Oleh: Nurul Fajri
Sayyidah
Maryam berasal dari kalangan terhormat dan taat beragama. Ia dilahirkan oleh ibu
yang bernama Hannah Bint Qafudzan dan ayahnya ’Imran Ibn Matsan. Orangtuanya
adalah orang saleh yang memiliki kesetiaan tinggi pada agama, sehingga Bani
Israel memuliakan keluarga ini dan juga diberikan kedudukan tinggi oleh Allah
pada masa itu. Selain kedua orangtuanya, Sayyidah Maryam merupakan keturunan
orang shaleh. Nabi Zakariyya Alaihi Salam adalah pamannya, sedangkan bibinya
adalah Asya’ Bint Qafudzan, bunda Nabi Yahya Alaihi Salam. Dan lingkungan
spiritual memberikan pengaruh besar pada dirinya kelak.
Pada
usia tuanya yang belum dikaruniai anak, Sayyidah Hannah lalu berdoa: “Ya Allah, jika sekiranya engkau
menganugerahkan seorang anak kepada hamba, maka akan hamba tempatkan ia di
Baitul Maqdis untuk melayani rumahMu.”
Selang
beberapa lama kemudian, Sayyidah Hannah pun mengandung. Beliau sangat gembira
akan anak yang dikandungnya. Kegembiraan itu dituangkan dalam ucapan syukur
berupa nazar untuk menempatkan sang anak kelak sebagai pelayan rumah suci yang
dimuliakan di Yerusalem (Al Quds).
Dalam
munajatnya beliau berdoa: “Ya Tuhanku,
sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi
hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah
(nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui.” (QS.Ali Imran:35 )
Namun
dalam masa kehamilannya, Imran wafat. Kebahagiaan Sayyidah Hannah lalu berubah
menjadi kesedihan. Setelah masa iddah
selesai, Hannah kedatangan tamu istimewa, Nabi Zakaria bin Barkhaya AS bersama
Isya, istrinya. Mereka menghibur dan memberi nasehat kepada Hannah, sehingga
bisa menerima takdir itu dengan lapang dada dan ikhlas.
Bayi
yang ditunggu itu pun lahir, seorang bayi perempuan yang diberi nama Maryam,
yang bermakna ibadah. Nabi Zakariyya Alaihis Salam membawa bayi mungil itu dan
dirawat oleh Sayyidah Asya’ Bint Qafudzan, bibi Maryam kecil sekaligus istri
terkasih sang Nabi. Dengan penuh kasih sayang, mereka merawat Maryam hingga
tumbuh menjadi gadis lemah lembut yang paling cantik dan terhormat di kalangan
Bani Israel. Ditambah dengan kesalehannya, maka jadilah ia wanita utama di saat
itu.
Setelah
Maryam mencapai usia baligh, Nabi Zakariyya
Alaihi Salam membangun sebuah mihrab atau ruangan khusus tempat tinggal dan
beribadah Maryam di Baitul Maqdis. Hanya Nabi Zakariyya yang boleh menaiki
tangga itu untuk membawakan Sayyidah Maryam berbagai keperluannya, seperti
makanan dan minuman. Di dalam ruangan, Maryam siang dan malam beribadah kepada
Allah. Mengagungkan namaNya dan memuja-muji keagunganNya. Tak lupa ia
menghaturkan rasa syukur, sujud dan ruku’ di hadapan kebesaran Allah Yang Maha
Kuasa lagi Maha Bijaksana. Sayyidah yang dipenuhi sifat lemah lembut. Seperti
biasa Nabi Zakariyya membawakan Sayyidah Maryam makanan dan minuman ke dalam
ruangan yang tertutup itu. Akan tetapi alangkah terkejutnya Sang Nabi begitu
mengetahui ada buah-buahan ranum lagi segar di dalam ruangan yang hanya dapat
dimasuki oleh beliau itu.
”Duhai Maryam, darimana buah-buahan
ini?”, tanya Sang Nabi.
“Makanan itu dari sisi Allah.”
Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa
hisab.” ( QS. Ali Imran : 37 ).
