1.Di
zaman Nabi Musa as pernah terjadi masa paceklik yang begitu hebat, nabi Musa as
beserta bani Israil keluar dari kota untuk memohon hujan. Ini dilakukansampai tiga kali; tapi hujantetap saja tak kunjung turun. Allah
mewahyukan kepada Musa as, “Aku tak akan mengabulkan doamu dan mereka yang bersamamu
selama masih ada di antara kalian, orang yang suka mengadu domba.”
2.Konon,
bani Israil pernah mengalami masa paceklik yang begitu hebat selama tujuh
tahun; sampai-sampai mereka memakan bangkai, sampah, dan bahkan memakan
anak-anak kecil. Acapkalimereka berdoa
di gunung atau padang pasair, namun tetap saja hujan tidak turun.
Allah mewahyukan
pada nabi mereka, “Katakanlah pada mereka bahwa meski kalian menempuh jalan
menuju- Ku dan mengangkat tangan berdoa seraya menangis dan meratap, Aku tidak
akan mengabulkan doa kalian selama kalian tidak mengembalikan hak-hak orang
lain yang kalian rampas.”
3.Diriwayatkan
bahwa suatu saat, sekauman bani Israil mengalami kekeringan, mereka berdoa,
tapi tak terkabul. Allah mewahyukan kepada nabi mereka, “Katakanlah pada
orang-orang ini, ‘Kalian telah menghadap-Ku dengan tubuh-tubuh yang najis dan
mengangkat tangan-tangan yang berlumuran darah orang lain ke arah-Ku serta
perut-perut yang dipenuhi sesuatu yang haram. Karena itulah Aku tidak
mengabulkan doa kalian.’”
Dari ketiga
kisah ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa faktor-faktor tidak dikabulkannya
doa adalah:
Buku Mahabbah Cinta Rabiah
Al-Adawiyah merupakan kumpulan syair-syair cinta Rabi'ah al-Adawiyah. Seorang tokoh
sufi wanita yang pertama yang tercatat di dalam sejarah tasawuf. Dalam buku ini
dibahas tentang sufi dan ajaran tasawuf, khususnya tentang Cinta Ilahi. Dimulai
dari pembahasan tentang makna cinta dan sufisme, riwayat hidup Rabi'ah al
Adawiyah, kemudian tentang cinta Ilahi, pecinta dan pencapaiannya, serta
mahabbah dan ma'rifah, sampai pada kumpulan syair-syair Rabi'ah al Adawiyah.
Seperti diketahui bahwa sebagian
besar para sufi menjadikan cinta sebagai jalan rohani yang penting dalam
hubungan manusia dengan Tuhan. Dalam syair-syairnya, Rabi'ah al-Adawiyah
menjadikan cinta kepada Allah sebagai hal yang utama. Di dalam buku ini juga
dibahas tentang sebab-sebab timbulnya cinta, diantaranya; cinta yang ada di
dalam diri manusia, seperti rindu bertemu Tuhan, disamping kecintaan kepada
diri sendiri, kecintaan untuk berbuat baik, kecintaan terhadap keindahan.
Selain itu diuraikan juga tentang
hakekat cinta. Pembahasan tentang cinta di buku ini dimulai dengan pengertian
cinta, yang berasal dari kata hubb (jenis cinta dan kasih sayang yang murni)
atau mahabbah, cinta yang rindu untuk bertemu kekasih, berupaya mencari
kekasih, atau hati yang telah penuh dengan cinta, sehingga tak ada lagi tempat
di hatinya selain dari Sang Kekasih.
Seperti yang dibahas di dalam
buku ini, pembaca diingatkan dalam upaya mencapai cinta Ilahi, yaitu suatu
keadaan spiritual yang tinggi yang merupakan anugrah Tuhan karena Cinta-Nya,
yaitu dengan cara menjalankan kewajiban-kewajiban agama, seperti dengan
beribadah, do'a, taubat, sabar, syukur, dan sebagainya, hingga sampai pada
mahabbah dan ma'rifah. Hal-hal tersebut diuraikan dengan begitu baik dan
sistematis, sehingga memungkinkan pembaca akan lebih memahami tentang cinta
Ilahi serta keadaan seorang hamba dalam mencapai Cinta Ilahi.
Apa yang dilakukan Fatimah hingga mencapai kedudukan tinggi?
Fatimah
adalah Al Kautzar.
Ibundanya bernama Khadijah binti Khuwailid bin Asad, binti
Muhammad Rasulullah. Dilahirkan di Makkah, Jumat tanggal 20 Jumadil Akhir.
