Oleh : SYIFA AL QALB
Sitti Khadijah r.a., ibunda Sitti Fatimah Azzahra r.a. adalah seorang wanita keturunan salah satu suku yang paling terkemuka di Jazirah Arabia, suku Quraisy. Ayahnya bernama Kuwailid bin Asad bin Abdil Uzza bin Qushay. Silsilahnya bertemu dengan silsilah Rasul Allah SAW. pada datuk mereka yang bernama Qushay, induk semua anak suku Quraisy. Khuwailid terkenal keberaniannya ketika ia menantang Raja Tubba yang hendak memboyong hajar aswad dari Makkah ke Yaman. Keberanian dan keteguhan tekad Khuwailid yang dilandasi kecintaan kepada “Agama” yang dianutnya tampak diwarisi oleh Sitti Khadijah r.a. Hal ini tercermin dengan jelas ketika ia dengan penuh kasih sayang dan pengertian yang mendalam menyambut kedatangan suaminya, Muhammad bin Abdullah SAW., sehabis menerima wahyu pertama di gua Hira.
Sitti Khadijah r.a. dibesarkan dalam lingkungan keluarga keturunan baikbaik dan diperkaya dengan sifat serta akhlak terpuji dan luhur. Karena itu tepat jika dikatakan bahwa Sitti Khadijah r.a. adalah wanita sempurna. Beliau juga digelari dengan sebutan “Assayyidah AtThahirah (Wanita Suci)”. Sebab di samping memiliki paras cantik dan bentuk tubuh yang indah ia juga mempunyai kecerdasan berfikir, ketajaman firasat dan budi pekerti utama. Pandangannya yang jauh ke depan dapat memahami dengan cermat akibat yang akan ditimbulkan oleh suatu kejadian.
Dengan upacara dan ijab Kabul yang sederhana, resmilah sudah pernikahan bersejarah antara Muhammad SAW. dengan Sitti Khadijah r.a. Lima belas tahun sebelum Muhammad SAW. diangkat Allah SWT. sebagai RasulNya. Ketika itu Muhammad SAW. baru berusia 25 tahun, sedangkan Khadijah r.a. sudah berusia 40 tahun. Tetapi riwayat yang berasal dari Abbas mengatakan bahwa pada waktu menikah dengan Muhammad SAW. Sitti Khadijah r.a. berusia 28 tahun. Pendapat ini diperkuat oleh Abbas Mahmud Al Aqqad seorang penulis kenamaan Mesir, dan mempunyai hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan Muhammad SAW. dan Sitti Khadijah. Sementara itu menurut kebiasaan Arab, wanita tidak akan menikah lagi setelah mencapai umur 40 tahun. Dari pernikahannya dengan Sitti Khadijah r.a., Rasul Allah SAW memperoleh empat orang puteri. Mereka adalah Zainab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum, dan Fatimah.
Selama menjadi isteri Rasul Allah SAW., Sitti Khadijah r.a. dengan setia menyertai beliau dalam suka dan duka. Sikapnya benarbenar patut dipuji dan dibanggakan. Semua kisah sejarah yang berkaitan dengan terjadinya bi’tsah dan turunnya wahyu Ilahi boleh dikatakan tidak dapat dipisahkan dari nama Sitti Khadijah r.a. Ketika suaminya siap berangkat ke guagua di sekitar Makkah untuk berkahlwat, ia mempersiapkan semua bekal dan kebutuhan yang diperlukan.
Sementara itu, bagi Rasul Allah Sitti Khadijah adalah ibu, isteri dan pengayomnya. Sebagai isteri, Sitti Khadijah merupakan seorang yang memberikan keturunan yang mulia bagi Rasul Allah SAW. Setia mendampingi dan melayaninya. Sebagai ibu, ia memberikan kasih sayang yang penuh dan merawat Rasul Allah SAW. tanpa kekurangan apa pun. Sebagai pengayom, ia adalah pelindung beliau dari gangguan, penghinaan, dan permusuhan yang dilancarkan oleh orangorang kafir Quraisy. Keduanya hidup berdampingan dalam suasana tenteram, serasi, tak pernah hampa dan tak kenal jemu.
Sitti Khadijah r.a. adalah wanita pertama yang menjadi isteri Rasul Allah SAW. Ia hidup mendampingi beliau hingga akhir hayatnya selama 25 tahun. Dan selama itu Rasul Allah SAW. tidak mempunyai isteri lain. Beliau menyadari betapa besar pengorbanan dan keikhlasan serta kesetiaan isterinya itu dalam hidup seharihari mendampingi beliau. Ia benarbenar seorang isteri yang dapat menenteramkan hati beliau, dan beliau sendiri pun mencintainya dengan sepenuh hati.
Keistimewaan utama yang mengangkat Sitti Khadijah r.a. sehingga mencapai martabat mulia ialah karena beliau adalah wanita pertama yang beriman kepada Allah dan RasulNya. Bukan saja karena percaya tentang kenabian Muhammad SAW., melainkan juga karena ia mendukungnya bahkan membantu dan memperteguh tekad dalam melaksanakan dakwah risalah. Dengan iman yang semantapmantapnya ia selalu berusaha meringankan kepedihan hati dan menghilangkan keletihan serta penderitaan yang dialami suaminya dalam menunaikan tugas dakwah.
0 komentar:
Posting Komentar