Selasa, 19 Agustus 2014

REVIEW BUKU: Perempuan-Perepuan Harem


Penulis                    : Fatima Mernissi
Penerbit                  : Qanita (Mizan Grup)
Tahun Terbit           : 2003; 2009
Halaman                 : 336

Harem mungkin adalah sebuah keterkungkungan. Namun di salah satu harem, hidup beberapa perempuan luar biasa yang sangat agresif terhadap batasan-batasan yang mempersempit ruang gerak perempuan. Meskipun tetap membatasi ruang gerak perempuan, harem justru membesarkan  Fatima dan mengukir sosoknya sebagai salah seorang tokoh pembebasan perempuan. Ia memiliki sepupu laki-laki sekaligus teman sepermainan bernama Shamir. Mereka sama-sama memiliki rasa ingin tahu yang besar. Mereka hidup di dalam harem Fez, sebuah rumah berisi keluarga besar Mernissi. Di dalam harem tersebut, Fatima dan Shamir sering bergabung dengan kumpulan perempuan yang tak lain adalah ibu-ibu, sepupu-sepupu, dan nenek mereka sendiri. Perempuan-perempuan tersebut terbagi menjadi dua kelompok besar yakni kelompok tradisionalis konservatif dan kelompok revolusionis. Kelompok tradisionalis konservatif dijaga ketat oleh Lalla Mani (nenek Fatima) dan Ibunda Chama. Mereka ingin tetap mempertahankan tradisi-tradisi Timur Tengah dalam kehidupan sehari-hari. Mereka menolak mentah-mentah gaya hidup Barat dan pemberontakan terhadap tradisi Arab. Sebaliknya, kelompok revolusionis memiliki lebih banyak pengikut, di antaranya bunda Fatima, Chama, dan Bibi Habiba. Perempuan-perempuan dalam kelompok revolusionis selalu mempunyai impian dan keinginan kuat untuk terbebas dari tembok harem. Mereka ingin bebas bergerak di luar seperti perempuan-perempuan Perancis.

Bagi anak-anak, batas Harem hanyalah di antara ruang tengah, depan, belakang, dan pagar yang mengelilingi mereka. Jadi, sangat mudah bagi mereka untuk mengetahui batas tempat bermain mereka. Namun bagi orang dewasa, harem bukanlah sebuah pagar atau batasan antar ruangan. Tetapi, harem lebih dari itu. Kata Ayah Fatima bahwa ketika Allah menciptakan bumi, Dia memisahkan kaum laki-laki dari kaum perempuan, dan meletakan lautan di antara kaum muslimin dan kaum Kristen,  karena satu alasan, kedamaian hanya akan terwujud bila setiap pihak menghargai batas-batas pihak lain. Melampaui batas-batas hanya akan membawa penyesalan dan kepedihan. Namun, bagi perempuan melampaui batas-batas suci (hudud) adalah mimpi mereka, dan dunia di luar sana menjadi obsesi untuk menembus dinding-dinding tersebut. Gerbang harem adalah sebuah pembatas dan jika ingin keluar harus minta izin kepada penjaga gerbang dan sudah tentu dengan alasan yang tepat. Namun, untuk mencapai misinya perempuan selalu menggunakan kelebihannya dengan “mempengaruhi” penjaga pintu gerbang dengan kata-kata yang meyakinkan.  Dan dengan kata-kata pula seorang perempuan pengarang kisah seribu satu malam “mempengaruhi” raja dengan kata-kata, Fatima pun ingin sekali mengetahui bagaimana Syahrazad melakukannya.  Hingga suatu senja, ibunda Fatima meluangkan waktu untuk menerangkan kepada Fatima kenapa cerita itu dinamakan seribu satu malam.  Ketika ibu Fatima merampungkan kisah Syahrazad, Fatima penasaran “bagaimana seseorang bisa mereka-reka cerita yang menyenangkan sang Raja?” Ibunda Fatima berkata, itu adalah pekerjaan seorang perempuan. Dan cerita-cerita itulah yang membuat Fatima ingin segera dewasa dan menjadi pencerita handal. Fatima ingin belajar, bagaimana bercerita di malam hari.

Ibunda Fatima dan perempuan-perempuan istimewa di harem keluarga Fatima yang membesarkan dan menginspirasi Fatima. Alih-alih diam membisu dan menyerah pada tembok tradisi. Mereka berusaha tetap menghayati kebersamaan yang ada dengan saling berbagi mimpi-mimpi menembus dinding harem . Dan cobalah anda turut menghirup “kebebasan’ perempuan-perempuan yang terkungkung itu. Merasakan keceriaan mereka, menghikmahti kearifan mereka, kemudian meyakini, tak juga tembok sekuat apa pun dapat mengekang pikiran yang ingin terbang merdeka.

Singkat kata dari novel ini, definisi strereotipe yang diajukan Barat terhadap harem, perempuan, dan tradisi Timur Tengah perlu dibongkar lagi. Fatima Mernissi, lewat novelnya telah melakukan usaha penjernihan ulang gambaran harem yang selama ini telah keliru dan disebarluaskan oleh para orientalis Barat. Ia juga melakukan kritik dengan gaya ironi terhadap pandangan Barat mengenai perempuan-perempuan Timur Tengah. Sebuah novel penting yang tidak hanya membawa semangat kebebasan perempuan, tetapi juga semangat membongkar orientalisme, dan layak dibaca baik oleh Timur maupun oleh Barat, laki-laki maupun perempuan.





1 komentar:

  1. Assalamu'alaikum,, kak nisa' boleh ngobrol lebih lanjut terkait artikel kaka?
    klo bleh, langsung PC ana ya kak
    085785311703

    BalasHapus