Senin, 18 April 2011

Pandangan Al-Qur'an tentang Kejadian Perempuan


Oleh : Ulhu Fiahun
 
Salah satu Ayat  Al-Quran  yang   populer    menjadi rujukan   dalam pembicaraan  tentang  asal  kejadian perempuan adalah firman Allah dalam surat An-Nisa, ayat 1:

"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan  kamu  dari  nafs  yang satu (sama), dan darinya Allah  menciptakan  pasangannya,  dan  dari  keduanya  Allah memperkembang-biakkan lelaki dan perempuan yang banyak."

Banyak  sekali  pakar  tafsir yang memahami kata nafs dengan Adam, seperti misalnya Jalaluddin As-Suyuthi,  Ibnu  Katsir, Al-Qurthubi,  Al-Biqa'i, Abu As-Su'ud, dan lain-lain. Bahkan At-Tabarsi, salah  seorang  ulama  tafsir  bermazhab  Syi'ah (abad  ke-6  H)  mengemukakan  dalam tafsirnya bahwa seluruh ulama tafsir sepakat mengartikan kata tersebut dengan Adam.

Dari pandangan yang  berpendapat  bahwa  nafs  adalah  Adam, dipahami  pula  bahwa  kata  zaujaha,  yang  arti harfiahnya adalah "pasangannya," mengacu kepada istri Adam, yaitu Hawa. Agaknya  karena  ayat  diatas  menerangkan  bahwa   pasangan tersebut  diciptakan  dari  nafs  yang  berarti  Adam,  para penafsir terdahulu memahami  bahwa  istri  Adam  (perempuan) diciptakan   dari  Adam  sendiri.  Pandangan  ini,  kemudian melahirkan  pandangan  negatif  terhadap  perempuan,  dengan menyatakan  bahwa perempuan adalah bagian dari lelaki. Tanpa lelaki, perempuan tidak  akan  ada.  Al-Qurthubi,  misalnya, menekankan bahwa istri Adam itu diciptakan dari tulang rusuk Adam sebelah kiri  yang  bengkok,  dan  karena  itu  "wanita bersifat 'auja' (bengkok atau tidak lurus)."

Ath-Thabathaba'i dalam tafsirnya menulis, bahwa ayat  diatas menegaskan  bahwa  "perempuan  (istri  Adam) diciptakan dari jenis yang sama dengan Adam, dan ayat tersebut  sedikit  pun tidak  mendukung  paham  sementara  mufasir yang beranggapan bahwa perempuan diciptakan  dari  tulung  rusuk  Adam.  Kita dapat berkata, bahwa tidak ada satu petunjuk yang pasti dari ayat Al-Quran yang dapat mengantarkan kita untuk  menyatakan bahwa  perempuan  diciptakan  dari  tulang rusuk, atau bahwa unsur penciptaannya berbeda dengan lelaki. Ide ini,  seperti ditulis  Rasyid  Ridha dalam Tafsir Al-Manar-nya, timbul dan ide yang  termaktub  dalam  Perjanjian  Lama  (Kejadian  II: 21-22)  yang  menyatakan bahwa ketika Adam tidur lelap, maka diambil   oleh   Allah   sebilah   tulang   rusuknya,   lalu ditutupkannya  pula  tempat  itu  dengan  daging.  Maka dari tulang yang telah dikeluarkan dan  Adam  itu,  dibuat  Tuhan seorang perempuan.

Bahkan kita dapat berkata bahwa sekian banyak teks keagamaan mendukung pendapat yang menekankan persamaan unsur  kejadian Adam dan Hawa, dan persamaan kedudukannya, antara lain surat Al-Isra' ayat 70,

"Sesungguhnya Kami telah  memuliakan  anak-anak  Adam,  Kami angkut  mereka  di  daratan  dan di lautan (untuk memudahkan mereka mencari kehidupan).  Kami  beri  mereka  rezeki  yang baik-baik,  dan  Kami  lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempuma atas kebanyakan makhluk-makhluk yang Kami ciptakan."

