Penulis : Ali Syariati
Penerbit : Rausyanfikr Institute
Tebal : 101 halaman
Tahun Terbit : Juni 2012
Banyak pembicaraan mengenai isu poligami Nabi Muhammad dan masalah perempuan. Poligami seolah menjadi sebuah momok menakutkan bagi kaum perempuan. Beberapa anggapan mengatakan bahwa permasalahan poligami yang terjadi hari ini dikarenakan persoalan sejarah poligami yang dilakukan Nabi Muhammad, meskipun beberapa cerita yang ada sangat jauh dari fakta sejarah yang sesungguhnya.
Buku ini menganggap bahwa permasalahan perempuan dari berbagai sudut yang dapat didiskusikan bergantung variabel zaman dan lingkungan sampai batas tertentu, sehingga kadang-kadang banyak prinsip dan norma yang dianggap sangat manusiawi pada periode tertentu dan dianggap kejahatan anti kemanusiaan di lingkungan dan era lainnya. Permasalahan poligami adalah permasalahan seperti itu. Jelasnya suara hati di zaman kita ini dilukai oleh penghinaan yang mengerikan pada perempuan tersebut karena poligami.
Akan tetapi di zaman dahulu, khususnya di masyarakat primitif, prinsip poligami memungkinkan bagi para janda dan mungkin anak-anak mereka yang yatim akan mendapatkan kehangatan keluarga, keamanan dan kesejahteraan. Sesuatu yang mereka tidak peroleh, jika tidak dipraktikkan. Oleh karena itu, masa depan mereka yang terancam kemiskinan, kesengsaraan dan kebejatan moral akan terantisipasi karena perlindungan seorang laki-laki yang pada zaman tersebut merupakan satu-satunya pelindung perempuan dan anaknya. Lebih jauh lagi, keluarga yang akan tercerai-berai ketika “kematian merah” (kesyahidan) yang sering terjadi pada laki-laki akan mendapatkan pemeliharaan dan bantuan lagi (karena pernikahan poligami). Dan Nabi Muhammad dalam hal ini bukan hanya berusaha secara teoritis, tetapi juga secara praktis. Beliau menganugerahkan perempuan dengan martabat dan hak-hak yang telah Islam tetapkan bagi mereka.
Buku ini juga menjelaskan tentang kisah kehidupan Nabi Muhammad bersama para istri-istrinya. Bagaimana kehidupan mereka yang penuh dengan kesederhanaan, serta cara Nabi memperlakukan para istrinya dengan memuliakannya dan tidak diskriminatif. Sangat jauh dari kisah yang mungkin sering kita dengar saat ini tentang cerita perselingkuhan Zainab, istri Zaid (anak angkat Nabi) yang tidak bukan adalah cerita yang penuh dengan unsur rekayasa. Atau cerita tentang Nabi yang menikahi perempuan di bawah umur (Aisyah) atau cerita-cerita lainnya. Sedangkan di sisi lain, fakta bahwa tatkala Nabi berusia dua puluh lima tahun, beliau menikahi perempuan berusia lima belas tahun lebih tua darinya yaitu Khadijah (istri pertama beliau). Atau fakta bahwa Nabi menikahi janda yang berusia lima puluh tahun dan hidup selama tiga puluh tahun bersamanya, dan masih banyak lagi fakta-fakta lainnya yang justru diabaikan.
0 komentar:
Posting Komentar