Abu Bashir berkata: “Waktu itu
aku berada di Kufah mengajar seorang wanita membaca Al-Qur’an. Pada suatu
kesempatan aku bergurau dengannya. Tak lama kemudian aku bertemu dengan Imam
Muhammad Baqir. Imam menegurku dengan keras seraya berkata, “Barangsiapa yang
bergurau dengan wanita selain muhrim di tempat khalwat, Allah swt memalingkan
pandangan rahmat-Nya darinya! Sempatnya engkau bergurau dengan murid bukan
muhrimmu!”
Aku seperti disambar petir dan
menunduk malu serta bertaubat. Imam Baqir menasehatiku, “Waspadalah, jangan
sampai kau ulangi perbuatan itu.”
Hari Raya Qurban tak pernah terlepas dari kisah hikmah yang terus
dibicarakan dari mulut ke mulut. Perlawanan nabi Ibrahim terhadap mereka yang
tak ingin mengikuti ajaran langit, keikhlasan Sarah yang meminta suaminya (nabi
Ibrahim) untuk menikahi seorang budak bernama Siti Hajar, hingga kesabaran nabi
Ismail kala ingin disembelih oleh ayahandanya.
Hadirnya kisah hidup Siti Hajar dan Ismail saat bertahan hidup
tentu saja punya hikmah yang luar biasa. Kisah ditinggalkannya Siti Hajar dan
nabi Ismail di padang pasir oleh nabi Ibrahim tidak sekedar berakhir dengan
terijabahnya doa untuk tetap hidup dalam keadaan yang sulit. Hadirnya air
zam-zam sebagai salah satu mukjizat nabi Ismail saat masih kecil pun menjadi
tantangan tersendiri bagi Siti Hajar. Mata air zam-zam tidak berhenti
mengeluarkan airnya ketika dahaga Ismail dan bundanya telah teratasi.
Permasalahan pengelolaan air zam-zam adalah pekerjaan rumah selanjutnya bagi Siti
Hajar.
Sebelum kedatangan Siti Hajar dan Ismail putranya, Mekah adalah
tempat yang tak pernah dihiraukan. Untuk sekedar bermukim sejenak, orang akan
berpikir dua kali. Adanya berita yang tersebar tentang kematian orang-orang
yang sekedar singgah melepas penat, meskipun tidak sampai menginap. Mekah
terletak di antara bukit batu hitam yang memanjang jauh. Beragam batu
mengeluarkan uap panas setiap saat membuat tempat ini tak nyaman untuk
ditinggali. Sehingga hanya padang pasir luas yang ada dan sering membuat para
musafir bingung.
Hadirnya Siti Hajar dan buah hatinya ke tempat itu berbekal
pakaian yang melekat di tubuh menghapus segera opini masyarakat tentang
kejamnya alam di Mekah. Selain itu, juga mampu menghancurkan opini tentang
lemahnya perempuan sebagai seorang makhluk. Terbukti dengan mampunya Siti Hajar
melewati segala kesulitan dan kekeringan yang ada di sana dengan kaki tangannya
sendiri. Perpaduan antara iman, ilmu dan amal yang terpatri kuat di dalam diri
Siti Hajar mengantarkannya sebagai perempuan yang memiliki kemampuan manajerial
yang sangat handal dalam menghadapi segala cobaan dan kesulitan hidup.
Cintanya yang begitu dalam terhadap Allah menyebabkan ia begitu
tangguh melewati segala kesulitan dan tetap optimis akan hadirnya berkah Ilahi.
Di sana, beliau tidak sekedar bertahan, tapi juga berpikir mencari nilai
tambah. Mengurus bayinya sendiri tidak mengurangi niat dan kemampuannya untuk
mengubah bumi secara bertahap dan selanjutnya akan membuat hidupnya lebih
dinamis.
Dengan ilmu yang berasal dari Allah, membuatnya sering menemukan
celah dan inspirasi untuk mengatasi tantangan yang sifatnya berkelanjutan.
