Senin, 18 April 2011

Review Buku "Gadis Pemberontak'

Oleh : Andi Rara  A. Nuralam Amir

Penulis                : Nafisahaji
Penerbit              : Literati-books






Perjuangan seorang gadis muslim Indo-Pakistan melawan takdir di tanah rantau. Dialah Saira Qader putri dari seorang dokter dan ibu rumah tangga yang meninggalkan Pakistan dan merantau di New York ketika ayahnya menikah dengan ibunya. Saira mempunyai kakak perempuan, namanya Ameena. Sangat berbeda dengan kakaknya. Saira yang berperawakan agak liar, dan kakaknya yang kalem. Dari kecil Saira sudah melanggar batasan-batasan tradisi keluarganya, sebaliknya dengan Ameena yang begitu penurut menjalankan tradisi keluarga. Perbedaan ini juga membuat Ameena dianak-emaskan oleh neneknya, dan Saira oleh Kakak neneknya. Karakter-karakter mereka saya rasa mempengaruhi perawakan Ameena dan Saira kemudian. 

Buku ini dipenuhi dengan dinamika-dinamika keluarga Saira, baik dari pihak ibu maupun ayahnya. Di bab-bab awal buku ini menceritakan tentang kehidupan Saira dan keluarga dari pihak ibunya. Ibunya sangat membatasi pergaulan Saira, melarang saira memakai pakaian pendek, mengikuti pementasan drama di sekolah—karena menurut Ibunya, drama di sekolahnya itu merupakan hal yang memalukan bagi keluarganya—kemudian melarang Saira untuk pergi berdansa ketika ada acara pesta dansa di sekolahnya. Ibunya trauma karena ketika Ayahnya—kakek Saira—usahanya melejit di masa Partisi India dan pakistan, dimana budaya-budaya Barat masuk ke Pakistan dan terpengaruh akan hal-hal itu. Pergi dansa di klub-klub malam, memaksa istrinya untuk bergaya ala Eropa, membeli barang-barang ber-merk dan tidak lagi sedermawan dahulu. Tragisnya ia meninggalkan istrinya dan menikah dengan gadis hippie di London ketika menunggu kelahiran cucu pertamanya yang ditemuinya di Speaker’s Corner di Hyde Park yang pada saat itu terjadi aksi bakar-bakar bra oleh para feminis (sesuatu yg berhubungan dengan perbudakan secara patriarkat dan rekannya dalam kejahatan kapitalisme). Keluarga Saira menyalahkan budaya barat akan kejadian ini.

Beberapa bab berikutnya mengenai keluarga dari ayah Saira. Struktur keluarganya rumit. Kakeknya, Roshan Qader, memiliki 3 istri, seorang aktivis yang melawan penindasan di masa penjajahan Inggris pada saat itu di India. Dia rela meninggalkan istri-istri dan anak kesayangannya karena dia menganggap gerakan ini adalah sebuah keharusan baginya. Perbuatan baik ini kemudian turun pada salah satu sepupu kembar Saira, Mohzin. Mohzin memutuskan untuk meneruskan perjuangan kakeknya setelah membaca buku harian serta surat-surat dari kakeknya yang seharusnya diwariskan untuk kedua anaknya yang masih hidup, yakni ayah Saira dan ayah Mohzin, tetapi mereka memutuskan untuk mencari ilmu dan melanjutkan hidup di London dan New York. Mereka juga menganggap perjuangan kakeknya itu bukan hal yang berarti. Mereka juga telah terkontaminasi oleh budaya-budaya Barat dimana mereka menetap. Mohzin ternyata gay, :D
Beranjak kuliah, Saira memulai pemberontakan besarnya. Dia melanggar segala larangan ibunya. Dia mulai menyentuh minuman keras, ganja, dan freesex. Dia juga tak ingin menikah, memberontak atas pernyataan ibunya yang seolah-olah menganggap bahwa pernikahan itu adalah sumber kebahagiaan suatu keluarga. Kakak neneknya--yang notabenenya memang ia jadikan sebagai gurunya--yang perawan tua membuatnya semakin tak berpikir untuk menikah.

Selesai kuliah, setelah sekian lama meninggalkan kelurganya, Saira bersama Mohzin ‘menjadi saksi’ atas apa yang terjadi. Saira menjadi seorang jurnalis, dan Mohzin sebagai fotografer handal yg menemaninya dalam meliput segala bentuk penindasan di mana saja. Sudah banyak karya-karya yang mereka terbitkan. Sebelum itu ia menjalin hubungan singkat dengan murid kakak neneknya yang juga seorang jurnalis dan membuahkan seorang anak yang ingin dia aborsi namun atas paksaan Ameena, akhirnya ia mau melahirkan anaknya dan kemudian diadopsi oleh Ameena yang bertahun-tahun pernikahannya belum mempunyai anak.
Sepeninggal Saira sebagai jurnalis, keadaan keluarganya jadi semakin rumit. Ibunya kemudian sakit-sakitan dan meninggal, Ameena menyusul ibunya, ditembak karena mengenakan jilbab ketika teroris Islam menyerang WTC (World Trade Centre) di New York. Ayahnya menikah lagi dengan seorang dokter di India, kakak neneknya kemudian menyusul ibunya dan Ameena. Semenjak kematian Ameena, keluarga-keluarganya kemudian menyarankan Saira menjadi pengganti Ameena sebagai Ibu bagi anaknya sendiri. Sakina, anak kakaknya yang masih berumur 6 tahun butuh seorang figur ibu. Saira merasa terluka atas sikap Sakina yang tampaknya menolak kehadirannya, menambah rasa bersalahnya atas segala kerumitan keluarganya yang ia anggap dirinya sebagai biang kerok dari pembangkangannya selama ini. Saira galau, masih tertanam duka dihari-harinya. Namun kemudian Sakina membuka diri padanya, saat itu Saira berjanji dia takkan lagi melepaskan Sakina.

0 komentar:

Posting Komentar