Senin, 22 Oktober 2012

Kisah Hikmah: Faktor-Faktor Tidak Dikabulkannya Doa

1.       Di zaman Nabi Musa as pernah terjadi masa paceklik yang begitu hebat, nabi Musa as beserta bani Israil keluar dari kota untuk memohon hujan. Ini dilakukan  sampai tiga kali; tapi hujan  tetap saja tak kunjung turun. Allah mewahyukan kepada Musa as, “Aku tak akan mengabulkan doamu dan mereka yang bersamamu selama masih ada di antara kalian, orang yang suka mengadu domba.”
2.       Konon, bani Israil pernah mengalami masa paceklik yang begitu hebat selama tujuh tahun; sampai-sampai mereka memakan bangkai, sampah, dan bahkan memakan anak-anak kecil. Acapkali  mereka berdoa di gunung atau padang pasair, namun tetap saja hujan tidak turun.
Allah mewahyukan pada nabi mereka, “Katakanlah pada mereka bahwa meski kalian menempuh jalan menuju- Ku dan mengangkat tangan berdoa seraya menangis dan meratap, Aku tidak akan mengabulkan doa kalian selama kalian tidak mengembalikan hak-hak orang lain yang kalian rampas.”
3.       Diriwayatkan bahwa suatu saat, sekauman bani Israil mengalami kekeringan, mereka berdoa, tapi tak terkabul. Allah mewahyukan kepada nabi mereka, “Katakanlah pada orang-orang ini, ‘Kalian telah menghadap-Ku dengan tubuh-tubuh yang najis dan mengangkat tangan-tangan yang berlumuran darah orang lain ke arah-Ku serta perut-perut yang dipenuhi sesuatu yang haram. Karena itulah Aku tidak mengabulkan doa kalian.’”
Dari ketiga kisah ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa faktor-faktor tidak dikabulkannya doa adalah:
1.       Mengadu domba.
2.       Dipanjatkan dalam keadaan najis.
3.       Memakan makanan haram.
4.       Mengambil hak orang lain.

Mahabbah Cinta Rabi’ah Al-Adawiyah

Oleh: Heart2709

Judul Buku             : Mahabbah Cinta Rabi’ah Al Adawiyah
Penulis                     : Asfari MS dan Otto Sukatno CR
Penerbit                  : Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta.
Tahun Terbit          : 2000

Buku Mahabbah Cinta Rabiah Al-Adawiyah merupakan kumpulan syair-syair cinta Rabi'ah al-Adawiyah. Seorang tokoh sufi wanita yang pertama yang tercatat di dalam sejarah tasawuf. Dalam buku ini dibahas tentang sufi dan ajaran tasawuf, khususnya tentang Cinta Ilahi. Dimulai dari pembahasan tentang makna cinta dan sufisme, riwayat hidup Rabi'ah al Adawiyah, kemudian tentang cinta Ilahi, pecinta dan pencapaiannya, serta mahabbah dan ma'rifah, sampai pada kumpulan syair-syair Rabi'ah al Adawiyah.

Seperti diketahui bahwa sebagian besar para sufi menjadikan cinta sebagai jalan rohani yang penting dalam hubungan manusia dengan Tuhan. Dalam syair-syairnya, Rabi'ah al-Adawiyah menjadikan cinta kepada Allah sebagai hal yang utama. Di dalam buku ini juga dibahas tentang sebab-sebab timbulnya cinta, diantaranya; cinta yang ada di dalam diri manusia, seperti rindu bertemu Tuhan, disamping kecintaan kepada diri sendiri, kecintaan untuk berbuat baik, kecintaan terhadap keindahan.

Selain itu diuraikan juga tentang hakekat cinta. Pembahasan tentang cinta di buku ini dimulai dengan pengertian cinta, yang berasal dari kata hubb (jenis cinta dan kasih sayang yang murni) atau mahabbah, cinta yang rindu untuk bertemu kekasih, berupaya mencari kekasih, atau hati yang telah penuh dengan cinta, sehingga tak ada lagi tempat di hatinya selain dari Sang Kekasih.

            Seperti yang dibahas di dalam buku ini, pembaca diingatkan dalam upaya mencapai cinta Ilahi, yaitu suatu keadaan spiritual yang tinggi yang merupakan anugrah Tuhan karena Cinta-Nya, yaitu dengan cara menjalankan kewajiban-kewajiban agama, seperti dengan beribadah, do'a, taubat, sabar, syukur, dan sebagainya, hingga sampai pada mahabbah dan ma'rifah. Hal-hal tersebut diuraikan dengan begitu baik dan sistematis, sehingga memungkinkan pembaca akan lebih memahami tentang cinta Ilahi serta keadaan seorang hamba dalam mencapai Cinta Ilahi.


