Selasa, 13 November 2012

Kisah Hikmah: Larangan Bercanda dengan Wanita Selain Muhrim

Abu Bashir berkata: “Waktu itu aku berada di Kufah mengajar seorang wanita membaca Al-Qur’an. Pada suatu kesempatan aku bergurau dengannya. Tak lama kemudian aku bertemu dengan Imam Muhammad Baqir. Imam menegurku dengan keras seraya berkata, “Barangsiapa yang bergurau dengan wanita selain muhrim di tempat khalwat, Allah swt memalingkan pandangan rahmat-Nya darinya! Sempatnya engkau bergurau dengan murid bukan muhrimmu!”
Aku seperti disambar petir dan menunduk malu serta bertaubat. Imam Baqir menasehatiku, “Waspadalah, jangan sampai kau ulangi perbuatan itu.”


Kemampuan Manajerial Seorang Siti Hajar

Hari Raya Qurban tak pernah terlepas dari kisah hikmah yang terus dibicarakan dari mulut ke mulut. Perlawanan nabi Ibrahim terhadap mereka yang tak ingin mengikuti ajaran langit, keikhlasan Sarah yang meminta suaminya (nabi Ibrahim) untuk menikahi seorang budak bernama Siti Hajar, hingga kesabaran nabi Ismail kala ingin disembelih oleh ayahandanya.

Hadirnya kisah hidup Siti Hajar dan Ismail saat bertahan hidup tentu saja punya hikmah yang luar biasa. Kisah ditinggalkannya Siti Hajar dan nabi Ismail di padang pasir oleh nabi Ibrahim tidak sekedar berakhir dengan terijabahnya doa untuk tetap hidup dalam keadaan yang sulit. Hadirnya air zam-zam sebagai salah satu mukjizat nabi Ismail saat masih kecil pun menjadi tantangan tersendiri bagi Siti Hajar. Mata air zam-zam tidak berhenti mengeluarkan airnya ketika dahaga Ismail dan bundanya telah teratasi. Permasalahan pengelolaan air zam-zam adalah pekerjaan rumah selanjutnya bagi Siti Hajar.  

Sebelum kedatangan Siti Hajar dan Ismail putranya, Mekah adalah tempat yang tak pernah dihiraukan. Untuk sekedar bermukim sejenak, orang akan berpikir dua kali. Adanya berita yang tersebar tentang kematian orang-orang yang sekedar singgah melepas penat, meskipun tidak sampai menginap. Mekah terletak di antara bukit batu hitam yang memanjang jauh. Beragam batu mengeluarkan uap panas setiap saat membuat tempat ini tak nyaman untuk ditinggali. Sehingga hanya padang pasir luas yang ada dan sering membuat para musafir bingung.

Hadirnya Siti Hajar dan buah hatinya ke tempat itu berbekal pakaian yang melekat di tubuh menghapus segera opini masyarakat tentang kejamnya alam di Mekah. Selain itu, juga mampu menghancurkan opini tentang lemahnya perempuan sebagai seorang makhluk. Terbukti dengan mampunya Siti Hajar melewati segala kesulitan dan kekeringan yang ada di sana dengan kaki tangannya sendiri. Perpaduan antara iman, ilmu dan amal yang terpatri kuat di dalam diri Siti Hajar mengantarkannya sebagai perempuan yang memiliki kemampuan manajerial yang sangat handal dalam menghadapi segala cobaan dan kesulitan hidup.

Cintanya yang begitu dalam terhadap Allah menyebabkan ia begitu tangguh melewati segala kesulitan dan tetap optimis akan hadirnya berkah Ilahi. Di sana, beliau tidak sekedar bertahan, tapi juga berpikir mencari nilai tambah. Mengurus bayinya sendiri tidak mengurangi niat dan kemampuannya untuk mengubah bumi secara bertahap dan selanjutnya akan membuat hidupnya lebih dinamis.

