Selasa, 19 Agustus 2014

TOKOH: We Tenri Olle, Perempuan Pemimpin Kerajaan Tanete yang Menerjemahkan Epos La Galigo


Sejarah bugis sejak ratusan tahun silam telah mencatat sejumlah nama perempuan yang pernah menjadi pemimpin. Salah satunya adalah We Tenri Olle. Nama lengkapnya adalah Siti Aisyah We Tenri Olle. Ia adalah putri ke-2 dari ayah yang bernama La Tunampare’ To Apatorang Arung Ujung. Perempuan yang bergelar Sultan ini memerintah kerajaan Tanete cukup lama, selama 55 tahun dari tahun 1855–1910. Sebagai penguasa perempuan, We Tenri Olle mampu membawa popularitas Tanete melesat melintasi samudera dan benua hingga ke Eropa.

Di zaman ketika ia memimpin kerajaan, We Tenri Olle memiliki ciri khas kepemimpinan dalam menentang penjajah. Ia dituntut untuk memilih metode berjuang tanpa kekerasan. Ia menjauhi perang yang berakibat pada penderitaan. We Tenri Olle lebih memilih koperatif dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Sebuah langkah yang lebih menguntungkan, meski banyak yang berpikiran bahwa tidak frontal dengan Belanda dianggap antek penjajah. Perempuan yang memimpin kerajaan Tanete ini memilih bersikap terbuka. Terbukti dengan perjuangan yang kooperatif membuat orang Bugis di pesisir jazirah Sulawesi bisa menerima masuknya barat yang modern. Sehingga untuk melawan penjajahan kolonial pun sudah menggunakan cara modern yang juga jauh dari kekerasan.

Kerajaan Tanete yang dipimpin oleh We Tenri Olle merupakan kerajaan otonom kecil. Luasnya 61.180 hektar dengan 13.362 jiwa penduduk pada saat itu,. Kerajaan kecil ini dipersatukan dari empat wilayah: Tanete ri Tennga, Tanete ri Lauq, Tanete ri Aja, dan Gattarang. Walaupun ia memimpin sebuah kerajaan yang kecil, tapi pemikirannya jauh melampaui zamannya. Di saat Kartini masih melakukan surat-menyurat mengenai kepeduliannya pada pendidikan, We Tenri Olle pada waktu itu telah mendirikan sekolah rakyat atau yang juga dikenal sebagai sekolah desa (volkschool). Ia jugalah salah seorang perempuan yang pertama kali membuka sekolah untuk seluruh kalangan tanpa diskriminasi, entah itu kelas sosial maupun gender. Ia adalah pemimpin kerajaan yang dikenal cerdas, terpelajar, serta meminati sastra Bugis dan Islam.

Beberapa literatur sejarah mengungkap tentang kecerdasannya dalam memerintah. Saat ia naik tahta, keadaan Tanete penuh dengan konflik vertikal antar penguasa-penguasa lokal di bawah kekuasaannya. Terkadang, pemimpin bawahan (matoa dan arung) melakukan pembangkangan atas perintah pemimpin atasnya (datu).  Ketika We Tenri Olle menjadi kepala negara, Kerajaan Tanete terdiri dari tiga belas banua daerah persekutuan hukum (distrik), yang masing-masing berdiri sendiri di bawah pemerintahan seorang kepala pemerintah, dan beberapa wilayah (palili) atau daerah vasal. Untuk menjaga kewibawaan dan efektifitas pemerintahan, We Tenri Olle kemudian melakukan perampingan pemerintahan dengan menghapus beberapa struktur lokal dan hanya menyisakan empat palili, yaitu: Tanete ri Tennga, Tanete ri Lauq, Tanete ri Aja, dan Gattarang. We Tenri Olle memerintah kedatuan Tanete dengan kondisi politik dan ekonomi yang stabil selama lebih dari separuh abad, 55 tahun. Mungkin, beliaulah pemimpin kerajaan yang paling lama memerintah di kawasan yang kini disebut Indonesia. Masa pemerintahannya ini dimanfaatkan dengan baik oleh We Tenri Olle untuk berkonsentrasi pada dua hal yang sangat menarik minatnya: pendidikan dan kesusastraan, di saat perlawanan raja-raja Bugis meriuh pada 1905.

We Tenri Olle berkontribusi dengan menerjemahkan mahakarya epos La Galigo dari bahasa Bugis Kuno ke bahasa Bugis umum. Terjemahan ini kemudian dimanfaatkan oleh seorang peneliti Belanda, BF Matthes untuk diadopsi menjadi tulisan ilmiah yang akan diceritakan kemudian. Epos I La Galaligo merupakan epos terpanjang di dunia yang mengalahkah epos agung Mahabharata 150 ribu-200 ribu baris, atau Iliad dan Odyssey yang hanya terdiri dari 16 ribu baris. La Galigo yang diperkirakan lahir pada awal abad masehi hingga abad ke-15. Ratu Tanete yang menerjemahkan karya ini wafat di Pancana tahun 1919 dan dikubur di Pancana, kecamatan Tanette Rilau tanpa diketahui pasti kapan tahun kelahirannya. Namun, dari terjemahannya telah mampu membawa kerajaan Tanete dikenal hingga Eropa.


0 komentar:

Posting Komentar