Selasa, 13 November 2012

Tawakkul Karman : Ibu Revolusi Melati dari Yaman

Perempuan hari ini cenderung sibuk mempercantik penampilan fisiknya saja, mengelilingi pusat perbelanjaan, berkumpul dan bergosip bersama dengan ibu-ibu yang lain, tanpa pernah memikirkan hal-hal yang sifatnya sosial. Berbeda dengan seorang perempuan yang satu ini. Tawakkul Karman seorang peraih nobel perdamaian dari Yaman yang malah sibuk menjadi seorang aktivis HAM.

Tahun 2011, beliau menjadi pemimpin Revolusi Melati untuk menumbangkan rezim Yaman yang korup. Suatu pagi, ratusan orang yang membebat kepala dan lengan dengan pita bewarna pink berkumpul di depan gerbang Universitas Sana’a. Seorang perempuan berjilbab dengan busana bermotif bunga menaiki mimbar. “Kita akan terus berjuang menggerakkan Revolusi Melati ini, sampai sistem korup yang merampok kemakmuran rakyat Yaman tumbang!” teriak perempuan bernama lengkap Tawakkul Abdus Salam Karman itu. Massa pun bertepuk gemuruh.

Bagi Tawakkul, rezim Saleh tidak hanya merampok masa depan kaum muda Yaman, tapi juga merampas kehormatan mereka. Meski sebagian rakyat Yaman terinspirasi perlawanan kekerasan model Al-Qaeda, namun ia tetap memilih perjuangan dengan jalan damai. Lebih-lebih, Tawakkul lahir di daerah Mekhlaf, Provinsi Ta’izz, yang oleh banyak kalangan dianggap sebagai kampungnya Islam garis keras.

Pada awal Januari 2011, ia ditangkap aparat pemerintah dan diseret dari dalam mobilnya. Sejak peristiwa itu, Yaman menyedot perhatian dunia, dan penangkapan itu menjadi pemicu ribuan demonstran turun ke jalan-jalan kota menyerukan Revolusi Melati. Puncaknya, pada 18 Maret 2011, ribuan warga shalat Jumat memadati Dairy Street, di Sahah Taghyir untuk menyampaikan tuntutannya tiba-tiba diberondong tembakan dari atas gedung.

Sebagaimana kebiasaan sejak eskalasi protes makin meningkat di Yaman, hari Jumat bukanlah waktunya perempuan turun ke jalan. Karena, biasanya perempuan berdemonstrasi pada hari Kamis. Tak lama setelah insiden penembakan itu Tawakkul tampak setengah berlari ke arah kemurunan massa yang panik. Sontak, momen itu diabadikan para pewarta, baik domestik maupun mancanegara.

Tawakkul menyatakan siap mati, dan ia yakin rakyat semakin sadar betapa kejamnya Presiden Saleh yang telah membunuh seorang perempuan yang kerap menyerukan perjuangan damai. Setelah kejadian yang merenggut nyawa 70-an orang itu Yaman tak pernah sepi dari demonstrasi. Salah satu spanduk yang terentang selama aksi melawan rezim Saleh tertulis: Kami telah mencium bau melati.

Tawakkul mengangkat derajat perempuan di Yaman yang masih diperintah secara kesukuan dan patriarkis. Sementara itu, buta huruf di kalangan perempuan Yaman juga masih menjadi masalah yang merisaukan. Tambahan, kaum hawa banyak yang menderita gizi buruk karena keluarganya cenderung mengistimewakan anak lelaki. Tawakkul menyadari bahwa usahanya itu mendapatkan banyak hambatan dari orang-orang yang ia sebut sebagai kaum ekstremis. Mereka membicarakannya di masjid-masjid dan mengeluarkan selebaran yang mengutuknya tidak Islami. Mungkin karena pernyataan-pernyataan pedasnya itulah ia juga dijuluki “Wanita Besi”.

Pada 10 Desember 2011, dalam sebuah upacara bergengsi di Oslo, Norwegia, Tawakkul Karman bersama dua perempuan lainnya, yakni Presiden Liberia Ellen Johnson dan Leymah Gbowee, meraih penghargaan Nobel perdamaian. Sebelumnya, Tawakkul masih berada di tenda perlawanan para demonstran ketika ia menerima kabar dinobatkan sebagai perempuan Arab pertama dan sekaligus termuda yang menerima hadiah Nobel pada usia 32 tahun.
Kehormatan itu dipersembahkannya untuk setiap perempuan yang kehilangan anak, suami atau saudara pada musim semi (Arab Spring) Revolusi Arab selama ini.“Manakala perempuan diperlakukan tidak adil dan tersingkir dari hak alaminya dalam proses bernegara, maka segala kekurangan sosial dan penyakit budaya akan terhampar. Pada ujungnya seluruh anggota komunitas, baik lelaki maupun perempuan, akan sama-sama menderita,” papar Tawakkul dalam pidato penerimaan Nobelnya.

Bagi Tawakkul, ada empat tahapan dalam Revolusi Melati, yaitu: menumbangkan sang diktator dan keluarganya; menumbangkan aparat keamanan dan militer serta jaringan nepotismenya; mendirikan kelembagaan tradisional; dan mendirikan negara demokratis dan sipil modern.

0 komentar:

Posting Komentar