Sayyidah Fatimah Az-Zahra

Siapakah Fatimah ? Siapakah Zahra?
Putri siapakah Fatimah? Istri siapakah Fatimah?
Apa yang dilakukan Fatimah hingga mencapai kedudukan tinggi?
Fatimah adalah Al Kautzar.

Ibundanya bernama Khadijah binti Khuwailid bin Asad, binti Muhammad Rasulullah. Dilahirkan di Makkah, Jumat tanggal 20 Jumadil Akhir. Aisyah r.a berkata: “Aku tidak melihat adanya seorang pun yang mirip Rasulullah, baik dalam sifat maupun cara berdiri dan  duduknya, kecuali Fatimah. Apabila Fatimah datang menemui Rasulullah, beliau segera berdiri dan memegang tangannya, lalu menciumnya dan mendudukannya di majelis.” Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Fatimah adalah bagian dari diriku. Siapa yang menyakiti dirinya berarti menyakiti diriku pula”.

Fatimah Az-Zahra tumbuh dalam bimbingan wahyu. Dia seorang yang cerdas serta sayang kepada ummi dan abahnya. Ibadahnya luar biasa tekunnya, beliau banyak menderita dalam membela abahnya. Dia dijuluki ayahnya sebagai “Ummu Abiha” artinya “ibu ayahnya” karena begitu cinta dan sayangnya Rasul saw  kepada Fatimah. Beliau juga digelari Sayyidah Nisa’ Al amin. Suaminya bernama Ali bin Abi Thalib, sang pahlawan Islam yang gagah perkasa dan pemberani. Putra putri beliau bernama Hasan, Husain dan Zaenab.

Terkait kebesaran Sayyidah Fatimah az-Zahra, Rasulullah saw bersabda, "Keimanan kepada Allah SWT melekat dalam hati dan jiwa mendalam az-Zahra yang mampu menyingkirkan segalanya saat beribadah kepada Allah SWT. Fatimah adalah bagian dari hati dan jiwaku. Barangsiapa yang menyakitinya sama halnya ia menyakitiku dan membuat Allah SWT tidak rela." Tak diragukan lagi, keagungan Sayyidah Fatimah az-Zahra menghantarkannya ke derajat yang luar biasa di sisi Rasulullah saw. Dalam hadis lain, Rasulullah saw bersabda, "Putriku yang mulia, Fatimah adalah pemimpin perempuan dunia di seluruh zaman dan generasi. Ia adalah bidadari berwajah manusia. Setiap kali Fatimah beribadah di mihrab di hadapan Tuhannya, cahaya wujudnya menyinari malaikat. Layaknya bintang-gemintang yang bersinar menerangi bumi."

Keutamaan dan keistimewaan yang dimiliki Sayyidah Fatimah bukan hanya disebabkan ia adalah putri Rasulullah. Apa yang membuat pribadinya menjadi begitu luhur dan dihormati, lantaran akhlak dan kepribadiannya yang sangat mulia. Di samping itu, kesempurnaan dan keutamaan yang dimiliki Sayyidah Zahra mengungkapkan sebuah hakikat bahwa masalah gender bukanlah faktor yang bisa menghambat seseorang untuk mencapai puncak kesempurnaan. Setiap manusia (baik laki-laki maupun perempuan) memiliki potensi yang sama untuk meraih kesempurnaan.

Kepribadian Sayyidah Fatimah yang begitu mulia, baik secara personal, maupun di lingkungan keluarga dan sosialnya menjadikan dirinya sebagai manifestasi nyata nilai-nilai Islam. Ia adalah contoh manusia teladan, seorang istri dan ibu yang penuh pengorbanan. Ia adalah contoh manusia sempurna yang seluruh wujudnya penuh dengan cinta, iman dan makrifah.

Jiwa dan pribadi Fatimah mengenal konsepsi kehidupan yang paling luhur di rumah wahyu, di sisi pribadi agung Rasulullah saw. Setiap kali Rasulullah memperoleh wahyu, dengan penuh seksama Sayyidah Fatimah mendengarkan ajaran hikmah yang disampaikan oleh sang ayah kepadanya. Sebegitu mendalamnya cinta kepada Allah dalam diri Fatimah, sampai-sampai tak ada apapun yang diinginkannya kecuali keridhoan Allah SWT. Ketika Rasulullah saw berkata kepadanya, "Wahai Fatimah, apapun yang kamu pinta saat ini, katakanlah. Sebab Malaikat pembawa wahyu tengah berada di sisiku". Namun Fatimah menjawab, "Kelezatan yang aku peroleh dari berkhidmat kepada Allah, membuat diriku tak menginginkan apapun kecuali agar aku selalu bisa memandang keindahan Allah SWT". Sayyidah Fatimah Az-Zahra juga sangat mencintai al-Quran. Beliau berkata, "Ada tiga hal yang aku cintai di dunia ini yaitu membaca al-Quran, memandang wajah Rasulullah saw dan berinfak di jalan Allah SWT."

