Minggu, 01 Desember 2013

OPINI: PEREMPUAN DAN ALAM (KONTEKS GLOBAL)

Oleh: Abdullah Fikri Ashri (Ketua HIMAHI Unhas periode 2011-2012)



Mengapa mesti perempuan? Pertanyaan ini yang ada di kepalaku saat diskusi dengan seorang teman. Mengapa perempuan mendapat keistimewaan? Ada aturan tentang hak dan kewajiban perempuan baik dari segi politik (jabatan sebagai wakil rakyat), sosial (menjaga perempuan), hingga keterlibatan perempuan dalam peperangan. Bahkan, kita tidak pernah lupa “surga berada di telapak kaki ibu”. 

Gerakan feminis yang memperjuangkan hak-hak perempuan sedang marak baik dalam domestik ataupun konteks global, kajian tentang feminis pun telah berkembang di berbagai universitas. Saya tiba-tiba teringat bagaimana perjuangan ibu saya yang mengandung selama 9 bulan, harus mengurusi anak-anak, suami, bekerja, dan tentu saja mengurusi rumah dan kebutuhan-kebutuhan kami. Sungguh perempuan memang istimewa.

Sejak dulu kedudukan perempuan dianggap sama dengan budak, dianggap lemah fisik dan akalnya, bahkan gereja menganggap perempuan sebagai pembawa sial dan malapetaka, biang keladi kejatuhan Adam dari surga. Nietszche bahkan memandang perempuan itu lemah dan tidak punya kekuatan sehingga mereka harus berada di bawah otoritas laki-laki. Pandangan inilah yang kadang menutup mata kita bahwa perempuan itu istimewa dan sangat berperan dalam kehidupan kita bahkan sangat berperan menjaga alam tempat kita tinggal.

Elizabeth Stanton (1815-1902) berpendapat ilmu sosial menunjukkan status perempuan merupakan salah satu ukuran kemajuan dan peradaban masyarakat.  Perhatian terhadap keberlangsungan alam seharusnya menjadi salah satu masalah prioritas yang harus diselesaikan tidak hanya tingkat domestik, tetapi juga global. Isu lingkungan (alam) telah menjadi perhatian global. Berbagai perjanjian (Protocol Kyoto) dan konferensi internasional dilakukan untuk menjaga keberlangsungan alam. Krisis pangan, pemanasan global, bencana alam, kelaparan, dan konflik merupakan dampak dari gagalnya manusia menjaga alam.

Dunia industri dalam kerangka kapitalisme telah membuat kita terus mengonsumsi produk apapun (alat transportasi, makanan, minyak, dan lainnya) yang berdampak pada ketersediaan dan keberlangsungan sumber daya alam. Hal ini merupakan dampak Anthroposentrisme, alam ada untuk mencukupi kepentingan umat manusia dan tidak punya nilai intrinsik. Sesuai dengan pandangan neoliberalisme bahwa keseluruhan mode produksi adalah konsumsi, dan homo economicus harus ditempatkan di atas homo yang lain. Dalam artian alam memang untuk digunakan dan dihabisi tidak perlu memikirkan untuk menjaganya. 

Lalu bagaimana hubungan perempuan dan alam secara global? Pengetahuan tentang dunia merupakan hasil konstruksi keseharian dan pengalaman para perempuan. Sebagai contoh, ketelitian perempuan dalam menjaga kebutuhan rumah tangga (keuangan dan belanja) merupakan gambaran seharusnya manusia menjaga ketersediaan sumber daya alam. Relasi kekuasaan yang secara otoritas laki-laki terhadap perempuan merupakan gambaran kekuasaan dan dominasi manusia (negara ataupun perusahaan) terhadap alam. Jadi memahami dan menjaga alam sama dengan memahami dan menjaga perempuan.

Ada anggapan bahwa perempuan sangat dekat dengan konsumsi seperti suka berbelanja, mempercantik diri, dan sebagainya. Konsumsi yang terus meningkat berhubungan dengan kegiatan industri yang secara langsung berhubungan dengan alam. Semakin tinggi konsumsi kendaraan bermotor, maka minyak bumi akan segera habis atau semakin tinggi konsumsi parfum wanita, maka tumbuhan semakin sedikit.

Pandangan yang menganggap perempuan itu konsumtif merupakan kesalahan pikir dalam memahami sifat alami perempuan. Pandangan itu merupakan konstruksi media agar produk yang terus-menerus diproduksi dapat dikonsumsi. Bahkan di dunia berkembang perempuan dieksploitasi dengan dijadikan buruh murah oleh perusahaan-perusahaan. Jadi sangat tidak berdasar menghakimi perempuan sebagai penyebab alam menua.

Perempuan dan alam memiliki keterkaitan yang erat. Tugas perempuan untuk melahirkan dan memelihara memiliki keterkaitan dengan sifat alam, sehingga perempuan lebih arif memperlakukan alam dibandingkan laki-laki. Dalam tradisi India, perempuan yang melahirkan, menyediakan makanan sebagai kebutuhan pokok sehari-hari merupakaan sifat yang sama dengan bumi. Jadi secara esensial perempuan memiliki keterkaitan dan berperan dalam menjaga alam ini.

