Selasa, 19 Agustus 2014

REVIEW BUKU: The Mommy Brain

Judul Buku       : The Mommy Brain
Penulis             : Katherine Ellison  
Penerbit          : PT. Bhuana Ilmu Populer
Tebal Buku      : 401 halaman
Tahun Terbit   : 2011

Memilih untuk berbadan dua artinya anda sedang berada pada zaman baru di saat kecerdasaan fisik dan mental mengalami penyusutan. The Mommy Brain, istilah modern bagi penyakit yang menjangkiti para ibu yang mengalami kondisi ini.
       
Sebagian besar perempuan hamil dan yang baru saja melahirkan, sampai saat ini percaya bahwa kecerdesan mereka menurun. Suatu keyakinan yang kadang membawa rasa malu dan takut. Mereka mengatakan bahwa mereka kehilangan daya ingat, perhatian yang kacau, konsentrasi yang lemah, dan melambatnya kognitif secara umum.

The Mommy Brain” membuat seabrek psikiater, psikolog, dan ahli endokrinologi di seluruh dunia menyelediki pembuktian kebenarannya. Juga ketika Katherine Ellison—penulis buku ini—mendapati dirinya sedang hamil, lebih sibuk dari biasanya. Ia juga lebih bertenaga dan efisien, lebih terlibat secara sosial, dan waspada secara mental. Karenanya, ia mewawancarai para ilmuwan dan beberapa ibu hamil hampir di seluruh dunia.

Eureka! Hasilnya memang mengejutkan. Hasil penelitian membongkar mitos “The Mommy Brain”. Menjadi Ibu justru membuat Anda semakin cerdas. Tuntutan multi tugas yang bekerjasama dengan emosi, reaksi hormon, dan jutaan pengalaman sensoris membuat otak ibu mengalami revolusi. Persepsi indera yang berkembang, efisiensi, mengurangi stres, kekuatan mental, dan meningkatnya kecerdasan sosial yang dimiliki ibu adalah atribut-atribut otak yang dirangsang oleh bayi.

Banyak ibu menganggap bahwa “The Mommy Brain” hanya sugesti yang kebanyakan terjadi. Mereka justru dapat melaksanakan beberapa tugas sekaligus. Misalnya, memberi makan tiga bayi sekaligus dalam tiap tiga jam dengan posisi bayi yang berbeda-beda.

Alam juga menghadapi persoalan, perempuan lebih mudah berkompromi daripada memerangi atau lari dari persolan tersebut. Menjadi ibu adalah pilihan bijak untuk menjadi cerdas. 


Saya rasa tidak ada hal lebih yang dapat Anda lakukan terhadap otak anda selain mempunyai anak,” Michael Merzenah, Dosen Ilmu Sarad, University of California.

TOKOH: Sayyidah Maryam

 Oleh: Nurul Fajri

Sayyidah Maryam berasal dari kalangan terhormat dan taat beragama. Ia dilahirkan oleh ibu yang bernama Hannah Bint Qafudzan dan ayahnya ’Imran Ibn Matsan. Orangtuanya adalah orang saleh yang memiliki kesetiaan tinggi pada agama, sehingga Bani Israel memuliakan keluarga ini dan juga diberikan kedudukan tinggi oleh Allah pada masa itu. Selain kedua orangtuanya, Sayyidah Maryam merupakan keturunan orang shaleh. Nabi Zakariyya Alaihi Salam adalah pamannya, sedangkan bibinya adalah Asya’ Bint Qafudzan, bunda Nabi Yahya Alaihi Salam. Dan lingkungan spiritual memberikan pengaruh besar pada dirinya kelak.

Pada usia tuanya yang belum dikaruniai anak, Sayyidah Hannah lalu berdoa: “Ya Allah, jika sekiranya engkau menganugerahkan seorang anak kepada hamba, maka akan hamba tempatkan ia di Baitul Maqdis untuk melayani rumahMu.”

Selang beberapa lama kemudian, Sayyidah Hannah pun mengandung. Beliau sangat gembira akan anak yang dikandungnya. Kegembiraan itu dituangkan dalam ucapan syukur berupa nazar untuk menempatkan sang anak kelak sebagai pelayan rumah suci yang dimuliakan di Yerusalem (Al Quds).

