Minggu, 01 Desember 2013

Review Buku: Ecofeminism; Perspektif Gerakan Perempuan Dan Lingkungan


 

Judul  : Ecofeminism; Perspektif Gerakan   Perempuan Dan Lingkungan
Penulis  : Vandana Shifa dan Maria Mies
Penerjemah : Kelik Ismunanto & Lilik
Tebal   : 381 halaman
Tahun Terbit : Cetakan I, April 2005
Penerbit  : IRE Press, Yogyakarta
 
Gerakan perempuan dan gerakan lingkungan bukanlah hal yang baru. Namun, apabila keduanya bergerak seirama, tentu layak untuk diapresiasi. Ecofeminisme berkembang dari gerakan feminisme dan aliran filsafat yang menggugat cara pandang maskulin dan patriarkis yang dominan di era modern. Secara keseluruhan, feminisme adalah sebuah kritik terhadap paradigma paternalistik. Kritik tersebut, terimplementasi dalam sebuah gerakan lingkungan guna mengembalikan keseimbangan alam. Gerakan inilah yang kemudian dikenal dengan nama ecofeminism.

Penulis menganalisa bahwa penyebab munculnya ancaman kehancuran kehidupan di muka bumi ialah sistem “kapitalis patriarkal” dunia. Dalam perspektif kapitalis patriarkal ini, perbedaan diartikan sebagai hierarki dan keseragaman sebagai syarat kesetaraan. Tentu dalam struktur macam ini terdapat ketidakadilan, karena memungkinkan laki-laki mendominasi perempuan, dan makin banyak penjarahan terhadap sumber daya alam.

Penulis juga melihat, ada hubungan dominasi eksploratif antara laki-laki dengan alam dan hubungan eksploitatif laki-laki atas perempuan yang muncul dalam masyarakat patriarkal awal, meskipun dalam dunia industri modern saling terkait. 
 
Dalam perspektif feminis, dampak negatif politik global dialami oleh perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa perempuan, terutama mereka yang hidup di perkotaan dan dari kalangan menengah sulit menerima dan memahami keterkaitan antara kebebasan mereka dengan alam, dan kebebasan mereka dengan pembebasan perempuan lain di seluruh dunia.

Sistem kapitalis-patriarkal dibangun berdasarkan kosmologi dan antropologi yang membedakan satu sama lain secara struktural, dan secara hierarki selalu membedakan antara dua sisi yang saling bertentangan. Dengan demikian, alam disubordinasikan oleh laki-laki; perempuan oleh laki-laki; konsumsi di dalam produksi, dan lokal dalam tingkat global, dan seterusnya.

Oleh karenanya, perspektif ecofeminism sangat membutuhkan kosmologi dan antropologi baru yang memandang bahwa mempertahakan hidup di alam dengan jalan saling kerjasama, saling memberi perhatian, dan saling mencintai. 

Terakhir, kedua penulis menyatakan tujuan kegiatan ekonomi bukanlah untuk menimbun uang, tetapi melahirkan dan menghasilkan kembali kehidupan. Dalam artian, untuk memenuhi kebutuhan
mendasar umat manusia dengan memproduksi “nilai guna”. Kegiatan ekonomi ini didasarkan atas relasi baru terhadap alam. Alam harus dihormati dalam hal kekayaan dan keanekaragamannya, untuk memenuhi kebutuhan tanpa eksploitasi.

Selain itu relasi antar masyarakat—yaitu relasi non-eksploitatif—terkhusus pada relasi antara laki-laki dan perempuan, bukan hanya dalam makna perubahan dalam berbagai konsep pembagian kerja, tetapi juga menggantikan relasi uang dan relasi komoditas dengan prinsip hubungan timbal-balik, saling menguntungkan, solidaritas, saling memercayai, kebersamaan dan perhatian, menghormati individu dan bertanggung jawab.

0 komentar:

Posting Komentar