Oleh: Syifa Al Qalb
Fathimah Al-Fihri lahir di Tunisia 800-880 M
dalam sebuah keluarga yang sangat kaya dan bangsawan sosial. Ayahnya bernama
Muhammad Al-Fihri, seorang pengusaha sukses di kota Tunisia yang kemudian
bermigrasi ke Fes, Maroko pada masa pemerintahan Raja Idriss II. Fathimah
Al-Fihri mempunyai saudara perempuan yang bernama Maryam, mereka adalah
anak-anak yang shaleha dan berpendidikan serta sangat mencintai ilmu agama
Islam dan arsitektur.
Setelah melakukan perjalanan dengan ayahnya dan menetap di distrik
barat kota Fes Maroko, Fathimah dan Maryam mempunyai visi dan misi untuk
kemajuan masyarakat di kota tersebut. Mereka bergaul dengan masyarakat tanpa
memandang kelas sosial. Fathimah Al-Fihri bersama kakaknya membentuk komunitas
pengajian. Fathimah menyadari pentingnya memiliki pusat-pusat keagamaan untuk
menjaga pengetahuan islam dan mengembangkan masyarakat lokal intelektual. Untuk
mencapai hal tersebut, ia rela menyumbangkan kekayaan warisannya.
Fathimah Al-Fihri dan kakaknya Maryam yang berpendidikan dan
dibesarkan dengan ketaatan beragama mewarisi sejumlah besar kekayaan dari
ayahnya yang seorang pengusaha sukses. Fathimah berniat menghabiskan seluruh
warisan itu untuk membangun sebuah masjid.
Pada tahun 859 M Fathimah membangun masjid yang di beri nama
Al-Qarawiyyin, yang kemudian pada abad 12 berkembang menjadi sebuah universitas
yang menjadi pusat penting pendidikan dan merupakan universitas Islam dan
paling bergengsi pertama di dunia. Sedangkan Maryam, memutuskan untuk
memberikan sebagian warisannya untuk membangun masjid Agung Al-Andalous. Adapun
Masjid Al-Qarawiyyin yang sekaligus menjadi madrasah tersebut memainkan peran
utama dalam menyebarkan cahaya pengetahuan dan tonggak untuk pertukaran budaya
antara peradaban Islam dan Eropa.
Fathimah Al-Fihri tidak hanya menghabiskan seluruh warisannya
untuk membangun masjid, tetapi ia juga mengabdikan dirinya untuk mengembangkan
kajian-kajian pengetahuan di masjid tersebut sehingga ahirnya Fathimah
memutuskan untuk menjadikan masjid Al-Qarawiyyin sebagai pusat pendidikan yang
kemudian menjadi sebuah universitas.
Universitas Al-Qarawiyyin sangat dihormati saat itu sebagai salah
satu pusat spiritual dan pendidikan terkemuka dunia Muslim. Saat ini, Guinness
Book of World Records telah mengakui dan mencatat universitas
Al-Qarawiyyin sebagai universitas tertua di dunia.
Universitas Al-Qarawiyyin menghasilkan pemikir besar seperti Abu
Al-Abbas Al-Zwawi, Abu Madhab Al-Fasi, Maliki seorang teoritikus terkemuka dari
sekolah hukum Islam, dan Leo Africanus seorang penulis. Selain itu, Ibnu
Al-Arabi, Ibnu Khaldun, dan Al-Bitruji juga menjadi siswa di Universitas
Al-Qarawiyyin.
Al-Qarawiyyin adalah contoh sempurna tentang bagaimana Islam menggabungkan
spiritual dengan pendidikan dan bahwa Islam tidak terpisah dari urusan
kehidupan. Ini bukan hanya sebuah contoh bagaimana pendidikan dan agama
bergabung disudut kecil dunia, tetapi menyoroti peran terhormat perempuan dalam
masyarakat Islam yang merupakan aspek Islam yang sering disalah pahami. Selain
itu, selama abad pertengahan, Universitas Al-Qarawiyyin di anggap sebagai pusat
intelektual utama di Mediterania. Reputasi yang sangat baik bahkan menyebabkan
Gerber dari Auvergne belajar di Masjid. Gerber kemudian menjadi Paus Silvester
II dan telah memperkenalkan angka Arab dan nol ke seluruh Eropa.
0 komentar:
Posting Komentar