Dalam munajatnya beliau berdoa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS.Ali Imran:35 )

Namun dalam masa kehamilannya, Imran wafat. Kebahagiaan Sayyidah Hannah lalu berubah menjadi kesedihan. Setelah masa iddah selesai, Hannah kedatangan tamu istimewa, Nabi Zakaria bin Barkhaya AS bersama Isya, istrinya. Mereka menghibur dan memberi nasehat kepada Hannah, sehingga bisa menerima takdir itu dengan lapang dada dan ikhlas.

Bayi yang ditunggu itu pun lahir, seorang bayi perempuan yang diberi nama Maryam, yang bermakna ibadah. Nabi Zakariyya Alaihis Salam membawa bayi mungil itu dan dirawat oleh Sayyidah Asya’ Bint Qafudzan, bibi Maryam kecil sekaligus istri terkasih sang Nabi. Dengan penuh kasih sayang, mereka merawat Maryam hingga tumbuh menjadi gadis lemah lembut yang paling cantik dan terhormat di kalangan Bani Israel. Ditambah dengan kesalehannya, maka jadilah ia wanita utama di saat itu.

Setelah Maryam mencapai usia baligh, Nabi Zakariyya Alaihi Salam membangun sebuah mihrab atau ruangan khusus tempat tinggal dan beribadah Maryam di Baitul Maqdis. Hanya Nabi Zakariyya yang boleh menaiki tangga itu untuk membawakan Sayyidah Maryam berbagai keperluannya, seperti makanan dan minuman. Di dalam ruangan, Maryam siang dan malam beribadah kepada Allah. Mengagungkan namaNya dan memuja-muji keagunganNya. Tak lupa ia menghaturkan rasa syukur, sujud dan ruku’ di hadapan kebesaran Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. Sayyidah yang dipenuhi sifat lemah lembut. Seperti biasa Nabi Zakariyya membawakan Sayyidah Maryam makanan dan minuman ke dalam ruangan yang tertutup itu. Akan tetapi alangkah terkejutnya Sang Nabi begitu mengetahui ada buah-buahan ranum lagi segar di dalam ruangan yang hanya dapat dimasuki oleh beliau itu.

”Duhai Maryam, darimana buah-buahan ini?”, tanya Sang Nabi.
            “Makanan itu dari sisi Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.” ( QS. Ali Imran : 37 ).

Suatu saat, Jibril dengan menjelma sebagai manusia mendatangi Maryam di mihrabnya. Dalam kekagetannya, Maryam bertanya, “Apakah engkau menusia yang mengenal Allah SWT dan bertakwa kepada-Nya?. Sambil tersenyum orang itu menjawab, “Sesungguhnya aku ini utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.” (QS Maryam: 19).

Maryam tetap curiga, kehadiran laki-laki itu, bagaimana pun sangat mencurigakan, apalagi ia hendak memberi anak, sementara Maryan tidak pernah disentuh seorang lelaki pun. “Bagamana akan ada bagiku seorang anak lelaki, sementara tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan pula seorang pezina.” (QS Maryam: 20).

“Demikianlah Tuhanmu berfirman,” jawab Jibril. “Hal itu adalah mudah bagiku dan agar dapat kami menjadikannya sebagai suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari kami, dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.” (QS Maryam: 21).

Sepeninggal Malaikat Jibril, Maryam duduk kebingungan, rasa takut menguasai dirinya, ketika ia membayangkan komentar masyarakat terhadap dirinya. Wanita yang tetap perawan hingga anaknya lahir ini pun khawatir. Keluarganya adalah keluarga terhormat Bani Israil dan ia merupakan keturunan nabi. Bagaimana mungkin ia yang berasal dari keluarga baik-baik bisa mengandung tanpa seorang laki-laki? Siapa yang akan percaya jika ini semua dari Allah? Dan tidak ada saksi atas kedatangan Jibril padanya. Lalu Maryam memutuskan untuk pergi sejauh mungkin.

Di bawah pohon kurma yang tinggi besar, Maryam merasakan sakit pada perutnya. “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan.” (QS Maryam: 23).

