Jumat, 29 Agustus 2014

KISAH HIKMAH: Pertama Tetangga, Kemudian Dirimu

Malam itu, seperti malam-malam lainnya, Hasan dan Husein melihat ibunya dengan penuh kekhusyuan sedang melakukan ibadah. Wajah beliau bercahaya bak bintang di langit. Mereka berdua tahu bahwa dalam kondisi demikian, ibu mereka akan melupakan dunia dan apa yang ada di dalamnya. Satu-satunya yang dipikirkan hanya Allah Swt. Mereka berdua telah terbiasa memandang sang ibu saat melakukan shalat atau sedang bermunajat. Mereka benar-benar menikmati kondisi spiritual ini.

Akhirnya shalat sang ibu selesai. Pada waktu itu mereka mendengar sang ibu berdoa untuk para tetangga. Mereka menanti dan ingin mengetahui setelah tetangga, siapa lagi yang akan didoakan oleh sang ibu. Mereka benar-benar ingin tahu apa yang dimohonkan oleh sang ibu kepada Allah Swt untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya. Tapi ternyata sang ibu tidak meminta sesuatu untuk dirinya dan anak-anaknya. Beliau masih tetap berdoa kepada Alah Swt untuk tetangga dan orang-orang dekatnya.

Sayidah Fathimah az-Zahra kemudian berdiri dari sajadahnya. Hasan dan Husein berkata, "Ibu! Setelah melakukan shalat dan bermunajat, apakah ada yang engkau minta kepada Allah Swt untuk kami?"

Sang ibu menjawab, "Allah Swt senang bila para hambaNya memohon kepadaNya di segala kondisi, khususnya setelah shalat. Karena kondisi itu adalah waktu dikabulkannya doa. Tapi hajatku akan dikabulkan ketika tetangga dan orang-orang terdekat kita dikabulkan hajatnya."



Beliau kemudian berkata, "Saya berdoa untuk orang lain dengan prinsip bahwa diturunkannya kebaikan dan keberkahan kepada tetangga dengan sendirinya saya juga dapat memanfaatkan berkah dan pertolongan Allah."

0 komentar:

Posting Komentar