Selasa, 19 Agustus 2014

TOKOH: Sayyidah Maryam

 Oleh: Nurul Fajri

Sayyidah Maryam berasal dari kalangan terhormat dan taat beragama. Ia dilahirkan oleh ibu yang bernama Hannah Bint Qafudzan dan ayahnya ’Imran Ibn Matsan. Orangtuanya adalah orang saleh yang memiliki kesetiaan tinggi pada agama, sehingga Bani Israel memuliakan keluarga ini dan juga diberikan kedudukan tinggi oleh Allah pada masa itu. Selain kedua orangtuanya, Sayyidah Maryam merupakan keturunan orang shaleh. Nabi Zakariyya Alaihi Salam adalah pamannya, sedangkan bibinya adalah Asya’ Bint Qafudzan, bunda Nabi Yahya Alaihi Salam. Dan lingkungan spiritual memberikan pengaruh besar pada dirinya kelak.

Pada usia tuanya yang belum dikaruniai anak, Sayyidah Hannah lalu berdoa: “Ya Allah, jika sekiranya engkau menganugerahkan seorang anak kepada hamba, maka akan hamba tempatkan ia di Baitul Maqdis untuk melayani rumahMu.”

Selang beberapa lama kemudian, Sayyidah Hannah pun mengandung. Beliau sangat gembira akan anak yang dikandungnya. Kegembiraan itu dituangkan dalam ucapan syukur berupa nazar untuk menempatkan sang anak kelak sebagai pelayan rumah suci yang dimuliakan di Yerusalem (Al Quds).

Dalam munajatnya beliau berdoa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS.Ali Imran:35 )

Namun dalam masa kehamilannya, Imran wafat. Kebahagiaan Sayyidah Hannah lalu berubah menjadi kesedihan. Setelah masa iddah selesai, Hannah kedatangan tamu istimewa, Nabi Zakaria bin Barkhaya AS bersama Isya, istrinya. Mereka menghibur dan memberi nasehat kepada Hannah, sehingga bisa menerima takdir itu dengan lapang dada dan ikhlas.

Bayi yang ditunggu itu pun lahir, seorang bayi perempuan yang diberi nama Maryam, yang bermakna ibadah. Nabi Zakariyya Alaihis Salam membawa bayi mungil itu dan dirawat oleh Sayyidah Asya’ Bint Qafudzan, bibi Maryam kecil sekaligus istri terkasih sang Nabi. Dengan penuh kasih sayang, mereka merawat Maryam hingga tumbuh menjadi gadis lemah lembut yang paling cantik dan terhormat di kalangan Bani Israel. Ditambah dengan kesalehannya, maka jadilah ia wanita utama di saat itu.

Setelah Maryam mencapai usia baligh, Nabi Zakariyya Alaihi Salam membangun sebuah mihrab atau ruangan khusus tempat tinggal dan beribadah Maryam di Baitul Maqdis. Hanya Nabi Zakariyya yang boleh menaiki tangga itu untuk membawakan Sayyidah Maryam berbagai keperluannya, seperti makanan dan minuman. Di dalam ruangan, Maryam siang dan malam beribadah kepada Allah. Mengagungkan namaNya dan memuja-muji keagunganNya. Tak lupa ia menghaturkan rasa syukur, sujud dan ruku’ di hadapan kebesaran Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. Sayyidah yang dipenuhi sifat lemah lembut. Seperti biasa Nabi Zakariyya membawakan Sayyidah Maryam makanan dan minuman ke dalam ruangan yang tertutup itu. Akan tetapi alangkah terkejutnya Sang Nabi begitu mengetahui ada buah-buahan ranum lagi segar di dalam ruangan yang hanya dapat dimasuki oleh beliau itu.

”Duhai Maryam, darimana buah-buahan ini?”, tanya Sang Nabi.
            “Makanan itu dari sisi Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.” ( QS. Ali Imran : 37 ).