Aisyah r.a berkata: “Aku tidak melihat adanya seorang pun yang mirip
Rasulullah, baik dalam sifat maupun cara berdiri dan duduknya, kecuali
Fatimah. Apabila Fatimah datang menemui Rasulullah, beliau segera berdiri dan
memegang tangannya, lalu menciumnya dan mendudukannya di majelis.” Rasulullah
Saw bersabda: “Sesungguhnya Fatimah adalah bagian dari diriku. Siapa yang
menyakiti dirinya berarti menyakiti diriku pula”.
Fatimah Az-Zahra tumbuh dalam bimbingan wahyu. Dia seorang yang
cerdas serta sayang kepada ummi dan abahnya. Ibadahnya luar biasa tekunnya,
beliau banyak menderita dalam membela abahnya. Dia dijuluki ayahnya sebagai “Ummu
Abiha” artinya “ibu ayahnya” karena begitu cinta dan sayangnya Rasul saw
kepada Fatimah. Beliau juga digelari Sayyidah Nisa’ Al amin. Suaminya
bernama Ali bin Abi Thalib, sang pahlawan Islam yang gagah perkasa dan
pemberani. Putra putri beliau bernama Hasan, Husain dan Zaenab.
Terkait kebesaran Sayyidah Fatimah az-Zahra, Rasulullah saw
bersabda, "Keimanan kepada Allah SWT melekat dalam hati dan jiwa mendalam
az-Zahra yang mampu menyingkirkan segalanya saat beribadah kepada Allah SWT.
Fatimah adalah bagian dari hati dan jiwaku. Barangsiapa yang menyakitinya sama
halnya ia menyakitiku dan membuat Allah SWT tidak rela."Tak
diragukan lagi, keagungan Sayyidah Fatimah az-Zahra menghantarkannya ke derajat
yang luar biasa di sisi Rasulullah saw. Dalam hadis lain, Rasulullah saw bersabda,
"Putriku yang mulia, Fatimah adalah pemimpin perempuan dunia di seluruh
zaman dan generasi. Ia adalah bidadari berwajah manusia. Setiap kali Fatimah
beribadah di mihrab di hadapan Tuhannya, cahaya wujudnya menyinari malaikat.
Layaknya bintang-gemintang yang bersinar menerangi bumi."
Keutamaan dan keistimewaan yang dimiliki Sayyidah Fatimah bukan
hanya disebabkan ia adalah putri Rasulullah. Apa yang membuat pribadinya
menjadi begitu luhur dan dihormati, lantaran akhlak dan kepribadiannya yang
sangat mulia. Di samping itu, kesempurnaan dan keutamaan yang dimiliki Sayyidah
Zahra mengungkapkan sebuah hakikat bahwa masalah gender bukanlah faktor yang
bisa menghambat seseorang untuk mencapai puncak kesempurnaan. Setiap manusia
(baik laki-laki maupun perempuan) memiliki potensi yang sama untuk meraih
kesempurnaan.
Kepribadian Sayyidah Fatimah yang begitu mulia, baik secara
personal, maupun di lingkungan keluarga dan sosialnya menjadikan dirinya
sebagai manifestasi nyata nilai-nilai Islam. Ia adalah contoh manusia teladan,
seorang istri dan ibu yang penuh pengorbanan. Ia adalah contoh manusia sempurna
yang seluruh wujudnya penuh dengan cinta, iman dan makrifah.
Jiwa dan pribadi Fatimah mengenal konsepsi kehidupan yang paling
luhur di rumah wahyu, di sisi pribadi agung Rasulullah saw. Setiap kali
Rasulullah memperoleh wahyu, dengan penuh seksama Sayyidah Fatimah mendengarkan
ajaran hikmah yang disampaikan oleh sang ayah kepadanya. Sebegitu mendalamnya
cinta kepada Allah dalam diri Fatimah, sampai-sampai tak ada apapun yang
diinginkannya kecuali keridhoan Allah SWT. Ketika Rasulullah saw berkata
kepadanya, "Wahai Fatimah, apapun yang kamu pinta saat ini, katakanlah.
Sebab Malaikat pembawa wahyu tengah berada di sisiku". Namun Fatimah
menjawab, "Kelezatan yang aku peroleh dari berkhidmat kepada Allah,
membuat diriku tak menginginkan apapun kecuali agar aku selalu bisa memandang
keindahan Allah SWT". Sayyidah Fatimah Az-Zahra juga sangat mencintai
al-Quran. Beliau berkata, "Ada tiga hal yang aku cintai di dunia ini yaitu
membaca al-Quran, memandang wajah Rasulullah saw dan berinfak di jalan Allah SWT."
