Hari Raya Qurban tak pernah terlepas dari kisah hikmah yang terus
dibicarakan dari mulut ke mulut. Perlawanan nabi Ibrahim terhadap mereka yang
tak ingin mengikuti ajaran langit, keikhlasan Sarah yang meminta suaminya (nabi
Ibrahim) untuk menikahi seorang budak bernama Siti Hajar, hingga kesabaran nabi
Ismail kala ingin disembelih oleh ayahandanya.
Hadirnya kisah hidup Siti Hajar dan Ismail saat bertahan hidup
tentu saja punya hikmah yang luar biasa. Kisah ditinggalkannya Siti Hajar dan
nabi Ismail di padang pasir oleh nabi Ibrahim tidak sekedar berakhir dengan
terijabahnya doa untuk tetap hidup dalam keadaan yang sulit. Hadirnya air
zam-zam sebagai salah satu mukjizat nabi Ismail saat masih kecil pun menjadi
tantangan tersendiri bagi Siti Hajar. Mata air zam-zam tidak berhenti
mengeluarkan airnya ketika dahaga Ismail dan bundanya telah teratasi.
Permasalahan pengelolaan air zam-zam adalah pekerjaan rumah selanjutnya bagi Siti
Hajar.
Sebelum kedatangan Siti Hajar dan Ismail putranya, Mekah adalah
tempat yang tak pernah dihiraukan. Untuk sekedar bermukim sejenak, orang akan
berpikir dua kali. Adanya berita yang tersebar tentang kematian orang-orang
yang sekedar singgah melepas penat, meskipun tidak sampai menginap. Mekah
terletak di antara bukit batu hitam yang memanjang jauh. Beragam batu
mengeluarkan uap panas setiap saat membuat tempat ini tak nyaman untuk
ditinggali. Sehingga hanya padang pasir luas yang ada dan sering membuat para
musafir bingung.
Hadirnya Siti Hajar dan buah hatinya ke tempat itu berbekal
pakaian yang melekat di tubuh menghapus segera opini masyarakat tentang
kejamnya alam di Mekah. Selain itu, juga mampu menghancurkan opini tentang
lemahnya perempuan sebagai seorang makhluk. Terbukti dengan mampunya Siti Hajar
melewati segala kesulitan dan kekeringan yang ada di sana dengan kaki tangannya
sendiri. Perpaduan antara iman, ilmu dan amal yang terpatri kuat di dalam diri
Siti Hajar mengantarkannya sebagai perempuan yang memiliki kemampuan manajerial
yang sangat handal dalam menghadapi segala cobaan dan kesulitan hidup.
Cintanya yang begitu dalam terhadap Allah menyebabkan ia begitu
tangguh melewati segala kesulitan dan tetap optimis akan hadirnya berkah Ilahi.
Di sana, beliau tidak sekedar bertahan, tapi juga berpikir mencari nilai
tambah. Mengurus bayinya sendiri tidak mengurangi niat dan kemampuannya untuk
mengubah bumi secara bertahap dan selanjutnya akan membuat hidupnya lebih
dinamis.
Dengan ilmu yang berasal dari Allah, membuatnya sering menemukan
celah dan inspirasi untuk mengatasi tantangan yang sifatnya berkelanjutan.
Kerja kerasnya selama di sana tentu saja mampu membawa perubahan. Serangkaian
peristiwa yang terjadi mampu menjadikan Siti Hajar mengubah Mekah menjadi
daerah hidup. Berada di bawah manajemen Siti Hajar, air zam-zam dapat
dimanfaatkan oleh banyak kafilah dengan menukarkan hewan ternak sebagai
gantinya. Menetapnya Bani Jurhum di Mekah, membuat Hajar mendapat
keluarga baru dan komunitas baru. Kebijaksanaan, keberkahan, dan karakter Hajar
yang begitu tabah, kuat dan sabar membuatnya menjadi pemimpin. Pondasi sosial
dan ekonomi berhasil terbentuk di kota Mekah yang akhirnya menjadikannya
sebagai pusat aktivitas perdagangan.
Siti Hajar telah berhasil mempraktekkan sebuah sisi emansipasi
yang hakiki. Mampunya beliau melewati segala kesulitan, mencari nafkah dan
mengurus anak menjadikannya sebagai perintis pembangunan material dan
spiritual. Banyak di antara ulama dan ahli menjulukinya sebagai ibu pembangunan
Mekah. Karena kemampuannya mengontrol lingkungan di sekitar Mekah.
Kisah seorang Siti Hajar tentu saja mampu mengajarkan perempuan
untuk tidak sekedar menuntut keterbukaan di segala aspek. Tapi bagi Siti Hajar,
sebuah emansipasi hadir ketika seorang perempuan mampu memanfaatkan dan
menjawab segala tantangan dan tetap menjalankan hal yang menjadi kodratnya.
0 komentar:
Posting Komentar