Oleh : M Kabul Budiono
Setiap kali umat
Islam merayakan Idul Adha atau hari raya kurban ingatan akan senantiasa kembali
menelusuri sejarah kehidupan Nabi Ibrahim AS beserta istrinya yaitu Siti Hajar
dan anak mereka nabi Ismail AS. Pengalaman rohani tokoh dan pemimpin umat
manusia beserta keluarganya itu diabadikan dalam ritual haji yang mencapai
puncaknya pada wukuf di Arafah. Episode perjuangan Siti Hajar diabadikan dalam
ritual sa’i yaitu berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah
sebanyak 7 kali, dilakukan setelah tawaf Ifadah.
Dengan melaksanakan sa’i
para jemaah haji dan kita juga diingatkan pada peran Siti Hajar sebagai
seorang istri dan ibu. Jika sekarang para jemaah haji melakukan sa’i dengan berlari
kecil di tempat yang nyaman, maka tidak demikian halnya dengan Siti Hajar pada
waktu itu. Kini para jemaah haji paling paling hanya mendapat kesulitan, karena
penuh sesaknya jalur sa’i oleh para jemaah. Tetapi, kondisinya sudah
begitu nyaman, karena terlindung dari panas matahari. Jalur Shafa Marwah pun
sudah sedemikian rata dan halus. Keadaan ini sangat jauh berbeda dengan yang
dialami Siti Hajar dan putranya Ismail. Dapat dibayangkan ratusan tahun lalu
Mekah masih belum seperti sekarang. Tempat yang dikenal dengan lembah Bakka itu
masih berupa lembah yang sepi dan gersang.
Tidak ada yang
tinggal kecuali Siti Hajar dan bayi mungilnya, Ismail. Tidak ada air zamzam
yang melimpah dan sejuk seperti sekarang. Karena itulah, saat ditinggal pergi
oleh nabi Ibrahim, Hajar mesti berlari ke sana kemari mencari air. Hajar
berlari kian kemari meninggalkan bayi Ismail yang kehausan. Dengan membayangkan
kejadian itu dapatlah kita takar ketabahan dan kesetiaan Siti Hajar. Berkat
kepribadian disertai ketakwaan itulah, Siti Hajar dapat membesarkan dan
mendidik moral Ismail sehingga tumbuh menjadi nabi–seseorang yang tiada gamang
menyerahkan hidupnya untuk dikorbankan atas perintah Tuhan.
Siti Hajar ketika itu
harus menghadapi ujian yang tidak terhingga. Dari seorang budak perempuan, ia
terangkat harkatnya menjadi istri seorang tokoh. Belum lama merasakan
kebahagiaan berkat lahirnya bayi dari rahimnya, ia harus menghadapi kenyataan ditinggal
pergi oleh suaminya, kembali ke tanah asal di Kanaan. Ia harus memenuhi
kebutuhan hidupnya. Sebagai Ibu, ia pun harus melindungi, membesarkan dan
mendidik anaknya. Sebagai seorang perempuan ia mesti berjuang hidup di tengah
lembah berbatu-batu yang gersang tanpa air. Ia mestinya sudah memaki dan
menghujat suaminya yang pergi meninggalkan ia dan anaknya. Tetapi, Siti Hajar
sungguh perempuan yang tabah dan sabar. Ketika Ismail tumbuh besar, suaminya
pun kembali ke tengah mereka. Namun, cobaan dan ujian belumlah usai. Ismail
buah hati hiasan mata harus dikorbankan atas perintah Tuhan mereka. Kehilangan
anak kesayangan tidaklah menggoyahkan imannya. Ia relakan karena ia meyakini
semua memang berasal dari sang Pencipta yang dapat mengambil kembali kapan
saja. Siti Hajar dapat menghadapi semuanya dengan tabah. Ia tentu sangat
bahagia dan bangga ketika Ismail dengan tenang justru mengatakan kepada
ayahnya, “ Jika itu kehendak Allah, maka lakukanlah “.
Kehidupan sekarang
tidaklah dapat dibandingkan dengan zaman Ibrahim dan Siti Hajar. Siti Hajar
tidak dihadapkan pada realitas emansipasi dan tuntutan persamaan hak. Pun tidak
ada kebutuhan ekonomi keluarga sebagaimana dihadapi keluarga di zaman sekarang.
Namun, bukan atas dasar perbedaan itu, maka kita lantas tidak bisa mengambil
dari hikmah.
Selamat Idul Adha!
0 komentar:
Posting Komentar