Suatu saat, Jibril dengan menjelma sebagai manusia mendatangi Maryam di mihrabnya. Dalam kekagetannya, Maryam bertanya, “Apakah engkau menusia yang mengenal Allah SWT dan bertakwa kepada-Nya?. Sambil tersenyum orang itu menjawab, “Sesungguhnya aku ini utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.” (QS Maryam: 19).

Maryam tetap curiga, kehadiran laki-laki itu, bagaimana pun sangat mencurigakan, apalagi ia hendak memberi anak, sementara Maryan tidak pernah disentuh seorang lelaki pun. “Bagamana akan ada bagiku seorang anak lelaki, sementara tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan pula seorang pezina.” (QS Maryam: 20).

“Demikianlah Tuhanmu berfirman,” jawab Jibril. “Hal itu adalah mudah bagiku dan agar dapat kami menjadikannya sebagai suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari kami, dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.” (QS Maryam: 21).

Sepeninggal Malaikat Jibril, Maryam duduk kebingungan, rasa takut menguasai dirinya, ketika ia membayangkan komentar masyarakat terhadap dirinya. Wanita yang tetap perawan hingga anaknya lahir ini pun khawatir. Keluarganya adalah keluarga terhormat Bani Israil dan ia merupakan keturunan nabi. Bagaimana mungkin ia yang berasal dari keluarga baik-baik bisa mengandung tanpa seorang laki-laki? Siapa yang akan percaya jika ini semua dari Allah? Dan tidak ada saksi atas kedatangan Jibril padanya. Lalu Maryam memutuskan untuk pergi sejauh mungkin.

Di bawah pohon kurma yang tinggi besar, Maryam merasakan sakit pada perutnya. “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan.” (QS Maryam: 23).

Rasa sakit melahirkan anak menimbulkan penderitaan lain yang siap menantinya. Bagaimana manusia akan menyambut anak ini? Apa yang akan mereka katakan tentangnya? Bukankah mereka mengetahui, ia adalah wanita yang masih perawan. Apakah manusia akan membenarkan Maryam yang melahirkan anak itu tanpa ada seorang pun yang menyentuhnya?

Ketika keraguan menyelimutinya, tiba-tiba anak yang baru lahir itu berkata, “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu menggugurkan buah kurma yang masak untukmu, makan, minum, dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, katakanlah, sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha Pemurah, aku tidak akan berbicara dengan seorang manusian pun pada hari ini.” (QS Maryam: 24-26).

Ketika tiba saatnya, Maryam kembali ke Baitul Maqdis, waktu menujukkan Ashar. Kehadiran Maryam yang membopong seorang bayi mungil segera menarik perhatian orang-orang yang lalu lalang di pasar itu. Mereka bertanya kepada Maryam:“Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar.” (QS Maryam:27).

Dengan ketabahannya, Sayyidah Maryam menyerahkan segalanya kepada Allah SWT. Maryam lalu menunjuk Isa. Mengertilah mereka bahwa ia telah puasa untuk berbicara kepada orang-orang. “Bagaimana kami akan bicara dengan bayi yang masih dalam ayunan?”(QS Maryam: 29). Belum selesai mereka mengolok-olok, Isa berkata, “Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati dimana saja aku berada. Dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup. Dan berbakti kepada Ibuku dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal, dan pada hari aku di bangkitkan hidup kembali.” (QS Maryam: 30-33).

Cerita tentang anak Maryam lalu menggemparkan Bethlehem. Mereka mengganti keraguan dan buruk sangka dengan penyucian dan kecintaan terhadap anak yang diberkati dan penuh mukjizat ini. Para pendeta Yahudi pun merasa akan terjadi suatu tragedi kepribadian yang akan datang kepada mereka dengan kelahiran anak Maryam. Kedatangan Almasih berarti mengembalikan manusia kepada penyembahan semata-mata kepada Allah.


0 komentar:

Posting Komentar