Selasa, 13 November 2012

GALAKSI KINANTHI: Sekali Mencintai Sudah Itu Mati?

Oleh : Fitriya W. Alam

Judul Buku     : Galaksi Kinanthi
Penulis                        : Tasaro GK
Penerbit         : Salamadani
Tebal               : 432 Halaman
Tahun Terbit : 2009

Kinanthi awalnya adalah seorang gadis desa biasa yang dilahirkan di sebuah keluarga kecil cenderung miskin. Karena dihimpit kemiskinan, orang tuanya menyerahkan Kinanthi pada seorang temannya di kota demi masa depan Kinanthi katanya. Awalnya hidup Kinan baik-baik saja di Bandung, tempat ia dibawa oleh kawan Bapaknya itu. Di sana ia berkenalan dengan Euis seorang kawan di sekolahnya yang bersahaja dan berasal dari keluarga yang tidak begitu mampu. Hidup Kinan di Bandung mulai berwarna, tidak hanya warna indah bersama Euis, tapi juga mulai berwarna kelam. Euis sahabat satu-satunya tiba-tiba pergi meninggalkannya, gadis itu menghadap Tuhan lebih dulu setelah insiden kejam di angkutan kota. Euis diperkosa lalu dibunuh, warna-warna kelam hidup Kinan di mulai dari situ. Berikutnya, Kinanthi akhirnya tahu siapa sebenarnya keluarga yang sudah begitu baik menyekolahkannya. Keluarga itu ternyata adalah penyalur Tenaga Kerja Wanita (TKW), mereka hanya menunggu sampai Kinan cukup umur untuk akhirnya dikirim ke Arab untuk menjadi TKW.

Sampailah Kinan di tanah Arab (Riyadh). Hidupnya tidak juga membaik, malah semakin memburuk. Ia menjadi pembantu rumah tangga di salah satu keluarga Arab. Ia diperlakukan tidak manusiawi, tidak hanya melayani kebutuhan rumah tangga, tetapi Kinan juga dipaksa melayani birahi keluarga. Kinanthi mati-matian melawan, hingga akhirnya ia memutuskan kabur dari rumah yang bagai neraka tersebut. Ternyata semua belum berakhir. Kinan akhirnya berganti-ganti majikan, tapi semuanya sama kasarnya, suka main tangan dan meminta macam-macam pada Kinan.

Sampai pada suatu episode ketika Kinan berangkat ke Amerika menjadi pembantu juga tentunya. Nasib baik sepertinya belum berpihak pada Kinan, majikannya di Amerika tidak kalah kejam dengan yang sebelumnya. Parahnya lagi, majikannya ternyata adalah saudara dari majikan yang dulu berniat membalas dendam pada Kinan. Kinan kembali mencoba lari dari majikannya. Sejak itulah semuanya berubah, nasib baik mulai mendekat pada Kinan. Bertemulah ia dengan seorang perempuan baik hati bernama Azry yang membawanya ke apartemen dan mengurus segala urusan Kinanthi ke Pengadilan Imigrasi.

Hidup Kinanthi berubah setelah itu. Negara adidaya tersebut telah memberinya hidup yang lebih baik dibanding negaranya sendiri, Indonesia. Kinanthi berubah menjadi seorang penulis terkenal di Amerika, hidupnya benar-benar berbanding terbalik dengan hidupnya 13 tahun lalu. Di samping mengisahkan sebuah roman Romeo dan Juliet dalam versi berbeda, novel ini juga mengisahkan seorang perempuan Indonesia yang berusaha membebaskan diri dari jajahan kejamnya kehidupan, kisah seorang TKW menjalani hidup yang tidak manusiawi sementara negara sendiri sepertinya tidak punya tangan yang cukup panjang dan kuat untuk melindunginya. Indonesia jelas belum merdeka, jika kita ingin melihat sisi ini. Bahkan, kita mungkin bisa mengajukan pertanyaan, “Sudah merdekakah perempuan-perempuan Indonesia? Atau mereka menikmati keterjajahannya?“

Fatmawati: Tokoh Perempuan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

17 Agustus 2012 lalu, Indonesia telah memasuki usia kemerdekaan yang ke-67 tahun. Soekarno dan Mohammad Hatta yang dikenal sebagai tokoh proklamator kemerdekaan Indonesia. Tak banyak yang memperhatikan, selain dua nama tersebut masih ada nama lain yang turut serta berperan dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia. Setidaknya ada beberapa nama tokoh perempuan yang turut berperan dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia 67 tahun silam, salah satunya adalah Ibu Fatmawati.

Fatmawati adalah isteri dari presiden pertama RI, Ir. Soekarno. Perempuan ini juga dikenal sebagai penjahit bendera Indonesia yang dikibarkan saat proklamasi dilakukan. Lahir dari orang tua yang berlatar belakang Muhammadiyah, membentuk karakternya menjadi seorang anak yang tidak sekedar patuh pada tradisinya, tetapi lebih cenderung untuk menyikapi segala bentuk potret kehidupan sosio-kulturalnya.