Rasa sakit melahirkan anak menimbulkan penderitaan lain yang siap menantinya. Bagaimana manusia akan menyambut anak ini? Apa yang akan mereka katakan tentangnya? Bukankah mereka mengetahui, ia adalah wanita yang masih perawan. Apakah manusia akan membenarkan Maryam yang melahirkan anak itu tanpa ada seorang pun yang menyentuhnya?

Ketika keraguan menyelimutinya, tiba-tiba anak yang baru lahir itu berkata, “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu menggugurkan buah kurma yang masak untukmu, makan, minum, dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, katakanlah, sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha Pemurah, aku tidak akan berbicara dengan seorang manusian pun pada hari ini.” (QS Maryam: 24-26).

Ketika tiba saatnya, Maryam kembali ke Baitul Maqdis, waktu menujukkan Ashar. Kehadiran Maryam yang membopong seorang bayi mungil segera menarik perhatian orang-orang yang lalu lalang di pasar itu. Mereka bertanya kepada Maryam:“Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar.” (QS Maryam:27).

Dengan ketabahannya, Sayyidah Maryam menyerahkan segalanya kepada Allah SWT. Maryam lalu menunjuk Isa. Mengertilah mereka bahwa ia telah puasa untuk berbicara kepada orang-orang. “Bagaimana kami akan bicara dengan bayi yang masih dalam ayunan?”(QS Maryam: 29). Belum selesai mereka mengolok-olok, Isa berkata, “Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati dimana saja aku berada. Dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup. Dan berbakti kepada Ibuku dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal, dan pada hari aku di bangkitkan hidup kembali.” (QS Maryam: 30-33).

Cerita tentang anak Maryam lalu menggemparkan Bethlehem. Mereka mengganti keraguan dan buruk sangka dengan penyucian dan kecintaan terhadap anak yang diberkati dan penuh mukjizat ini. Para pendeta Yahudi pun merasa akan terjadi suatu tragedi kepribadian yang akan datang kepada mereka dengan kelahiran anak Maryam. Kedatangan Almasih berarti mengembalikan manusia kepada penyembahan semata-mata kepada Allah.


OPINI: PEREMPUAN “PEWARIS” SANG MAHA PENCIPTA (bagian 2)

Oleh: Nuralam

Ibumu telah mengandung, memberikan segalanya kepadamu, mempersiapkan diri untuk berkhidmat kepadamu, memberikan semua yang dia miliki kepadamu dengan senang hati, memikul semua kesedihan atau kepedihannya, diberi kekuatan oleh Allah untuk melahirkanmu, dia rela (senang) kalau kamu kenyang meskipun dia sendiri lapar, dia mempersiapkan untukmu pakaian meskipun dia sendiri tidak berpakaian, dia senang kalau sudah hilang dahagamu meski dia tetap kehausan, dia gembira kalau kamu terhindar dari panas matahari meski dia sendiri terkena panas matahari, siap menderita tapi kamu memperoleh kenikmatan, siap tak bisa tidur tapi kamu bisa tidur nyenyak. Kalau kamu ingin mensyukuri nikmat yang diberikan ibumu, maka selalu ingatlah apa yang dilakukan oleh ibumu, tapi kamu tak akan mampu mensyukuri semuanya”(Ali Zainal Abidin Bin Husain)

Tujuan mencapai pusat spiritual atau asal kehidupan disimbolkan dengan tawaf, mengitari Ka’bah dari arah kanan ke kiri sebanyak 7 kali. Proses tawaf ini diibaratkan seperti nutfa yang menuju inti telur. Menurut Achmad Chodjim dalam “Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga”, Ka’bah yang dikenal sebagai bait Allah atau rumah Tuhan merupakan lambang bagi rahim kehidupan. Perumpamaan rahim dengan bait Allah menyiratkan tentang kemuliaan kedudukan perempuan yang dianugerahkan rahim padanya. Melalui rahim perempuanlah, Tuhan menitipkan sebagian dari keberlangsungan kehidupan yang akan membentuk peradaban, memenuhi tugas-tugas kemanusiaan sebagai khalifatul ardh dan akan menebarkan aroma yang memiliki keharuman yang melintasi zaman, ruang bahkan waktu.