Suatu saat, Jibril dengan
menjelma sebagai manusia mendatangi Maryam di mihrabnya. Dalam kekagetannya,
Maryam bertanya, “Apakah engkau menusia yang mengenal Allah SWT dan bertakwa
kepada-Nya?. Sambil tersenyum orang itu menjawab, “Sesungguhnya aku ini utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak
laki-laki yang suci.” (QS Maryam: 19).
Maryam
tetap curiga, kehadiran laki-laki itu, bagaimana pun sangat mencurigakan,
apalagi ia hendak memberi anak, sementara Maryan tidak pernah disentuh seorang
lelaki pun. “Bagamana akan ada bagiku
seorang anak lelaki, sementara tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan
aku bukan pula seorang pezina.” (QS Maryam: 20).
“Demikianlah
Tuhanmu berfirman,” jawab Jibril. “Hal
itu adalah mudah bagiku dan agar dapat kami menjadikannya sebagai suatu tanda
bagi manusia dan sebagai rahmat dari kami, dan hal itu adalah suatu perkara
yang sudah diputuskan.” (QS Maryam: 21).
Sepeninggal
Malaikat Jibril, Maryam duduk kebingungan, rasa takut menguasai dirinya, ketika
ia membayangkan komentar masyarakat terhadap dirinya. Wanita yang tetap perawan
hingga anaknya lahir ini pun khawatir. Keluarganya
adalah keluarga terhormat Bani Israil dan ia merupakan keturunan nabi.
Bagaimana mungkin ia yang berasal dari keluarga baik-baik bisa mengandung tanpa
seorang laki-laki? Siapa yang akan percaya jika ini semua dari Allah? Dan tidak
ada saksi atas kedatangan Jibril padanya. Lalu Maryam memutuskan untuk pergi
sejauh mungkin.
Di
bawah pohon kurma yang tinggi besar, Maryam merasakan sakit pada perutnya. “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum
ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan.” (QS
Maryam: 23).
Rasa
sakit melahirkan anak menimbulkan penderitaan lain yang siap menantinya.
Bagaimana manusia akan menyambut anak ini? Apa yang akan mereka katakan
tentangnya? Bukankah mereka mengetahui, ia adalah wanita yang masih perawan.
Apakah manusia akan membenarkan Maryam yang melahirkan anak itu tanpa ada
seorang pun yang menyentuhnya?
Ketika
keraguan menyelimutinya, tiba-tiba anak yang baru lahir itu berkata, “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya
Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon
kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu menggugurkan buah kurma yang masak
untukmu, makan, minum, dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang
manusia, katakanlah, sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang
Maha Pemurah, aku tidak akan berbicara dengan seorang manusian pun pada hari
ini.” (QS Maryam: 24-26).
Ketika
tiba saatnya, Maryam kembali ke Baitul Maqdis, waktu menujukkan Ashar.
Kehadiran Maryam yang membopong seorang bayi mungil segera menarik perhatian
orang-orang yang lalu lalang di pasar itu. Mereka bertanya kepada Maryam:“Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah
melakukan sesuatu yang amat mungkar.” (QS Maryam:27).
Dengan
ketabahannya, Sayyidah Maryam menyerahkan segalanya kepada Allah SWT. Maryam
lalu menunjuk Isa. Mengertilah mereka bahwa ia telah puasa untuk berbicara
kepada orang-orang. “Bagaimana kami akan
bicara dengan bayi yang masih dalam ayunan?”(QS Maryam: 29). Belum selesai
mereka mengolok-olok, Isa berkata, “Sesungguhnya
aku ini hamba Allah. Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku
seorang Nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati dimana saja aku
berada. Dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup. Dan berbakti
kepada Ibuku dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan
kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari
aku meninggal, dan pada hari aku di bangkitkan hidup kembali.” (QS Maryam:
30-33).
Cerita
tentang anak Maryam lalu menggemparkan Bethlehem. Mereka mengganti keraguan dan
buruk sangka dengan penyucian dan kecintaan terhadap anak yang diberkati dan
penuh mukjizat ini. Para pendeta Yahudi pun merasa akan terjadi suatu tragedi
kepribadian yang akan datang kepada mereka dengan kelahiran anak Maryam.
Kedatangan Almasih berarti mengembalikan manusia kepada penyembahan semata-mata
kepada Allah.
0 komentar:
Posting Komentar