Minggu, 01 Desember 2013

Tokoh: Aleta Baun, Mama Alam Molo di Nusa Tenggara Timur

Mama Aleta, Perempuan dari Molo, NTT, Indonesia.
Kekayaan alam yang melimpah ruah menjadi daya tarik tersendiri bagi perusahaan-perusahaan. Ladang subur dapat dijadikan mesin pencetak uang. Mengeksplorasi bahkan mengeksploitasi sumber daya alam dilakukan demi uang, tanpa memikirkan dampak buruk yang akan terjadi pada alam dan isinya. Adakah sumber daya alam Indonesia yang luput dari incaran korporasi besar? Kekayaan tambang di Papua, di Kalimantan, di Sulawesi Selatan, dan di berbagai treasure box di negeri kita.

Begitu pula di desa Naususu, Kecamatan Molo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT), terdapat Gunung Mutis yang mengandung batu marmer yang menjadi incaran perusahaan untuk dikeruk. Pada tahun 1980-an pemerintah kabupaten memberikan izin kepada perusahaan pertambangan untuk mengeruk marmer di kawasan ini, tanpa berkonsultasi dengan warga desa. Kawasan Pegunungan Molo merupakan pusat kehidupan NTT; daerah tangkapan yang mengaliri air sampai ke hilir. Kerusakan karena pertambangan marmer ini akan turut merusak stabilitas kehidupan masyarakat Molo.


Ada keinginan besar seorang Aleta Baun (akrab disapa Mama Aleta) untuk menjaga kehidupan alam di masyarakat Molo. Perempuan ini lahir di Lelobatan, Molo. Di Molo, masyarakat meyakini bahwa manusia adalah satu kesatuan dengan alam, batu-batu di pegunungan tersebut memiliki nama yang sama dengan marga masyarakat desa. Tanah adalah daging, air adalah darah, batu adalah tulang, hutan adalah pembuluh darah dan rambut. Kawasan pegunungan menjadi sumber mata pencaharian masyarakat dengan cara bercocok tanam.   
Menurut Mama Aleta, merusak alam Molo sama dengan merusak kehidupan masyarakat. Atas dasar menjaga kehidupan manusia dan alam, Mama Aleta memulai gerakan kecil pada tahun 1999. Awalnya Mama Aleta hanya ditemani oleh tiga perempuan lain menyusuri desa-desa yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama enam jam untuk mengajak masyarakat melakukan protes.
Aksi ini tentu saja tidak berjalan mulus, sebagian pihak masyarakat ada yang setuju pada pemotongan batu marmer di bukit-bukit kaki Gunung Mutis. Mama Aleta dan warga yang melakukan aksi sering mendapatkan teror kekerasan dari utusan perusahaan dan pemerintah setempat. Banyak warga yang ditangkap dan dipukuli. Mama Aleta menjadi target buruan utama. Ia dibacok di kaki, mendapatkan tindakan pemerasan, rumah dilempari, sehingga Mama Aleta beserta suami dan anak-anaknya harus mengungsi. Mama Aleta juga sempat membawa anaknya yang masih kecil ke hutan, karena tindakan intimidasi tersebut.
Rintangan-rintangan ini tidak membuat Mama Aleta menyerah, didukung oleh beberapa LSM, aksi protes ini mencapai puncaknya saat 150 perempuan turut melakukan aksi pendudukan di bukit marmer sambil menenun selama satu tahun. Perempuan-perempuan desa menyadari bahwa alam Molo adalah sumber kehidupan mereka. Khususnya bagi perempuan Molo, mereka bertanggung jawab mencari makanan, pewarna kain untuk tenunan, dan obat-obatan di pegunungan, sehingga mereka juga menyadari tanggung jawab untuk melakukan aksi demi keberlangsungan hidup masyarakat.
Sementara proses aksi berlangsung, warga membantu perempuan-perempuan dengan memberikan dukungan domestik; memasak, merawat anak-anak, dan membersihkan. Semesta mendukung!  
Selama sebelas tahun, perjuangan mama Aleta dan perempuan lainnya, akhirnya bisa membuat perusahaan menghentikan operasi penambangan batu marmer di wilayah Molo tahun 2010. Berkat perjuangan inilah, Mama Aleta mendapat penghargaan Goldman Environmental Prize 2013 di San Fransico, Amerika Serikat.

0 komentar:

Posting Komentar