Hasan putra
Fathimah berkata: “Pada suatu malam Jum’at, aku menyaksikan ibuku Fathimah
tenggelam dalam ibadah hingga pagi. Dia tiada berhenti untuk rukuk dan sujud
serta menyebut satu persatu nama tetangga. Satu persatu tetangga itu didoakan,
namun herannya aku tak mendengar beliau berdoa untuk dirinya sendiri. Dengan
takjub, aku bertanya kepadanya, “Wahai
ibu! Mengapa ibu hanya mendoakan orang lain, dan mengabaikna diri sendiri?”
Ibuku menjawab, “Anakku! Tetangga dahulu,
baru diri kita. Al-jar stumma ad-daar.”.”
0 komentar:
Posting Komentar