17
Agustus 2012 lalu, Indonesia telah memasuki usia kemerdekaan yang ke-67 tahun.
Soekarno dan Mohammad Hatta yang dikenal sebagai tokoh proklamator kemerdekaan
Indonesia. Tak banyak yang memperhatikan, selain dua nama tersebut masih ada
nama lain yang turut serta berperan dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Setidaknya ada beberapa nama tokoh perempuan yang turut berperan dalam
proklamasi kemerdekaan Indonesia 67 tahun silam, salah satunya adalah Ibu
Fatmawati.
Fatmawati adalah isteri dari presiden pertama RI, Ir. Soekarno.
Perempuan ini juga dikenal sebagai penjahit bendera Indonesia yang dikibarkan
saat proklamasi dilakukan. Lahir dari orang tua yang berlatar belakang
Muhammadiyah, membentuk karakternya menjadi seorang anak yang tidak sekedar
patuh pada tradisinya, tetapi lebih cenderung untuk menyikapi segala bentuk
potret kehidupan sosio-kulturalnya.
Sebelum memasuki usia sekolah, Fatmawati kecil telah menempa diri
dengan mengaji dan belajar agama (membaca dan menulis Al Qur’an) pada datuknya
(kakek), maupun kepada seorang guru agama. Semangat untuk belajar agama secara
ekstra terutama di Sekolah Standar Muhammadiyah masih terus dilakukan, meskipun
beliau sudah mulai memasuki sekolah di HIS (Hollandsch Inlandsch School) pada
tahun 1930 (Fatmawati, 1978:20-21).
Masa
sekolah dan masa perjuangan seringkali begitu akrab bergumul dalam entitas
waktu. Hal ini tidaklah menyurutkan semangat bagi seorang Fatmawati ketika
harus berpindah-pindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain mengikuti
gerak langkah perjuangan ayahnya selaku pucuk pimpinan perserikatan
Muhammadiyah di Bengkulu. Sebaliknya, pengalaman-pengalaman tersebut justru
semakin menempa mentalitas perjuangannya. Terlebih setelah mengenal Bung Karno
sebagai gurunya (yang kemudian menjadi suaminya). Fatmawati yang baru menginjak
usia 15 tahun telah mampu diajak dalam perbincangan dan diskusi mengenai
filsafat Islam, hukum-hukum Islam, termasuk masalah gender dalam pandangan
hukum Islam. Bahkan Bung Karno sendiri sebagai gurunya telah mengakui kecerdasan
Fatmawati (Cindy Adams, 1966: 185-198). Dengan jiwa, semangat, dan ketajaman
berpikir terhadap ajaran agama Islam, beliau mampu mengoperasionalisasikan
fungsi rasionalitasnya sebagai pengendali dari unsur-unsur emosi yang selalu
merangsang dalam setiap detik kehidupan manusia.
Setelah menikah pada bulan Juni 1943 dengan Bung Karno, Ibu
Fatmawati segera berangkat ke Jakarta. Tidak sekedar untuk memenuhi
kewajibannya sebagai seorang istri pemimpin pejuang rakyat Indonesia, tetapi
juga ikut berperan aktif dan bergabung bersama para tokoh pejuang nasional
lainnya untuk membela nusa dan bangsa. Bahkan, Bung Karno selaku pemimpin
pejuang tidak ragu-ragu untuk sering meminta pendapat, maupun pertimbangan
mengenai langkah-langkah perjuangannya.
Perjuangan bangsa Indonesia pada akhirnya telah mencapai titik
kulminasi, yaitu dengan diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17
Agustus 1945 di Pegangsaan Timur, 56 Jakarta. Dan selama ini belum pernah ada
klaim dari salah seorang pejuang yang mengaku telah mempersiapkan sebuah
bendera untuk kemerdekaan Indonesia, kecuali Ibu Fatmawati. Berikut petikan
dari karya tulisan beliau yang berjudul: Catatan Kecil Bersama Bung Karno
(Fatmawati, 1978: 86), “Ketika akan melangkahkan kakiku keluar dari pintu terdengarlah
teriakan bahwa bendera belum ada, kemudian aku berbalik mengambil bendera yang
aku buat tatkala Guntur masih dalam kandungan, satu setengah tahun yang lalu.
Bendera itu aku berikan pada salah seorang yang hadir di tempat di depan kamar
tidurku.”
Atas
dasar petikan di atas, jelaslah bahwa buah refleksi pemikiran perjuangan Ibu
Fatmawati ternyata telah mampu melampaui batas-batas pemikiran para pejuang
bangsa pada umumnya. Karena Ibu Fatmawati telah menyiapkan bendera merah putih
selama satu setengah tahun yang lalu. Ibu Fatmawati tidak sekedar berperan
sebagai penjahit sebuah bendera pusaka, sebagaimana yang hanya dipahami oleh
para generasi masa sekarang. Akan tetapi jiwa dan semangat juang yang telah
diperankan beliau terasa sangat jauh dan sangat mendalam. Maka sungguhlah amat
sulit untuk mengukur secara konkrit betapa besarnya jiwa kepahlawanan yang
telah beliau sumbangkan kepada nusa dan bangsa Indonesia.
0 komentar:
Posting Komentar