Senin, 22 Oktober 2012

Dari Irfan Perempuan Menuju Revolusi Etika Sosial: MENYAPA SEISI ALAM DALAM EKSISTENSI TUHAN DALAM TAJALLINYA YA RABBI

Semarak revolusi dan politik yang akhir-akhir ini terjadi  mengambarkan feminisme menjadi senjata ampuh  bagi perempuan untuk maju dalam kancah politik dan ekonomi, perempuan secara aliansi mengukuhkan suaranya dalam politik dan ekonomi, sejenak akan kita tinggalkan permasalahan ini dan kita mencoba untuk mencari sisi perempuan yang lebih penting dalam revolusi etika sosial. Untuk mengambarkan perempuan dan perannya dalam sosial kita harus menghubungkan perempuan dari sisi irfannya sebagai manusia, bahwa perbedaan perempuan dan laki-laki tidak ada. Karena secara irfan, Islam memandang secara universalitas manusia. Adapun perbedaan  perempuan dan laki-laki tidak mengurangi sisi kemanusiaannya. Konteks hubungan secara transandental dengan Tuhannya secara ontologis dan terhubung pada relasi manusia dengan alam pada aksiologisnya yang digambarkan  pada Tri Teologi (ilmu, iman dan amal).

Apa relasi dari ketiga poin di atas dalam mengambarkan tanggung jawab perempuan dalam sosial? Seperti kita menghubungkan segitiga sama sisi, relasi manusia secara ontologis dengan Tuhanya secara ilmu pada puncaknya aplikasi pada pengamalannya iman dan amal pada kedua sisi yang sama kaki. Ketika saya mencoba menjelaskan peran perempuan pada sosial saya coba menghubungkan peran perempuan sebagai Ibu.

Bruce. J. Cohen dalam karyanya yang berjudul “Introduction To Sociology” mendefenisikan peran sebagai berikut, ”Setiap perilaku yang diharapkan setiap pemilik kedudukan tertentu’’. Berbicara tentang ini, kita tentu mengharapkan peran perempuan bagi revolusi negara ini sehingga perempuan dapat mengambil kedudukannya dalam ibu-ibu sosial. Perempuan dalam wilayah keilmuan sebagai seorang ibu memiliki peran baik secara langsung maupun tidak langsung yang tentu saja memberikan efek.
Secara sisi teologis, perempuan secara keilmuan adalah suatu lembaran ilmu yang menjadi penghubung antara konsep dan fakta sebagaimana realita kebenaran pengetahuan yang selalu terhubung antara konsep dan realita. Ayah sebagai sebuah konsep pemimpin sosial yang utuh, kita dapat gambarannya pada seorang ibu yang menjadi pemimpin secara utuh dalam konteks spritual dan intelektual membimbing anaknya. Kita dapat mengambil suatu wacana perempuan agung dalam revolusi yang saya bisa sebut ibu teoritis “bunda Azzahra dan bunda Zaenab” sebagai pelajaran bagi kita. Kedua tokoh agung ini berjuang mengubah segala ketidakadilan etika yang ada pada masyarakat pada saat itu, perampasan hak dan politik kotor yang tercipta dari ketidaketikaan terhadap Tuhan. Bunda Zahra yang terjun langsung  menuntut kebenaran dan bunda Zainab yang dari beliau revolusi Asyura dimulai dari mengubah kondisi masyarakat yang masih pasif pada kebenaran menjadi masyarakat “yang lapar” terhadap ketidakbenaran.

Terlepas dari sejarah, secara irfan hal ini mengambarkan peleburan dalam mewujud satu sikap jalal dalam jamal dan sikap jamal dalam jamal. Kita melihat etika  Tuhan tergambar jelas dari sikap bunda agung ini, dalam konteks penyaksian pada fakta sosial yang terjadi dan  tidak mengabaikan sisi keagungannya sebagai perempuan. Semua ini karena ilmu yang terhubung secara transandental langsung antara pengetahuan kebenaran dan itu hanya dari Tuhan yang maha benar.

Secara keilmuan nilai-nilai ibu yang ada pada perempuan adalah nilai-nilai yang harus dicapai dalam rangka kebahagiaan, sekali lagi ini bukan bentuk diskredit bagi laki-laki tetapi yakinlah kedua hubungan ini saling mengisi bagaikan bumi dan langit yang keduanya saling menopang. Jadi tanpa peleburan seorang pemimpin pria tidak bisa juga menghasilkan anak-anak sosial. Iman adalah keyakinan setelah keilmuan kita dan bentuk aplikasinya adalah amal, jadi segala keyakinan dan segala aksiologi yang terjadi di negara ini tidak bisa lepas dari kemungkinan pengetahuan seseorang. Dari iman  yang terhubung khusus dengan ilmu menjadikan seorang ibu yang bukan hanya praktis dalam rumah tangga tetapi ibu teoritis bagi manusia dan alam sehingga dalam amalannya ibu menjadi seorang yang dicintai bukan hanya suami dan anaknya, tetapi bagi semua karena secara irfan penyaksian yang paling tertinggi ketika kita melihat sifat Tuhan pada dan menyatu dalam cahayanya.

Andaikan negara ini memiliki ibu dan anak yang tidak terlantar.
Mari semua kita bangun menjadi ibu teoritis dan praktis dalam merevolusi negara ini dalam Rahman dan Rahim-Nya.... ILAHI AMIN.

0 komentar:

Posting Komentar