Perempuan
hari ini cenderung sibuk mempercantik penampilan fisiknya saja, mengelilingi
pusat perbelanjaan, berkumpul dan bergosip bersama dengan ibu-ibu yang lain,
tanpa pernah memikirkan hal-hal yang sifatnya sosial. Berbeda dengan seorang
perempuan yang satu ini. Tawakkul Karman seorang peraih nobel perdamaian dari
Yaman yang malah sibuk menjadi seorang aktivis HAM.
Tahun 2011, beliau
menjadi pemimpin Revolusi Melati untuk menumbangkan rezim Yaman yang korup.
Suatu pagi, ratusan orang yang membebat kepala dan lengan dengan pita bewarna
pink berkumpul di depan gerbang Universitas Sana’a. Seorang perempuan berjilbab
dengan busana bermotif bunga menaiki mimbar. “Kita akan terus berjuang menggerakkan
Revolusi Melati ini, sampai sistem korup yang merampok kemakmuran rakyat Yaman
tumbang!” teriak perempuan bernama lengkap Tawakkul Abdus Salam Karman itu.
Massa pun bertepuk gemuruh.
Bagi
Tawakkul, rezim Saleh tidak hanya merampok masa depan kaum muda Yaman, tapi
juga merampas kehormatan mereka. Meski sebagian rakyat Yaman terinspirasi
perlawanan kekerasan model Al-Qaeda, namun ia tetap memilih perjuangan dengan
jalan damai. Lebih-lebih, Tawakkul lahir di daerah Mekhlaf, Provinsi Ta’izz,
yang oleh banyak kalangan dianggap sebagai kampungnya Islam garis keras.
Pada
awal Januari 2011, ia ditangkap aparat pemerintah dan diseret dari dalam
mobilnya. Sejak peristiwa itu, Yaman menyedot perhatian dunia, dan penangkapan
itu menjadi pemicu ribuan demonstran turun ke jalan-jalan kota menyerukan
Revolusi Melati. Puncaknya, pada 18 Maret 2011, ribuan warga shalat Jumat
memadati Dairy Street, di Sahah Taghyir untuk menyampaikan tuntutannya
tiba-tiba diberondong tembakan dari atas gedung.
Sebagaimana
kebiasaan sejak eskalasi protes makin meningkat di Yaman, hari Jumat bukanlah
waktunya perempuan turun ke jalan. Karena, biasanya perempuan berdemonstrasi
pada hari Kamis. Tak lama setelah insiden penembakan itu Tawakkul tampak
setengah berlari ke arah kemurunan massa yang panik. Sontak, momen itu
diabadikan para pewarta, baik domestik maupun mancanegara.
Tawakkul
menyatakan siap mati, dan ia yakin rakyat semakin sadar betapa kejamnya
Presiden Saleh yang telah membunuh seorang perempuan yang kerap menyerukan
perjuangan damai. Setelah kejadian yang merenggut nyawa 70-an orang itu Yaman
tak pernah sepi dari demonstrasi. Salah satu spanduk yang terentang selama aksi
melawan rezim Saleh tertulis: Kami telah mencium bau melati.
Tawakkul
mengangkat derajat perempuan di Yaman yang masih diperintah secara kesukuan dan
patriarkis. Sementara itu, buta huruf di kalangan perempuan Yaman juga masih
menjadi masalah yang merisaukan. Tambahan, kaum hawa banyak yang menderita gizi
buruk karena keluarganya cenderung mengistimewakan anak lelaki. Tawakkul
menyadari bahwa usahanya itu mendapatkan banyak hambatan dari orang-orang yang
ia sebut sebagai kaum ekstremis. Mereka membicarakannya di masjid-masjid dan
mengeluarkan selebaran yang mengutuknya tidak Islami. Mungkin karena pernyataan-pernyataan
pedasnya itulah ia juga dijuluki “Wanita Besi”.
Pada
10 Desember 2011, dalam sebuah upacara bergengsi di Oslo, Norwegia, Tawakkul
Karman bersama dua perempuan lainnya, yakni Presiden Liberia Ellen Johnson dan
Leymah Gbowee, meraih penghargaan Nobel perdamaian. Sebelumnya, Tawakkul masih
berada di tenda perlawanan para demonstran ketika ia menerima kabar dinobatkan
sebagai perempuan Arab pertama dan sekaligus termuda yang menerima hadiah Nobel
pada usia 32 tahun.
Kehormatan itu
dipersembahkannya untuk setiap perempuan yang kehilangan anak, suami atau
saudara pada musim semi (Arab Spring) Revolusi Arab selama ini.“Manakala perempuan
diperlakukan tidak adil dan tersingkir dari hak alaminya dalam proses
bernegara, maka segala kekurangan sosial dan penyakit budaya akan terhampar.
Pada ujungnya seluruh anggota komunitas, baik lelaki maupun perempuan, akan
sama-sama menderita,” papar Tawakkul dalam pidato penerimaan Nobelnya.
Bagi
Tawakkul, ada empat tahapan dalam Revolusi Melati, yaitu: menumbangkan sang
diktator dan keluarganya; menumbangkan aparat keamanan dan militer serta
jaringan nepotismenya; mendirikan kelembagaan tradisional; dan mendirikan
negara demokratis dan sipil modern.
0 komentar:
Posting Komentar