Selasa, 19 Agustus 2014

OPINI: Perempuan dalam Mitos Kecantikan: Penjajahan vs Pencarian Kesadaran

Oleh: Andi Tenripada

“Perempuan menonton diri mereka yang dipandangi laki-laki, mereka bereaksi pada sesuatu yang ‘ideal’. Apapun bentuknya pada waktu tertentu, seolah –olah dia adalah perintah yang tak dapat dinegosiasikan.”

Pembuka tulisan di atas terinspirasi dari sebuah tayangan tengah malam di TV swasta nasional. Kala itu seperti biasa di layar kaca disuguhkan seorang host wanita yang begitu menggoda. Menggoda dalam arti fisik (bibir merah merekah, postur tubuh tinggi yang dibalut gaun belahan rendah, dan sepasang kaki yang jenjang). Normal lho ya’, saya perempuan malah tergiring melototi bagian per bagian tubuhnya meski substansi tema yang dibicarakan sebenarnya tidak terlalu baru.

Ah, perempuan sementara berkisah. Itu pula yang menginspirasi saya menerima tawaran untuk menulis di buletin ini, setelah lama tak bertegur sapa dalam tulisan-tulisan. Ketika bertanya tentang tema, perempuan dan budaya masih menjadi wacana yang tidak habis untuk dikelola, dikemas, dikuliti, agar tampak menarik dan seksi sepertinya. Saya tidak meragukan pengetahuan dan pengalaman kaumku hari ini, mata dan kakinya pun hatinya telah menjelajahi dunia-dunia yang tempo dulu tidak punya kuasa untuk dijamah. Peran media dari mulai TV yang merambah hingga kamar-kamar, majalah/bacaan-bacaan atau pun alat propaganda lain perlahan tapi pasti menyuguhkan “kelebihan-kelebihan” yang memberi imajinasi tentang kumpulan wanita-wanita sempurna dalam kebudayaan massa. Ada yang terasa mengundang tanya ketika dua realitas yang saya temui hari ini seolah menampilkan stereotipe-stereotipe bahwa feminitas perempuan berarti kecantikan yang tanpa intelejensi atau intelejensi tanpa kecantikan. Mengapa demikian? Karena secara massa ditemukannya perempuan-perempuan yang dibiarkan memiliki pikiran atau memiliki tubuh tetapi tidak keduanya.

Betapa kuasanya perhatian terhadap citra tubuh dan wajah, perempuan digiring jauh dari perjalanan intelektual yang positif dan mendekatkan pada rute kecanduannya terhadap kecantikan fisik (material). Kita pantas gelisah pada serangan-serangan ini. Serangan yang jelas datang dari musuh yang tidak terlihat, karena iklan-iklan. Katakanlah begitu membaca kebutuhan perempuan dalam level yang sangat personal dengan baik. Mitos kecantikan ingin mendorong perempuan untuk melihat dirinya sendiri sebagai sesuatu yang jelas-jelas cantik secara seksual. Coba lihat konsep “lemak”, dulu adalah hal yang sifatnya seksual dalam sesosok tubuh perempuan di masa Victorian dan disebut sebagai silken layer/lembaran sutera dikonstruk oleh citra kurus dari Iron Maiden yang membuat seperlima dari perempuan melakukan olahraga dan membentuk tubuh mereka mengalami ketidakteraturan menstruasi dan gangguan kesuburan. Tubuh para model (ingat baik-baik!) 22%-23% lebih kurus dibandingkan tubuh rata-rata perempuan. Itulah satu dari bentuk penolakan diri dari para perempuan yang secara perlahan mengkonsepsi pikiran menuju kebencian diri. “Kecantikan” bukanlah sekedar hal visual. Kecantikan adalah sesuatu yang lebih nyata dari film atau dalam kehidupan tiga dimensi. Hal visual yang dimaksud adalah pengertian yang dimonopoli oleh para pengiklan, yang dapat memanipulasinya dengan lebih baik. Kita mengklaim bahwa kita memiliki kebebasan, kita mulai memakai pakaian yang terasa nyaman, tetapi ketidaknyamanan justru masuk ke dalam tubuh kita.

Konsep kecantikan alami yang berkembang di masa 1970-an menjadi ikon mitos kecantikan itu sendiri. Kecantikan yang menonjolkan “kesehatan” yang berkembang pada 1980-an membawa epidemik penyakit baru. Sedangkan, kecantikan yang menonjolkan kekuatan mengurung perempuan dalam otot-ototnya. Dan proses ini terus berlanjut. Situasi pasar tidaklah terbuka bagi munculnya kesadaran.

Sementara itu, kita “perempuan” tidak bisa secara langsung memengaruhi citra-citra itu, tetapi kita tetap bisa “memanfaatkannya” dan akhirnya menemukan citra “kecantikan alternatif” dalam subkultur perempuan. Kita bisa menemukan biografi perempuan, sejarah perempuan, kisah para pahlawan perempuan dalam setiap generasinya yang diam-diam ditenggelamkan dari pandangan umum. Bekal pengetahuan yang dimiliki, ideologi gerakan dan falsafah hiduplah yang menuntun kita terus mencari tahu, memberi dukungan dan sungguh-sungguh mempertimbangkan alternatif-alternatif yang ada tadi.

Sebenarnya pemujaan terhadap kecantikan membuktikan adanya dahaga spiritual dan tidak terisinya ruang kosong di jiwa kita. Di sisi kesadaran lain, seperti apa epistemologi yang dimiliki akan menjadi bekal membaca dunia. Pun bagi sebagian perempuan lain, mereka berjuang menegaskan bahwa kecantikan bersanding dengan intelegensi, bersanding dengan visi perjuangan, bersanding dengan nilai kesemestaan. Militansi terbaca melalui citra kasih sayangnya yang menjadi fitrah. Pencariannya atas hakikat turun pula pada tafsir tentang fiqih dan syariat. Kesadaran penuh bahwa kesempurnaan itu didapat melalui pencarian mereka untuk memahami bahwa ini adalah perjalanan kualitas jiwa (kualitas roh). Roh yang berusaha mendekat pada kesempurnaan. Jalan panjang kerinduan menuju Tuhan. Ketika di luar menggembor-gemborkan tentang perang pemikiran, lalu di mana kita akan mengambil sikap? Jauh melampaui itu, semoga tidak sekedar mencari alternatif.

*)Referensi: Buku “Mitos Kecantikan: Kala Kecantikan Menindas Perempuan” (Naomi Wolf)



0 komentar:

Posting Komentar