![]() |
| Sumber: Google |
“Dia itu anak tunggal, cantiiik deh, Kim. Udah cantik banyak duit lagi.”
“Oh, iya, Kim. Itu cewek body-nya
langsing, badannya tinggi, rambutnya panjang, di cat merah, tapi nggak merah
banget, agak-agak ungu gitulah. Cantiiik deh, Kim.”
“… Kim, tuh cewek kayaknya lulusan luar negeri, deh. Soalnya, gayanya
modis banget. Dandanannya kayak orang Korea gitulah. Aduuhh cantik banget.”
“… Ini cewek cakep banget. Matanya pake softlens coklat, alisnya di tato, terus…”
Penggalan
percakapan di atas adalah kutipan dari novel yang berjudul Love in Sunkist. Penggambaran perempuan cantik yang umumnya
dipahami oleh banyak orang. Hampir semua media massa mendefinisikan perempuan
cantik dengan konsep serupa. Definisi yang diterima orang secara sukarela dan
mengabaikan variabel-variabel lain.
Media massa kini
memiliki kontrol yang kuat atas tindakan manusia. Inilah yang disebut oleh
Althusser sebagai apparatus ideologis,
selain pendidikan, rumah, organisasi perdagangan, partai politik, olahraga, dan
seterusnya. Melalui media massa inilah ideologi yang abstrak berusaha untuk
dimaterialkan.
Naluri
manusia yang tidak ingin kejelekan (hal-hal di luar keindahan menurut media
massa) pun kemudian digunakan untuk mempertahankan ideologi, mempercepat
akumulasi modal yang kita sebut kapitalis. Tidak hanya perempuan, laki-laki
juga menjadi target aktor-aktor percepatan akumulasi modal ini. Namun objek
yang paling strategis untuk dimainkan di mata kapitalis adalah perempuan. Melihat
kembali pada kutipan penggalan percakapan dalam sebuah novel di atas, jelas
menunjukkan bahwa media massa merepresentasikan perempuan cantik dari segi
fisik. Fisik yang selalu jadi santapan mata para laki-laki.
Mengurai analisis media terhadap citra perempuan
sejatinya—menurut pengamatan penulis—bersumber dari perempuan-perempuan dari
Barat. Entah sejak kapan perempuan ideal secara fisik dan gaya hidup bercermin
pada perempuan Barat. Pertama, mata belo dan warna-warni, tubuh yang ramping,
rambut panjang dan berwarna, seksi, dada yang besar, awet muda, dan seterusnya.
Kedua, gaya hidup, yaitu wanita karier atau kerja kantoran, wirausaha muda,
model, aktris, memanjakan diri di salon, berbelanja di pusat perbelanjaan
modern, dan westernis. Bahkan dalam gaya hidup, seks ideal diatur oleh media.
Citra-citra semacam ini dibuat sebagai peluang kapitalis menciptakan produk
yang mengantar hamba-hamba media pada citra ideal perempuan. Muncullah penyakit
Anorecia Nervosa, penyakit takut
gemuk yang banyak diderita oleh perempuan-perempuan modern. Pewadahan operasi
plastik, program diet ketat, pemutih—tanpa peduli tingginya biaya, softlens, dan sebagainya.
