Selasa, 20 Maret 2012

TIGA TAHAP KEHIDUPAN


Oleh : Dewi HS. Asri Tadda

Bismillahirrahmanirrahiim.
Puja Pada-Nya Sang Maha Indah ALLAH Azza wa Jalla, jadilah semesta dalam kerling sekedip dan membahanalah dendang shalawat pada Baginda Muhammad SAW. sang junjungan manusia.
Bahagialah Ibu, mulialah engkau ibu, agunglah engkau ibu, pun bagimu ayah.
Ibu, ibu, ibu dan lalu ayahmu, berkata baginda rasul Muhammad SAW.  Betapa dimuliakannya ibu, diagungkan keberadaan dan perannya,  dicintai, dihormati. Ibu adalah madrasah pertama yang mengajarkanmu cinta, kelembutan dan kasih sayangnya adalah jembatan eksistensimu di dunia.  Dialah ibu dengan luka suka tak terbilang namun kerap mensucikanmu dengan airmata dalam doa-doanya. Ibu, ibu, ibu dan lalu ayahmu. Seperti kutipan puisi karya Dewi Mudijiwa.
“….. tiga tahap kehidupan, tiga cinta, tiga usia, … tiga! Satu; dentum tabik pada kehidupan, dua; menyerahkan jiwa pada perjamuan, tiga; sepenuh kun pada penciptaan ….”
Secara umum, perempuan memiliki tiga tahap dalam kehidupan. Satu; dentum tabik pada kehidupan ketika ia dilahirkan sebagai anak perempuan, jenis kelamin ini telah mengalami transformasi sosial disebabkan derajat pengetahuan masyarakat yang juga bertingkat-tingkat. Pengakuan atas hak yang sama, informasi yang sepadan tentang publisitas peran, nilai-nilai syariat agama dan kepercayaan,  pengetahuan tentang hukum dan kehidupan bermasyarakat yang kerap dijadikan pelindung diri dari dekadensi moral yang membayangi karena demikian sarat diskriminasi atas jenis kelamin ini, yang tidak kalah penting adalah perempuan yang semakin larut dan membenarkan informasi awal yang diterimanya tanpa perbandingan literatur atau mendengarkan dari pihak yang berbeda karena akses yang terbatas. 
Telah banyak yang berubah kini, teknologi informasi jelas tidak mengenal apakah perempuan atau lelaki yang mengambil peran dan atau keuntungan di dalamnya, pergesaran paradigma konservatif ke sosial, atau ke liberal dan bahkan radikal pada perempuan kini terhidang dalam satu kali perjamuan zaman. 
Dua; menyerahkan jiwa pada perjamuan. Anak manusia bertumbuh dan merasakan kebutuhan lain yang dapat melengkapi perjalanan kehidupannya, sunnah Baginda Muhammad SAW. menyarankan agar tak kesepian dalam bertugas sebagai pemelihara bumi. Berpasang-pasanglah engkau di bumi, ikuti sunnah rasulmu, carilah isteri/suami sebagai penyejuk hati dan rumahmu, nikmati keindahan Allah SWT. dari gelimang cinta sesama, yang penyatuan itu menjadikanmu sempurna. Cintai Allah, cintai dia pasangan jiwamu.
Tiga; sepenuh kun pada penciptaan. Perempuan telah melewati lajang, bertemu cinta dan menjadilah ia sepasang, lalu dikaruniai masa mengandung janin. Dari runtun tahap kehidupan, inilah tahap ketika kehendaknya (ibu) menyatu dalam kehendak-Nya. Segumpal darah yang ditiupkan ruh suci ilahiah, terbuangkah percuma janin itu, atau diperjuangkannya hingga waktu menguatkan kaki-kaki mungil itu menekan-nekan dinding rahim, tangan-tangan mungil itu mengetuk-ngetuk hati ibu. “Ibu, aku telah memenangkan janji primordial itu, izinkan aku melihat dunia dan mencium surga di kakimu!”.
Tiga tahap kehidupan perempuan, yang mana tahap pertama, ketika lahir adalah pasti adanya. Tahap kedua dan berikutnya adalah pilihan sadar yang senantiasa terjamu namun bersifat mungkin konteksnya. Ya, menjadi isteri dan memikul tanggungjawab sebagai ibu adalah pilihan bagi perempuan. 
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah  kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu.” (QS. Luqman, 31:14)
Sesungguhnya peran dan tanggung jawab seorang ibu adalah sangat mulia di sisi Allah, bersama ayah mengemban amanah Allah membesarkan putri dan putra untuk senantiasa hidup berlimpah hikmah dan memohon hidayah-Nya berjibaku dengan dunia tapi selaras dengan akhiratnya. Ibu adalah madrasah pertama yang membentuk karakter ilahiah nan intelektual pada anaknya, pendidikan akhlak dan psikis yang berkembang baik, menunjukkan keberanian dan moral yang baik. Hal ini selaras dengan ungkapan George Washington  (1732-1799), ”My mother was the most beautiful woman I ever saw. All I am I owe to my mother. I attribute all my success in life to the moral, intellectual and physical education I received from her."
Tapi tidak akan sama bila sekadar tahu tentang hal ini namun tidak merasai menjadi orang tua yang sebenarnya seperti kata Henry Ward Beecher, “We never know the love of the parent until we become parents ourselves”.
Menjadi ibu, menjadi orangtua dari anak-anak amanah Allah adalah peran suci yang laiknya secara sadar dipilih oleh perempuan. Bukan paksaan, atau beban konstruksi sosial yang memberi banyak spekulasi dangkal terhadap konteks itu. Tahap kelahiran, perjamuan, penciptaan yang dinisbatkan adalah kekayaan yang hanya sebanding dengan semesta.  Terbuangkah percuma, atau diperjuangkannya hingga “akhir”. Wallahu alam bissawab…

0 komentar:

Posting Komentar