Semarak revolusi dan
politik yang akhir-akhir ini terjadi mengambarkan feminisme menjadi
senjata ampuh bagi perempuan untuk maju dalam kancah politik dan ekonomi,
perempuan secara aliansi mengukuhkan suaranya dalam politik dan ekonomi,
sejenak akan kita tinggalkan permasalahan ini dan kita mencoba untuk mencari
sisi perempuan yang lebih penting dalam revolusi etika sosial. Untuk
mengambarkan perempuan dan perannya dalam sosial kita harus menghubungkan
perempuan dari sisi irfannya sebagai manusia, bahwa perbedaan perempuan dan
laki-laki tidak ada. Karena secara irfan, Islam memandang secara universalitas
manusia. Adapun perbedaan perempuan dan laki-laki tidak mengurangi sisi
kemanusiaannya. Konteks hubungan secara transandental dengan Tuhannya secara
ontologis dan terhubung pada relasi manusia dengan alam pada aksiologisnya yang
digambarkan pada Tri Teologi (ilmu, iman dan amal).
Apa relasi dari ketiga
poin di atas dalam mengambarkan tanggung jawab perempuan dalam sosial? Seperti
kita menghubungkan segitiga sama sisi, relasi manusia secara ontologis dengan
Tuhanya secara ilmu pada puncaknya aplikasi pada pengamalannya iman dan amal
pada kedua sisi yang sama kaki. Ketika saya mencoba menjelaskan peran perempuan
pada sosial saya coba menghubungkan peran perempuan sebagai Ibu.
Bruce. J. Cohen dalam
karyanya yang berjudul “Introduction To Sociology” mendefenisikan peran
sebagai berikut, ”Setiap perilaku yang diharapkan setiap pemilik kedudukan
tertentu’’. Berbicara tentang ini, kita tentu mengharapkan peran perempuan bagi
revolusi negara ini sehingga perempuan dapat mengambil kedudukannya dalam
ibu-ibu sosial. Perempuan dalam wilayah keilmuan sebagai seorang ibu memiliki
peran baik secara langsung maupun tidak langsung yang tentu saja memberikan
efek.
Secara sisi teologis,
perempuan secara keilmuan adalah suatu lembaran ilmu yang menjadi penghubung
antara konsep dan fakta sebagaimana realita kebenaran pengetahuan yang selalu
terhubung antara konsep dan realita. Ayah sebagai sebuah konsep pemimpin sosial
yang utuh, kita dapat gambarannya pada seorang ibu yang menjadi pemimpin secara
utuh dalam konteks spritual dan intelektual membimbing anaknya. Kita dapat mengambil
suatu wacana perempuan agung dalam revolusi yang saya bisa sebut ibu teoritis
“bunda Azzahra dan bunda Zaenab” sebagai pelajaran bagi kita. Kedua tokoh agung
ini berjuang mengubah segala ketidakadilan etika yang ada pada masyarakat pada
saat itu, perampasan hak dan politik kotor yang tercipta dari ketidaketikaan
terhadap Tuhan. Bunda Zahra yang terjun langsung menuntut kebenaran dan
bunda Zainab yang dari beliau revolusi Asyura dimulai dari mengubah kondisi
masyarakat yang masih pasif pada kebenaran menjadi masyarakat “yang lapar”
terhadap ketidakbenaran.
Terlepas dari
sejarah, secara irfan hal ini mengambarkan peleburan dalam mewujud satu sikap jalal
dalam jamal dan sikap jamal dalam jamal. Kita melihat etika Tuhan
tergambar jelas dari sikap bunda agung ini, dalam konteks penyaksian pada fakta
sosial yang terjadi dan tidak mengabaikan sisi keagungannya sebagai
perempuan. Semua ini karena ilmu yang terhubung secara transandental langsung
antara pengetahuan kebenaran dan itu hanya dari Tuhan yang maha benar.
Secara keilmuan
nilai-nilai ibu yang ada pada perempuan adalah nilai-nilai yang harus dicapai
dalam rangka kebahagiaan, sekali lagi ini bukan bentuk diskredit bagi laki-laki
tetapi yakinlah kedua hubungan ini saling mengisi bagaikan bumi dan langit yang
keduanya saling menopang. Jadi tanpa peleburan seorang pemimpin pria tidak bisa
juga menghasilkan anak-anak sosial. Iman adalah keyakinan setelah keilmuan kita
dan bentuk aplikasinya adalah amal, jadi segala keyakinan dan segala aksiologi
yang terjadi di negara ini tidak bisa lepas dari kemungkinan pengetahuan
seseorang. Dari iman yang terhubung khusus dengan ilmu menjadikan seorang
ibu yang bukan hanya praktis dalam rumah tangga tetapi ibu teoritis bagi
manusia dan alam sehingga dalam amalannya ibu menjadi seorang yang dicintai
bukan hanya suami dan anaknya, tetapi bagi semua karena secara irfan penyaksian
yang paling tertinggi ketika kita melihat sifat Tuhan pada dan menyatu dalam
cahayanya.
Andaikan negara ini
memiliki ibu dan anak yang tidak terlantar.
Mari semua kita
bangun menjadi ibu teoritis dan praktis dalam merevolusi negara ini dalam Rahman
dan Rahim-Nya.... ILAHI AMIN.
0 komentar:
Posting Komentar