anugerah dari Allah yang membedakan manusia dengan hewan. Dengan akallah manusia dapat membedakan benar dan salah. Namun lebih dari itu, akal akan menjadi tumpul jika tidak diasah dan dilatih.
2.      Penyucian jiwa ( tazkiyatun nafs ) adalah sebuah metode yang harus ditempuh manusia agar selalu peka terhadap segala hal yang mengarah kepada kebaikan dan kesempurnaan. Karena fitrah manusia adalah selalu mencari sesuatu yang baik dan benar. Seorang perampok akan meminta kebaikan dari orang lain atas dirinya. Ini menunjukkan bahwa kebaikan tidak bisa lepas dari diri manusia.
3.      Perbaikan perilaku (tashlih). Dengan pemikiran yang jernih dan dipadu dengan kebersihan jiwa, maka dengan bertahap akan melahirkan perilaku-perilaku yang baik, jiwa sosial yang tinggi dan peduli terhadap sekitarnya. Perbaikan perilaku ini harus senantiasa dijaga kelanggengannya.
4.      Pemurnian amal (tandziful amal). Segala yang dilakukan semata-mata karena kecintaan kepada al-Haq bukan yang lain. Hendaknya setelah akal dan jiwa tersucikan dan kebaikan-kebaikan telah dikerjakan, ia harus perhatikan masalah hakikat dari amal tadi. Bahwa amal perbuatan ini bukanlah yang terlihat secara lahir bahwa itu baik saja. Namun lebih dalam lagi yaitu hakikatnya. Dan ini hanya bisa diraih dengan pemurnian amal. Artinya bahwa kemurnian amal perbuatan benar-benar dijaga sehingga tidak terkontaminasi dengan sesuatu yang lain.

Dengan memahami empat poin tersebut, setidaknya seseorang akan menemukan hakikat hidup bermasyarakat, etika bermasyarakat, keikhlasan dalam beramal dan tujuan hidup berdampingan serta integritas insting dalam mencari kebenaran. Dan menampilkan karakter diri yang merupakan identitas ke-muslim-annya, tanpa harus menggunakan sebuah kartu identitas karena segala identitasnya telah tercermin dalam sikap dan perilakunya.