Mulla shadra berkata dengan firman Tuhan: “Setiap kali aku merenungi ayat-ayat berikut, “dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal dari tanah). Kemudian kami jadikan saripati itu mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, Lalu segumpal darah itu, Kami jadikan segumpal daging, Dan segumpal daging itu kami jadikan tulang-belulang, Lalu tulang –belulang itu kami bungkus dengan daging, Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maha suci Allah, pencipta yang paling baik (QS. Al Mu’minun:12-14). Aku terilhami oleh ekspresi ayat-ayat tersebut yang mengisyaratkan bahwa obyek-obyek tersebut telah dijadikan ciptaan yang lain.”

Jalaluddin Rumi turut menggubah kehebatan perempuan: “Betapa hebatnya wanita itu, Karena di setiap tempat aku melihat “ibu” yang adalah wanita. Segala sesuatu dalam kosmos ini adalah wanita dan ia adalah ibu yang melahirkan sesuatu yang lebih tinggi dari dirinya sendiri. Apakah itu batu api yang yang melahirkan percikan yang kemudian menghasilkan api untuk kehidupan untuk peradaban bumi adalah wanita yang melahirkan berbagai tetumbuhan sebagai hasil dari hieros gamos (pernikahan suci).

Ketika laki-laki dengan kekuatannya menanggung beban di pundaknya (himl), maka perempuan dengan kekuatannya pula dan dengan rahim yang dianugerahkan padanya menanggung beban berat bukan di pundaknya, melainkan dalam tubuhnya. Rahim yang di dalamnya akan memperpanjang kasih ilahi, yang dengannya rahmat tuhan bagi semesta akan berlangsung hingga akhir zaman.

Dan ketika perempuan diwajibkan menjaga kesucian hijab dan bahkan zakat kecantikan adalah iffah (menjaga kesucian diri dengan menjajahkan diri dari berbagai hal yang tidak baik) adalah bagian dari kasih Ilahi yang ingin menjaga kekasihNya (baca: perempuan).

Berbahagialah para perempuan yang memaksimalkan feminitasnya  sebagai ketertarikan pada Zat Yang Maha Pencipta. Yang dengan tangisan, rintihan dan kelembutan hatinya dijadikan senjata keberTuhanan yang ultim.

Berbahagialah perempuan yang Ilahi menyebutnya dengan cinta kasih, yang sifat jamalNya terserap lebih banyak pada perempuan dan dengan sifat yang sama Tuhan menggambarkan surgaNya. Dengan rahim, perempuan dimandat unyuk menjadi pelanjut peradaban, perpanjangan kasih sayang Tuhan bagi semesta alam dan pewaris Sang Maha Pencipta.

KISAH HIKMAH: Hak Tetangga

Hasan putra Fathimah berkata: “Pada suatu malam Jum’at, aku menyaksikan ibuku Fathimah tenggelam dalam ibadah hingga pagi. Dia tiada berhenti untuk rukuk dan sujud serta menyebut satu persatu nama tetangga. Satu persatu tetangga itu didoakan, namun herannya aku tak mendengar beliau berdoa untuk dirinya sendiri. Dengan takjub, aku bertanya kepadanya, “Wahai ibu! Mengapa ibu hanya mendoakan orang lain, dan mengabaikna diri sendiri?” Ibuku menjawab, “Anakku! Tetangga dahulu, baru diri kita. Al-jar stumma ad-daar.”.”



TOKOH: We Tenri Olle, Perempuan Pemimpin Kerajaan Tanete yang Menerjemahkan Epos La Galigo


Sejarah bugis sejak ratusan tahun silam telah mencatat sejumlah nama perempuan yang pernah menjadi pemimpin. Salah satunya adalah We Tenri Olle. Nama lengkapnya adalah Siti Aisyah We Tenri Olle. Ia adalah putri ke-2 dari ayah yang bernama La Tunampare’ To Apatorang Arung Ujung. Perempuan yang bergelar Sultan ini memerintah kerajaan Tanete cukup lama, selama 55 tahun dari tahun 1855–1910. Sebagai penguasa perempuan, We Tenri Olle mampu membawa popularitas Tanete melesat melintasi samudera dan benua hingga ke Eropa.