Tentu, kalimat anak-anak Adam mencakup lelaki dan perempuan, Demikian  pula penghorrnatan  Tuhan  yang diberikan-Nya itu mencakup anak-anak Adam seluruhnya,  baik  perempuan  maupun lelaki.  Pemahaman  ini dipertegas oleh surat Ali-Imran ayat 195 yang menyatakan, "Sebagian kamu adalah bagian dari sebagian yang lain ..."

Ini dalam arti bahwa sebagian kamu (hai  umat  manusia  yang berjenis  lelaki)  berasal dari pertemuan ovum perempuan dan sperma lelaki dan sebagian yang lain (hai umat manusia  yang berjenis   perempuan) demikian  juga  halnya. Kedua  jenis kelamin ini  sama-sama  manusia,  dan  tidak  ada  perbedaan diantara mereka    dari segi asal kejadian serta kemanusiaannya.

Dengan konsiderans ini, Tuhan menegaskan bahwa:

“Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang  yang beramal,  baik  lelaki  maupun
 perempuan”. (QS Ali 'Imran [3]: 195)

Ayat ini dan semacamnya adalah usaha Al-Quran untuk mengikis habis   segala   pandangan  yang  membedakan lelaki  dengan perempuan, khususnya dalam bidang kemanusiaan.

Dalam  konteks  pembicaraan  tentang  asal   kejadian   ini, sementara  ulama  menyinggung  bahwa seandainya bukan karena Hawa, niscaya kita tetap akan berada di surga. Disini sekali lagi ditemukan semacam upaya mempersalahkan perempuan. Pandangan semacam itu jelas sekali keliru, bukan saja karena sejak semula  Allah  telah  menyampaikan  rencana-Nya untuk menugaskan  manusia  sebagai  khalifah  di  bumi (QS 2: 30), tetapi juga karena dari ayat-ayat Al-Quran ditemukan  bahwa godaan  dan  rayuan  Iblis  itu  tidak  hanya tertuju kepada perempuan (Hawa) tetapi juga kepada lelaki. 

Ayat-ayat  yang membicarakan  godaan,  rayuan  setan,  serta ketergelinciran Adam dan Hawa diungkapkan dalam bentuk kata yang menunjukkan kesamaan keduanya tanpa perbedaan, seperti,

Maka  setan  membisikkan pikiran jahat kepada keduanya... (QS, Al-A'raf [7]: 20).

Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dan  surga  itu,  dan keduanya  dikeluarkan  dari  keadaan yang  mereka (nikmati) sebelumnya... (QS Al-Baqarah [2]: 36).

Kalaupun ada ayat yang membicarakan godaan atau rayuan setan berbentuk tunggal, maka ayat itu justru menunjuk kepada kaum lelaki (Adam),  yang  bertindak  sebagai  pemimpin  terhadap istrinya, seperti dalam firman Allah, Kemudian  setan membisikkan pikiran jahat kepadanya (Adam), dan berkata,  

"Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepadamu pohon khuldi  dan kerajaan yang tidak akan punah?" (QS Thaha [20]: 120).

Demikian terlihat Al-Quran mendudukkan perempuan pada tempat yang sewajarnya, serta meluruskan segala pandangan salah dan keliru yang berkaitan dengan  kedudukan  dan  asal  kejadian kaum perempuan.
Rujukan dari Dr. M. Quraish Shihab (Membumikan Al-Qur’an)

MEMBUMIKAN AL-QURAN
Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat
Dr. M. Quraish Shihab
Penerbit Mizan, Cetakan 13, Rajab 1417/November 1996
Jln. Yodkali 16, Bandung 40124
Telp. (022) 700931 - Fax. (022) 707038
mailto:mizan@ibm.net

0 komentar:

Posting Komentar