Selasa, 20 Maret 2012

Doa Untuk Ibu


Oleh : Nurul Fajri
Duhai perempuan yang telah dilahirkan pada tahun-tahun kebahagiaan
Kelahiranmu menjadi penanda gembira
Gerakmu lalu menjelma untaian pengabdian
Wahai kau perempuan berparas anggun
Sungguh mulia jasamu
Tak terhingga pengorbananmu
Di dalam doamu selalu terselip nama anak-anakmu
Tak pernah luput perhatianmu untuknya

Betapa mulianya kau perempuan yang disebut ibu
Tahukah kau bahwa mereka tahu kau menyayangi mereka melebihi apa pun
Mengertikah kau ibu bahwa cinta anak-anakmu melebihi luasnya samudra
Ingatkah kau ibu ada rasa sayang anak-anakmu melebihi ukuran jutaan galaksi

Oh Tuhan…
Betapa renta kini ia diikat usia
Materi fisik tubuhnya tidak lagi semampai dahulu
Tapi haruskah dibandingkan rasa cintanya yang suci dengan materil rendahan

Oh Tuhan…
Kau yang tahu betapa deras air matanya saat anaknya berteriak bahkan memaki
Hanya dia dan Kau saja Tuhan yang tahu ia tersayat perih tatkala menemukan anaknya tak patuh padanya

Oh Tuhan…
Ini doa untuk Sang Ibu
Sebuah untaian nada memohon pengampunan untuk Sang Ibu
Kami mengerti betapa keras hidup yang harus ia lalui
Betapa sulit terjangan badai yang menghadang kehidupannya
Betapa berat beban pundaknya yang ditambahkan tatkala anaknya merengek
Namun terkadang anak-anaknya seakan tak peduli

Oh Tuhan…
Sucikan mereka dari segala dosa
Sucikan pengorbanan  mereka membangun bangsa ini
Sucikan  setiap lantunan doa dan airmatanya yang menghidupi surgawi
Sucikan niatnya melahirkan manusia-manusia yang suci

RESENSI FILM: Perempuan Punya Cerita

Oleh: Dyah Astrini

Perempuan punya cerita merupakan sebuah karya anak-anak bangsa yang menceritakan tentang kisah-kisah perjuangan perempuan dalam menghadapi kerasnya kehidupan. Dibagi dalam empat kisah yang masing-masing berlatar tempat berbeda di Nusantara. Dimulai dari kisah perempuan di suatu pulau terpencil, di suatu desa yang tingkat pendidikan masih rendah, di kota pelajar, hingga kisah perempuan di kota metropolitan. Semua terangkum singkat dalam film yang berdurasi +/- 105 menit.
Cerita 1 (Kepulauan Seribu) à Perempuan tidak memiliki kekuatan, status sosial hanya membuat  kehilangan harga diri.
Seorang pekerja medis bernama Sumantri (Rieke Diah Pitaloka) yang mengabdikan tugasnya di suatu pulau terpencil yang tak terjamah fasilitas kesehatan dari pemerintah. Bekerja sehari-hari sebagai bidan di pulau tersebut. Suatu waktu, ia divonis menderita kanker oleh dokter yang membuatnya harus menjalani perawatan di Jakarta. Di saat yang bersamaan, ia mencium adanya ketidakadilan terhadap Wulan (Rachel Maryam) yang memiliki keterbelakangan mental. Wulan menjadi korban pelecehan seksual oleh anak-anak juragan di pulau. Puncaknya, perlawanan yang coba digamangkan oleh Sumantri dipolitisi oleh juragan-juragan pulau dengan memunculkan isu pengaborsian yang dilakukan Sumantri oleh warga pulau. Padahal tindakan yang dilakukan Sumantri demi menyelamatkan sang ibu. Namun, pada akhirnya Wulan hanya bisa meratapi kepergian sang pelindungnya sekaligus sahabatnya Sumantri di dermaga.  
Penulis : Vivian Idris  Sutradara : Fatimah Rony