Di zaman ketika ia memimpin kerajaan, We Tenri Olle memiliki ciri khas kepemimpinan dalam menentang penjajah. Ia dituntut untuk memilih metode berjuang tanpa kekerasan. Ia menjauhi perang yang berakibat pada penderitaan. We Tenri Olle lebih memilih koperatif dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Sebuah langkah yang lebih menguntungkan, meski banyak yang berpikiran bahwa tidak frontal dengan Belanda dianggap antek penjajah. Perempuan yang memimpin kerajaan Tanete ini memilih bersikap terbuka. Terbukti dengan perjuangan yang kooperatif membuat orang Bugis di pesisir jazirah Sulawesi bisa menerima masuknya barat yang modern. Sehingga untuk melawan penjajahan kolonial pun sudah menggunakan cara modern yang juga jauh dari kekerasan.

Kerajaan Tanete yang dipimpin oleh We Tenri Olle merupakan kerajaan otonom kecil. Luasnya 61.180 hektar dengan 13.362 jiwa penduduk pada saat itu,. Kerajaan kecil ini dipersatukan dari empat wilayah: Tanete ri Tennga, Tanete ri Lauq, Tanete ri Aja, dan Gattarang. Walaupun ia memimpin sebuah kerajaan yang kecil, tapi pemikirannya jauh melampaui zamannya. Di saat Kartini masih melakukan surat-menyurat mengenai kepeduliannya pada pendidikan, We Tenri Olle pada waktu itu telah mendirikan sekolah rakyat atau yang juga dikenal sebagai sekolah desa (volkschool). Ia jugalah salah seorang perempuan yang pertama kali membuka sekolah untuk seluruh kalangan tanpa diskriminasi, entah itu kelas sosial maupun gender. Ia adalah pemimpin kerajaan yang dikenal cerdas, terpelajar, serta meminati sastra Bugis dan Islam.

Beberapa literatur sejarah mengungkap tentang kecerdasannya dalam memerintah. Saat ia naik tahta, keadaan Tanete penuh dengan konflik vertikal antar penguasa-penguasa lokal di bawah kekuasaannya. Terkadang, pemimpin bawahan (matoa dan arung) melakukan pembangkangan atas perintah pemimpin atasnya (datu).  Ketika We Tenri Olle menjadi kepala negara, Kerajaan Tanete terdiri dari tiga belas banua daerah persekutuan hukum (distrik), yang masing-masing berdiri sendiri di bawah pemerintahan seorang kepala pemerintah, dan beberapa wilayah (palili) atau daerah vasal. Untuk menjaga kewibawaan dan efektifitas pemerintahan, We Tenri Olle kemudian melakukan perampingan pemerintahan dengan menghapus beberapa struktur lokal dan hanya menyisakan empat palili, yaitu: Tanete ri Tennga, Tanete ri Lauq, Tanete ri Aja, dan Gattarang. We Tenri Olle memerintah kedatuan Tanete dengan kondisi politik dan ekonomi yang stabil selama lebih dari separuh abad, 55 tahun. Mungkin, beliaulah pemimpin kerajaan yang paling lama memerintah di kawasan yang kini disebut Indonesia. Masa pemerintahannya ini dimanfaatkan dengan baik oleh We Tenri Olle untuk berkonsentrasi pada dua hal yang sangat menarik minatnya: pendidikan dan kesusastraan, di saat perlawanan raja-raja Bugis meriuh pada 1905.

We Tenri Olle berkontribusi dengan menerjemahkan mahakarya epos La Galigo dari bahasa Bugis Kuno ke bahasa Bugis umum. Terjemahan ini kemudian dimanfaatkan oleh seorang peneliti Belanda, BF Matthes untuk diadopsi menjadi tulisan ilmiah yang akan diceritakan kemudian. Epos I La Galaligo merupakan epos terpanjang di dunia yang mengalahkah epos agung Mahabharata 150 ribu-200 ribu baris, atau Iliad dan Odyssey yang hanya terdiri dari 16 ribu baris. La Galigo yang diperkirakan lahir pada awal abad masehi hingga abad ke-15. Ratu Tanete yang menerjemahkan karya ini wafat di Pancana tahun 1919 dan dikubur di Pancana, kecamatan Tanette Rilau tanpa diketahui pasti kapan tahun kelahirannya. Namun, dari terjemahannya telah mampu membawa kerajaan Tanete dikenal hingga Eropa.