Dengan ilmu yang berasal dari Allah, membuatnya sering menemukan celah dan inspirasi untuk mengatasi tantangan yang sifatnya berkelanjutan. Kerja kerasnya selama di sana tentu saja mampu membawa perubahan. Serangkaian peristiwa yang terjadi mampu menjadikan Siti Hajar mengubah Mekah menjadi daerah hidup. Berada di bawah manajemen Siti Hajar, air zam-zam dapat dimanfaatkan oleh  banyak kafilah dengan menukarkan hewan ternak sebagai gantinya. Menetapnya Bani Jurhum di Mekah, membuat Hajar mendapat keluarga baru dan komunitas baru. Kebijaksanaan, keberkahan, dan karakter Hajar yang begitu tabah, kuat dan sabar membuatnya menjadi pemimpin. Pondasi sosial dan ekonomi berhasil terbentuk di kota Mekah yang akhirnya menjadikannya sebagai pusat aktivitas perdagangan.

Siti Hajar telah berhasil mempraktekkan sebuah sisi emansipasi yang hakiki. Mampunya beliau melewati segala kesulitan, mencari nafkah dan mengurus anak menjadikannya sebagai perintis pembangunan material dan spiritual. Banyak di antara ulama dan ahli menjulukinya sebagai ibu pembangunan Mekah. Karena kemampuannya mengontrol lingkungan di sekitar Mekah.

Kisah seorang Siti Hajar tentu saja mampu mengajarkan perempuan untuk tidak sekedar menuntut keterbukaan di segala aspek. Tapi bagi Siti Hajar, sebuah emansipasi hadir ketika seorang perempuan mampu memanfaatkan dan menjawab segala tantangan dan tetap menjalankan hal yang menjadi kodratnya.

Ibunda Hajar

Penulis                  : Dedi Ahimsa
Judul Buku             : Ibunda Hajar: Kisah Kekuatan Cinta, Iman, dan Pengorbanan.
Penerbit                : Zaman
Tebal                     : 180 halaman
Tahun Terbit         : 2009

Tulisan ini merupakan upaya pengikatan makna yang dilakukan setelah membaca buku “Ibunda Hajar: Kisah kekuatan Cinta, Iman dan Pengorbanan”. Mungkin ide tulisan ini akan terbagi menjadi beberapa bagian: (1) resume : konten buku dan opini mengenai buku, dan (2) filosofi nama.

Buku ini ditulis dengan menceritakan kisah sejarah, tetapi kita tetap dapat menikmatinya sebagai untaian cerita. Isi bukunya terdiri dari 8 chapter dan tiap chapter-nya memfokuskan pada suatu kisah yang berbeda. Pada awalnya saya berpikir, buku ini benar-benar mengupas tentang Siti Hajar secara lengkap. Ternyata dalam penceritaannya, sosok Putri Sarah dan Nabi Ibrahim tak bisa dilepaskan. Di awal bacaan, pembaca langsung disuguhkan kisah saat Siti Hajar yang ditinggalkan Nabi Ibrahim di padang pasir Mekkah  tanpa sumber makanan dan minuman tersisa, tanpa adanya kafilah yang lewat, suhu hingga 47 derajat. Beliau membawa Ismail dalam dekapannya dengan kondisi yang nyaris tanpa alas kaki. Diceritakan pula tentang perasaan Siti Hajar ditinggal Nabi Ibrahim nyaris tak pernah menoleh ketika dipanggil.

Di chapter kedua penulis mulai menceritakan sosok Siti Hajar. Dalam catatan kakinya dari Qishash al-Anbiya' dikisahkan Hajar adalah putri seorang raja Maroko, keturunan nabi Shaleh a.s. Ayahnya terbunuh oleh Fir'aun Dzu Al-Arsy. Sementara riwayat lain menyebutkan Hajar adalah putri seorang raja Mesir. Pada intinya, saat Fir'aun di zamannya berkuasa, masyarakat dijadikan budak istana. Hajar yang latar belakangnya bisa manajerial ditempatkan sebagai pemimpin budak-budak wanita di istana.

