Oleh: Suryawinarwan
Judul : Permata dalam Lumpur
Penulis : Satria Nova dan Nurhuda
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Tebal halaman : 211 halaman
Penulis : Satria Nova dan Nurhuda
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Tebal halaman : 211 halaman
Mungkin
tidak banyak yang paham jika disebut kata “Jarak” atau ‘Putat Jaya”. Tapi
ketika disebut kata Dolly, pasti banyak orang yang langsung bisa menangkap
maknanya. Dolly adalah kawasan prostitusi terbesar di Indonesia, bahkan di Asia
Tenggara mengalahkan Phat Pong di Bangkok, Thailand dan Geylang di Singapura.
Daerah lokalisasi ini sudah lama dan bertahan sampai sekarang.
Di Dolly ini secara administratif terbagi dalam tiga wilayah, yaitu Blok A, B, dan C. Setiap blok mempunyai ciri khas dan keunikan masing-masing. Blok A adalah daerah yang berada di Jalan Jarak. Inilah yang disebut orang sebagai Dolly, sebab lokasinya berada di jalan utama. Di sinilah tempatnya PSK kelas atas. Kalau boleh dibilang, blok A adalah blok eksekutif, blok B bisnis, sementara blok C adalah ekonomi. Ini berdasarkan tarif dan pelayanan yang diberikan. Selain itu di Blok A, semua wisma pasti memiliki makelar yang bertugas mencarikan pelanggan untuk para PSK. Berbeda dengan PSK di Blok C yang harus mencari pelanggannya sendiri. Untuk Blok B, sebagian ada yang menggunakan makelar sebagian lagi tidak. Dari segi pekerjanya juga berbeda. Di blok A, wanita yang bekerja cenderung lebih cantik. Tentu ini sesuai dengan tarif yang ditawarkan.
Di Dolly ini secara administratif terbagi dalam tiga wilayah, yaitu Blok A, B, dan C. Setiap blok mempunyai ciri khas dan keunikan masing-masing. Blok A adalah daerah yang berada di Jalan Jarak. Inilah yang disebut orang sebagai Dolly, sebab lokasinya berada di jalan utama. Di sinilah tempatnya PSK kelas atas. Kalau boleh dibilang, blok A adalah blok eksekutif, blok B bisnis, sementara blok C adalah ekonomi. Ini berdasarkan tarif dan pelayanan yang diberikan. Selain itu di Blok A, semua wisma pasti memiliki makelar yang bertugas mencarikan pelanggan untuk para PSK. Berbeda dengan PSK di Blok C yang harus mencari pelanggannya sendiri. Untuk Blok B, sebagian ada yang menggunakan makelar sebagian lagi tidak. Dari segi pekerjanya juga berbeda. Di blok A, wanita yang bekerja cenderung lebih cantik. Tentu ini sesuai dengan tarif yang ditawarkan.
Dolly
memang unik. Setidaknya itu tergambar dari semacam bel yang berbunyi sebanyak
empat kali setiap harinya. Bel pertama akan dibunyikan sekitar pukul lima sore,
yang bisa didengar oleh semua penduduk yang berada di seantero Dolly. Bel ini
bisa diartikan sebagai penanda jam masuk “kantor”. Di saat-saat inilah para PSK
akan bergegas menuju kantornya masing-masing. Meski beberapa sudah siap sedia
sejak siang harinya. Bel ini juga menandakan bahwa tidak bolehnya ada suara
karaoke sebelum bel kedua dibunyikan. Alasannya? Waktunya azan Magrib sudah
tiba. Bel kedua akan dibunyikan lagi sekitar pukul tujuh malam, pertanda bahwa
suara music dan karaoke boleh dinyalakan kembali. Sesaat setelahnya, setiap
wisma seakan berlomba-lomba menarik pelanggannya dengan suara wanita yang
bernyanyi di dalam wisma. Wisma harus siap siaga sebab banyak tamu yang
berdatangan.
Bel ketiga berbunyi lagi sekitar pukul satu malam. Ini menandakan bahwa tidak boleh ada lagi suara musik dan karaoke yang terdengar. Meski begitu, bukan berarti wisma juga tutup. Aktivitas wisma masih terus berlanjut. Karena hampir semua wisma menawarkan servis 24 jam nonstop. Meski terkadang wisma harus tutup jika para pelanggannya sudah pulang dan tidak ada yang datang lagi. Bel keempat akan berbunyi lagi sekitar pukul sepuluh pagi. Ini menandakan bahwa suara musik dan karaoke boleh terdengar lagi sampai nanti pukul lima sore saat bel akan dibunyikan lagi. Namun dibalik kelamnya Dolly, terdapat secercah harapan. Di dalam Dolly terdapat sebuah taman baca. Tempat ini didirikan oleh Pak Kartono untuk dijadikan tempat rehat bagi anak-anak setempat. Mereka adalah anak-anak setempat yang terancam hancur masa depannya. Pak Kartono adalah mantan mucikari dari Dolly sendiri yang insaf dan memutuskan untuk menebus dosanya dengan cara mendirikan taman baca.
Bel ketiga berbunyi lagi sekitar pukul satu malam. Ini menandakan bahwa tidak boleh ada lagi suara musik dan karaoke yang terdengar. Meski begitu, bukan berarti wisma juga tutup. Aktivitas wisma masih terus berlanjut. Karena hampir semua wisma menawarkan servis 24 jam nonstop. Meski terkadang wisma harus tutup jika para pelanggannya sudah pulang dan tidak ada yang datang lagi. Bel keempat akan berbunyi lagi sekitar pukul sepuluh pagi. Ini menandakan bahwa suara musik dan karaoke boleh terdengar lagi sampai nanti pukul lima sore saat bel akan dibunyikan lagi. Namun dibalik kelamnya Dolly, terdapat secercah harapan. Di dalam Dolly terdapat sebuah taman baca. Tempat ini didirikan oleh Pak Kartono untuk dijadikan tempat rehat bagi anak-anak setempat. Mereka adalah anak-anak setempat yang terancam hancur masa depannya. Pak Kartono adalah mantan mucikari dari Dolly sendiri yang insaf dan memutuskan untuk menebus dosanya dengan cara mendirikan taman baca.
Tindakan
Pak Kartono adalah pilihan yang tepat. Anak-anak di Dolly butuh perhatian
lebih. Sebab, orangtua mereka sudah tidak bisa diharapkan lagi. Bahkan banyak
yang tidak jelas siapa ibu bapaknya. Pak Kartono dengan beberapa orang
mahasiswa mengajar. Mereka diajar membaca, belajar sejarah, belajar membaca Al
Qur’an, berlatih koreografi, dan masih banyak lagi. Walaupun banyak yang
menganggap hal yang dilakukan oleh Pak Kartono dan kawan-kawan itu sia-sia.
Tapi mereka tidak patah semangat. Mereka dengan keikhlasan mengorbankan waktu
mereka untuk mengajar anak-anak di Dolly. Mereka menganggap, walaupun Dolly itu
bagaikan lumpur, pasti terdapat permata di dalamnya. Permata ini adalah
anak-anak di Dolly yang masih punya masa depan. Yang tentu saja punya harapan
untuk menjadi lebih baik dibanding orang tua mereka.
0 komentar:
Posting Komentar