REVIEW BUKU: Perempuan-Perepuan Harem


Penulis                    : Fatima Mernissi
Penerbit                  : Qanita (Mizan Grup)
Tahun Terbit           : 2003; 2009
Halaman                 : 336

Harem mungkin adalah sebuah keterkungkungan. Namun di salah satu harem, hidup beberapa perempuan luar biasa yang sangat agresif terhadap batasan-batasan yang mempersempit ruang gerak perempuan. Meskipun tetap membatasi ruang gerak perempuan, harem justru membesarkan  Fatima dan mengukir sosoknya sebagai salah seorang tokoh pembebasan perempuan. Ia memiliki sepupu laki-laki sekaligus teman sepermainan bernama Shamir. Mereka sama-sama memiliki rasa ingin tahu yang besar. Mereka hidup di dalam harem Fez, sebuah rumah berisi keluarga besar Mernissi. Di dalam harem tersebut, Fatima dan Shamir sering bergabung dengan kumpulan perempuan yang tak lain adalah ibu-ibu, sepupu-sepupu, dan nenek mereka sendiri. Perempuan-perempuan tersebut terbagi menjadi dua kelompok besar yakni kelompok tradisionalis konservatif dan kelompok revolusionis. Kelompok tradisionalis konservatif dijaga ketat oleh Lalla Mani (nenek Fatima) dan Ibunda Chama. Mereka ingin tetap mempertahankan tradisi-tradisi Timur Tengah dalam kehidupan sehari-hari. Mereka menolak mentah-mentah gaya hidup Barat dan pemberontakan terhadap tradisi Arab. Sebaliknya, kelompok revolusionis memiliki lebih banyak pengikut, di antaranya bunda Fatima, Chama, dan Bibi Habiba. Perempuan-perempuan dalam kelompok revolusionis selalu mempunyai impian dan keinginan kuat untuk terbebas dari tembok harem. Mereka ingin bebas bergerak di luar seperti perempuan-perempuan Perancis.

Bagi anak-anak, batas Harem hanyalah di antara ruang tengah, depan, belakang, dan pagar yang mengelilingi mereka. Jadi, sangat mudah bagi mereka untuk mengetahui batas tempat bermain mereka. Namun bagi orang dewasa, harem bukanlah sebuah pagar atau batasan antar ruangan. Tetapi, harem lebih dari itu. Kata Ayah Fatima bahwa ketika Allah menciptakan bumi, Dia memisahkan kaum laki-laki dari kaum perempuan, dan meletakan lautan di antara kaum muslimin dan kaum Kristen,  karena satu alasan, kedamaian hanya akan terwujud bila setiap pihak menghargai batas-batas pihak lain. Melampaui batas-batas hanya akan membawa penyesalan dan kepedihan. Namun, bagi perempuan melampaui batas-batas suci (hudud) adalah mimpi mereka, dan dunia di luar sana menjadi obsesi untuk menembus dinding-dinding tersebut. Gerbang harem adalah sebuah pembatas dan jika ingin keluar harus minta izin kepada penjaga gerbang dan sudah tentu dengan alasan yang tepat. Namun, untuk mencapai misinya perempuan selalu menggunakan kelebihannya dengan “mempengaruhi” penjaga pintu gerbang dengan kata-kata yang meyakinkan.  Dan dengan kata-kata pula seorang perempuan pengarang kisah seribu satu malam “mempengaruhi” raja dengan kata-kata, Fatima pun ingin sekali mengetahui bagaimana Syahrazad melakukannya.  Hingga suatu senja, ibunda Fatima meluangkan waktu untuk menerangkan kepada Fatima kenapa cerita itu dinamakan seribu satu malam.  Ketika ibu Fatima merampungkan kisah Syahrazad, Fatima penasaran “bagaimana seseorang bisa mereka-reka cerita yang menyenangkan sang Raja?” Ibunda Fatima berkata, itu adalah pekerjaan seorang perempuan. Dan cerita-cerita itulah yang membuat Fatima ingin segera dewasa dan menjadi pencerita handal. Fatima ingin belajar, bagaimana bercerita di malam hari.