Pada suatu hari, suaminya Ali bin Abi Thalib  masuk ke rumahnya dan mendengar bahwa Sayyidah Fatimah az-Zahra tengah melantunkan ayat yang baru turun kepada Rasulullah saw. Beliau dengan takjub bertanya, "Bagaimana kamu bisa mengetahuinya? Sayyidah Fatimah az-Zahra menjawab, "Putra kita, Hasan, hari ini membacakan ayat yang baru turun pada Rasulullah saw kepadaku." Sayyidah Fatimah az-Zahra sangat mencintai ayat-ayat al-Quran. Dalam khutbah yang disampaikan pasca wafatnya Rasulullah saw, beliau mengkritisi kondisi yang ada dengan pandangan komprehensif yang bersandarkan pada ayat-ayat al-Quran. Dalam khutbah itu, Sayyidah Fatimah memperingatkan kepada masyarakat bahaya penyimpangan. Di pembukaan khutbah, beliau menjelaskan al-Quran dan perannya di tengah kehidupan, dan mengatakan, "Allah SWT mempersembahkan kepada kalian sebuah ikatan yang kuat. Itu adalah al-Quran Berbicara. al-Quran adalah kitab kebenaran yang memancarkan cahaya dan kitab argumentasi yang mengungkap batin (internal) dan dzahir (eksternal)."

Sayyidah Fatimah az-Zahra dengan jelas menyatakan bahwa masyarakat, khususnya kalangan cendekia harus memperhatikan kandungan al-Quran dan sejarah Rasulullah saw sebagai sumber utama hukum dan syariat. Untuk itu, Sayyidah Fatimah menekankan penyimpulan yang benar dari kitab suci dan hadis. Dengan menekankan perhatian pada al-Quran untuk mengantisipasi semua upaya busuk dari sekelompok orang. Dalam khutbahnya, Sayidah Fatimah az-Zahra as berkata, "Mengapa kalian tersesat? Padahal ada kitab suci di tengah kalian. Di dalam kitab itu sangatlah jelas berbagai masalah dan hukum-hukumnya. Jalan petunjuk sangat jelas dan peringatan-peringatan pun sangat transparan. Apakah kalian menghendaki al-Quran? Mengapa kalian mencari penengah selain al-Quran.

Meski umurnya begitu singkat, putri kesayangan Rasulullah saw mempunyai peran luar biasa. Pesan-pesan yang disampaikan oleh Sayyidah Fatimah sarat dengan pesan keluarga, politik dan sosial. Selain itu, Sayyidah Fatimah az-Zahra juga mencerminkan seorang hamba yang luar biasa di hadapan Allah SWT. Ibadah yang dirasakannya sama sekali tak tergantikan dengan segala kenikmatan dunia. Dalam riwayat disebutkan, Sayyidah Fatimah dan keluarganya berpuasa tiga hari berturut-turut dan cukup berbuka dengan air karena ingin bersedekah kepada orang-orang miskin. Kehidupanya penuh dengan kedermawanan, beliau juga beribadah dari malam hingga pagi. Beribadah kepada Allah SWT merupakan kerinduan tersendiri bagi Sayyidah Fatimah az-Zahra.

Meski hidup sederhana, keluarga putri kesayangan Rasulullah saw diliputi rasa kebahagiaan yang melimpah. Rumah kecilnya penuh dengan aura spiritual yang juga menjadi tempat bertumpunya orang-orang yang tidak mampu. Di penghujung umurnya, beliau hanya menyampaikan wasiatnya kepada suaminya, sebagai wujud ketulusan dan ketaatan. Ketulusan dan pengorbanan Sayyidah Fatimah az-Zahra atas suaminya telah menciptakan keluarga ideal dan manusia-manusia besar dalam sejarah manusia.

Dari Irfan Perempuan Menuju Revolusi Etika Sosial: MENYAPA SEISI ALAM DALAM EKSISTENSI TUHAN DALAM TAJALLINYA YA RABBI

Semarak revolusi dan politik yang akhir-akhir ini terjadi  mengambarkan feminisme menjadi senjata ampuh  bagi perempuan untuk maju dalam kancah politik dan ekonomi, perempuan secara aliansi mengukuhkan suaranya dalam politik dan ekonomi, sejenak akan kita tinggalkan permasalahan ini dan kita mencoba untuk mencari sisi perempuan yang lebih penting dalam revolusi etika sosial. Untuk mengambarkan perempuan dan perannya dalam sosial kita harus menghubungkan perempuan dari sisi irfannya sebagai manusia, bahwa perbedaan perempuan dan laki-laki tidak ada. Karena secara irfan, Islam memandang secara universalitas manusia. Adapun perbedaan  perempuan dan laki-laki tidak mengurangi sisi kemanusiaannya. Konteks hubungan secara transandental dengan Tuhannya secara ontologis dan terhubung pada relasi manusia dengan alam pada aksiologisnya yang digambarkan  pada Tri Teologi (ilmu, iman dan amal).

