Oleh: Nuralam
Ibumu telah mengandung, memberikan segalanya
kepadamu, mempersiapkan diri untuk berkhidmat kepadamu, memberikan semua yang
dia miliki kepadamu dengan senang hati, memikul semua kesedihan atau
kepedihannya, diberi kekuatan oleh Allah untuk melahirkanmu, dia rela (senang)
kalau kamu kenyang meskipun dia sendiri lapar, dia mempersiapkan untukmu
pakaian meskipun dia sendiri tidak berpakaian, dia senang kalau sudah hilang
dahagamu meski dia tetap kehausan, dia gembira kalau kamu terhindar dari panas
matahari meski dia sendiri terkena panas matahari, siap menderita tapi kamu
memperoleh kenikmatan, siap tak bisa tidur tapi kamu bisa tidur nyenyak. Kalau
kamu ingin mensyukuri nikmat yang diberikan ibumu, maka selalu ingatlah apa
yang dilakukan oleh ibumu, tapi kamu tak akan mampu mensyukuri semuanya”(Ali
Zainal Abidin Bin Husain)
Tujuan mencapai pusat spiritual atau asal kehidupan
disimbolkan dengan tawaf, mengitari Ka’bah dari arah kanan ke kiri sebanyak 7
kali. Proses tawaf ini diibaratkan seperti nutfa yang menuju
inti telur. Menurut Achmad Chodjim dalam “Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga”,
Ka’bah yang dikenal sebagai bait Allah atau rumah Tuhan merupakan lambang bagi
rahim kehidupan. Perumpamaan rahim dengan bait Allah menyiratkan tentang
kemuliaan kedudukan perempuan yang dianugerahkan rahim padanya. Melalui rahim
perempuanlah, Tuhan menitipkan sebagian dari keberlangsungan kehidupan yang
akan membentuk peradaban, memenuhi tugas-tugas kemanusiaan sebagai khalifatul
ardh dan akan menebarkan aroma yang memiliki keharuman yang melintasi
zaman, ruang bahkan waktu.
Mulla shadra berkata dengan firman Tuhan: “Setiap
kali aku merenungi ayat-ayat berikut, “dan sesungguhnya kami telah
menciptakan manusia dari saripati (berasal dari tanah). Kemudian kami jadikan
saripati itu mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian air
mani itu kami jadikan segumpal darah, Lalu segumpal darah itu, Kami jadikan
segumpal daging, Dan segumpal daging itu kami jadikan tulang-belulang, Lalu
tulang –belulang itu kami bungkus dengan daging, Kemudian kami jadikan dia
makhluk yang (berbentuk) lain. Maha suci Allah, pencipta yang paling baik (QS.
Al Mu’minun:12-14). Aku terilhami oleh ekspresi ayat-ayat tersebut yang
mengisyaratkan bahwa obyek-obyek tersebut telah dijadikan ciptaan yang lain.”
Jalaluddin Rumi turut menggubah kehebatan
perempuan: “Betapa hebatnya wanita itu, Karena di setiap tempat aku melihat
“ibu” yang adalah wanita. Segala sesuatu dalam kosmos ini adalah wanita dan ia
adalah ibu yang melahirkan sesuatu yang lebih tinggi dari dirinya sendiri.
Apakah itu batu api yang yang melahirkan percikan yang kemudian menghasilkan
api untuk kehidupan untuk peradaban bumi adalah wanita yang melahirkan berbagai
tetumbuhan sebagai hasil dari hieros gamos (pernikahan suci).
Ketika laki-laki dengan kekuatannya menanggung
beban di pundaknya (himl), maka perempuan dengan kekuatannya pula dan
dengan rahim yang dianugerahkan padanya menanggung beban berat bukan di
pundaknya, melainkan dalam tubuhnya. Rahim yang di dalamnya akan memperpanjang
kasih ilahi, yang dengannya rahmat tuhan bagi semesta akan berlangsung hingga
akhir zaman.
Dan ketika perempuan diwajibkan menjaga kesucian
hijab dan bahkan zakat kecantikan adalah iffah (menjaga
kesucian diri dengan menjajahkan diri dari berbagai hal yang tidak baik) adalah
bagian dari kasih Ilahi yang ingin menjaga kekasihNya (baca: perempuan).
Berbahagialah para perempuan yang memaksimalkan
feminitasnya sebagai ketertarikan pada Zat Yang Maha Pencipta. Yang
dengan tangisan, rintihan dan kelembutan hatinya dijadikan senjata keberTuhanan
yang ultim.
Berbahagialah perempuan yang Ilahi menyebutnya
dengan cinta kasih, yang sifat jamalNya terserap lebih banyak pada perempuan
dan dengan sifat yang sama Tuhan menggambarkan surgaNya. Dengan rahim,
perempuan dimandat unyuk menjadi pelanjut peradaban, perpanjangan kasih sayang
Tuhan bagi semesta alam dan pewaris Sang Maha Pencipta.
0 komentar:
Posting Komentar