Oleh: Abdullah Fikri Ashri (Ketua HIMAHI Unhas periode 2011-2012)
Mengapa mesti
perempuan? Pertanyaan ini yang ada di kepalaku saat diskusi dengan seorang
teman. Mengapa perempuan mendapat keistimewaan? Ada aturan tentang hak dan
kewajiban perempuan baik dari segi politik (jabatan sebagai wakil rakyat),
sosial (menjaga perempuan), hingga keterlibatan perempuan dalam peperangan.
Bahkan, kita tidak pernah lupa “surga berada di telapak kaki ibu”.
Gerakan feminis
yang memperjuangkan hak-hak perempuan sedang marak baik dalam domestik ataupun
konteks global, kajian tentang feminis pun telah berkembang di berbagai
universitas. Saya tiba-tiba teringat bagaimana perjuangan ibu saya yang
mengandung selama 9 bulan, harus mengurusi anak-anak, suami, bekerja, dan tentu
saja mengurusi rumah dan kebutuhan-kebutuhan kami. Sungguh perempuan memang
istimewa.
Sejak dulu
kedudukan perempuan dianggap sama dengan budak, dianggap lemah fisik dan
akalnya, bahkan gereja menganggap perempuan sebagai pembawa sial dan
malapetaka, biang keladi kejatuhan Adam dari surga. Nietszche bahkan memandang
perempuan itu lemah dan tidak punya kekuatan sehingga mereka harus berada di
bawah otoritas laki-laki. Pandangan inilah yang kadang menutup mata kita bahwa
perempuan itu istimewa dan sangat berperan dalam kehidupan kita bahkan sangat
berperan menjaga alam tempat kita tinggal.
Elizabeth
Stanton (1815-1902) berpendapat ilmu sosial menunjukkan status perempuan
merupakan salah satu ukuran kemajuan dan peradaban masyarakat. Perhatian
terhadap keberlangsungan alam seharusnya menjadi salah satu masalah prioritas
yang harus diselesaikan tidak hanya tingkat domestik, tetapi juga global. Isu
lingkungan (alam) telah menjadi perhatian global. Berbagai perjanjian (Protocol
Kyoto) dan konferensi internasional dilakukan untuk menjaga keberlangsungan
alam. Krisis pangan, pemanasan global, bencana alam, kelaparan, dan konflik
merupakan dampak dari gagalnya manusia menjaga alam.
Dunia industri
dalam kerangka kapitalisme telah membuat kita terus mengonsumsi produk apapun
(alat transportasi, makanan, minyak, dan lainnya) yang berdampak pada
ketersediaan dan keberlangsungan sumber daya alam. Hal ini merupakan dampak
Anthroposentrisme, alam ada untuk mencukupi kepentingan umat manusia dan tidak
punya nilai intrinsik. Sesuai dengan pandangan neoliberalisme bahwa keseluruhan
mode produksi adalah konsumsi, dan homo economicus harus ditempatkan di atas
homo yang lain. Dalam artian alam memang untuk digunakan dan dihabisi tidak
perlu memikirkan untuk menjaganya.
Lalu bagaimana
hubungan perempuan dan alam secara global? Pengetahuan tentang dunia merupakan
hasil konstruksi keseharian dan pengalaman para perempuan. Sebagai contoh,
ketelitian perempuan dalam menjaga kebutuhan rumah tangga (keuangan dan
belanja) merupakan gambaran seharusnya manusia menjaga ketersediaan sumber daya
alam. Relasi kekuasaan yang secara otoritas laki-laki terhadap perempuan
merupakan gambaran kekuasaan dan dominasi manusia (negara ataupun perusahaan)
terhadap alam. Jadi memahami dan menjaga alam sama dengan memahami dan menjaga
perempuan.
Ada anggapan
bahwa perempuan sangat dekat dengan konsumsi seperti suka berbelanja,
mempercantik diri, dan sebagainya. Konsumsi yang terus meningkat berhubungan
dengan kegiatan industri yang secara langsung berhubungan dengan alam. Semakin
tinggi konsumsi kendaraan bermotor, maka minyak bumi akan segera habis atau
semakin tinggi konsumsi parfum wanita, maka tumbuhan semakin sedikit.
Pandangan yang
menganggap perempuan itu konsumtif merupakan kesalahan pikir dalam memahami
sifat alami perempuan. Pandangan itu merupakan konstruksi media agar produk
yang terus-menerus diproduksi dapat dikonsumsi. Bahkan di dunia berkembang
perempuan dieksploitasi dengan dijadikan buruh murah oleh
perusahaan-perusahaan. Jadi sangat tidak berdasar menghakimi perempuan sebagai
penyebab alam menua.
Perempuan dan
alam memiliki keterkaitan yang erat. Tugas perempuan untuk melahirkan dan
memelihara memiliki keterkaitan dengan sifat alam, sehingga perempuan lebih
arif memperlakukan alam dibandingkan laki-laki. Dalam tradisi India, perempuan
yang melahirkan, menyediakan makanan sebagai kebutuhan pokok sehari-hari
merupakaan sifat yang sama dengan bumi. Jadi secara esensial perempuan memiliki
keterkaitan dan berperan dalam menjaga alam ini.
Dalam konteks
global, perempuan telah berperan penting dalam menjaga alam. Dalam The Hyogo
Framework of Action sebagai hasil dari The World Conference on Disaster
Reduction States yang diselenggarakan PBB pada tahun 2005. Pernyataan “A gender perspective
should be integrated into all disaster risk management policies, plans and
decision-making processes, including those related to risk assessment, early
warning, information management, and education and training”, menunjukkan
keseriusan PBB menghimbau pemerintah untuk menghasilkan berbagai kebijakan
pemanasan global dan perubahan iklim yang terintegrasi dengan isu gender dan
keamanan manusia.
Perempuan
memiliki pengalaman, naluri dan pengetahuan local wisdom dalam menjaga
kelestarian alam. Oleh karena itu, menjaga alam adalah menjaga dan menghormati
perempuan, karena kita lahir dan dibesarkan dari seorang perempuan.
REFERENSI
Jill Steans dan Lloyd Pettiford. 2009. Hubungan Internasional (Perspektif dan Tema). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Budi Winarno. 2011. Isu-Isu Global Kontemporer. Jakarta: CAPS
http://yanilingkungan.blogspot.com/2011/02/adakah-peran-perempuan-dalam-menjaga.html
http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/127423-RB16K120k-Kritik%20ekofeminisme-Analisis.pdf
Jill Steans dan Lloyd Pettiford. 2009. Hubungan Internasional (Perspektif dan Tema). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Budi Winarno. 2011. Isu-Isu Global Kontemporer. Jakarta: CAPS
http://yanilingkungan.blogspot.com/2011/02/adakah-peran-perempuan-dalam-menjaga.html
http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/127423-RB16K120k-Kritik%20ekofeminisme-Analisis.pdf
0 komentar:
Posting Komentar