Ibunda Fatima dan perempuan-perempuan istimewa di harem keluarga Fatima yang membesarkan dan menginspirasi Fatima. Alih-alih diam membisu dan menyerah pada tembok tradisi. Mereka berusaha tetap menghayati kebersamaan yang ada dengan saling berbagi mimpi-mimpi menembus dinding harem . Dan cobalah anda turut menghirup “kebebasan’ perempuan-perempuan yang terkungkung itu. Merasakan keceriaan mereka, menghikmahti kearifan mereka, kemudian meyakini, tak juga tembok sekuat apa pun dapat mengekang pikiran yang ingin terbang merdeka.

Singkat kata dari novel ini, definisi strereotipe yang diajukan Barat terhadap harem, perempuan, dan tradisi Timur Tengah perlu dibongkar lagi. Fatima Mernissi, lewat novelnya telah melakukan usaha penjernihan ulang gambaran harem yang selama ini telah keliru dan disebarluaskan oleh para orientalis Barat. Ia juga melakukan kritik dengan gaya ironi terhadap pandangan Barat mengenai perempuan-perempuan Timur Tengah. Sebuah novel penting yang tidak hanya membawa semangat kebebasan perempuan, tetapi juga semangat membongkar orientalisme, dan layak dibaca baik oleh Timur maupun oleh Barat, laki-laki maupun perempuan.





OPINI: Perempuan dalam Mitos Kecantikan: Penjajahan vs Pencarian Kesadaran

Oleh: Andi Tenripada

“Perempuan menonton diri mereka yang dipandangi laki-laki, mereka bereaksi pada sesuatu yang ‘ideal’. Apapun bentuknya pada waktu tertentu, seolah –olah dia adalah perintah yang tak dapat dinegosiasikan.”

Pembuka tulisan di atas terinspirasi dari sebuah tayangan tengah malam di TV swasta nasional. Kala itu seperti biasa di layar kaca disuguhkan seorang host wanita yang begitu menggoda. Menggoda dalam arti fisik (bibir merah merekah, postur tubuh tinggi yang dibalut gaun belahan rendah, dan sepasang kaki yang jenjang). Normal lho ya’, saya perempuan malah tergiring melototi bagian per bagian tubuhnya meski substansi tema yang dibicarakan sebenarnya tidak terlalu baru.

Ah, perempuan sementara berkisah. Itu pula yang menginspirasi saya menerima tawaran untuk menulis di buletin ini, setelah lama tak bertegur sapa dalam tulisan-tulisan. Ketika bertanya tentang tema, perempuan dan budaya masih menjadi wacana yang tidak habis untuk dikelola, dikemas, dikuliti, agar tampak menarik dan seksi sepertinya. Saya tidak meragukan pengetahuan dan pengalaman kaumku hari ini, mata dan kakinya pun hatinya telah menjelajahi dunia-dunia yang tempo dulu tidak punya kuasa untuk dijamah. Peran media dari mulai TV yang merambah hingga kamar-kamar, majalah/bacaan-bacaan atau pun alat propaganda lain perlahan tapi pasti menyuguhkan “kelebihan-kelebihan” yang memberi imajinasi tentang kumpulan wanita-wanita sempurna dalam kebudayaan massa. Ada yang terasa mengundang tanya ketika dua realitas yang saya temui hari ini seolah menampilkan stereotipe-stereotipe bahwa feminitas perempuan berarti kecantikan yang tanpa intelejensi atau intelejensi tanpa kecantikan. Mengapa demikian? Karena secara massa ditemukannya perempuan-perempuan yang dibiarkan memiliki pikiran atau memiliki tubuh tetapi tidak keduanya.