Kerja kerasnya selama di sana tentu saja mampu membawa perubahan. Serangkaian
peristiwa yang terjadi mampu menjadikan Siti Hajar mengubah Mekah menjadi
daerah hidup. Berada di bawah manajemen Siti Hajar, air zam-zam dapat
dimanfaatkan oleh banyak kafilah dengan menukarkan hewan ternak sebagai
gantinya.Menetapnya Bani Jurhum di Mekah, membuat Hajar mendapat
keluarga baru dan komunitas baru. Kebijaksanaan, keberkahan, dan karakter Hajar
yang begitu tabah, kuat dan sabar membuatnya menjadi pemimpin. Pondasi sosial
dan ekonomi berhasil terbentuk di kota Mekah yang akhirnya menjadikannya
sebagai pusat aktivitas perdagangan.
Siti Hajar telah berhasil mempraktekkan sebuah sisi emansipasi
yang hakiki. Mampunya beliau melewati segala kesulitan, mencari nafkah dan
mengurus anak menjadikannya sebagai perintis pembangunan material dan
spiritual. Banyak di antara ulama dan ahli menjulukinya sebagai ibu pembangunan
Mekah. Karena kemampuannya mengontrol lingkungan di sekitar Mekah.
Kisah seorang Siti Hajar tentu saja mampu mengajarkan perempuan
untuk tidak sekedar menuntut keterbukaan di segala aspek. Tapi bagi Siti Hajar,
sebuah emansipasi hadir ketika seorang perempuan mampu memanfaatkan dan
menjawab segala tantangan dan tetap menjalankan hal yang menjadi kodratnya.
Judul Buku: Ibunda Hajar: Kisah Kekuatan Cinta, Iman, dan Pengorbanan.
Penerbit: Zaman
Tebal:
180 halaman
Tahun Terbit:
2009
Tulisan ini merupakan
upaya pengikatan makna yang dilakukan setelah membaca buku “Ibunda Hajar: Kisah
kekuatan Cinta, Iman dan Pengorbanan”. Mungkin ide tulisan ini akan terbagi
menjadi beberapa bagian: (1) resume : konten buku dan opini mengenai buku, dan
(2) filosofi nama.
Buku ini ditulis
dengan menceritakan kisah sejarah, tetapi kita tetap dapat menikmatinya sebagai
untaian cerita. Isi bukunya terdiri dari 8 chapter dan
tiap chapter-nya
memfokuskan pada suatu kisah yang berbeda. Pada awalnya saya berpikir, buku ini
benar-benar mengupas tentang Siti Hajar secara lengkap. Ternyata dalam
penceritaannya, sosok Putri Sarah dan Nabi Ibrahim tak bisa dilepaskan.Di awal bacaan, pembaca langsung disuguhkan kisah saat Siti Hajar yang
ditinggalkan Nabi Ibrahim di padang pasir Mekkah tanpa sumber makanan dan
minuman tersisa, tanpa adanya kafilah yang lewat, suhu hingga 47 derajat.
Beliau membawa Ismail dalam dekapannya dengan kondisi yang nyaris tanpa alas
kaki. Diceritakan pula tentang perasaan Siti Hajar ditinggal Nabi Ibrahim
nyaris tak pernah menoleh ketika dipanggil.
Di chapter
kedua penulis mulai menceritakan sosok Siti Hajar. Dalam catatan kakinya dari
Qishash al-Anbiya' dikisahkan Hajar adalah putri seorang raja Maroko, keturunan
nabi Shaleh a.s. Ayahnya terbunuh oleh Fir'aun Dzu Al-Arsy. Sementara riwayat
lain menyebutkan Hajar adalah putri seorang raja Mesir. Pada intinya, saat
Fir'aun di zamannya berkuasa, masyarakat dijadikan budak istana. Hajar yang
latar belakangnya bisa manajerial ditempatkan sebagai pemimpin budak-budak
wanita di istana.
