Selasa, 13 November 2012

Idul Adha dan Perspektif Peran Perempuan dalam Keluarga

Oleh : M Kabul Budiono
Setiap kali umat Islam merayakan Idul Adha atau hari raya kurban ingatan akan senantiasa kembali menelusuri sejarah kehidupan Nabi Ibrahim AS beserta istrinya yaitu Siti Hajar dan anak mereka nabi Ismail AS. Pengalaman rohani tokoh dan pemimpin umat manusia beserta keluarganya itu diabadikan dalam ritual haji yang mencapai puncaknya pada wukuf di Arafah. Episode perjuangan Siti Hajar diabadikan dalam ritual sa’i yaitu berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak 7 kali, dilakukan setelah tawaf Ifadah.

Dengan melaksanakan sa’i para jemaah haji dan kita juga diingatkan pada peran Siti Hajar sebagai seorang istri dan ibu. Jika sekarang para jemaah haji melakukan sa’i dengan berlari kecil di tempat yang nyaman, maka tidak demikian halnya dengan Siti Hajar pada waktu itu. Kini para jemaah haji paling paling hanya mendapat kesulitan, karena penuh sesaknya jalur sa’i oleh para jemaah. Tetapi, kondisinya sudah begitu nyaman, karena terlindung dari panas matahari. Jalur Shafa Marwah pun sudah sedemikian rata dan halus. Keadaan ini sangat jauh berbeda dengan yang dialami Siti Hajar dan putranya Ismail. Dapat dibayangkan ratusan tahun lalu Mekah masih belum seperti sekarang. Tempat yang dikenal dengan lembah Bakka itu masih berupa lembah yang sepi dan gersang.

Tidak ada yang tinggal kecuali Siti Hajar dan bayi mungilnya, Ismail. Tidak ada air zamzam yang melimpah dan sejuk seperti sekarang. Karena itulah, saat ditinggal pergi oleh nabi Ibrahim, Hajar mesti berlari ke sana kemari mencari air. Hajar berlari kian kemari meninggalkan bayi Ismail yang kehausan. Dengan membayangkan kejadian itu dapatlah kita takar ketabahan dan kesetiaan Siti Hajar. Berkat kepribadian disertai ketakwaan itulah, Siti Hajar dapat membesarkan dan mendidik moral Ismail sehingga tumbuh menjadi nabi–seseorang yang tiada gamang menyerahkan hidupnya untuk dikorbankan atas perintah Tuhan.

Siti Hajar ketika itu harus menghadapi ujian yang tidak terhingga. Dari seorang budak perempuan, ia terangkat harkatnya menjadi istri seorang tokoh. Belum lama merasakan kebahagiaan berkat lahirnya bayi dari rahimnya, ia harus menghadapi kenyataan ditinggal pergi oleh suaminya, kembali ke tanah asal di Kanaan. Ia harus memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebagai Ibu, ia pun harus melindungi, membesarkan dan mendidik anaknya. Sebagai seorang perempuan ia mesti berjuang hidup di tengah lembah berbatu-batu yang gersang tanpa air. Ia mestinya sudah memaki dan menghujat suaminya yang pergi meninggalkan ia dan anaknya. Tetapi, Siti Hajar sungguh perempuan yang tabah dan sabar. Ketika Ismail tumbuh besar, suaminya pun kembali ke tengah mereka. Namun, cobaan dan ujian belumlah usai. Ismail buah hati hiasan mata harus dikorbankan atas perintah Tuhan mereka. Kehilangan anak kesayangan tidaklah menggoyahkan imannya. Ia relakan karena ia meyakini semua memang berasal dari sang Pencipta yang dapat mengambil kembali kapan saja. Siti Hajar dapat menghadapi semuanya dengan tabah. Ia tentu sangat bahagia dan bangga ketika Ismail dengan tenang justru mengatakan kepada ayahnya, “ Jika itu kehendak Allah, maka lakukanlah “.

Kehidupan sekarang tidaklah dapat dibandingkan dengan zaman Ibrahim dan Siti Hajar. Siti Hajar tidak dihadapkan pada realitas emansipasi dan tuntutan persamaan hak. Pun tidak ada kebutuhan ekonomi keluarga sebagaimana dihadapi keluarga di zaman sekarang. Namun, bukan atas dasar perbedaan itu, maka kita lantas tidak bisa mengambil dari hikmah.
Selamat Idul Adha!

0 komentar:

Posting Komentar