Rabu, 01 Januari 2014

Opini: Media dan Eksistensi Perempuan


Sumber: Google
Oleh: A. Rara Bidja Gading
 
“Dia itu anak tunggal, cantiiik deh, Kim. Udah cantik banyak duit lagi.”
“Oh, iya, Kim. Itu cewek body-nya langsing, badannya tinggi, rambutnya panjang, di cat merah, tapi nggak merah banget, agak-agak ungu gitulah. Cantiiik deh, Kim.”
“… Kim, tuh cewek kayaknya lulusan luar negeri, deh. Soalnya, gayanya modis banget. Dandanannya kayak orang Korea gitulah. Aduuhh cantik banget.”
“… Ini cewek cakep banget. Matanya pake softlens coklat, alisnya di tato, terus…”

Penggalan percakapan di atas adalah kutipan dari novel yang berjudul Love in Sunkist. Penggambaran perempuan cantik yang umumnya dipahami oleh banyak orang. Hampir semua media massa mendefinisikan perempuan cantik dengan konsep serupa. Definisi yang diterima orang secara sukarela dan mengabaikan variabel-variabel lain.
Media massa kini memiliki kontrol yang kuat atas tindakan manusia. Inilah yang disebut oleh Althusser sebagai apparatus ideologis, selain pendidikan, rumah, organisasi perdagangan, partai politik, olahraga, dan seterusnya. Melalui media massa inilah ideologi yang abstrak berusaha untuk dimaterialkan.
Naluri manusia yang tidak ingin kejelekan (hal-hal di luar keindahan menurut media massa) pun kemudian digunakan untuk mempertahankan ideologi, mempercepat akumulasi modal yang kita sebut kapitalis. Tidak hanya perempuan, laki-laki juga menjadi target aktor-aktor percepatan akumulasi modal ini. Namun objek yang paling strategis untuk dimainkan di mata kapitalis adalah perempuan. Melihat kembali pada kutipan penggalan percakapan dalam sebuah novel di atas, jelas menunjukkan bahwa media massa merepresentasikan perempuan cantik dari segi fisik. Fisik yang selalu jadi santapan mata para laki-laki.
                Mengurai analisis media terhadap citra perempuan sejatinya—menurut pengamatan penulis—bersumber dari perempuan-perempuan dari Barat. Entah sejak kapan perempuan ideal secara fisik dan gaya hidup bercermin pada perempuan Barat. Pertama, mata belo dan warna-warni, tubuh yang ramping, rambut panjang dan berwarna, seksi, dada yang besar, awet muda, dan seterusnya. Kedua, gaya hidup, yaitu wanita karier atau kerja kantoran, wirausaha muda, model, aktris, memanjakan diri di salon, berbelanja di pusat perbelanjaan modern, dan westernis. Bahkan dalam gaya hidup, seks ideal diatur oleh media. Citra-citra semacam ini dibuat sebagai peluang kapitalis menciptakan produk yang mengantar hamba-hamba media pada citra ideal perempuan. Muncullah penyakit Anorecia Nervosa, penyakit takut gemuk yang banyak diderita oleh perempuan-perempuan modern. Pewadahan operasi plastik, program diet ketat, pemutih—tanpa peduli tingginya biaya, softlens, dan sebagainya.
                Menurut Idy Subandi Ibrahim dalam buku “Menggeledah Hasrat: Sebuah Pendekatan Multi Perspektif”, media adalah tempat yang paling sering ditemukan kekerasan simbolik di ruang publik, tanpa mengabaikan bahwa tak dinafikannya kekerasan fisik dan psikologis yang masih berlangsung hingga kini. Media memungkinkan terjadinya berbagai pola kekerasan tak tampak, tapi terasa. Media membentuk citra perempuan dari segi tatapan lelaki. Misalnya, kasus pemerkosaan terhadap perempuan, bahasa yang diberitakan oleh media adalah “menggagahi”. Pemerkosaaan adalah bentuk kegagahan dan kesuperioran seorang pria menurut (distrorsi) bahasa oleh media. Banyak pula film yang memosisikan perempuan sebagai