Selasa, 13 November 2012

Ibunda Hajar

Penulis                  : Dedi Ahimsa
Judul Buku             : Ibunda Hajar: Kisah Kekuatan Cinta, Iman, dan Pengorbanan.
Penerbit                : Zaman
Tebal                     : 180 halaman
Tahun Terbit         : 2009

Tulisan ini merupakan upaya pengikatan makna yang dilakukan setelah membaca buku “Ibunda Hajar: Kisah kekuatan Cinta, Iman dan Pengorbanan”. Mungkin ide tulisan ini akan terbagi menjadi beberapa bagian: (1) resume : konten buku dan opini mengenai buku, dan (2) filosofi nama.

Buku ini ditulis dengan menceritakan kisah sejarah, tetapi kita tetap dapat menikmatinya sebagai untaian cerita. Isi bukunya terdiri dari 8 chapter dan tiap chapter-nya memfokuskan pada suatu kisah yang berbeda. Pada awalnya saya berpikir, buku ini benar-benar mengupas tentang Siti Hajar secara lengkap. Ternyata dalam penceritaannya, sosok Putri Sarah dan Nabi Ibrahim tak bisa dilepaskan. Di awal bacaan, pembaca langsung disuguhkan kisah saat Siti Hajar yang ditinggalkan Nabi Ibrahim di padang pasir Mekkah  tanpa sumber makanan dan minuman tersisa, tanpa adanya kafilah yang lewat, suhu hingga 47 derajat. Beliau membawa Ismail dalam dekapannya dengan kondisi yang nyaris tanpa alas kaki. Diceritakan pula tentang perasaan Siti Hajar ditinggal Nabi Ibrahim nyaris tak pernah menoleh ketika dipanggil.

Di chapter kedua penulis mulai menceritakan sosok Siti Hajar. Dalam catatan kakinya dari Qishash al-Anbiya' dikisahkan Hajar adalah putri seorang raja Maroko, keturunan nabi Shaleh a.s. Ayahnya terbunuh oleh Fir'aun Dzu Al-Arsy. Sementara riwayat lain menyebutkan Hajar adalah putri seorang raja Mesir. Pada intinya, saat Fir'aun di zamannya berkuasa, masyarakat dijadikan budak istana. Hajar yang latar belakangnya bisa manajerial ditempatkan sebagai pemimpin budak-budak wanita di istana.

Buku ini juga mengisahkan sosok Ibrahim yang meyakini keesaan Tuhan, Allah. Kecerdasan dan keyakinannya membuat raja Namrudz murka. Raja itu sebetulnya meyakini Tuhan Ibrahim, tetapi ketakutan akan hilangnya kekuasaan membuatnya gelap mata. Itulah yang membuat Ibrahim dibakar hidup-hidup di tengah lapangan besar dan disaksikan masyarakat luas.

Hubungan Ibrahim, Sarah dan Hajar sangat baik layaknya keluarga yang saling mengasihi. Hajar memang budak hadiah, sejatinya dia putri raja yang merdeka dan punya keyakinan bahwa Allah Tuhan Ibrahim lah yang patut disembah. Sampai pada suatu ketika, Sarah meminta Ibrahim menikahi Hajar untuk mendapatkan keturunan. Berbagai kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi telah Ibrahim sampaikan, tetapi Sarah berkeras. Singkat cerita Ibrahim dan Hajar menikah dan memiliki anak, Ismail. Kelahirannya disambut sukacita. Tentu saja membayangkan suaminya harus bersama yang lain dalam satu atap. Sarah cemburu sebagai wanita, tetapi kecintaannya pada Allah, Ibrahim dan Hajar yang membuatnya lebih bersabar.

Sarah menggantikan tugas Hajar dalam membereskan rumah dan mencuci ketika Hajar tidak bisa. Hingga tiba pada suatu masa, Sarah menginginkan Hajar untuk pergi menjauh dari hadapannya. Sarah meminta Ibrahim membawanya ke tempat yang paling jauh hingga hilang dari pandangannya. Dengan memohon petunjuk Allah, Ibrahim membawa Hajar dan Ismail kecil melintasi perjalanan berbulan-bulan. “Semoga Allah melindungi kalian”, bisik Sarah dengan suara yang lirih.

Salah satu chapter di buku ini akan melihat perjuangan Siti Hajar bertahan di padang pasir yang panas tanpa sisa perbekalan lagi. Dengan kondisi seperti itu, Siti Hajar tetap menggantungkan dirinya pada keyakinannya akan dibantu Allah. Harapan bahwa pertolongan Allah akan segera datang. Hingga di akhir perjuangannya mencari kafilah dan sumber mata air, dari kaki Ismail terpancar sebuah sumber mata air.

Sumur air zamzam itu berada di bawah manajemen Hajar. Kafilah yang singgah diperbolehkan mengambil manfaatnya. Sebagai gantinya mereka harus menukarnya dengan hewan ternak. Kebijaksanaan, keberkahan, dan karakter Hajar yang begitu tabah, kuat dan sabar membuatnya menjadi pemimpin. Pondasi sosial dan ekonomi berhasil terbentuk, semakin hari Mekkah menjadi pusat aktivitas perdagangan. Dakwah Islam pun semakin mudah dilakukan. Dan terjawab sudah alasan Hajar ditempatkan Allah di tempat itu.

Kini ujian kembali menerpa keimanan Siti Hajar. Ibrahim mendapat perintah dari Allah untuk menyembelih Ismail. Karena keimanan dan keikhlasannya, malaikat diperintah Allah untuk mengganti Ismail menjadi seekor hewan. Ismail tidak takut, dia percaya dan pasrah bahwa kalau itu perintah Allah, maka harus dilaksanakan. Ya, Ismail tumbuh dibawah naungan kasih sayang Hajar, hingga besar memiliki kecintaan yang besar kepada Allah. (Sumber: http://hajahsofya.blogspot.com)


0 komentar:

Posting Komentar