Buku ini juga
mengisahkan sosok Ibrahim yang meyakini keesaan Tuhan, Allah. Kecerdasan dan
keyakinannya membuat raja Namrudz murka. Raja itu sebetulnya meyakini Tuhan
Ibrahim, tetapi ketakutan akan hilangnya kekuasaan membuatnya gelap mata.
Itulah yang membuat Ibrahim dibakar hidup-hidup di tengah lapangan besar dan
disaksikan masyarakat luas.
Hubungan Ibrahim,
Sarah dan Hajar sangat baik layaknya keluarga yang saling mengasihi. Hajar
memang budak hadiah, sejatinya dia putri raja yang merdeka dan punya keyakinan
bahwa Allah Tuhan Ibrahim lah yang patut disembah. Sampai pada suatu ketika,
Sarah meminta Ibrahim menikahi Hajar untuk mendapatkan keturunan. Berbagai
kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi telah Ibrahim sampaikan, tetapi Sarah
berkeras. Singkat cerita Ibrahim dan Hajar menikah dan memiliki anak, Ismail.
Kelahirannya disambut sukacita. Tentu saja membayangkan suaminya harus bersama
yang lain dalam satu atap. Sarah cemburu sebagai wanita, tetapi kecintaannya
pada Allah, Ibrahim dan Hajar yang membuatnya lebih bersabar.
Sarah menggantikan
tugas Hajar dalam membereskan rumah dan mencuci ketika Hajar tidak bisa. Hingga
tiba pada suatu masa, Sarah menginginkan Hajar untuk pergi menjauh dari
hadapannya. Sarah meminta Ibrahim membawanya ke tempat yang paling jauh hingga
hilang dari pandangannya. Dengan memohon petunjuk Allah, Ibrahim membawa Hajar
dan Ismail kecil melintasi perjalanan berbulan-bulan. “Semoga Allah
melindungi kalian”, bisik Sarah dengan suara yang lirih.
Salah satu chapter
di buku ini akan melihat perjuangan Siti Hajar bertahan di padang pasir
yang panas tanpa sisa perbekalan lagi. Dengan kondisi seperti itu, Siti Hajar
tetap menggantungkan dirinya pada keyakinannya akan dibantu Allah. Harapan
bahwa pertolongan Allah akan segera datang. Hingga di akhir perjuangannya
mencari kafilah dan sumber mata air, dari kaki Ismail terpancar sebuah sumber
mata air.
Sumur air zamzam itu
berada di bawah manajemen Hajar. Kafilah yang singgah diperbolehkan mengambil
manfaatnya. Sebagai gantinya mereka harus menukarnya dengan hewan ternak.
Kebijaksanaan, keberkahan, dan karakter Hajar yang begitu tabah, kuat dan sabar
membuatnya menjadi pemimpin. Pondasi sosial dan ekonomi berhasil terbentuk,
semakin hari Mekkah menjadi pusat aktivitas perdagangan. Dakwah Islam pun
semakin mudah dilakukan. Dan terjawab sudah alasan Hajar ditempatkan Allah di
tempat itu.
Kini ujian kembali
menerpa keimanan Siti Hajar. Ibrahim mendapat perintah dari Allah untuk
menyembelih Ismail. Karena keimanan dan keikhlasannya, malaikat diperintah
Allah untuk mengganti Ismail menjadi seekor hewan. Ismail tidak takut, dia
percaya dan pasrah bahwa kalau itu perintah Allah, maka harus dilaksanakan. Ya,
Ismail tumbuh dibawah naungan kasih sayang Hajar, hingga besar memiliki
kecintaan yang besar kepada Allah. (Sumber:http://hajahsofya.blogspot.com)
Setiap kali umat
Islam merayakan Idul Adha atau hari raya kurban ingatan akan senantiasa kembali
menelusuri sejarah kehidupan Nabi Ibrahim AS beserta istrinya yaitu Siti Hajar
dan anak mereka nabi Ismail AS. Pengalaman rohani tokoh dan pemimpin umat
manusia beserta keluarganya itu diabadikan dalam ritual haji yang mencapai
puncaknya pada wukuf di Arafah. Episode perjuangan Siti Hajar diabadikan dalam
ritual sa’i yaitu berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah
sebanyak 7 kali, dilakukan setelah tawaf Ifadah.
