Sejarah
bugis sejak ratusan tahun silam telah mencatat sejumlah nama perempuan yang
pernah menjadi pemimpin. Salah satunya adalah We Tenri Olle. Nama lengkapnya
adalah Siti Aisyah We Tenri Olle. Ia adalah putri ke-2 dari ayah yang bernama
La Tunampare’ To Apatorang Arung Ujung. Perempuan yang bergelar Sultan ini
memerintah kerajaan Tanete cukup lama, selama 55 tahun dari tahun 1855–1910.
Sebagai penguasa perempuan, We Tenri Olle mampu membawa popularitas Tanete
melesat melintasi samudera dan benua hingga ke Eropa.
Di
zaman ketika ia memimpin kerajaan, We Tenri Olle memiliki ciri khas
kepemimpinan dalam menentang penjajah. Ia dituntut untuk memilih metode
berjuang tanpa kekerasan. Ia menjauhi perang yang berakibat pada penderitaan.
We Tenri Olle lebih memilih koperatif dengan pemerintah kolonial Hindia
Belanda. Sebuah langkah yang lebih menguntungkan, meski banyak yang berpikiran
bahwa tidak frontal dengan Belanda dianggap antek penjajah. Perempuan yang
memimpin kerajaan Tanete ini memilih bersikap terbuka. Terbukti dengan
perjuangan yang kooperatif membuat orang Bugis di pesisir jazirah Sulawesi bisa
menerima masuknya barat yang modern. Sehingga untuk melawan penjajahan kolonial
pun sudah menggunakan cara modern yang juga jauh dari kekerasan.
Kerajaan
Tanete yang dipimpin oleh We Tenri Olle merupakan kerajaan otonom kecil.
Luasnya 61.180 hektar dengan 13.362 jiwa penduduk pada saat itu,. Kerajaan
kecil ini dipersatukan dari empat wilayah: Tanete ri Tennga, Tanete ri Lauq,
Tanete ri Aja, dan Gattarang. Walaupun ia memimpin sebuah kerajaan yang kecil,
tapi pemikirannya jauh melampaui zamannya. Di saat Kartini masih melakukan
surat-menyurat mengenai kepeduliannya pada pendidikan, We Tenri Olle pada waktu
itu telah mendirikan sekolah rakyat atau yang juga dikenal sebagai sekolah desa
(volkschool). Ia jugalah salah seorang perempuan yang pertama kali
membuka sekolah untuk seluruh kalangan tanpa diskriminasi, entah itu kelas
sosial maupun gender. Ia adalah pemimpin kerajaan yang dikenal cerdas,
terpelajar, serta meminati sastra Bugis dan Islam.
Beberapa
literatur sejarah mengungkap tentang kecerdasannya dalam memerintah. Saat ia
naik tahta, keadaan Tanete penuh dengan konflik vertikal antar
penguasa-penguasa lokal di bawah kekuasaannya. Terkadang, pemimpin bawahan (matoa
dan arung) melakukan pembangkangan atas perintah pemimpin atasnya (datu).
Ketika We Tenri Olle menjadi kepala negara, Kerajaan Tanete terdiri dari
tiga belas banua daerah persekutuan hukum (distrik), yang masing-masing
berdiri sendiri di bawah pemerintahan seorang kepala pemerintah, dan beberapa
wilayah (palili) atau daerah vasal. Untuk menjaga kewibawaan dan
efektifitas pemerintahan, We Tenri Olle kemudian melakukan perampingan
pemerintahan dengan menghapus beberapa struktur lokal dan hanya menyisakan
empat palili, yaitu: Tanete ri Tennga, Tanete ri Lauq, Tanete ri Aja,
dan Gattarang. We Tenri Olle memerintah kedatuan Tanete dengan kondisi politik
dan ekonomi yang stabil selama lebih dari separuh abad, 55 tahun. Mungkin,
beliaulah pemimpin kerajaan yang paling lama memerintah di kawasan yang kini
disebut Indonesia. Masa pemerintahannya ini dimanfaatkan dengan baik oleh We
Tenri Olle untuk berkonsentrasi pada dua hal yang sangat menarik minatnya:
pendidikan dan kesusastraan, di saat perlawanan raja-raja Bugis meriuh pada
1905.
We
Tenri Olle berkontribusi dengan menerjemahkan mahakarya epos La Galigo dari
bahasa Bugis Kuno ke bahasa Bugis umum. Terjemahan ini kemudian dimanfaatkan
oleh seorang peneliti Belanda, BF Matthes untuk diadopsi menjadi tulisan ilmiah
yang akan diceritakan kemudian. Epos I La Galaligo merupakan epos terpanjang di
dunia yang mengalahkah epos agung Mahabharata 150 ribu-200 ribu baris, atau
Iliad dan Odyssey yang hanya terdiri dari 16 ribu baris. La Galigo yang
diperkirakan lahir pada awal abad masehi hingga abad ke-15. Ratu Tanete yang
menerjemahkan karya ini wafat di Pancana tahun 1919 dan dikubur di Pancana,
kecamatan Tanette Rilau tanpa diketahui pasti kapan tahun kelahirannya. Namun,
dari terjemahannya telah mampu membawa kerajaan Tanete dikenal hingga Eropa.
0 komentar:
Posting Komentar