Menurut Idy Subandi Ibrahim dalam buku “Menggeledah
Hasrat: Sebuah Pendekatan Multi Perspektif”, media adalah tempat yang paling
sering ditemukan kekerasan simbolik di ruang publik, tanpa mengabaikan bahwa
tak dinafikannya kekerasan fisik dan psikologis yang masih berlangsung hingga
kini. Media memungkinkan terjadinya berbagai pola kekerasan tak tampak, tapi
terasa. Media membentuk citra perempuan dari segi tatapan lelaki. Misalnya,
kasus pemerkosaan terhadap perempuan, bahasa yang diberitakan oleh media adalah
“menggagahi”. Pemerkosaaan adalah bentuk kegagahan dan kesuperioran seorang
pria menurut (distrorsi) bahasa oleh media. Banyak pula film yang memosisikan
perempuan sebagai mahkluk kedua (kata ayah saya), atau adegan bias gender yang menjadikan
rumah sebagai tempat yang sangat tepat untuk perempuan dan tidak cocok untuk
berbuat di ruang publik, misalnya dalam film “The Woman Knight of Mirror Lake”, ada percakapan yang mengatakan
bahwa seorang wanita tak berpendidikan itu berbudi, juga pada adegan adu fisik
antara tokoh utama perempuan dan seorang laki-laki, lawannya mengatakan “Kamu
jalang bodoh, bukannya tinggal di rumah mengurus keluarga”. Selain itu,
kekerasan simbolik lainnya dibentuk dengan memajang tubuh perempuan sebagai
objek tontonan untuk memenuhi hasrat laki-laki. Hal serupa dipaparkan dalam
buku “Membongkar Kuasa Media” oleh Ziauddin Sardar, perempuan dalam media
selalu digambarkan sebagai objek tatapan pria. Model-model setengah telanjang
pada sampul majalah pria adalah hal yang biasa. Presenter program televisi popular
dipilih berdasarkan wajah bukan bakat yang lebih substansial. Salah satu citra perempuan
yang paling umum adalah “bimbo”, yaitu rambut pirang, tata rias yang tebal,
dada besar, rok mini, sepatu hak tinggi, dan dia pasti gampangan, bodoh, tidak
berpendidikan, dan tidak berdaya.
Belum lagi, fashion
sebagai komunikasi. Pakaian akan menunjukkan identitas diri kita, siapa
diri kita. Cara berpakaian yang berubah-ubah sesuai dengan pekembangan zaman
adalah gambaran perempuan modern yang gaul dan tentunya tidak ketinggalan
zaman. Ketinggalan zaman artinya tak menjadi siapa-siapa di dunia ini.
Gambaran-gambaran perempuan ideal yang secara
berulang-ulang dan terus-menerus ditampilkan media, perlahan-lahan menjadi
standar yang dianut oleh para perempuan masa kini. Alih-alih mengikuti trend
dan mencapai eksistensi di masa modern, justru semakin mengalienasi dirinya
sendiri. Merubah mata, hidung, warna kulit, mengubah cara berpakaian sesuai
perkembangan zaman. Justru menghilangkan identitas sejati diri perempuan.
Semisal pakaian yang mengomunikasikan ideologi pun tak lagi bermakna dan hanya
jadi komoditi. Stereotipe “bimbo” juga mengalami distorsi pemaknaan. Ketika
pada masanya dorongan-dorongan hasrat ‘ideal’ yang secara terus-menerus ingin
dipenuhi ini tidak berhasil, maka perempuan akan mengalami ‘gangguan’ jiwa.
Gangguan jiwa inipun diobati oleh kapitalis dalam bentuk komoditi pula.
Sekelompok orang menawarkan agama sebagai solusi
identitas hakiki perempuan. Namun ketidakhati-hatian sebagian orang menafsirkan
dengan cara yang berbeda. Mungkin saja penyampaian yang bersifat doktrinal,
tidak filosofis sehingga framing tidak
kuat. Parahnya, agama pun jadi legitimasi pengiklanan produk hijab. Dengan
menyebutkan salah satu ayat Al-Qur’an, dan serta-merta mengajak perempuan untuk
membeli produk hijab. Hijab yang harusnya menjadi pengontrol hasrat pun kehilangan
makna, justru menumbuhkan hasrat.
Di dunia modern belum ada yang luput dari komoditi.
Hal-hal kontradiksi yang berada dalam tubuh pun bukan hal yang aneh. Kealiman
dan kebodohan dalam satu tubuh, materialisme dan spiritualisme berada dalam
satu tubuh, juga terkenal dan terasing. Inikah yang disebut manusia di titik
peradaban tertinggi?
“Perempuan
perlu belajar untuk menerima ukuran tubuh mereka yang normal untuk melawan
citra ideal perempuan langsing yang dipromosikan oleh media dan kebudayaan kita”.
–Karen Johnson dan Tom Ferguson, 1990.
“Beauty is
nothing without brain”.—Kutipan.

0 komentar:
Posting Komentar