Buku ini juga mengisahkan sosok Ibrahim yang meyakini keesaan Tuhan, Allah. Kecerdasan dan keyakinannya membuat raja Namrudz murka. Raja itu sebetulnya meyakini Tuhan Ibrahim, tetapi ketakutan akan hilangnya kekuasaan membuatnya gelap mata. Itulah yang membuat Ibrahim dibakar hidup-hidup di tengah lapangan besar dan disaksikan masyarakat luas.

Hubungan Ibrahim, Sarah dan Hajar sangat baik layaknya keluarga yang saling mengasihi. Hajar memang budak hadiah, sejatinya dia putri raja yang merdeka dan punya keyakinan bahwa Allah Tuhan Ibrahim lah yang patut disembah. Sampai pada suatu ketika, Sarah meminta Ibrahim menikahi Hajar untuk mendapatkan keturunan. Berbagai kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi telah Ibrahim sampaikan, tetapi Sarah berkeras. Singkat cerita Ibrahim dan Hajar menikah dan memiliki anak, Ismail. Kelahirannya disambut sukacita. Tentu saja membayangkan suaminya harus bersama yang lain dalam satu atap. Sarah cemburu sebagai wanita, tetapi kecintaannya pada Allah, Ibrahim dan Hajar yang membuatnya lebih bersabar.

Sarah menggantikan tugas Hajar dalam membereskan rumah dan mencuci ketika Hajar tidak bisa. Hingga tiba pada suatu masa, Sarah menginginkan Hajar untuk pergi menjauh dari hadapannya. Sarah meminta Ibrahim membawanya ke tempat yang paling jauh hingga hilang dari pandangannya. Dengan memohon petunjuk Allah, Ibrahim membawa Hajar dan Ismail kecil melintasi perjalanan berbulan-bulan. “Semoga Allah melindungi kalian”, bisik Sarah dengan suara yang lirih.

Salah satu chapter di buku ini akan melihat perjuangan Siti Hajar bertahan di padang pasir yang panas tanpa sisa perbekalan lagi. Dengan kondisi seperti itu, Siti Hajar tetap menggantungkan dirinya pada keyakinannya akan dibantu Allah. Harapan bahwa pertolongan Allah akan segera datang. Hingga di akhir perjuangannya mencari kafilah dan sumber mata air, dari kaki Ismail terpancar sebuah sumber mata air.

Sumur air zamzam itu berada di bawah manajemen Hajar. Kafilah yang singgah diperbolehkan mengambil manfaatnya. Sebagai gantinya mereka harus menukarnya dengan hewan ternak. Kebijaksanaan, keberkahan, dan karakter Hajar yang begitu tabah, kuat dan sabar membuatnya menjadi pemimpin. Pondasi sosial dan ekonomi berhasil terbentuk, semakin hari Mekkah menjadi pusat aktivitas perdagangan. Dakwah Islam pun semakin mudah dilakukan. Dan terjawab sudah alasan Hajar ditempatkan Allah di tempat itu.

Kini ujian kembali menerpa keimanan Siti Hajar. Ibrahim mendapat perintah dari Allah untuk menyembelih Ismail. Karena keimanan dan keikhlasannya, malaikat diperintah Allah untuk mengganti Ismail menjadi seekor hewan. Ismail tidak takut, dia percaya dan pasrah bahwa kalau itu perintah Allah, maka harus dilaksanakan. Ya, Ismail tumbuh dibawah naungan kasih sayang Hajar, hingga besar memiliki kecintaan yang besar kepada Allah. (Sumber: http://hajahsofya.blogspot.com)


Idul Adha dan Perspektif Peran Perempuan dalam Keluarga

Oleh : M Kabul Budiono
Setiap kali umat Islam merayakan Idul Adha atau hari raya kurban ingatan akan senantiasa kembali menelusuri sejarah kehidupan Nabi Ibrahim AS beserta istrinya yaitu Siti Hajar dan anak mereka nabi Ismail AS. Pengalaman rohani tokoh dan pemimpin umat manusia beserta keluarganya itu diabadikan dalam ritual haji yang mencapai puncaknya pada wukuf di Arafah. Episode perjuangan Siti Hajar diabadikan dalam ritual sa’i yaitu berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak 7 kali, dilakukan setelah tawaf Ifadah.