Dengan melaksanakan sa’i
para jemaah haji dan kita juga diingatkan pada peran Siti Hajar sebagai
seorang istri dan ibu. Jika sekarang para jemaah haji melakukan sa’i dengan berlari
kecil di tempat yang nyaman, maka tidak demikian halnya dengan Siti Hajar pada
waktu itu. Kini para jemaah haji paling paling hanya mendapat kesulitan, karena
penuh sesaknya jalur sa’i oleh para jemaah. Tetapi, kondisinya sudah
begitu nyaman, karena terlindung dari panas matahari. Jalur Shafa Marwah pun
sudah sedemikian rata dan halus. Keadaan ini sangat jauh berbeda dengan yang
dialami Siti Hajar dan putranya Ismail. Dapat dibayangkan ratusan tahun lalu
Mekah masih belum seperti sekarang. Tempat yang dikenal dengan lembah Bakka itu
masih berupa lembah yang sepi dan gersang.
Tidak ada yang
tinggal kecuali Siti Hajar dan bayi mungilnya, Ismail. Tidak ada air zamzam
yang melimpah dan sejuk seperti sekarang. Karena itulah, saat ditinggal pergi
oleh nabi Ibrahim, Hajar mesti berlari ke sana kemari mencari air. Hajar
berlari kian kemari meninggalkan bayi Ismail yang kehausan. Dengan membayangkan
kejadian itu dapatlah kita takar ketabahan dan kesetiaan Siti Hajar. Berkat
kepribadian disertai ketakwaan itulah, Siti Hajar dapat membesarkan dan
mendidik moral Ismail sehingga tumbuh menjadi nabi–seseorang yang tiada gamang
menyerahkan hidupnya untuk dikorbankan atas perintah Tuhan.
Siti Hajar ketika itu
harus menghadapi ujian yang tidak terhingga. Dari seorang budak perempuan, ia
terangkat harkatnya menjadi istri seorang tokoh. Belum lama merasakan
kebahagiaan berkat lahirnya bayi dari rahimnya, ia harus menghadapi kenyataan ditinggal
pergi oleh suaminya, kembali ke tanah asal di Kanaan. Ia harus memenuhi
kebutuhan hidupnya. Sebagai Ibu, ia pun harus melindungi, membesarkan dan
mendidik anaknya. Sebagai seorang perempuan ia mesti berjuang hidup di tengah
lembah berbatu-batu yang gersang tanpa air. Ia mestinya sudah memaki dan
menghujat suaminya yang pergi meninggalkan ia dan anaknya. Tetapi, Siti Hajar
sungguh perempuan yang tabah dan sabar. Ketika Ismail tumbuh besar, suaminya
pun kembali ke tengah mereka. Namun, cobaan dan ujian belumlah usai. Ismail
buah hati hiasan mata harus dikorbankan atas perintah Tuhan mereka. Kehilangan
anak kesayangan tidaklah menggoyahkan imannya. Ia relakan karena ia meyakini
semua memang berasal dari sang Pencipta yang dapat mengambil kembali kapan
saja. Siti Hajar dapat menghadapi semuanya dengan tabah. Ia tentu sangat
bahagia dan bangga ketika Ismail dengan tenang justru mengatakan kepada
ayahnya, “ Jika itu kehendak Allah, maka lakukanlah “.
Kehidupan sekarang
tidaklah dapat dibandingkan dengan zaman Ibrahim dan Siti Hajar. Siti Hajar
tidak dihadapkan pada realitas emansipasi dan tuntutan persamaan hak. Pun tidak
ada kebutuhan ekonomi keluarga sebagaimana dihadapi keluarga di zaman sekarang.
Namun, bukan atas dasar perbedaan itu, maka kita lantas tidak bisa mengambil
dari hikmah.