Cerita 2 (Yogyakarta) à Perempuan menjadi objek.
Kemudian dilanjutkan pada kisah perempuan di kota Jogjakarta. Seorang jurnalis bernama Jay Anwar (Fauzi Baadillah) yang tengah mencari berita mengenai kehidupan seks bebas di kalangan remaja di kota pelajar  tersebut. Mencoba menyamar sebagai pelancong berstatus mahasiswa. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan gadis bernama Safina (Kirana Larasati) yang kemudian ditawari untuk menjadi pemandunya selama di Jogjakarta. Tanpa disadari, tumbuh benih cinta di hati Safina terhadap Jay. Puncak pembuktian dari cinta Safina dimana ia merelakan keperawanannya kepada Jay. Setelah tujuan risetnya rampung, Jay pun kembali ke Jakarta. Pada akhirnya, Safina menyadari bahwa ia hanya dijadikan alat riset oleh Jay. Di Jakarta, Jay bersama pacarnya menyaksikan hasil liputannya selama di Jogjakarta. Dalam liputan berita tersebut, tampak jurnalis sedang mewawancarai Safina yang dimanfaatkannya untuk meminta pertanggungjawaban kepada jurnalis yang menjadikannya objek tersebut.
Penulis : Vivian Idris   Sutradara : Upi Avianto

Cerita 3 (Cibinong) à Perempuan rawan perdagangan.
Perjuangan perempuan di kisah ini menceritakan mengenai kehidupan perempuan di Desa Cibinong yang masih terbilang lugu. Keteguhaan perjuangan seorang Ibu Esi (Shanty) dalam menjaga anak gadisnya, Maesaroh (Ken Nala Amrytha) dari sindikat perdagangan perempuan. Namun pada akhirnya, Ibu Esi hanya bisa meratapi foto anaknya yang telah dinikahi oleh pria berkebangsaan Taiwan.
Penulis : Melissa Karim   Sutradara : Nia Dinata

Cerita 4 (Jakarta) à  Perempuan menjadi kambing hitam, pusat kesialan.
Kisah terakhir yang berlatar di kota metropolitan Jakarta ini, mengisahkan perjuangan seorang istri bernama Laksmi (Susan Bachtiar) yang tertular HIV AIDS dari almarhum suaminya Reno (Winky Wiryawan) akibat pergaulan bebas. Perjuangannya yang disudutkan oleh keluarga suaminya yang menuduhnya sebagai penyebab kematian Reno. Kondisi Laksmi yang tertular HIV AIDS pun dijadikan keluarga Reno untuk memisahkan Laksmi dengan anaknya. Pada akhirnya, Laksmi pun menyadari bahwa ia harus berpisah demi kebahagiaan anaknya.
Penulis : Melissa Karim   Sutradara : Lasja Fauzia Susatyo
Sebuah karya anak bangsa yang tak kalah berprestasi ini wajib untuk disaksikan. Kisah-kisah yang mengharukan dan penuh inspiratif ini akan membuka mata khususnya para kaum wanita mengenai persoalan-persoalan di sekitar kita. (dh)

