Oleh: Andi Tenripada
“Perempuan menonton diri
mereka yang dipandangi laki-laki, mereka bereaksi pada sesuatu yang ‘ideal’.
Apapun bentuknya pada waktu tertentu, seolah –olah dia adalah perintah yang tak
dapat dinegosiasikan.”
Pembuka tulisan di atas
terinspirasi dari sebuah tayangan tengah malam di TV swasta nasional. Kala itu
seperti biasa di layar kaca disuguhkan seorang host wanita yang begitu
menggoda. Menggoda dalam arti fisik (bibir merah merekah, postur tubuh tinggi
yang dibalut gaun belahan rendah, dan sepasang kaki yang jenjang). Normal lho
ya’, saya perempuan malah tergiring melototi bagian per bagian tubuhnya
meski substansi tema yang dibicarakan sebenarnya tidak terlalu baru.
Ah, perempuan sementara
berkisah. Itu pula yang menginspirasi saya menerima tawaran untuk menulis di
buletin ini, setelah lama tak bertegur sapa dalam tulisan-tulisan. Ketika
bertanya tentang tema, perempuan dan budaya masih menjadi wacana yang tidak
habis untuk dikelola, dikemas, dikuliti, agar tampak menarik dan seksi
sepertinya. Saya tidak meragukan pengetahuan dan pengalaman kaumku hari ini,
mata dan kakinya pun hatinya telah menjelajahi dunia-dunia yang tempo dulu
tidak punya kuasa untuk dijamah. Peran media dari mulai TV yang merambah hingga
kamar-kamar, majalah/bacaan-bacaan atau pun alat propaganda lain perlahan tapi
pasti menyuguhkan “kelebihan-kelebihan” yang memberi imajinasi tentang kumpulan
wanita-wanita sempurna dalam kebudayaan massa. Ada yang terasa mengundang tanya
ketika dua realitas yang saya temui hari ini seolah menampilkan
stereotipe-stereotipe bahwa feminitas perempuan berarti kecantikan yang tanpa
intelejensi atau intelejensi tanpa kecantikan. Mengapa demikian? Karena secara
massa ditemukannya perempuan-perempuan yang dibiarkan memiliki pikiran atau
memiliki tubuh tetapi tidak keduanya.
Betapa kuasanya
perhatian terhadap citra tubuh dan wajah, perempuan digiring jauh dari
perjalanan intelektual yang positif dan mendekatkan pada rute kecanduannya
terhadap kecantikan fisik (material). Kita pantas gelisah pada
serangan-serangan ini. Serangan yang jelas datang dari musuh yang tidak
terlihat, karena iklan-iklan. Katakanlah begitu membaca kebutuhan perempuan
dalam level yang sangat personal dengan baik. Mitos kecantikan ingin mendorong
perempuan untuk melihat dirinya sendiri sebagai sesuatu yang jelas-jelas cantik
secara seksual. Coba lihat konsep “lemak”, dulu adalah hal yang sifatnya
seksual dalam sesosok tubuh perempuan di masa Victorian dan disebut sebagai silken
layer/lembaran sutera dikonstruk oleh citra kurus dari Iron Maiden yang
membuat seperlima dari perempuan melakukan olahraga dan membentuk tubuh mereka
mengalami ketidakteraturan menstruasi dan gangguan kesuburan. Tubuh para model
(ingat baik-baik!) 22%-23% lebih kurus dibandingkan tubuh rata-rata perempuan.
Itulah satu dari bentuk penolakan diri dari para perempuan yang secara perlahan
mengkonsepsi pikiran menuju kebencian diri. “Kecantikan” bukanlah sekedar hal
visual. Kecantikan adalah sesuatu yang lebih nyata dari film atau dalam
kehidupan tiga dimensi. Hal visual yang dimaksud adalah pengertian yang
dimonopoli oleh para pengiklan, yang dapat memanipulasinya dengan lebih baik.
Kita mengklaim bahwa kita memiliki kebebasan, kita mulai memakai pakaian yang
terasa nyaman, tetapi ketidaknyamanan justru masuk ke dalam tubuh kita.
Konsep kecantikan alami
yang berkembang di masa 1970-an menjadi ikon mitos kecantikan itu sendiri.
Kecantikan yang menonjolkan “kesehatan” yang berkembang pada 1980-an membawa
epidemik penyakit baru. Sedangkan, kecantikan yang menonjolkan kekuatan
mengurung perempuan dalam otot-ototnya. Dan proses ini terus berlanjut. Situasi
pasar tidaklah terbuka bagi munculnya kesadaran.
Sementara itu, kita
“perempuan” tidak bisa secara langsung memengaruhi citra-citra itu, tetapi kita
tetap bisa “memanfaatkannya” dan akhirnya menemukan citra “kecantikan
alternatif” dalam subkultur perempuan. Kita bisa menemukan biografi perempuan,
sejarah perempuan, kisah para pahlawan perempuan dalam setiap generasinya yang
diam-diam ditenggelamkan dari pandangan umum. Bekal pengetahuan yang dimiliki,
ideologi gerakan dan falsafah hiduplah yang menuntun kita terus mencari tahu,
memberi dukungan dan sungguh-sungguh mempertimbangkan alternatif-alternatif
yang ada tadi.
Sebenarnya pemujaan
terhadap kecantikan membuktikan adanya dahaga spiritual dan tidak terisinya
ruang kosong di jiwa kita. Di sisi kesadaran lain, seperti apa epistemologi
yang dimiliki akan menjadi bekal membaca dunia. Pun bagi sebagian perempuan
lain, mereka berjuang menegaskan bahwa kecantikan bersanding dengan
intelegensi, bersanding dengan visi perjuangan, bersanding dengan nilai
kesemestaan. Militansi terbaca melalui citra kasih sayangnya yang menjadi
fitrah. Pencariannya atas hakikat turun pula pada tafsir tentang fiqih dan
syariat. Kesadaran penuh bahwa kesempurnaan itu didapat melalui pencarian
mereka untuk memahami bahwa ini adalah perjalanan kualitas jiwa (kualitas roh).
Roh yang berusaha mendekat pada kesempurnaan. Jalan panjang kerinduan menuju
Tuhan. Ketika di luar menggembor-gemborkan tentang perang pemikiran, lalu di mana
kita akan mengambil sikap? Jauh melampaui itu, semoga tidak sekedar mencari
alternatif.
*)Referensi: Buku “Mitos Kecantikan:
Kala Kecantikan Menindas Perempuan” (Naomi Wolf)
0 komentar:
Posting Komentar