Penulis :
Dedi Ahimsa
Judul Buku
: Ibunda Hajar: Kisah Kekuatan Cinta, Iman, dan Pengorbanan.
Penerbit : Zaman
Tebal :
180 halaman
Tahun Terbit :
2009
Tulisan ini merupakan
upaya pengikatan makna yang dilakukan setelah membaca buku “Ibunda Hajar: Kisah
kekuatan Cinta, Iman dan Pengorbanan”. Mungkin ide tulisan ini akan terbagi
menjadi beberapa bagian: (1) resume : konten buku dan opini mengenai buku, dan
(2) filosofi nama.
Buku ini ditulis
dengan menceritakan kisah sejarah, tetapi kita tetap dapat menikmatinya sebagai
untaian cerita. Isi bukunya terdiri dari 8 chapter dan
tiap chapter-nya
memfokuskan pada suatu kisah yang berbeda. Pada awalnya saya berpikir, buku ini
benar-benar mengupas tentang Siti Hajar secara lengkap. Ternyata dalam
penceritaannya, sosok Putri Sarah dan Nabi Ibrahim tak bisa dilepaskan.
Di awal bacaan, pembaca langsung disuguhkan kisah saat Siti Hajar yang
ditinggalkan Nabi Ibrahim di padang pasir Mekkah tanpa sumber makanan dan
minuman tersisa, tanpa adanya kafilah yang lewat, suhu hingga 47 derajat.
Beliau membawa Ismail dalam dekapannya dengan kondisi yang nyaris tanpa alas
kaki. Diceritakan pula tentang perasaan Siti Hajar ditinggal Nabi Ibrahim
nyaris tak pernah menoleh ketika dipanggil.
Di chapter
kedua penulis mulai menceritakan sosok Siti Hajar. Dalam catatan kakinya dari
Qishash al-Anbiya' dikisahkan Hajar adalah putri seorang raja Maroko, keturunan
nabi Shaleh a.s. Ayahnya terbunuh oleh Fir'aun Dzu Al-Arsy. Sementara riwayat
lain menyebutkan Hajar adalah putri seorang raja Mesir. Pada intinya, saat
Fir'aun di zamannya berkuasa, masyarakat dijadikan budak istana. Hajar yang
latar belakangnya bisa manajerial ditempatkan sebagai pemimpin budak-budak
wanita di istana.
Buku ini juga
mengisahkan sosok Ibrahim yang meyakini keesaan Tuhan, Allah. Kecerdasan dan
keyakinannya membuat raja Namrudz murka. Raja itu sebetulnya meyakini Tuhan
Ibrahim, tetapi ketakutan akan hilangnya kekuasaan membuatnya gelap mata.
Itulah yang membuat Ibrahim dibakar hidup-hidup di tengah lapangan besar dan
disaksikan masyarakat luas.
Hubungan Ibrahim,
Sarah dan Hajar sangat baik layaknya keluarga yang saling mengasihi. Hajar
memang budak hadiah, sejatinya dia putri raja yang merdeka dan punya keyakinan
bahwa Allah Tuhan Ibrahim lah yang patut disembah. Sampai pada suatu ketika,
Sarah meminta Ibrahim menikahi Hajar untuk mendapatkan keturunan. Berbagai
kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi telah Ibrahim sampaikan, tetapi Sarah
berkeras. Singkat cerita Ibrahim dan Hajar menikah dan memiliki anak, Ismail.
Kelahirannya disambut sukacita. Tentu saja membayangkan suaminya harus bersama
yang lain dalam satu atap. Sarah cemburu sebagai wanita, tetapi kecintaannya
pada Allah, Ibrahim dan Hajar yang membuatnya lebih bersabar.
Sarah menggantikan
tugas Hajar dalam membereskan rumah dan mencuci ketika Hajar tidak bisa. Hingga
tiba pada suatu masa, Sarah menginginkan Hajar untuk pergi menjauh dari
hadapannya. Sarah meminta Ibrahim membawanya ke tempat yang paling jauh hingga
hilang dari pandangannya. Dengan memohon petunjuk Allah, Ibrahim membawa Hajar
dan Ismail kecil melintasi perjalanan berbulan-bulan. “Semoga Allah
melindungi kalian”, bisik Sarah dengan suara yang lirih.
Salah satu chapter
di buku ini akan melihat perjuangan Siti Hajar bertahan di padang pasir
yang panas tanpa sisa perbekalan lagi. Dengan kondisi seperti itu, Siti Hajar
tetap menggantungkan dirinya pada keyakinannya akan dibantu Allah. Harapan
bahwa pertolongan Allah akan segera datang. Hingga di akhir perjuangannya
mencari kafilah dan sumber mata air, dari kaki Ismail terpancar sebuah sumber
mata air.
Sumur air zamzam itu
berada di bawah manajemen Hajar. Kafilah yang singgah diperbolehkan mengambil
manfaatnya. Sebagai gantinya mereka harus menukarnya dengan hewan ternak.
Kebijaksanaan, keberkahan, dan karakter Hajar yang begitu tabah, kuat dan sabar
membuatnya menjadi pemimpin. Pondasi sosial dan ekonomi berhasil terbentuk,
semakin hari Mekkah menjadi pusat aktivitas perdagangan. Dakwah Islam pun
semakin mudah dilakukan. Dan terjawab sudah alasan Hajar ditempatkan Allah di
tempat itu.
Kini ujian kembali
menerpa keimanan Siti Hajar. Ibrahim mendapat perintah dari Allah untuk
menyembelih Ismail. Karena keimanan dan keikhlasannya, malaikat diperintah
Allah untuk mengganti Ismail menjadi seekor hewan. Ismail tidak takut, dia
percaya dan pasrah bahwa kalau itu perintah Allah, maka harus dilaksanakan. Ya,
Ismail tumbuh dibawah naungan kasih sayang Hajar, hingga besar memiliki
kecintaan yang besar kepada Allah. (Sumber: http://hajahsofya.blogspot.com)
0 komentar:
Posting Komentar