Senin, 22 Oktober 2012

FATHIMAH AL-FIHRI; PENDIRI UNIVERSITAS TERTUA DI DUNIA

Oleh: Syifa Al Qalb
          
Fathimah Al-Fihri lahir di Tunisia 800-880 M dalam sebuah keluarga yang sangat kaya dan bangsawan sosial. Ayahnya bernama Muhammad Al-Fihri, seorang pengusaha sukses di kota Tunisia yang kemudian bermigrasi ke Fes, Maroko pada masa pemerintahan Raja Idriss II. Fathimah Al-Fihri mempunyai saudara perempuan yang bernama Maryam, mereka adalah anak-anak yang shaleha dan berpendidikan serta sangat mencintai ilmu agama Islam dan arsitektur.
Setelah melakukan perjalanan dengan ayahnya dan menetap di distrik barat kota Fes Maroko, Fathimah dan Maryam mempunyai visi dan misi untuk kemajuan masyarakat di kota tersebut. Mereka bergaul dengan masyarakat tanpa memandang kelas sosial. Fathimah Al-Fihri bersama kakaknya membentuk komunitas pengajian. Fathimah menyadari pentingnya memiliki pusat-pusat keagamaan untuk menjaga pengetahuan islam dan mengembangkan masyarakat lokal intelektual. Untuk mencapai hal tersebut, ia rela menyumbangkan kekayaan warisannya.
Fathimah Al-Fihri dan kakaknya Maryam yang berpendidikan dan dibesarkan dengan ketaatan beragama mewarisi sejumlah besar kekayaan dari ayahnya yang seorang pengusaha sukses. Fathimah berniat menghabiskan seluruh warisan itu untuk membangun sebuah masjid.
Pada tahun 859 M Fathimah membangun masjid yang di beri nama Al-Qarawiyyin, yang kemudian pada abad 12 berkembang menjadi sebuah universitas yang menjadi pusat penting pendidikan dan merupakan universitas  Islam dan paling bergengsi pertama di dunia. Sedangkan Maryam, memutuskan untuk memberikan sebagian warisannya untuk membangun masjid Agung Al-Andalous. Adapun Masjid Al-Qarawiyyin yang sekaligus menjadi madrasah tersebut memainkan peran utama dalam menyebarkan cahaya pengetahuan dan tonggak untuk pertukaran budaya antara peradaban Islam dan Eropa.
Fathimah Al-Fihri tidak hanya menghabiskan seluruh warisannya untuk membangun masjid, tetapi ia juga mengabdikan dirinya untuk mengembangkan kajian-kajian pengetahuan di masjid tersebut sehingga ahirnya Fathimah memutuskan untuk menjadikan masjid Al-Qarawiyyin sebagai pusat pendidikan yang kemudian  menjadi sebuah universitas.
Universitas Al-Qarawiyyin sangat dihormati saat itu sebagai salah satu pusat spiritual dan pendidikan terkemuka dunia Muslim. Saat ini, Guinness Book of World Records  telah mengakui dan mencatat universitas Al-Qarawiyyin sebagai universitas tertua di dunia.
Universitas Al-Qarawiyyin menghasilkan pemikir besar seperti Abu Al-Abbas Al-Zwawi, Abu Madhab Al-Fasi, Maliki seorang teoritikus terkemuka dari sekolah hukum Islam, dan Leo Africanus seorang penulis. Selain itu, Ibnu Al-Arabi, Ibnu Khaldun, dan Al-Bitruji juga menjadi siswa di Universitas Al-Qarawiyyin.
Al-Qarawiyyin adalah contoh sempurna tentang bagaimana Islam menggabungkan spiritual dengan pendidikan dan bahwa Islam tidak terpisah dari urusan kehidupan. Ini bukan hanya sebuah contoh bagaimana pendidikan dan agama bergabung disudut kecil dunia, tetapi menyoroti peran terhormat perempuan dalam masyarakat Islam yang merupakan aspek Islam yang sering disalah pahami. Selain itu, selama abad pertengahan, Universitas Al-Qarawiyyin di anggap sebagai pusat intelektual utama di Mediterania. Reputasi yang sangat baik bahkan menyebabkan Gerber dari Auvergne belajar di Masjid. Gerber kemudian menjadi Paus Silvester II dan telah memperkenalkan angka Arab dan nol ke seluruh Eropa.

0 komentar:

Posting Komentar