Jumat, 29 Agustus 2014

REVIEW FILM: The Lady

Sutradara: Luc Besson
Produksi: EuropaCorp
Tahun rilis: 2011
Durasi: 135 menit


Aung San Suu Kyi (Michelle Yeoh) adalah putri pejuang nasional Burma, Jenderal Aung San. Suu Kyi juga seorang akademisi Oxford di Inggris, dan di sanalah ia menikah dengan seorang Tibetologis, Michael Aris (David Thewlis), dan dikaruniai dua orang anak Alexander Aris dan Kim Aris. Gerbang perjuangan dan pengabdian besarnya terhadap Burma berawal pada kesempatannya menjenguk ibunya yang sedang sakit di Burma. Penindasan rezim militer, Jenderal La Junta, selama puluhan tahun sejak ayahnya dieksekusi oleh sekutuyaitu rezim junta militer sendiritersaksikan jelas di mata Suu Kyi. Para demonstran, mahasiswa, biarawan, dan rakyat sipil lainnya dibunuh, ditembak, disiksa, diasingkan, dan mendapatkan kekerasan militer lainnya oleh rezim penguasa.
Datangnya Suu Kyi mendapat dukungan dari rakyat sipil, karena dipandang layak untuk menjadi pemimpin sebagai putri pejuang nasional yang sangat dihormati. Bersama-sama membentuk NLD (National League for Democracy) sebagai partai oposisi untuk memperjuangkan demokrasi dan hak asasi manusia di atas rezim militer La Junta.

Aksi represif dari rezim menguat, ketika rakyat sipil memberikan dukungan penuh pada Suu Kyi untuk menduduki kursi parlemen di Burma. Suu Kyi menjadi tahanan rumah di tanah air sendiri, dukungan cinta dari sang suami, juga anak-anaknya, yang luar biasa tetap menguatkan semangat juangnya. Usaha Aris pada pemberian nobel perdamaian sebagai dukungan cinta pada perjuangan isterinya, dijadikan salah satu ancaman yang kuat bagi rezim militer La Junta. Rezim berupaya memisahkan pasangan ini dengan pembatalkan visa Aris dan anak-anaknya. Kini Suu Kyi dihadapkan pada situasi pengabdian keluarga atau hak asasi manusia di negerinya. Rezim memaksa Suu Kyi kembali ke Inggris untuk mempermudah menutup aksesnya kembali ke Burma agar perjuangan dapat segera dihentikan.

Menangnya Suu Kyi sebanyak 392 suara atas 10 suara La Junta pada pemilu tak membuat kondisi berubah, Suu Kyi dan koleganya masih tetap menjadi tahanan politik rezim. HAM masih belum didapatkan oleh rakyat sipil. Kemelut ini makin memilukan Suu Kyi ketika ia mendapat surat dari suaminya yang sedang menderita kanker. Aris tetap mendukung isterinya, melarangnya pulang ke Inggris, dan melanjutkan apa yang telah mereka perjuangkan dari nol. Akhirnya, Suu Kyi tidak dapat menemui keluarganya, hingga pada saat suaminya berjuang melawan kanker dan akhirnya meninggal.

Suu Kyi dibebaskan pada tahun 2010 (15 tahun masa tahanan rumah) oleh rezim militer. Menurut Amnesty International, Dewan Burma masih memiliki catatan buruk hak asasi manusia. Melakukan tindak kekerasan, termasuk pada anak-anak, pembantaian, penyiksaan, pemerkosaan, dan kerja paksa. Masih ada 2.100 tahanan politik termasuk 17 wartawan TV, yang juga memberikan kontribusinya pada film ini. Please use your liberty to promote ours.” -Aung San Suu Kyi-

0 komentar:

Posting Komentar