Jumat, 29 Agustus 2014

OPINI: Perempuan dan Kepemimpinan

Oleh: Selvy A. Syarif


Sebuah komunitas atau pun sekumpulan orang secara alamiah memiliki sosok yang mampu didengar dan bisa menjadi teladan. Singkat katanya, sebuah komunitas atau kelompok membutuhkan seorang pemimpin. Membahas tentang pemimpin tentu tak akan terlepas dengan konsep kepemimpinan. Namun, perlu ditekankan bahwa cukup banyak tokoh atau pun peneliti yang mencoba mendefinisikan kepemimpinan dengan kerangka yang berbeda-beda. Sehingga Gary Yukl dalam buku “Kepemimpinan Dalam Organisasi” mencoba memberikan gambaran bahwa pada umumnya ada tiga pendekatan yang biasa digunakan dalam teori kepemimpinan, yaitu (1) berpusat pada pemimpin atau berpusat pada pengikut; (2) deskriptif (memberi gambaran) atau preskriptif (memberi petunjuk); dan (3) universal atau kontijensi.

Dari 3 pendekatan di atas, bisa kita temukan bahwa titik tekan teori kepemimpinan bukan saja pada pembahasan tentang karakteristik atau pola perilaku pemimpin, yang berkaitan dengan ciri seorang pemimpin, keyakinan, keterampilan dan keahlian, integritas dan etika, dan taktik mempengaruhi. Melainkan juga berkaitan dengan karakteristik pengikutnya, yang terbentuk dari ciri atau konsep pribadi pengikut, keyakinan, sifat dari pemimpinnya, kepercayaan terhadap pemimpinnya, komitmen dan kepuasan terhadap pemimpin dan tugasnya.
Teori kepemimpinan juga perlu memberikan perhatian pada variabel yang berkaitan dengan karakteristik situasi. Variabel ini membahas tentang jenis dan besarnya unit dari sebuah kelompok (organisasi), pembagian posisi kekuasaan dan wewenang, struktur dan kerumitan tugas, kesalingtergantungan tugas, keadaan lingkungan yang bisa berubah-ubah dan adanya ketergantungan eksternal.

Berbicara tentang teori kepemimpinan dan banyaknya studi yang membahas tentang pengaruh jenis kelamin terhadap efektivitas kepemimpinan dalam sebuah kelompok adalah sesuatu yang masih sering dilakukan. Beberapa peneliti menyimpulkan bahwa tidak ada bukti tentang perbedaan dalam perilaku atau keterampilan yang dimiliki oleh pemimpin laki-laki atau perempuan. Peneliti yang lain malah menemukan perbedaan yang berhubungan dengan jenis kelamin bagi beberapa keterampilan atau perilaku kedua jenis kelamin ini dalam beberapa situasi. Misalnya, Eagly dan Johnson (1990) yang melakukan penelitian berkaitan kasus di atas menemukan bahwa kepemimpinan partisipatif lebih banyak digunakan oleh perempuan dibandingkan laki-laki.
Jika ada perbedaan antara perilaku kepemimpinan atau efektivitas antara laki-laki dan perempuan, maka sangat perlu ditemukan alasannya. Gary Yukl memberikan dua kemungkinan yang bisa menjadi alasan. Pertama, perbedaan secara biologis diperkuat oleh perlakuan berbeda selama masa kanak-kanak menyebabkan laki-laki dan perempuan memiliki nilai, ciri dan keterampilan berbeda dalam menghadapi berbagai macam situasi. Dan kedua, perbedaan stereotipe mengakibatkan harapan peran yang berbeda, dan bisa mempengaruhi perilaku kepemimpinan, serta persepsi dan evaluasi dari perilaku itu oleh orang lain. Namun, saat ini orang akan lebih menghubungkan perbedaan bentuk kepemimpinan karena faktor biologis bahkan psikologis, dibanding stereotipe dan bias yang bisa diubah.