Sebelum memasuki usia sekolah, Fatmawati kecil telah menempa diri dengan mengaji dan belajar agama (membaca dan menulis Al Qur’an) pada datuknya (kakek), maupun kepada seorang guru agama. Semangat untuk belajar agama secara ekstra terutama di Sekolah Standar Muhammadiyah masih terus dilakukan, meskipun beliau sudah mulai memasuki sekolah di HIS (Hollandsch Inlandsch School) pada tahun 1930 (Fatmawati, 1978:20-21).

Masa sekolah dan masa perjuangan seringkali begitu akrab bergumul dalam entitas waktu. Hal ini tidaklah menyurutkan semangat bagi seorang Fatmawati ketika harus berpindah-pindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain mengikuti gerak langkah perjuangan ayahnya selaku pucuk pimpinan perserikatan Muhammadiyah di Bengkulu. Sebaliknya, pengalaman-pengalaman tersebut justru semakin menempa mentalitas perjuangannya. Terlebih setelah mengenal Bung Karno sebagai gurunya (yang kemudian menjadi suaminya). Fatmawati yang baru menginjak usia 15 tahun telah mampu diajak dalam perbincangan dan diskusi mengenai filsafat Islam, hukum-hukum Islam, termasuk masalah gender dalam pandangan hukum Islam. Bahkan Bung Karno sendiri sebagai gurunya telah mengakui kecerdasan Fatmawati (Cindy Adams, 1966: 185-198). Dengan jiwa, semangat, dan ketajaman berpikir terhadap ajaran agama Islam, beliau mampu mengoperasionalisasikan fungsi rasionalitasnya sebagai pengendali dari unsur-unsur emosi yang selalu merangsang dalam setiap detik kehidupan manusia.

Setelah menikah pada bulan Juni 1943 dengan Bung Karno, Ibu Fatmawati segera berangkat ke Jakarta. Tidak sekedar untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri pemimpin pejuang rakyat Indonesia, tetapi juga ikut berperan aktif dan bergabung bersama para tokoh pejuang nasional lainnya untuk membela nusa dan bangsa. Bahkan, Bung Karno selaku pemimpin pejuang tidak ragu-ragu untuk sering meminta pendapat, maupun pertimbangan mengenai langkah-langkah perjuangannya.

Perjuangan bangsa Indonesia pada akhirnya telah mencapai titik kulminasi, yaitu dengan diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur, 56 Jakarta. Dan selama ini belum pernah ada klaim dari salah seorang pejuang yang mengaku telah mempersiapkan sebuah bendera untuk kemerdekaan Indonesia, kecuali Ibu Fatmawati. Berikut petikan dari karya tulisan beliau yang berjudul: Catatan Kecil Bersama Bung Karno (Fatmawati, 1978: 86), “Ketika akan melangkahkan kakiku keluar dari pintu terdengarlah teriakan bahwa bendera belum ada, kemudian aku berbalik mengambil bendera yang aku buat tatkala Guntur masih dalam kandungan, satu setengah tahun yang lalu. Bendera itu aku berikan pada salah seorang yang hadir di tempat di depan kamar tidurku.”

Atas dasar petikan di atas, jelaslah bahwa buah refleksi pemikiran perjuangan Ibu Fatmawati ternyata telah mampu melampaui batas-batas pemikiran para pejuang bangsa pada umumnya. Karena Ibu Fatmawati telah menyiapkan bendera merah putih selama satu setengah tahun yang lalu. Ibu Fatmawati tidak sekedar berperan sebagai penjahit sebuah bendera pusaka, sebagaimana yang hanya dipahami oleh para generasi masa sekarang. Akan tetapi jiwa dan semangat juang yang telah diperankan beliau terasa sangat jauh dan sangat mendalam. Maka sungguhlah amat sulit untuk mengukur secara konkrit betapa besarnya jiwa kepahlawanan yang telah beliau sumbangkan kepada nusa dan bangsa Indonesia.


Perempuan dan Kemerdekaan Sosial

Oleh Ms. Sophie

Selama berpuluh tahun bangsa Indonesia mengenyam kemerdekaan. Esensi dari kata merdeka itu tidak sekedar terlepas dari belenggu penjajah. Merdeka tentu memiliki arti yang spesifik dengan implementasi yang sangat berkaitan dengan hak-hak hidup dan bersuara bagi setiap anak manusia di bumi mana pun. Khususnya bagi perempuan Indonesia dalam menjejakkan hak dan keinginannya untuk menentukan hidup sebagai manusia merdeka tanpa bayangan belenggu adat, keterbatasan gender, serta hal-hal lain yang selalu dikaitkan dengan yang lemah.