mahkluk kedua (kata ayah saya), atau adegan bias gender yang menjadikan rumah sebagai tempat yang sangat tepat untuk perempuan dan tidak cocok untuk berbuat di ruang publik, misalnya dalam film “The Woman Knight of Mirror Lake”, ada percakapan yang mengatakan bahwa seorang wanita tak berpendidikan itu berbudi, juga pada adegan adu fisik antara tokoh utama perempuan dan seorang laki-laki, lawannya mengatakan “Kamu jalang bodoh, bukannya tinggal di rumah mengurus keluarga”. Selain itu, kekerasan simbolik lainnya dibentuk dengan memajang tubuh perempuan sebagai objek tontonan untuk memenuhi hasrat laki-laki. Hal serupa dipaparkan dalam buku “Membongkar Kuasa Media” oleh Ziauddin Sardar, perempuan dalam media selalu digambarkan sebagai objek tatapan pria. Model-model setengah telanjang pada sampul majalah pria adalah hal yang biasa. Presenter program televisi popular dipilih berdasarkan wajah bukan bakat yang lebih substansial. Salah satu citra perempuan yang paling umum adalah “bimbo”, yaitu rambut pirang, tata rias yang tebal, dada besar, rok mini, sepatu hak tinggi, dan dia pasti gampangan, bodoh, tidak berpendidikan, dan tidak berdaya.
                Belum lagi, fashion sebagai komunikasi. Pakaian akan menunjukkan identitas diri kita, siapa diri kita. Cara berpakaian yang berubah-ubah sesuai dengan pekembangan zaman adalah gambaran perempuan modern yang gaul dan tentunya tidak ketinggalan zaman. Ketinggalan zaman artinya tak menjadi siapa-siapa di dunia ini.
                Gambaran-gambaran perempuan ideal yang secara berulang-ulang dan terus-menerus ditampilkan media, perlahan-lahan menjadi standar yang dianut oleh para perempuan masa kini. Alih-alih mengikuti trend dan mencapai eksistensi di masa modern, justru semakin mengalienasi dirinya sendiri. Merubah mata, hidung, warna kulit, mengubah cara berpakaian sesuai perkembangan zaman. Justru menghilangkan identitas sejati diri perempuan. Semisal pakaian yang mengomunikasikan ideologi pun tak lagi bermakna dan hanya jadi komoditi. Stereotipe “bimbo” juga mengalami distorsi pemaknaan. Ketika pada masanya dorongan-dorongan hasrat ‘ideal’ yang secara terus-menerus ingin dipenuhi ini tidak berhasil, maka perempuan akan mengalami ‘gangguan’ jiwa. Gangguan jiwa inipun diobati oleh kapitalis dalam bentuk komoditi pula.
                Sekelompok orang menawarkan agama sebagai solusi identitas hakiki perempuan. Namun ketidakhati-hatian sebagian orang menafsirkan dengan cara yang berbeda. Mungkin saja penyampaian yang bersifat doktrinal, tidak filosofis sehingga framing tidak kuat. Parahnya, agama pun jadi legitimasi pengiklanan produk hijab. Dengan menyebutkan salah satu ayat Al-Qur’an, dan serta-merta mengajak perempuan untuk membeli produk hijab. Hijab yang harusnya menjadi pengontrol hasrat pun kehilangan makna, justru menumbuhkan hasrat.
                Di dunia modern belum ada yang luput dari komoditi. Hal-hal kontradiksi yang berada dalam tubuh pun bukan hal yang aneh. Kealiman dan kebodohan dalam satu tubuh, materialisme dan spiritualisme berada dalam satu tubuh, juga terkenal dan terasing. Inikah yang disebut manusia di titik peradaban tertinggi?
                Perempuan perlu belajar untuk menerima ukuran tubuh mereka yang normal untuk melawan citra ideal perempuan langsing yang dipromosikan oleh media dan kebudayaan kita”. –Karen Johnson dan Tom Ferguson, 1990.
                Beauty is nothing without brain”.—Kutipan.

0 komentar:

Posting Komentar