Sitti Khadijah r.a., Ibunda yang Mulia

Oleh : SYIFA  AL  QALB
Sitti Khadijah r.a., ibunda Sitti Fatimah Azzahra r.a. adalah seorang wanita keturunan salah satu suku yang paling terkemuka di Jazirah Arabia, suku Quraisy. Ayahnya bernama Kuwailid bin Asad bin Abdil Uzza bin Qushay. Silsilahnya bertemu dengan silsilah Rasul Allah SAW. pada datuk mereka yang bernama Qushay, induk semua anak suku Quraisy. Khuwailid terkenal keberaniannya ketika ia menantang Raja Tubba yang hendak memboyong hajar aswad dari Makkah ke Yaman. Keberanian dan keteguhan tekad Khuwailid yang dilandasi kecintaan kepada “Agama” yang dianutnya tampak diwarisi oleh Sitti Khadijah r.a. Hal ini tercermin dengan jelas ketika ia dengan penuh kasih sayang dan pengertian yang mendalam menyambut kedatangan suaminya, Muhammad bin Abdullah SAW., sehabis menerima wahyu pertama di gua Hira.
Sitti Khadijah r.a. dibesarkan dalam lingkungan keluarga keturunan baik­baik dan diperkaya dengan sifat serta akhlak terpuji dan luhur. Karena itu tepat jika dikatakan bahwa Sitti Khadijah r.a. adalah wanita sempurna. Beliau juga digelari dengan sebutan “As­sayyidah At­Thahirah (Wanita Suci)”. Sebab di samping memiliki paras cantik dan bentuk tubuh yang indah ia juga mempunyai kecerdasan berfikir, ketajaman firasat dan budi pekerti utama. Pandangannya yang jauh ke depan dapat memahami dengan cermat akibat yang akan ditimbulkan oleh suatu kejadian.
Dengan upacara dan ijab Kabul yang sederhana, resmilah sudah pernikahan bersejarah antara Muhammad SAW. dengan Sitti Khadijah r.a. Lima belas tahun sebelum Muhammad SAW. diangkat Allah SWT. sebagai Rasul­Nya. Ketika itu Muhammad SAW. baru berusia 25 tahun, sedangkan Khadijah r.a. sudah berusia 40 tahun. Tetapi riwayat yang berasal dari Abbas mengatakan bahwa pada waktu menikah dengan Muhammad SAW. Sitti Khadijah r.a. berusia 28 tahun. Pendapat ini diperkuat oleh Abbas Mahmud Al Aqqad  seorang penulis kenamaan Mesir, dan mempunyai hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan Muhammad SAW. dan Sitti Khadijah. Sementara itu menurut kebiasaan Arab, wanita tidak akan menikah lagi setelah mencapai umur 40 tahun. Dari pernikahannya dengan Sitti Khadijah r.a., Rasul Allah SAW memperoleh empat orang puteri. Mereka adalah Zainab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum, dan Fatimah.
Selama menjadi isteri Rasul Allah SAW., Sitti Khadijah r.a. dengan setia menyertai beliau dalam suka dan duka. Sikapnya benar­benar patut dipuji dan dibanggakan. Semua kisah sejarah yang berkaitan dengan terjadinya bi’tsah dan turunnya wahyu Ilahi boleh dikatakan tidak dapat dipisahkan dari nama Sitti Khadijah r.a. Ketika suaminya siap berangkat ke gua­gua di sekitar Makkah untuk berkahlwat, ia mempersiapkan semua bekal dan kebutuhan yang diperlukan.
Sementara itu, bagi Rasul Allah Sitti Khadijah adalah ibu, isteri dan pengayomnya. Sebagai isteri, Sitti Khadijah merupakan seorang yang memberikan keturunan yang mulia bagi Rasul Allah SAW. Setia mendampingi dan melayaninya. Sebagai ibu, ia memberikan kasih sayang yang penuh dan merawat Rasul Allah SAW. tanpa kekurangan apa pun. Sebagai pengayom, ia adalah pelindung beliau dari gangguan, penghinaan, dan permusuhan yang dilancarkan oleh orang­orang kafir Quraisy. Keduanya hidup berdampingan dalam suasana tenteram, serasi, tak pernah hampa dan tak kenal jemu.
Sitti Khadijah r.a. adalah wanita pertama yang menjadi isteri Rasul Allah SAW. Ia hidup mendampingi beliau hingga akhir hayatnya selama 25 tahun. Dan selama itu Rasul Allah SAW.  tidak mempunyai isteri lain. Beliau menyadari betapa besar pengorbanan dan keikhlasan serta kesetiaan isterinya itu dalam hidup sehari­hari mendampingi beliau. Ia benar­benar seorang isteri yang dapat menenteramkan hati beliau, dan beliau sendiri pun mencintainya dengan sepenuh hati.
Keistimewaan utama yang mengangkat Sitti Khadijah r.a. sehingga mencapai martabat mulia ialah karena beliau adalah wanita pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul­Nya. Bukan saja karena percaya tentang kenabian Muhammad SAW., melainkan juga karena ia mendukungnya bahkan membantu dan memperteguh tekad dalam melaksanakan dakwah risalah. Dengan iman yang semantap­mantapnya ia selalu berusaha meringankan kepedihan hati dan menghilangkan keletihan serta penderitaan yang dialami suaminya dalam menunaikan tugas dakwah.