Pada suatu hari, suaminya Ali bin Abi Thalib masuk ke
rumahnya dan mendengar bahwa Sayyidah Fatimah az-Zahra tengah melantunkan ayat
yang baru turun kepada Rasulullah saw. Beliau dengan takjub bertanya,
"Bagaimana kamu bisa mengetahuinya? Sayyidah Fatimah az-Zahra menjawab,
"Putra kita, Hasan, hari ini membacakan ayat yang baru turun pada
Rasulullah saw kepadaku." Sayyidah Fatimah az-Zahra sangat mencintai
ayat-ayat al-Quran. Dalam khutbah yang disampaikan pasca wafatnya Rasulullah saw,
beliau mengkritisi kondisi yang ada dengan pandangan komprehensif yang
bersandarkan pada ayat-ayat al-Quran. Dalam khutbah itu, Sayyidah Fatimah
memperingatkan kepada masyarakat bahaya penyimpangan. Di pembukaan khutbah,
beliau menjelaskan al-Quran dan perannya di tengah kehidupan, dan mengatakan,
"Allah SWT mempersembahkan kepada kalian sebuah ikatan yang kuat. Itu
adalah al-Quran Berbicara. al-Quran adalah kitab kebenaran yang memancarkan
cahaya dan kitab argumentasi yang mengungkap batin (internal) dan dzahir
(eksternal)."
Sayyidah Fatimah az-Zahra dengan jelas menyatakan bahwa
masyarakat, khususnya kalangan cendekia harus memperhatikan kandungan al-Quran
dan sejarah Rasulullah saw sebagai sumber utama hukum dan syariat. Untuk itu,
Sayyidah Fatimah menekankan penyimpulan yang benar dari kitab suci dan hadis.
Dengan menekankan perhatian pada al-Quran untuk mengantisipasi semua upaya
busuk dari sekelompok orang. Dalam khutbahnya, Sayidah Fatimah az-Zahra as berkata,
"Mengapa kalian tersesat? Padahal ada kitab suci di tengah kalian. Di
dalam kitab itu sangatlah jelas berbagai masalah dan hukum-hukumnya. Jalan
petunjuk sangat jelas dan peringatan-peringatan pun sangat transparan. Apakah
kalian menghendaki al-Quran? Mengapa kalian mencari penengah selain al-Quran.
Meski umurnya begitu singkat, putri kesayangan Rasulullah saw mempunyai
peran luar biasa. Pesan-pesan yang disampaikan oleh Sayyidah Fatimah sarat
dengan pesan keluarga, politik dan sosial. Selain itu, Sayyidah Fatimah
az-Zahra juga mencerminkan seorang hamba yang luar biasa di hadapan Allah SWT.
Ibadah yang dirasakannya sama sekali tak tergantikan dengan segala kenikmatan
dunia. Dalam riwayat disebutkan, Sayyidah Fatimah dan keluarganya berpuasa tiga
hari berturut-turut dan cukup berbuka dengan air karena ingin bersedekah kepada
orang-orang miskin. Kehidupanya penuh dengan kedermawanan, beliau juga
beribadah dari malam hingga pagi. Beribadah kepada Allah SWT merupakan
kerinduan tersendiri bagi Sayyidah Fatimah az-Zahra.
Meski hidup sederhana, keluarga putri kesayangan Rasulullah saw diliputi
rasa kebahagiaan yang melimpah. Rumah kecilnya penuh dengan aura spiritual yang
juga menjadi tempat bertumpunya orang-orang yang tidak mampu. Di penghujung
umurnya, beliau hanya menyampaikan wasiatnya kepada suaminya, sebagai wujud
ketulusan dan ketaatan. Ketulusan dan pengorbanan Sayyidah Fatimah az-Zahra
atas suaminya telah menciptakan keluarga ideal dan manusia-manusia besar dalam
sejarah manusia.
Semarak revolusi dan
politik yang akhir-akhir ini terjadi mengambarkan feminisme menjadi
senjata ampuh bagi perempuan untuk maju dalam kancah politik dan ekonomi,
perempuan secara aliansi mengukuhkan suaranya dalam politik dan ekonomi,
sejenak akan kita tinggalkan permasalahan ini dan kita mencoba untuk mencari
sisi perempuan yang lebih penting dalam revolusi etika sosial. Untuk
mengambarkan perempuan dan perannya dalam sosial kita harus menghubungkan
perempuan dari sisi irfannya sebagai manusia, bahwa perbedaan perempuan dan
laki-laki tidak ada. Karena secara irfan, Islam memandang secara universalitas
manusia. Adapun perbedaan perempuan dan laki-laki tidak mengurangi sisi
kemanusiaannya. Konteks hubungan secara transandental dengan Tuhannya secara
ontologis dan terhubung pada relasi manusia dengan alam pada aksiologisnya yang
digambarkan pada Tri Teologi (ilmu, iman dan amal).