Dengan melaksanakan sa’i para jemaah haji dan kita juga diingatkan pada peran Siti Hajar sebagai seorang istri dan ibu. Jika sekarang para jemaah haji melakukan sa’i dengan berlari kecil di tempat yang nyaman, maka tidak demikian halnya dengan Siti Hajar pada waktu itu. Kini para jemaah haji paling paling hanya mendapat kesulitan, karena penuh sesaknya jalur sa’i oleh para jemaah. Tetapi, kondisinya sudah begitu nyaman, karena terlindung dari panas matahari. Jalur Shafa Marwah pun sudah sedemikian rata dan halus. Keadaan ini sangat jauh berbeda dengan yang dialami Siti Hajar dan putranya Ismail. Dapat dibayangkan ratusan tahun lalu Mekah masih belum seperti sekarang. Tempat yang dikenal dengan lembah Bakka itu masih berupa lembah yang sepi dan gersang.

Tidak ada yang tinggal kecuali Siti Hajar dan bayi mungilnya, Ismail. Tidak ada air zamzam yang melimpah dan sejuk seperti sekarang. Karena itulah, saat ditinggal pergi oleh nabi Ibrahim, Hajar mesti berlari ke sana kemari mencari air. Hajar berlari kian kemari meninggalkan bayi Ismail yang kehausan. Dengan membayangkan kejadian itu dapatlah kita takar ketabahan dan kesetiaan Siti Hajar. Berkat kepribadian disertai ketakwaan itulah, Siti Hajar dapat membesarkan dan mendidik moral Ismail sehingga tumbuh menjadi nabi–seseorang yang tiada gamang menyerahkan hidupnya untuk dikorbankan atas perintah Tuhan.

Siti Hajar ketika itu harus menghadapi ujian yang tidak terhingga. Dari seorang budak perempuan, ia terangkat harkatnya menjadi istri seorang tokoh. Belum lama merasakan kebahagiaan berkat lahirnya bayi dari rahimnya, ia harus menghadapi kenyataan ditinggal pergi oleh suaminya, kembali ke tanah asal di Kanaan. Ia harus memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebagai Ibu, ia pun harus melindungi, membesarkan dan mendidik anaknya. Sebagai seorang perempuan ia mesti berjuang hidup di tengah lembah berbatu-batu yang gersang tanpa air. Ia mestinya sudah memaki dan menghujat suaminya yang pergi meninggalkan ia dan anaknya. Tetapi, Siti Hajar sungguh perempuan yang tabah dan sabar. Ketika Ismail tumbuh besar, suaminya pun kembali ke tengah mereka. Namun, cobaan dan ujian belumlah usai. Ismail buah hati hiasan mata harus dikorbankan atas perintah Tuhan mereka. Kehilangan anak kesayangan tidaklah menggoyahkan imannya. Ia relakan karena ia meyakini semua memang berasal dari sang Pencipta yang dapat mengambil kembali kapan saja. Siti Hajar dapat menghadapi semuanya dengan tabah. Ia tentu sangat bahagia dan bangga ketika Ismail dengan tenang justru mengatakan kepada ayahnya, “ Jika itu kehendak Allah, maka lakukanlah “.

Kehidupan sekarang tidaklah dapat dibandingkan dengan zaman Ibrahim dan Siti Hajar. Siti Hajar tidak dihadapkan pada realitas emansipasi dan tuntutan persamaan hak. Pun tidak ada kebutuhan ekonomi keluarga sebagaimana dihadapi keluarga di zaman sekarang. Namun, bukan atas dasar perbedaan itu, maka kita lantas tidak bisa mengambil dari hikmah.
Selamat Idul Adha!