Oleh:
Malikha Zahra
Fashion
sangat melekat dalam diri seorang perempuan yang kini kian meramaikan jagat
kebutuhan wanita, khususnya wanita muslimah. Emansispasi menjadi salah satu
alasan berkembang pesatnya lifestyle perempuan berhijab. Mencoba
menerobos kungkungan atas kreatifitas setiap manusia. Ya, setiap manusia berhak
memperoleh dan mengaplikasikan pengetahuan sebagai fitrahnya serta menciptakan
hal baru sebagai wujud inovatif dalam peradaban. Dan kaum hawa juga mulai
memperoleh haknya. Namun, apakah kita bebas untuk mengekspresikannya atau ada
hal yang mengatur di belakangnya?
Fenomena
“hijabers” yang kian digandrungi oleh muslimah, akhirnya menjadi sebuah gaya
hidup yang menjamur di seluruh Indonesia. Pro dan kontra pun kerap kali muncul
dalam diskusi-diskusi kecil para komunitas perempuan, bahkan kaum Adam pun
sering membincangkannya. Sontak gaya hidup ini menjadi spirit bagi
perempuan-perempuan untuk ingin berusaha menyempurnakan dirinya dengan
berjilbab, bahkan beberapa aktris pun melakukannya. Namun, yang disayangkan
adalah paradigma perempuan muslimah yang “hanya” mempercantik gaya atau model
pakaian serta jilbabnya. Terbukti dengan semakin banyaknya tutorial-tutorial
menggunakan jilbab, agar nampak rapi dan trendi. Selayaknya banyak kemuliaan
dan keindahan perempuan yang dapat digali, mulai dari kecerdasan intelektualnya
sampai spiritnya berjuang dengan kasih dan cintanya kepada Sang Pemilik Cinta,
seperti yang dilakukan oleh perempuan teladan dan mulia sepanjang masa, yaitu
Fatimah Az Zahra. Beliau dengan kezuhudannya mengatakan kepada Rasulullah SAW: “Wahai
Rasulullah, Salman heran melihat pakaianku. Demi yang mengutusmu dengan
kebenaran, aku dan Ali sejak lima tahun tidak memiliki sesuatu pun kecuali
kulit domba yang pakai untuk memberikan makan onta kami pada siang hari dan
menjadikannya tikar pada malam hari, dan bantal kami terbuat dari kulit yang
berisi sabut.” Dapat dilihat bahwa lifestyle yang diciptakan oleh
Fatimah Az Zahra berkaitan dengan sebuah susbstansi nilai, yaitu perjuangan
akan kebenaran dan keadilan. Terlebih lagi dengan sebuah keikhlasan dan
kezuhudan yang dimiliki menjadikannya manusia suci yang sangat dicintai baginda
Rasulullah SAW.
Sejatinya
setiap manusia termasuk perempuan memiliki dua tanggung jawab, yaitu tanggung
jawab sebagai individu yang berkaitan dengan personal dan hubungan vertikalnya
dengan Tuhan, seperti salat, puasa, doa, dan lainnya. Dan yang kedua adalah
tanggung jawab sosial sebagai makhluk sosial perlu meletakkan keberpihakannya
pada perjuanagn kemanusiaan, baik dalam keluarga, masyarakat, bangsa, dan
lainnya. Hal ini meniscayakan bahwa perempuan pun penting untuk membuat tatanan
sosial masyarakat yang pro keadilan dan kebenaran baik yang dimulai dengan
mendidik calon generasi masa depan sampai menjadikannya pemimpin masa depan.
Tentunya persoalan mendidik bukanlah hal yang enteng, butuh pengetahuan yang
luas untuk memaksimalkannya. Supaya tak ada lagi koruptor masa depan, kapitalis
masa depan, dan lainnya. Oleh karena itu, lifestyle masa kini seyogyanya
memberi perhatian pada ranah intelektual, emosional, dan spiritual seorang
perempuan. Misalnya, gaya hidup perempuan gemar membaca, berlembaga, diskusi, menulis,
dan dekat dengan kaum mustadhafin. Ketika pola hidup tersebut yang menjadi
tren, impian tentang revolusi dunia mungkin akan segera tampak. Karena baik
laki-laki maupun perempuan akan saling melengkapi perjuangannya di jalan Tuhan.
Perjalanan menuju substansi cinta.
Karena
sang Penguasa langit dan bumi memberikan kesempatan kita untuk mencicipi dunia,
maka tugas setiap manusia adalah menjadi pasukan Tuhan di muka bumi. Atau
istilah lainnya adalah khalifah di muka bumi. Dalam bahasa sederhananya kita
sebut dengan berjuang. Berjuang tak lagi atas namaa ego diri, keluarga,
kelompok, atau suku. Namun, lebih mulia daripada itu adalah atas nama semesta
dan nilai. Sehingga, dalam hal lifestyle untuk perempuan pun sejatinya
berlandaskan nilai dan bertujuan menjadi insan kamil.
Wahai
perempuan, keindahanmu tampak dari rona kebijaksanaanmu
Kemuliaanmu
ada pada hasrat intelektualmu yang tak berujung
Dan
keagunganmu tampak dari spirit perjuanganmu menghempas kezaliman.
(Winda Junita
Ilyas)
0 komentar:
Posting Komentar