Oleh: Selvy A. Syarif
“Saya melihat beliau seorang istri dan ibu yang mendedikasikan hidupnya
untuk kepentingan suami dan anak-anak.” (J. Ahmad Watik Pratiknya)
Seorang perempuan lahir di dunia tidaklah menjadi sekedar pelengkap lelaki semata. Perempuan pun memiliki tugas dan perannya tersendiri untuk membangun masyarakat ke arah yang lebih baik, entah itu sebagai seorang ibu ataupun sebagai istri. Tugas dan peran tersebut bisa kita lihat pada pengabdian seorang perempuan bernama Hasri Ainun Besari atau yang lebih dikenal dengan ibu Ainun Habibie.
Lahir dan besar di keluarga yang memiliki perhatian lebih terhadap pendidikan, mengantakan beliau memperoleh gelar dokter di Universitas Indonesia. Hal ini tentu saja membuat beliau menjadi seorang ibu yang memiliki perhatian lebih pada pendidikan kedua putranya (Ilham Habibie dan Thareq Kemal).
Ibu Ainun pernah bekerja sebagai dokter di RSCM Jakarta selama satu tahun. Tepat pada tahun1962, setelah menikah dengan bapak B.J. Habibie, beliau memilih untuk meninggalkan pekerjaannya dan mengikuti suaminya ke Jerman untuk melanjutkan studinya. Pilihan tersebut tentulah dianggap oleh beberapa kalangan sebagai pilihan bodoh dan irrasional. Bahkan mungkin ada yang beranggapan bahwa itu adalah bentuk pengekangan bagi seorang perempuan. Tapi, bagi ibu Ainun, pilhan ini tidaklah menjadi masalah, karena ini menjadi bentuk tanggung jawabnya sebagai seorang istri.
Perempuan cerdas tentu akan melahirkan anak-anak yang cerdas pula. Sebagai seorang ibu,yang bertanggung jawab, beliau membesarkan anak-anaknya dengan penuh perhatian. Beliau selalu memberikan ruang kepada anaknya untuk mengembangkan kepribadian mereka sejak kecil. Beliau juga mengajarkan anak-anaknya untuk bertanya tentang berbagai hal yang tidak mereka ketahui, karena beliau sadar pentingnya membangun keingintahuan dan kreatifitas anak sejak dini. Hidup sederhana menjadi salah satu titik tekan pendidikan ala ibu Ainun. Beliau mendidik anak-anaknya untuk berani mengemukakan pendapat lewat diskusi di rumah. Baginya, cara tersebut adalah proses belajar yang harus dilalui oleh anak, dan menjadi waktu bagi orang tua melaksanakan kewajibannya memberikan bekal hidup bagi anaknya. Dan dari tangan seorang ibu Ainun, 2 anaknya sukses dalam pendidikannya.
Dalam sebuah pidatonya, bapak Habibie pernah menyampaikan bahwa di balik seorang tokoh, selalu tersembunyi peran 2 perempuan, yaitu ibu dan istri. Kutipan tersebut bisa dijadikan peganan bahwa perempuan yang memilih untuk berada di ranah domestik masih memiliki andil besar dalam sebuah perubahan tatanan masyarakat, melalui didikannya kepada anak atau melalui keikhlasannya menjadi teman bagi suami. Ibu Ainun melakukan hal tersebut dengan mendidik anak-anaknya dan menjadi teman dan motivator terbaik bagi suaminya. Beliau selalu memiliki cara untuk menyelesaikan permasalahan ekonomi keluarga, bahkan selalu memberikan masukan positif saat bapak Habibie menjabat sebagai presiden RI.
Selama menjadi ibu negara, beliau tak pernah letih menunjukkan dedikasi dan pengabdiannya pada suami dan negara secara bersamaan. Saat Indonesia masih berada di titik nadir pasca krisis 1998, beliau selalu bisa menempatkan dirinya sebagai ibu negara yang melayani rakyat dan memberi dukungan kepada suaminya sekaligus.
Pilihannya untuk fokus di keluarga, tak mengurangi kepeduliannya pada kegiatan sosial, seperti mendirikan Yayasan Bank Mata, Yayasan Beasiswa ORBIT dan Yayasan SDM Iptek untuk memperkenalkan dan meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi pada masyarakat Indonesia.
Sosok seperti ibu Ainun harusnya membuka pemikiran para perempuan. Peran sebagai ibu rumah tangga bukanlah penghalang untuk berkegiatan di ranah publik. Kedua-duanya bisa menjadi satu paket, jika perempuan-perempuan bisa belajar dan mencerdaskan dirinya sendiri.
0 komentar:
Posting Komentar