Di buku “Hak-hak Wanita dalam Islam”, Murttadha Muthahhari menuliskan beberapa analisa yang berkaitan tentang perempuan dan kemerdekaan dalam wilayah sosial. Beliau memetakan beberapa contoh isu atau kasus tentang perempuan. Banyak sekali rekayasa sosial yang menjadikan perempuan tidak memiliki kemerdekaan sosial. Hal ini bisa terjadi karena pengaruh masa jahiliah sebelum masuknya Islam. Yang paling riskan misalnya, mengawinkan wanita sebelum dilahirkan, dan pertukaran anak perempuan. Masalah kebudayaan menikahkan anak perempuan sangatlah memengaruhi pemikiran mayoritas masyarakat kita, sehingga hal itu dijadikan kebudayaan yang tidak mendasar. Pola pikir seperti inilah yang sangat mengerdilkan kemerdekaan sosial bagi perempuan. Sehingga dibutuhkan suatu dasar pemikiran atau ideologi untuk melakukan pelurusan kembali terhadap kebudayaan yang mengesampingkan hak dan kebebasan perempuan.

Kebebasan dan persamaan hak dalam menentukan masa depan perempuan itu sendiri sangatlah penting. Karena perempuan juga merupakan manusia yang memiliki derajat yang sama dengan laki-laki. Apabila kepemimpinan rumah tangga atau suatu hak perwalian nikah jatuh pada laki-laki, bukan berarti menjadikan perempuan lebih rendah. Pada saat nabi Muhammad SAW masih hidup, beliau sudah menegaskan beberapa hal tentang kebebasan perempuan dan dimuat dalam hadis-hadis shahih. Nabi pun memberikan kebebasan terhadap putrinya Fatimah Az-Zahra terkait memilih suami dan ini patut dijadikan sandaran terhadap pola pikir siapa yang sebenarnya lebih berhak mengambil keputusan untuk urusan menikah.

Analisis isu dan kasus memang penting, tapi kita juga membutuhkan sebuah gerakan yang bisa membantu masyarakat meluruskan sebuah kebenaran. Misalkan gerakan perempuan Islam. Selama ini pemikiran orang Timur banyak sekali dipengaruhi oleh teori-teori Barat. Hal ini pun mempengaruhi teori gerakan perempuan. Ideologi feminis yang muncul karena tuntutan persamaan upah buruh perempuan saat revolusi industri pada abad ke-19 yang masih berpengaruh sampai sekarang. Fakta sejarah Inggris itu pun membawa pengaruh sampai ke belahan bumi Timur. Bahkan, munculnya gerakan perempuan di Indonesia pun berasal dari pengaruh ideologi feminis Barat. Kongres perempuan Indonesia pada tahun 1928 dan berbagai gerakan perempuan lainnya ikut menarik isu kampanye seperti anti poligami, pernikahan dini dan politik perempuan.

Tentu hal di atas sudah diatur dalam Al Qur’an. Adanya isu tersebut karena reaksi alam dari berbagai fenomena yang terjadi. Contohnya anti poligami, hal itu dikampanyekan karena melihat presiden Soekarno melalukan poligami. Ketentuan poligami dan pernikahan sudah tercantum dalam Al Qur’an. Jika kita memerlukan sebuah gerakan perempuan, gerakan perempuan yang bagaimanakah yang mampu menyatukan perempuan di belahan bumi mana pun? Bagaimana hakikat sebuah pergerakan perempuan yang mampu mendorong kesadaran perempuan agar tidak menyalahi kodrat atau fitrahnya?

Gerakan perempuan yang berlandaskan pemikiran Islam yang utuh sangat dibutuhkan. Bukan gerakan perempuan yang selalu berlandaskan pada teori-teori Barat. Karena Islam mempunyai acuan Al Qur’an dan hadis yang sudah sangat detail membahas tentang hak dan kewajiban untuk laki-laki dan perempuan, baik peran sebagai suami-istri atau orang tua. Saatnya gerakan perempuan melihat kembali ideologi yang mereka gunakan, apakah sesuai dengan konteks sosial dan keyakinan keagamaan? Lalu seperti apakah ideologi gerakan perempuan Islam yang tepat untuk semua masyarakat?

Karena merdeka tak sekedar mengibarkan bendera dan merayakan momen bersejarah itu dengan penuh suka cita di setiap tanggal 17 Agustus. Lebih penting dari semua itu, bagi perempuan Indonesia momen kemerdekaan ini adalah peringatan bagi kita untuk semakin berani menyuarakan hak-hak sebagai manusia, tanpa sedikit pun menyampingkan kewajiban sebagai pendamping hidup laki-laki, ibu dari anak-anak kita, serta kodrat sebagai anak yang selalu patuh pada nasihat orang tua. Karena suara perlu didengar, karena hak perlu diperjuangkan.

Untuk semua perempuan Indonesia di mana pun berada, mari rayakan kemerdekaan bangsa Indonesia ini dengan saling bahu-membahu untuk lebih berani menyuarakan hak–hak kita sebagai perempuan dan manusia seutuhnya. MERDEKA !!!