TIGA TAHAP KEHIDUPAN


Oleh : Dewi HS. Asri Tadda

Bismillahirrahmanirrahiim.
Puja Pada-Nya Sang Maha Indah ALLAH Azza wa Jalla, jadilah semesta dalam kerling sekedip dan membahanalah dendang shalawat pada Baginda Muhammad SAW. sang junjungan manusia.
Bahagialah Ibu, mulialah engkau ibu, agunglah engkau ibu, pun bagimu ayah.
Ibu, ibu, ibu dan lalu ayahmu, berkata baginda rasul Muhammad SAW.  Betapa dimuliakannya ibu, diagungkan keberadaan dan perannya,  dicintai, dihormati. Ibu adalah madrasah pertama yang mengajarkanmu cinta, kelembutan dan kasih sayangnya adalah jembatan eksistensimu di dunia.  Dialah ibu dengan luka suka tak terbilang namun kerap mensucikanmu dengan airmata dalam doa-doanya. Ibu, ibu, ibu dan lalu ayahmu. Seperti kutipan puisi karya Dewi Mudijiwa.
“….. tiga tahap kehidupan, tiga cinta, tiga usia, … tiga! Satu; dentum tabik pada kehidupan, dua; menyerahkan jiwa pada perjamuan, tiga; sepenuh kun pada penciptaan ….”
Secara umum, perempuan memiliki tiga tahap dalam kehidupan. Satu; dentum tabik pada kehidupan ketika ia dilahirkan sebagai anak perempuan, jenis kelamin ini telah mengalami transformasi sosial disebabkan derajat pengetahuan masyarakat yang juga bertingkat-tingkat. Pengakuan atas hak yang sama, informasi yang sepadan tentang publisitas peran, nilai-nilai syariat agama dan kepercayaan,  pengetahuan tentang hukum dan kehidupan bermasyarakat yang kerap dijadikan pelindung diri dari dekadensi moral yang membayangi karena demikian sarat diskriminasi atas jenis kelamin ini, yang tidak kalah penting adalah perempuan yang semakin larut dan membenarkan informasi awal yang diterimanya tanpa perbandingan literatur atau mendengarkan dari pihak yang berbeda karena akses yang terbatas. 
Telah banyak yang berubah kini, teknologi informasi jelas tidak mengenal apakah perempuan atau lelaki yang mengambil peran dan atau keuntungan di dalamnya, pergesaran paradigma konservatif ke sosial, atau ke liberal dan bahkan radikal pada perempuan kini terhidang dalam satu kali perjamuan zaman. 
Dua; menyerahkan jiwa pada perjamuan. Anak manusia bertumbuh dan merasakan kebutuhan lain yang dapat melengkapi perjalanan kehidupannya, sunnah Baginda Muhammad SAW. menyarankan agar tak kesepian dalam bertugas sebagai pemelihara bumi. Berpasang-pasanglah engkau di bumi, ikuti sunnah rasulmu, carilah isteri/suami sebagai penyejuk hati dan rumahmu, nikmati keindahan Allah SWT. dari gelimang cinta sesama, yang penyatuan itu menjadikanmu sempurna. Cintai Allah, cintai dia pasangan jiwamu.
Tiga; sepenuh kun pada penciptaan. Perempuan telah melewati lajang, bertemu cinta dan menjadilah ia sepasang, lalu dikaruniai masa mengandung janin. Dari runtun tahap kehidupan, inilah tahap ketika kehendaknya (ibu) menyatu dalam kehendak-Nya. Segumpal darah yang ditiupkan ruh suci ilahiah, terbuangkah percuma janin itu, atau diperjuangkannya hingga waktu menguatkan kaki-kaki mungil itu menekan-nekan dinding rahim, tangan-tangan mungil itu mengetuk-ngetuk hati ibu. “Ibu, aku telah memenangkan janji primordial itu, izinkan aku melihat dunia dan mencium surga di kakimu!”.
Tiga tahap kehidupan perempuan, yang mana tahap pertama, ketika lahir adalah pasti adanya. Tahap kedua dan berikutnya adalah pilihan sadar yang senantiasa terjamu namun bersifat mungkin konteksnya. Ya, menjadi isteri dan memikul tanggungjawab sebagai ibu adalah pilihan bagi perempuan. 
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah  kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu.” (QS. Luqman, 31:14)
Sesungguhnya peran dan tanggung jawab seorang ibu adalah sangat mulia di sisi Allah, bersama ayah mengemban amanah Allah membesarkan putri dan putra untuk senantiasa hidup berlimpah hikmah dan memohon hidayah-Nya berjibaku dengan dunia tapi selaras dengan akhiratnya. Ibu adalah madrasah pertama yang membentuk karakter ilahiah nan intelektual pada anaknya, pendidikan akhlak dan psikis yang berkembang baik, menunjukkan keberanian dan moral yang baik. Hal ini selaras dengan ungkapan George Washington  (1732-1799), ”My mother was the most beautiful woman I ever saw. All I am I owe to my mother. I attribute all my success in life to the moral, intellectual and physical education I received from her."
Tapi tidak akan sama bila sekadar tahu tentang hal ini namun tidak merasai menjadi orang tua yang sebenarnya seperti kata Henry Ward Beecher, “We never know the love of the parent until we become parents ourselves”.
Menjadi ibu, menjadi orangtua dari anak-anak amanah Allah adalah peran suci yang laiknya secara sadar dipilih oleh perempuan. Bukan paksaan, atau beban konstruksi sosial yang memberi banyak spekulasi dangkal terhadap konteks itu. Tahap kelahiran, perjamuan, penciptaan yang dinisbatkan adalah kekayaan yang hanya sebanding dengan semesta.  Terbuangkah percuma, atau diperjuangkannya hingga “akhir”. Wallahu alam bissawab…