Apa relasi dari ketiga
poin di atas dalam mengambarkan tanggung jawab perempuan dalam sosial? Seperti
kita menghubungkan segitiga sama sisi, relasi manusia secara ontologis dengan
Tuhanya secara ilmu pada puncaknya aplikasi pada pengamalannya iman dan amal
pada kedua sisi yang sama kaki. Ketika saya mencoba menjelaskan peran perempuan
pada sosial saya coba menghubungkan peran perempuan sebagai Ibu.
Bruce. J. Cohen dalam
karyanya yang berjudul “Introduction To Sociology” mendefenisikan peran
sebagai berikut, ”Setiap perilaku yang diharapkan setiap pemilik kedudukan
tertentu’’. Berbicara tentang ini, kita tentu mengharapkan peran perempuan bagi
revolusi negara ini sehingga perempuan dapat mengambil kedudukannya dalam
ibu-ibu sosial. Perempuan dalam wilayah keilmuan sebagai seorang ibu memiliki
peran baik secara langsung maupun tidak langsung yang tentu saja memberikan
efek.
Secara sisi teologis,
perempuan secara keilmuan adalah suatu lembaran ilmu yang menjadi penghubung
antara konsep dan fakta sebagaimana realita kebenaran pengetahuan yang selalu
terhubung antara konsep dan realita. Ayah sebagai sebuah konsep pemimpin sosial
yang utuh, kita dapat gambarannya pada seorang ibu yang menjadi pemimpin secara
utuh dalam konteks spritual dan intelektual membimbing anaknya. Kita dapat mengambil
suatu wacana perempuan agung dalam revolusi yang saya bisa sebut ibu teoritis
“bunda Azzahra dan bunda Zaenab” sebagai pelajaran bagi kita. Kedua tokoh agung
ini berjuang mengubah segala ketidakadilan etika yang ada pada masyarakat pada
saat itu, perampasan hak dan politik kotor yang tercipta dari ketidaketikaan
terhadap Tuhan. Bunda Zahra yang terjun langsung menuntut kebenaran dan
bunda Zainab yang dari beliau revolusi Asyura dimulai dari mengubah kondisi
masyarakat yang masih pasif pada kebenaran menjadi masyarakat “yang lapar”
terhadap ketidakbenaran.
Terlepas dari
sejarah, secara irfan hal ini mengambarkan peleburan dalam mewujud satu sikap jalal
dalam jamal dan sikap jamal dalam jamal. Kita melihat etika Tuhan
tergambar jelas dari sikap bunda agung ini, dalam konteks penyaksian pada fakta
sosial yang terjadi dan tidak mengabaikan sisi keagungannya sebagai
perempuan. Semua ini karena ilmu yang terhubung secara transandental langsung
antara pengetahuan kebenaran dan itu hanya dari Tuhan yang maha benar.
Secara keilmuan
nilai-nilai ibu yang ada pada perempuan adalah nilai-nilai yang harus dicapai
dalam rangka kebahagiaan, sekali lagi ini bukan bentuk diskredit bagi laki-laki
tetapi yakinlah kedua hubungan ini saling mengisi bagaikan bumi dan langit yang
keduanya saling menopang. Jadi tanpa peleburan seorang pemimpin pria tidak bisa
juga menghasilkan anak-anak sosial. Iman adalah keyakinan setelah keilmuan kita
dan bentuk aplikasinya adalah amal, jadi segala keyakinan dan segala aksiologi
yang terjadi di negara ini tidak bisa lepas dari kemungkinan pengetahuan
seseorang. Dari iman yang terhubung khusus dengan ilmu menjadikan seorang
ibu yang bukan hanya praktis dalam rumah tangga tetapi ibu teoritis bagi
manusia dan alam sehingga dalam amalannya ibu menjadi seorang yang dicintai
bukan hanya suami dan anaknya, tetapi bagi semua karena secara irfan penyaksian
yang paling tertinggi ketika kita melihat sifat Tuhan pada dan menyatu dalam
cahayanya.
Andaikan negara ini
memiliki ibu dan anak yang tidak terlantar.
Mari semua kita
bangun menjadi ibu teoritis dan praktis dalam merevolusi negara ini dalam Rahman
dan Rahim-Nya.... ILAHI AMIN.