Betapa kuasanya perhatian terhadap citra tubuh dan wajah, perempuan digiring jauh dari perjalanan intelektual yang positif dan mendekatkan pada rute kecanduannya terhadap kecantikan fisik (material). Kita pantas gelisah pada serangan-serangan ini. Serangan yang jelas datang dari musuh yang tidak terlihat, karena iklan-iklan. Katakanlah begitu membaca kebutuhan perempuan dalam level yang sangat personal dengan baik. Mitos kecantikan ingin mendorong perempuan untuk melihat dirinya sendiri sebagai sesuatu yang jelas-jelas cantik secara seksual. Coba lihat konsep “lemak”, dulu adalah hal yang sifatnya seksual dalam sesosok tubuh perempuan di masa Victorian dan disebut sebagai silken layer/lembaran sutera dikonstruk oleh citra kurus dari Iron Maiden yang membuat seperlima dari perempuan melakukan olahraga dan membentuk tubuh mereka mengalami ketidakteraturan menstruasi dan gangguan kesuburan. Tubuh para model (ingat baik-baik!) 22%-23% lebih kurus dibandingkan tubuh rata-rata perempuan. Itulah satu dari bentuk penolakan diri dari para perempuan yang secara perlahan mengkonsepsi pikiran menuju kebencian diri. “Kecantikan” bukanlah sekedar hal visual. Kecantikan adalah sesuatu yang lebih nyata dari film atau dalam kehidupan tiga dimensi. Hal visual yang dimaksud adalah pengertian yang dimonopoli oleh para pengiklan, yang dapat memanipulasinya dengan lebih baik. Kita mengklaim bahwa kita memiliki kebebasan, kita mulai memakai pakaian yang terasa nyaman, tetapi ketidaknyamanan justru masuk ke dalam tubuh kita.

Konsep kecantikan alami yang berkembang di masa 1970-an menjadi ikon mitos kecantikan itu sendiri. Kecantikan yang menonjolkan “kesehatan” yang berkembang pada 1980-an membawa epidemik penyakit baru. Sedangkan, kecantikan yang menonjolkan kekuatan mengurung perempuan dalam otot-ototnya. Dan proses ini terus berlanjut. Situasi pasar tidaklah terbuka bagi munculnya kesadaran.

Sementara itu, kita “perempuan” tidak bisa secara langsung memengaruhi citra-citra itu, tetapi kita tetap bisa “memanfaatkannya” dan akhirnya menemukan citra “kecantikan alternatif” dalam subkultur perempuan. Kita bisa menemukan biografi perempuan, sejarah perempuan, kisah para pahlawan perempuan dalam setiap generasinya yang diam-diam ditenggelamkan dari pandangan umum. Bekal pengetahuan yang dimiliki, ideologi gerakan dan falsafah hiduplah yang menuntun kita terus mencari tahu, memberi dukungan dan sungguh-sungguh mempertimbangkan alternatif-alternatif yang ada tadi.

Sebenarnya pemujaan terhadap kecantikan membuktikan adanya dahaga spiritual dan tidak terisinya ruang kosong di jiwa kita. Di sisi kesadaran lain, seperti apa epistemologi yang dimiliki akan menjadi bekal membaca dunia. Pun bagi sebagian perempuan lain, mereka berjuang menegaskan bahwa kecantikan bersanding dengan intelegensi, bersanding dengan visi perjuangan, bersanding dengan nilai kesemestaan. Militansi terbaca melalui citra kasih sayangnya yang menjadi fitrah. Pencariannya atas hakikat turun pula pada tafsir tentang fiqih dan syariat. Kesadaran penuh bahwa kesempurnaan itu didapat melalui pencarian mereka untuk memahami bahwa ini adalah perjalanan kualitas jiwa (kualitas roh). Roh yang berusaha mendekat pada kesempurnaan. Jalan panjang kerinduan menuju Tuhan. Ketika di luar menggembor-gemborkan tentang perang pemikiran, lalu di mana kita akan mengambil sikap? Jauh melampaui itu, semoga tidak sekedar mencari alternatif.

*)Referensi: Buku “Mitos Kecantikan: Kala Kecantikan Menindas Perempuan” (Naomi Wolf)