Selasa, 13 November 2012

Fatmawati: Tokoh Perempuan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

17 Agustus 2012 lalu, Indonesia telah memasuki usia kemerdekaan yang ke-67 tahun. Soekarno dan Mohammad Hatta yang dikenal sebagai tokoh proklamator kemerdekaan Indonesia. Tak banyak yang memperhatikan, selain dua nama tersebut masih ada nama lain yang turut serta berperan dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia. Setidaknya ada beberapa nama tokoh perempuan yang turut berperan dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia 67 tahun silam, salah satunya adalah Ibu Fatmawati.

Fatmawati adalah isteri dari presiden pertama RI, Ir. Soekarno. Perempuan ini juga dikenal sebagai penjahit bendera Indonesia yang dikibarkan saat proklamasi dilakukan. Lahir dari orang tua yang berlatar belakang Muhammadiyah, membentuk karakternya menjadi seorang anak yang tidak sekedar patuh pada tradisinya, tetapi lebih cenderung untuk menyikapi segala bentuk potret kehidupan sosio-kulturalnya.

Sebelum memasuki usia sekolah, Fatmawati kecil telah menempa diri dengan mengaji dan belajar agama (membaca dan menulis Al Qur’an) pada datuknya (kakek), maupun kepada seorang guru agama. Semangat untuk belajar agama secara ekstra terutama di Sekolah Standar Muhammadiyah masih terus dilakukan, meskipun beliau sudah mulai memasuki sekolah di HIS (Hollandsch Inlandsch School) pada tahun 1930 (Fatmawati, 1978:20-21).

Masa sekolah dan masa perjuangan seringkali begitu akrab bergumul dalam entitas waktu. Hal ini tidaklah menyurutkan semangat bagi seorang Fatmawati ketika harus berpindah-pindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain mengikuti gerak langkah perjuangan ayahnya selaku pucuk pimpinan perserikatan Muhammadiyah di Bengkulu. Sebaliknya, pengalaman-pengalaman tersebut justru semakin menempa mentalitas perjuangannya. Terlebih setelah mengenal Bung Karno sebagai gurunya (yang kemudian menjadi suaminya). Fatmawati yang baru menginjak usia 15 tahun telah mampu diajak dalam perbincangan dan diskusi mengenai filsafat Islam, hukum-hukum Islam, termasuk masalah gender dalam pandangan hukum Islam. Bahkan Bung Karno sendiri sebagai gurunya telah mengakui kecerdasan Fatmawati (Cindy Adams, 1966: 185-198). Dengan jiwa, semangat, dan ketajaman berpikir terhadap ajaran agama Islam, beliau mampu mengoperasionalisasikan fungsi rasionalitasnya sebagai pengendali dari unsur-unsur emosi yang selalu merangsang dalam setiap detik kehidupan manusia.

Setelah menikah pada bulan Juni 1943 dengan Bung Karno, Ibu Fatmawati segera berangkat ke Jakarta. Tidak sekedar untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri pemimpin pejuang rakyat Indonesia, tetapi juga ikut berperan aktif dan bergabung bersama para tokoh pejuang nasional lainnya untuk membela nusa dan bangsa. Bahkan, Bung Karno selaku pemimpin pejuang tidak ragu-ragu untuk sering meminta pendapat, maupun pertimbangan mengenai langkah-langkah perjuangannya.

Perjuangan bangsa Indonesia pada akhirnya telah mencapai titik kulminasi, yaitu dengan diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur, 56 Jakarta. Dan selama ini belum pernah ada klaim dari salah seorang pejuang yang mengaku telah mempersiapkan sebuah bendera untuk kemerdekaan Indonesia, kecuali Ibu Fatmawati. Berikut petikan dari karya tulisan beliau yang berjudul: Catatan Kecil Bersama Bung Karno (Fatmawati, 1978: 86), “Ketika akan melangkahkan kakiku keluar dari pintu terdengarlah teriakan bahwa bendera belum ada, kemudian aku berbalik mengambil bendera yang aku buat tatkala Guntur masih dalam kandungan, satu setengah tahun yang lalu. Bendera itu aku berikan pada salah seorang yang hadir di tempat di depan kamar tidurku.”

Atas dasar petikan di atas, jelaslah bahwa buah refleksi pemikiran perjuangan Ibu Fatmawati ternyata telah mampu melampaui batas-batas pemikiran para pejuang bangsa pada umumnya. Karena Ibu Fatmawati telah menyiapkan bendera merah putih selama satu setengah tahun yang lalu. Ibu Fatmawati tidak sekedar berperan sebagai penjahit sebuah bendera pusaka, sebagaimana yang hanya dipahami oleh para generasi masa sekarang. Akan tetapi jiwa dan semangat juang yang telah diperankan beliau terasa sangat jauh dan sangat mendalam. Maka sungguhlah amat sulit untuk mengukur secara konkrit betapa besarnya jiwa kepahlawanan yang telah beliau sumbangkan kepada nusa dan bangsa Indonesia.


0 komentar:

Posting Komentar