Apa relasi dari ketiga poin di atas dalam mengambarkan tanggung jawab perempuan dalam sosial? Seperti kita menghubungkan segitiga sama sisi, relasi manusia secara ontologis dengan Tuhanya secara ilmu pada puncaknya aplikasi pada pengamalannya iman dan amal pada kedua sisi yang sama kaki. Ketika saya mencoba menjelaskan peran perempuan pada sosial saya coba menghubungkan peran perempuan sebagai Ibu.

Bruce. J. Cohen dalam karyanya yang berjudul “Introduction To Sociology” mendefenisikan peran sebagai berikut, ”Setiap perilaku yang diharapkan setiap pemilik kedudukan tertentu’’. Berbicara tentang ini, kita tentu mengharapkan peran perempuan bagi revolusi negara ini sehingga perempuan dapat mengambil kedudukannya dalam ibu-ibu sosial. Perempuan dalam wilayah keilmuan sebagai seorang ibu memiliki peran baik secara langsung maupun tidak langsung yang tentu saja memberikan efek.
Secara sisi teologis, perempuan secara keilmuan adalah suatu lembaran ilmu yang menjadi penghubung antara konsep dan fakta sebagaimana realita kebenaran pengetahuan yang selalu terhubung antara konsep dan realita. Ayah sebagai sebuah konsep pemimpin sosial yang utuh, kita dapat gambarannya pada seorang ibu yang menjadi pemimpin secara utuh dalam konteks spritual dan intelektual membimbing anaknya. Kita dapat mengambil suatu wacana perempuan agung dalam revolusi yang saya bisa sebut ibu teoritis “bunda Azzahra dan bunda Zaenab” sebagai pelajaran bagi kita. Kedua tokoh agung ini berjuang mengubah segala ketidakadilan etika yang ada pada masyarakat pada saat itu, perampasan hak dan politik kotor yang tercipta dari ketidaketikaan terhadap Tuhan. Bunda Zahra yang terjun langsung  menuntut kebenaran dan bunda Zainab yang dari beliau revolusi Asyura dimulai dari mengubah kondisi masyarakat yang masih pasif pada kebenaran menjadi masyarakat “yang lapar” terhadap ketidakbenaran.

Terlepas dari sejarah, secara irfan hal ini mengambarkan peleburan dalam mewujud satu sikap jalal dalam jamal dan sikap jamal dalam jamal. Kita melihat etika  Tuhan tergambar jelas dari sikap bunda agung ini, dalam konteks penyaksian pada fakta sosial yang terjadi dan  tidak mengabaikan sisi keagungannya sebagai perempuan. Semua ini karena ilmu yang terhubung secara transandental langsung antara pengetahuan kebenaran dan itu hanya dari Tuhan yang maha benar.

Secara keilmuan nilai-nilai ibu yang ada pada perempuan adalah nilai-nilai yang harus dicapai dalam rangka kebahagiaan, sekali lagi ini bukan bentuk diskredit bagi laki-laki tetapi yakinlah kedua hubungan ini saling mengisi bagaikan bumi dan langit yang keduanya saling menopang. Jadi tanpa peleburan seorang pemimpin pria tidak bisa juga menghasilkan anak-anak sosial. Iman adalah keyakinan setelah keilmuan kita dan bentuk aplikasinya adalah amal, jadi segala keyakinan dan segala aksiologi yang terjadi di negara ini tidak bisa lepas dari kemungkinan pengetahuan seseorang. Dari iman  yang terhubung khusus dengan ilmu menjadikan seorang ibu yang bukan hanya praktis dalam rumah tangga tetapi ibu teoritis bagi manusia dan alam sehingga dalam amalannya ibu menjadi seorang yang dicintai bukan hanya suami dan anaknya, tetapi bagi semua karena secara irfan penyaksian yang paling tertinggi ketika kita melihat sifat Tuhan pada dan menyatu dalam cahayanya.

Andaikan negara ini memiliki ibu dan anak yang tidak terlantar.
Mari semua kita bangun menjadi ibu teoritis dan praktis dalam merevolusi negara ini dalam Rahman dan Rahim-Nya.... ILAHI AMIN.