Dalam konteks global, perempuan telah berperan penting dalam menjaga alam. Dalam The Hyogo Framework of Action sebagai hasil dari The World Conference on Disaster Reduction States yang diselenggarakan PBB pada tahun 2005. Pernyataan “A gender perspective should be integrated into all disaster risk management policies, plans and decision-making processes, including those related to risk assessment, early warning, information management, and education and training”, menunjukkan keseriusan PBB menghimbau pemerintah untuk menghasilkan berbagai kebijakan pemanasan global dan perubahan iklim yang terintegrasi dengan isu gender dan keamanan manusia.

Perempuan memiliki pengalaman, naluri dan pengetahuan local wisdom dalam menjaga kelestarian alam. Oleh karena itu, menjaga alam adalah menjaga dan menghormati perempuan, karena kita lahir dan dibesarkan dari seorang perempuan. 

REFERENSI
Jill Steans dan Lloyd Pettiford. 2009. Hubungan Internasional (Perspektif dan Tema). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Budi Winarno. 2011. Isu-Isu Global Kontemporer. Jakarta: CAPS
http://yanilingkungan.blogspot.com/2011/02/adakah-peran-perempuan-dalam-menjaga.html 
http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/127423-RB16K120k-Kritik%20ekofeminisme-Analisis.pdf

Review Buku: Ecofeminism; Perspektif Gerakan Perempuan Dan Lingkungan


 

Judul  : Ecofeminism; Perspektif Gerakan   Perempuan Dan Lingkungan
Penulis  : Vandana Shifa dan Maria Mies
Penerjemah : Kelik Ismunanto & Lilik
Tebal   : 381 halaman
Tahun Terbit : Cetakan I, April 2005
Penerbit  : IRE Press, Yogyakarta
 
Gerakan perempuan dan gerakan lingkungan bukanlah hal yang baru. Namun, apabila keduanya bergerak seirama, tentu layak untuk diapresiasi. Ecofeminisme berkembang dari gerakan feminisme dan aliran filsafat yang menggugat cara pandang maskulin dan patriarkis yang dominan di era modern. Secara keseluruhan, feminisme adalah sebuah kritik terhadap paradigma paternalistik. Kritik tersebut, terimplementasi dalam sebuah gerakan lingkungan guna mengembalikan keseimbangan alam. Gerakan inilah yang kemudian dikenal dengan nama ecofeminism.

Penulis menganalisa bahwa penyebab munculnya ancaman kehancuran kehidupan di muka bumi ialah sistem “kapitalis patriarkal” dunia. Dalam perspektif kapitalis patriarkal ini, perbedaan diartikan sebagai hierarki dan keseragaman sebagai syarat kesetaraan. Tentu dalam struktur macam ini terdapat ketidakadilan, karena memungkinkan laki-laki mendominasi perempuan, dan makin banyak penjarahan terhadap sumber daya alam.

Penulis juga melihat, ada hubungan dominasi eksploratif antara laki-laki dengan alam dan hubungan eksploitatif laki-laki atas perempuan yang muncul dalam masyarakat patriarkal awal, meskipun dalam dunia industri modern saling terkait. 
 
Dalam perspektif feminis, dampak negatif politik global dialami oleh perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa perempuan, terutama mereka yang hidup di perkotaan dan dari kalangan menengah sulit menerima dan memahami keterkaitan antara kebebasan mereka dengan alam, dan kebebasan mereka dengan pembebasan perempuan lain di seluruh dunia.

Sistem kapitalis-patriarkal dibangun berdasarkan kosmologi dan antropologi yang membedakan satu sama lain secara struktural, dan secara hierarki selalu membedakan antara dua sisi yang saling bertentangan. Dengan demikian, alam disubordinasikan oleh laki-laki; perempuan oleh laki-laki; konsumsi di dalam produksi, dan lokal dalam tingkat global, dan seterusnya.

Oleh karenanya, perspektif ecofeminism sangat membutuhkan kosmologi dan antropologi baru yang memandang bahwa mempertahakan hidup di alam dengan jalan saling kerjasama, saling memberi perhatian, dan saling mencintai. 

Terakhir, kedua penulis menyatakan tujuan kegiatan ekonomi bukanlah untuk menimbun uang, tetapi melahirkan dan menghasilkan kembali kehidupan. Dalam artian, untuk memenuhi kebutuhan
mendasar umat manusia dengan memproduksi “nilai guna”. Kegiatan ekonomi ini didasarkan atas relasi baru terhadap alam. Alam harus dihormati dalam hal kekayaan dan keanekaragamannya, untuk memenuhi kebutuhan tanpa eksploitasi.

Selain itu relasi antar masyarakat—yaitu relasi non-eksploitatif—terkhusus pada relasi antara laki-laki dan perempuan, bukan hanya dalam makna perubahan dalam berbagai konsep pembagian kerja, tetapi juga menggantikan relasi uang dan relasi komoditas dengan prinsip hubungan timbal-balik, saling menguntungkan, solidaritas, saling memercayai, kebersamaan dan perhatian, menghormati individu dan bertanggung jawab.