Perbedaan biologis yang punya pengaruh besar terhadap kondisi psikologis seseorang mengarahkan kita pada satu pandangan yang sama. Perempuan dengan segala aktivitas alamiahnya (aktivitas biologis, seperti menstruasi, mengandung, dan melahirkan) akan memberikan efek besar terhadap efektivitas kepempimpinan. Pendapat seperti itu tentu saja masih sangat sering didengar. Aktivitas biologis perempuan sering dijadikan alasan untuk tidak memberikan perempuan posisi yang strategis, karena aktivitas tersebut akan menghambat kinerja bahkan kondisi tersebut sering digambarkan sebagai penghalang sebuah organisasi untuk mengambil langkah taktis. Tak dipungkiri bahwa ada hal-hal biologis yang memberikan perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Hal biologis itu pun cukup banyak mempengaruhi perkembangan psikologis setiap orang (baik laki-laki dan perempuan).

Beberapa hasil penelitian misalnya, otak perempuan ternyata jauh lebih kompleks dibandingkan dengan otak laki-laki. Laki-laki memiliki banyak sinapsis di daerah lobus frontalis, sedangkan perempuan mempunyai lebih banyak selubung mielin. Implikasinya adalah jumlah sinapsis yang banyak membuat kecepatan tinggi dalam mentransfer data bilostrik antar sel saraf di daerah frontalis seorang laki-laki. Sebaliknya, pada perempuan, distribusi data lebih merata dan proses pencegahan distribusi distorsi lebih sempurna. Hal ini menyebabkan perempuan membutuhkan durasi lama saat memutuskan sesuatu, karena variabel yang diolah otaknya sangat banyak. Ini tidak terjadi pada otak laki-laki. Bagi perempuan, detail dan sistematika runut menjadi kecenderungan otaknya.

Dari sedikit penjelasan di atas, bisa ditarik kesimpulan (sementara) bahwa pemimpin perempuan punya banyak pertimbangan dan membutuhkan waktu yang cukup lama dalam mengambil keputusan. Dari sisi efesiensi, pemimpin perempuan lamban dalam mengambil keputusan, khususnya untuk keputusan yang sifatnya taktis. Namun pada kondisi lain, aspek analitis yang dimiliki perempuan tentu tidak bisa dinafikan begitu saja, karena untuk membuat keputusan yang begitu penting pastilah membutuhkan analisa tajam dan mendalam.
Dari sini, perempuan harusnya memotivasi dirinya untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas diri. Sehingga perempuan yang menjadi pemimpin bisa memiliki dua senjata sekaligus, yaitu perasaan halus yang dapat menyentuh perasaan, dan argumentasi yang kuat yang bisa menyentuh nalar. Aspek analitis akan bekerja dalam waktu bersamaan dengn sisi kelembutan, cinta, dan kepedulian dalam diri seorang perempuan pemimpin.
Pada intinya, untuk menjadi seorang pemimpin yang baik tidak ditentukan oleh jenis kelamin. Adapun pembeda yang hadir atas perbedaan yang ada seharusnya menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kapasitas dan pengetahuan diri. Seperti yang dikutip Yukl dalam bukunya, bahwa hanya sedikit alasan untuk meyakini baik laki-laki ataupun perempuan akan menjadi superior dibanding yang lain. Malah dalam kondisi tertentu, salah satunya bahkan bisa memberikan performa yang tidak bagus dibanding yang lain.

Bagi Powell (1990), organisasi harus menggunakan semua bakat yang dimiliki (baik perempuan atau laki-laki) untuk mencapai titik keberhasilan. Untuk melakukan hal ini, mereka harus melakukan identifikasi, pengembangan, memberikan dorongan dan mempromosikan siapapun yang menjadi manajer (pimpinan atau pemimpin) yang paling efektif, apapun jenis kelaminnya. *)


*) Referensi:
1. Yukl,Gary. Kepemimpinan Dalam Organisasi (2009).
2. Shihab, M. Quraish. Perempuan (2005).




3. GK. Tasaro. Kinanthi Terlahir Kembali (2012)

0 komentar:

Posting Komentar